Bab 10: KOTA CERMIN DAN WAJAH YANG DILUPAKAN
KOTA CERMIN
Dua minggu dari Lautan Kabut.
Kota ini tidak punya tembok. Yang ada hanya gedung kaca setinggi langit. Semua memantulkan wajah.
Tapi wajah di cermin… bukan wajah mereka sekarang.
“Benih Ketujuh ada di sini,” kata Lyra. “Benih Kebohongan.”
Tim 12 masuk. Jalanan sepi. Hanya ada gema langkah mereka sendiri.
Tio memegang erat kerah baju Veyrin. “Rame banget… pantulannya.”
Veyrin menatap salah satu gedung. Di cermin itu dia masih raja es. Dengan mahkota.
Dia menutup mata. “Ayo jalan.”
KEJAR DALANG SURAT “?”
Di tengah alun-alun ada panggung. Diatasnya berdiri seseorang.
Punggungnya menghadap Tim 12. Rambut putih panjang. Jubah cermin.
Orang itu berbalik.
Wajahnya… wajah Veyrin.
Tapi lebih muda. 18 tahun. Mata kosong.
Semua terdiam.
“Selamat datang, keluarga,” katanya sambil senyum. “Aku sudah lama menunggu.”
“Siapa kau?” tanya Leon, pedang terhunus.
Orang itu menunjuk dadanya. “Aku. Veyrin.”
Veyrin yang asli mundur selangkah. “Tidak mungkin.”
“Benar,” kata Lyra pelan. “Benih Ketujuh. Ditanam saat kau menyangkal dirimu sendiri.”
Talia berbisik. “Kak, itu kau waktu pertama kali jadi raja.”
MASA LALU VEYRIN DI KOTA CERMIN
Veyrin palsu tertawa. “Ingat tidak? Dua puluh tahun tahun lalu di sini.”
Layar cermin di sekeliling menyala. Memutar ingatan.
Veyrin muda berdiri di tempat ini. Menangis.
“Aku tidak mau jadi lemah lagi. Aku tidak mau disakiti lagi.
Kalau begitu… aku buang bagian diriku yang lemah.”
Dia menusukkan tangan ke dadanya. Menarik keluar cahaya abu-abu.
Cahaya itu jatuh ke tanah. Menjadi Benih Ketujuh.
“Sejak itu aku kuat,” kata Veyrin palsu. “Tapi kosong.”
Veyrin yang asli mengepalkan tangan. Bekas lukanya sakit.
“Jadi selama ini… aku melawan diriku sendiri.”
Veyrin palsu mengangguk. “Aku dikirim surat oleh seseorang. Katanya kalau aku kumpulkan Sembilan Benih, aku bisa jadi utuh lagi. Tapi tanpa kalian.”
Dia menunjuk surat di kakinya.
Tiga sudah selesai. Tiga lagi.
Dia kenal kalian semua.
Hancurkan mereka. Maka kau akan bebas.
– ?
LATIHAN SIHIR GABUNGAN TIM 12
Cermin-cermin pecah. Dari pecahannya keluar ratusan Veyrin palsu.
“Formasi!” teriak Leon.
Tapi kali ini beda. Pedang tidak mempan. Sihir tidak mempan.
Karena yang mereka lawan adalah rasa malu Veyrin.
Tio berbisik ke Veyrin. “Om, dia butuh dipeluk, bukan dipukul.”
Veyrin menatap Tio. Lalu menatap dirinya sendiri yang lain.
Dia maju. Tidak pakai sihir. Tidak pakai pedang.
“Aku minta maaf,” katanya. “Karena dulu aku membencimu.”
Veyrin palsu menyerang. Tapi Veyrin menahan. Memeluk.
“Kalau kau lemah, aku juga lemah. Kalau kau sakit, aku juga sakit.
Kita sama. Dan kita tidak perlu sempurna untuk pulang.”
Cahaya abu-abu hangat keluar dari pelukan itu.
Semua cermin pecah. Ratusan Veyrin palsu menangis, lalu menyatu kembali ke dalam Benih Ketujuh.
Benih itu tidak hancur. Dia meleleh, masuk ke dada Veyrin yang asli.
Veyrin terbatuk. Rambutnya yang abu-abu jadi hitam sedikit di ujung.
“Aku… aku ingat,” bisiknya. “Aku ingat nangis.”
Selene memeluk Veyrin dari belakang. “Selamat datang pulang. Utuh.”
SURAT KELIMA
Di panggung ada surat terakhir.
Empat sudah selesai. Dua lagi.
Yang berikutnya ada di Lembah Tulang.
Dan dia adalah orang yang paling kau benci.
– ?
Tio mengambil surat itu. “Tulisannya… familiar.”
Veyrin menatap tangannya. Hangat. “Siapapun dia, kita hadapi bareng.”
Eira menatap kompas. “Tujuan berikutnya: Lembah Tulang.”
Veyrin mengangguk. Untuk pertama kalinya, dia tersenyum sungguhan.
“Berangkat. Tim 12.”
Di belakang, Kota Cermin retak. Lalu berubah jadi kota kaca biasa. Memantulkan langit.
Kreator : Nadya Putri
Comment Closed: Bab 10 dari novel Sihir Tanah Fajar Perjalanan 9 bintang
Sorry, comment are closed for this post.