“Aku benci orang kaya!!” teriakku sambil menghambur ke pelukan ibuku setelah kulempar tas sekolah sekenanya, dengan air mata tak kunjung berhenti. Sesenggukan sesekali keluar di antara irama tangisanku. Ibuku memelukku dalam – dalam, tanpa bicara sepatah kata pun. Tangannya tak berhenti mengelus rambut sebahuku yang lurus dan hitam legam. Ia menunggu dengan sabar, hingga isakan ku benar – benar terhenti.
“Ibu ambilkan minum air putih atau Ibu buatkan segelas susu coklat?” tanyanya dengan suara sangat lembut hingga aku nyaris tak mendengar kalimatnya.
“Susu coklat. Dingin.” Aku menjawab dengan enggan sambil kuusap kasar air mataku. Kemudian, Ibu melepas pelukannya, memintaku untuk duduk.
Aku duduk di kursi kayu ruang tamu, yang busanya sudah tak empuk lagi. Aku menunggu. Menunggu sambil memainkan lubang sobekan kain seragamku yang sudah beberapa kali ibu tambal. Tak lama, Ibu datang membawa segelas susu coklat dingin. Ia duduk di sampingku. Aku menerima gelas sambil melihat wajah ibuku sekilas. Ia tersenyum. Senyuman lembut yang sangat menenangkan. Begitulah ibuku. Seorang Wanita berkulit sawo matang dengan wajah teduh penuh kehangatan. Selalu bertutur kata lembut namun tegas dalam didikan.
“Sudah merasa lebih baik?” tanya Ibu dengan lembut setelah melihat aku menenggak habis segelas susu coklat dingin favoritku. Aku hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban.
“Ada yang ingin adek ceritakan sama Ibu?”
Aku menggeleng pelan.
Aku yakin, ibuku tahu kalau aku sebenarnya ingin bercerita, sekaligus tahu kalau aku pasti tidak bisa langsung bercerita.
“Ya sudah. Sekarang, adek Ganti baju, cuci tangan dan kaki, terus maem siang. Ibu temani. Setelah sholat dhuhur, boleh langsung tidur siang,” lanjut Ibu sambil tak berhenti mengelus punggungku yang basah keringat. Aku kembali mengangguk. Berdiri, melangkah gontai dengan kedongkolan hati yang masih tersisa.
Makan siang berlangsung sepuluh menit dan suasana tetap hening. Hanya suara serak kipas angin tua yang bergerak enggan dan tersendat–sendat, menyeimbangkan nada dengan suara kunyahanku. Aku melirik ibuku. Dia terlihat sangat menikmati sambal terasi bikinannya sendiri. Nasi di piringnya terlihat merah kecoklatan didampingi seiris tempe goreng dan daun singkong rebus yang aku yakin Ibu petik dari halaman belakang.
“Ibu, bolehkah aku bertanya?”
Ibuku menghentikan gerakan tangannya, memandangku, dan bertanya.
“Tanya apa sayang?”
“Apa betul, keluarga kita keluarga miskin? Keluarga tidak mampu dan kere? Padahal, Ibu bisa membiayai adek les privat ngaji dan musik. Ibu mampu menyekolahkan adek, Mbak dan Mas di sekolah Elit yang biayanya juga mahal. Tapi, Ibu meminta adek untuk naik angkutan umum PP sekolah, padahal Ayah punya sepeda motor buat antar jemput. Ibu membawakan adek bekal dengan lauk sederhana, padahal Ibu sebenarnya bisa bawakan ayam atau daging. Ibu lebih memilih menyuruh adek membawa jajanan untuk di jual di sekolah, padahal teman – teman lain bawa uang saku banyak biar bisa jajan banyak.” Aku tersengal – sengal menumpahkan semua beban yang sejak tadi sudah kutahan.
Ibu terlihat menghela nafas, kemudian terdiam beberapa saat.
“Adek tumben tiba–tiba tanya seperti itu? Tadi di sekolah ada apa? Boleh Ibu tahu?” Ibu membalas pertanyaanku dengan pertanyaan.
“Tadi, adek dipanggil Bu Kepala Sekolah karena adek memukul pipi teman sampai menangis,” jawabku.
Ibu sedikit terkejut.
“Kenapa kok adek mukul temen adek?”
“Soalnya adek dibilang anak kere. Anak orang melarat. Katanya, sekolah ya sekolah aja, nggak usah sambil jualan. Terus katanya juga, adek nggak pantas sekolah di situ karena adek nggak level sama mereka. Adek nggak jawab apa-apa. Adek udah lama dibegitukan sebenarnya, tapi selama ini adek diam dan menahan. Tapi, tadi adek sudah ndak tahan. Adek ndak bilang apa-apa, berdiri, menghampiri temen adek, langsung adek pukul. Menurut Ibu, yang salah siapa?”
Ibu berpindah posisi, lebih dekat di sampingku.
“Adek, dalam sebuah keluarga itu ada yang namanya prinsip atau cara untuk hidup. Masing-masing keluarga punya cara atau gaya hidup mereka sendiri. Itulah kenapa, ukuran benar atau salahnya juga pasti berbeda beda. Kalau tadi adek tanya Ibu yang salah siapa, Ibu jawab, dua-duanya salah. Teman adek salah karena menghina orang lain dengan alasan bercanda. Adek juga salah karena adek memukul orang lain dan mungkin jadi luka.”
Aku terdiam beberapa saat.
“Terus, kenapa kalau dua-duanya salah, hanya adek yang disuruh minta maaf? Teman adek nggak minta maaf sama adek,” protesku.
“Karena ukuran benar dan salah keluarga kita berbeda dengan Bu Kepala Sekolah dan teman adek. Kita pakai ukuran agama, sedangkan mereka pakai ukuran kaya-miskin.”
Melihatku merenung mencoba menerima, Ibu melanjutkan penjelasannya.
“Sayang, di dunia ini ada orang kaya yang memilih untuk selalu menunjukkan kalau dia kaya dengan cara hidup mewah. Tapi, ada orang yang ekonominya sebanding dengan orang kaya, tapi memilih untuk tetap hidup sederhana. Dia juga selalu bersikap baik kepada orang lain yang mungkin kemampuan ekonomi nya di bawahnya. Akhirnya, dia tidak mungkin bercanda dengan nada menghina orang lain. Itu yang dimaksud prinsip hidup. Pilihan kita untuk bersikap dan berkata-kata.”
Ada rasa lega di hatiku. Aku mendapatkan jawaban dengan sangat menenangkan.
“Adek mengerti sekarang, Bu. Adek akhirnya tahu kenapa Ibu mendidik adek sangat keras selama ini. Tapi, kenapa adek masih merasa sakit hati dan marah sama temen adek, Bu?”
“Karena hati diciptakan Allah untuk bisa bersimpati dan berempati. Karena hati yang sakit, itu seperti gelas yang pecah, misal bisa di lem, masih bisa berbentuk gelas. Tapi, waktu diisi air, pasti tetap bocor. Jadi, kata maaf belum tentu membuat hati Kembali normal. Maafkan saja teman adek, tapi terus menghindar. Kalau dia mulai begitu lagi, adek pergi saja.”
Aku mengangguk. Memang benar ucapan Ibu, Aku tidak boleh hanya fokus dengan apa yang aku rasakan saja, tapi aku juga harus belajar menerima bahwa orang itu sangat berbeda-beda.
“Ibu, bolehkah kalau adek membenci orang kaya?” hati-hati sekali aku bertanya kepada Ibu.
“Jangan membenci orangnya, tapi bencilah sikap dan perbuatannya, biar adek tidak mencontoh perbuatannya. Orang kaya kalau seperti Abdurrahman bin Auf, kan malah membawa kebaikan buat banyak orang. Adek ingat kan kisah tentang itu?”
Aku mengangguk, sambil berkata dalam hati. “Tapi di jaman sekarang tidak ada orang kaya seperti Abdurrahman bin Auf. Apapun alasannya, aku tetap benci orang kaya. Semoga aku tidak akan pernah berdekatan, berteman atau bahkan menikah dengan orang dari keluarga kaya.”
Aku, seorang anak perempuan introvert berumur sepuluh tahun, dengan kondisi fisik tidak sempurna, punya keluarga berkehidupan sederhana, dipaksa untuk bersekolah dan berinteraksi dengan anak-anak manja dan kaya. Aku berjanji, aku tidak akan sedikitpun bersinggungan dengan orang kaya, seumur hidupku.
Kreator : Riski Sintia Putri (Key2)
Comment Closed: BAB 1-Trauma Masa Kecil
Sorry, comment are closed for this post.