KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Beranda » Artikel » BAB 1-Trauma Masa Kecil

    BAB 1-Trauma Masa Kecil

    BY 18 Jan 2026 Dilihat: 38 kali
    Trauma Masa Kecil_alineaku

    “Aku benci orang kaya!!” teriakku sambil menghambur ke pelukan ibuku setelah kulempar tas sekolah sekenanya, dengan air mata tak kunjung berhenti. Sesenggukan sesekali keluar di antara irama tangisanku. Ibuku memelukku dalam – dalam, tanpa bicara sepatah kata pun. Tangannya tak berhenti mengelus rambut sebahuku yang lurus dan hitam legam. Ia menunggu dengan sabar, hingga isakan ku benar – benar terhenti. 

    “Ibu ambilkan minum air putih atau Ibu buatkan segelas susu coklat?” tanyanya dengan suara sangat lembut hingga aku nyaris tak mendengar kalimatnya.

    “Susu coklat. Dingin.” Aku menjawab dengan enggan sambil kuusap kasar air mataku. Kemudian, Ibu melepas pelukannya, memintaku untuk duduk.

    Aku duduk di kursi kayu ruang tamu, yang busanya sudah tak empuk lagi. Aku menunggu. Menunggu sambil memainkan lubang sobekan kain seragamku yang sudah beberapa kali ibu tambal. Tak lama, Ibu datang membawa segelas susu coklat dingin. Ia duduk di sampingku. Aku menerima gelas sambil melihat wajah ibuku sekilas. Ia tersenyum. Senyuman lembut yang sangat menenangkan. Begitulah ibuku. Seorang Wanita berkulit sawo matang dengan wajah teduh penuh kehangatan. Selalu bertutur kata lembut namun tegas dalam didikan. 

    “Sudah merasa lebih baik?” tanya Ibu dengan lembut setelah melihat aku menenggak habis segelas susu coklat dingin favoritku. Aku hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban. 

    “Ada yang ingin adek ceritakan sama Ibu?”

    Aku menggeleng pelan. 

    Aku yakin, ibuku tahu kalau aku sebenarnya ingin bercerita, sekaligus tahu kalau aku pasti tidak bisa langsung bercerita. 

    “Ya sudah. Sekarang, adek Ganti baju, cuci tangan dan kaki, terus maem siang. Ibu temani. Setelah sholat dhuhur, boleh langsung tidur siang,” lanjut Ibu sambil tak berhenti mengelus punggungku yang basah keringat. Aku kembali mengangguk. Berdiri, melangkah gontai dengan kedongkolan hati yang masih tersisa.

    Makan siang berlangsung sepuluh menit dan suasana tetap hening. Hanya suara serak kipas angin tua yang bergerak enggan dan tersendat–sendat, menyeimbangkan nada dengan suara kunyahanku. Aku melirik ibuku. Dia terlihat sangat menikmati sambal terasi bikinannya sendiri. Nasi di piringnya terlihat merah kecoklatan didampingi seiris tempe goreng dan daun singkong rebus yang aku yakin Ibu petik dari halaman belakang.

    “Ibu, bolehkah aku bertanya?”

    Ibuku menghentikan gerakan tangannya, memandangku, dan bertanya. 

    “Tanya apa sayang?” 

    “Apa betul, keluarga kita keluarga miskin? Keluarga tidak mampu dan kere? Padahal, Ibu bisa membiayai adek les privat ngaji dan musik. Ibu mampu menyekolahkan adek, Mbak dan Mas di sekolah Elit yang biayanya juga mahal. Tapi, Ibu meminta adek untuk naik angkutan umum PP sekolah, padahal Ayah punya sepeda motor buat antar jemput. Ibu membawakan adek bekal dengan lauk sederhana, padahal Ibu sebenarnya bisa bawakan ayam atau daging. Ibu lebih memilih menyuruh adek membawa jajanan untuk di jual di sekolah, padahal teman – teman lain bawa uang saku banyak biar bisa jajan banyak.” Aku tersengal – sengal menumpahkan semua beban yang sejak tadi sudah kutahan.

    Ibu terlihat menghela nafas, kemudian terdiam beberapa saat. 

    “Adek tumben tiba–tiba tanya seperti itu? Tadi di sekolah ada apa? Boleh Ibu tahu?” Ibu membalas pertanyaanku dengan pertanyaan.

    “Tadi, adek dipanggil Bu Kepala Sekolah karena adek memukul pipi teman sampai menangis,” jawabku.

    Ibu sedikit terkejut.

    “Kenapa kok adek mukul temen adek?”

    “Soalnya adek dibilang anak kere. Anak orang melarat. Katanya, sekolah ya sekolah aja, nggak usah sambil jualan. Terus katanya juga, adek nggak pantas sekolah di situ karena adek nggak level sama mereka. Adek nggak jawab apa-apa. Adek udah lama dibegitukan sebenarnya, tapi selama ini adek diam dan menahan. Tapi, tadi adek sudah ndak tahan. Adek ndak bilang apa-apa, berdiri, menghampiri temen adek, langsung adek pukul. Menurut Ibu, yang salah siapa?” 

    Ibu berpindah posisi, lebih dekat di sampingku.

    “Adek, dalam sebuah keluarga itu ada yang namanya prinsip atau cara untuk hidup. Masing-masing keluarga punya cara atau gaya hidup mereka sendiri. Itulah kenapa, ukuran benar atau salahnya juga pasti berbeda beda. Kalau tadi adek tanya Ibu yang salah siapa, Ibu jawab, dua-duanya salah. Teman adek salah karena menghina orang lain dengan alasan bercanda. Adek juga salah karena adek memukul orang lain dan mungkin jadi luka.” 

    Aku terdiam beberapa saat. 

    “Terus, kenapa kalau dua-duanya salah, hanya adek yang disuruh minta maaf? Teman adek nggak minta maaf sama adek,” protesku. 

    “Karena ukuran benar dan salah keluarga kita berbeda dengan Bu Kepala Sekolah dan teman adek. Kita pakai ukuran agama, sedangkan mereka pakai ukuran kaya-miskin.” 

    Melihatku merenung mencoba menerima, Ibu melanjutkan penjelasannya.

    “Sayang, di dunia ini ada orang kaya yang memilih untuk selalu menunjukkan kalau dia kaya dengan cara hidup mewah. Tapi, ada orang yang ekonominya sebanding dengan orang kaya, tapi memilih untuk tetap hidup sederhana. Dia juga selalu bersikap baik kepada orang lain yang mungkin kemampuan ekonomi nya di bawahnya. Akhirnya, dia tidak mungkin bercanda dengan nada menghina orang lain. Itu yang dimaksud prinsip hidup. Pilihan kita untuk bersikap dan berkata-kata.” 

    Ada rasa lega di hatiku. Aku mendapatkan jawaban dengan sangat menenangkan. 

    “Adek mengerti sekarang, Bu. Adek akhirnya tahu kenapa Ibu mendidik adek sangat keras selama ini. Tapi, kenapa adek masih merasa sakit hati dan marah sama temen adek, Bu?”

    “Karena hati diciptakan Allah untuk bisa bersimpati dan berempati. Karena hati yang sakit, itu seperti gelas yang pecah, misal bisa di lem, masih bisa berbentuk gelas. Tapi, waktu diisi air, pasti tetap bocor. Jadi, kata maaf belum tentu membuat hati Kembali normal. Maafkan saja teman adek, tapi terus menghindar. Kalau dia mulai begitu lagi, adek pergi saja.” 

    Aku mengangguk. Memang benar ucapan Ibu, Aku tidak boleh hanya fokus dengan apa yang aku rasakan saja, tapi aku juga harus belajar menerima bahwa orang itu sangat berbeda-beda. 

    “Ibu, bolehkah kalau adek membenci orang kaya?” hati-hati sekali aku bertanya kepada Ibu. 

    “Jangan membenci orangnya, tapi bencilah sikap dan perbuatannya, biar adek tidak mencontoh perbuatannya. Orang kaya kalau seperti Abdurrahman bin Auf, kan malah membawa kebaikan buat banyak orang. Adek ingat kan kisah tentang itu?” 

    Aku mengangguk, sambil berkata dalam hati. “Tapi di jaman sekarang tidak ada orang kaya seperti Abdurrahman bin Auf. Apapun alasannya, aku tetap benci orang kaya. Semoga aku tidak akan pernah berdekatan, berteman atau bahkan menikah dengan orang dari keluarga kaya.”

    Aku, seorang anak perempuan introvert berumur sepuluh tahun, dengan kondisi fisik tidak sempurna, punya keluarga berkehidupan sederhana, dipaksa untuk bersekolah dan berinteraksi dengan anak-anak manja dan kaya. Aku berjanji, aku tidak akan sedikitpun bersinggungan dengan orang kaya, seumur hidupku.

     

     

    Kreator : Riski Sintia Putri (Key2)

    Bagikan ke

    Comment Closed: BAB 1-Trauma Masa Kecil

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021