“Kadang aku merasa, hujan di Jogja turun untuk menutup isakku.”
Ada masa ketika cinta tak lagi terasa seperti lagu, melainkan seperti gema — indah tapi jauh, terdengar namun tak terasa menyentuh kulit. Hari-hari kami berjalan seperti dua sungai yang mengalir berdampingan, tapi tak pernah benar-benar bertemu di muara yang sama.
Rumah kami semakin ramai oleh suara anak-anak — teriakan, tawa, rengekan, pertengkaran kecil memperebutkan pensil warna — tapi anehnya, justru di tengah keriuhan itulah aku merasakan sunyi yang paling menyakitkan. Sunyi yang lahir bukan dari ketiadaan suara, tapi dari ketiadaan keberanian untuk saling membuka isi hati.
Bagas semakin jarang pulang tepat waktu. Ia pulang setelah anak-anak tidur, kadang menyalakan lampu kamar mandi pelan-pelan agar tidak membangunkanku. Padahal aku tidak tidur. Aku hanya memejamkan mata untuk berpura-pura damai.
Aku tahu ia lelah. Aku tahu pekerjaannya menuntut banyak, dan aku tahu ia mencoba menjadi suami dan ayah yang baik dengan caranya sendiri. Tetapi entah sejak kapan, kelelahan itu menjadi jarak, dan jarak itu menjadi tembok.
Dan tembok itu kini berdiri di antara kami — tinggi, sunyi, dan dingin.
Suatu malam, hujan turun seperti tirai tipis, mengetuk atap seng dengan ritme yang hampir menenangkan.
“Bu, kenapa Ibu sering diam kalau Bapak pulang?” tanya anak sulungku, dengan mata polos yang bagai cermin kecil memantulkan kebohonganku sendiri.
Aku tertegun.
Anak-anak memang tidak bisa dibohongi. Mereka membaca diam lebih baik daripada orang dewasa yang pura-pura tidak mendengar suara hatinya sendiri.
Aku tersenyum kaku, menyibak rambutnya yang mulai panjang. “Karena Ibu sedang mendengarkan hujan.”
Padahal di dalam hati, aku sedang mendengarkan keretakan kecil yang tak berani kuakui.
Setelah mereka tidur, aku duduk di meja kecil dekat jendela dan menulis di buku yang hampir penuh:
“Aku mencintai, tapi aku juga kehilangan arah.
Jogja mengajarkan ketabahan, tapi tak pernah memberi peta.”
Menulis menjadi ruang perlindungan, satu-satunya tempat di mana aku bisa jujur tanpa rasa bersalah. Kadang aku menulis puisi pendek tentang cinta yang berdebu. Kadang hanya satu kalimat: “Aku baik-baik saja hari ini.”
Meski aku tidak.
Suatu malam, Bagas membuka pintu kamar pelan dan melihatku masih menulis.
“Aku kira kamu sudah tidur,” katanya.
Aku menggeleng. “Belum.”
Ia berjalan mendekat dan melihat buku catatanku yang terbuka. Matanya berhenti pada satu kalimat yang kutulis sebelumnya:
“Aku merasa berjalan sendirian, meski tangan kami masih saling menggenggam.”
Aku menunggu ia marah. Atau tersinggung. Atau mengatakan bahwa aku berlebihan.
Tapi ia hanya duduk di sampingku dan bertanya pelan, “Kalau kamu sedih… kenapa tidak bilang saja?”
Aku menatapnya lama — terlalu lama — sampai aku tak yakin apakah aku sedang melihat wajah suamiku atau bayangan lelaki yang dulu berjanji menemaniku hingga tua.
“Karena kata-kata kadang membuat luka terasa lebih nyata,” jawabku. “Menulis membuatku bisa menyembuhkan tanpa harus menyalahkan.”
Ia mengangguk, tapi tatapan matanya rapuh.
Sebuah keheningan panjang jatuh di antara kami, sebelum akhirnya ia menggenggam tanganku.
Tak ada kata maaf.
Tapi ada rasa.
Ada getaran kecil yang terasa seperti pintu yang mulai terbuka sedikit.
Beberapa minggu berikutnya, konflik yang kami pendam perlahan muncul ke permukaan — tidak dalam bentuk pertengkaran besar, tetapi melalui hal-hal kecil yang tak lagi bisa dipendam.
“Kenapa kamu selalu lelah?” tanyaku satu sore.
“Karena aku harus,” jawabnya. “Aku ingin kalian punya hidup yang lebih baik.”
“Tapi, kenapa ‘lebih baik’ selalu berarti kamu semakin jauh?”
Ia terdiam. Kata-kataku mengenai titik yang selama ini ia sembunyikan.
“Kamu juga berubah,” katanya akhirnya.
“Kamu lebih sensitif, lebih mudah merasa sendiri. Atau mungkin… kamu terlalu banyak memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak dipikirkan.”
Aku menghela napas. “Karena aku takut. Takut suatu hari kita tidak lagi saling memilih.”
Bagas menunduk. “Aku selalu memilih kamu.”
“Tapi apakah memilihku masih membuatmu bahagia?”
Pertanyaan itu menggantung di udara seperti jemuran yang lupa diangkat sebelum hujan. Membasahi ruangan dengan kecemasan.
Malamnya, Bagas mendapati aku duduk di lantai dapur, memeluk lutut, menangis tanpa suara.
“Ada apa?” tanyanya, suaranya terasa dingin.
“Aku capek… semuanya terasa salah.”
“Kenapa kamu tidak bilang sebelumnya?”
“Aku takut kamu tambah stres,” jawabku lirih. “Dan aku takut kamu tidak peduli.”
Bagas merenggang, menatap wajahku dalam. “Jangan pernah merasa kamu sendirian. Kalau kamu jatuh, biar aku yang mengangkat. Jangan jalan sendiri, Ma.”
Aku ingin percaya. Aku sungguh ingin. Tapi bagian dari diriku sudah lama menjahit luka-luka kecil yang tak pernah ia lihat.
Konflik kami mencapai puncaknya dua minggu kemudian.
Bagas pulang lebih larut dari biasanya. Hujan baru saja berhenti, meninggalkan aroma tanah basah yang biasanya menenangkan, tapi malam itu terasa mengancam.
“Kamu lembur lagi?” tanyaku.
“Iya,” jawabnya singkat.
“Padahal kamu bilang mau pulang cepat.”
“Aku ada rapat tambahan. Mendadak.”
“Nanti besok juga mendadak lagi?”
Ia menoleh, jelas mulai kesal. “Kenapa kamu selalu mencurigai?”
“Aku tidak mencurigai! Aku hanya… merasa dilupakan.”
Bagas menahan napas. “Aku bekerja untuk kita, bukan untuk orang lain.”
“Tapi kamu mengorbankan kita demi pekerjaan itu!”
“Tolong, jangan dramatis. Aku lelah.”
Kata lelah dari mulutnya terasa seperti cambuk.
Aku diam.
Bukan karena takut, tapi karena sadar kami sudah berdiri di tepi jurang.
Aku mundur beberapa langkah.
“Kalau kamu lelah denganku… bilang.”
Ia menatapku dengan wajah yang tak bisa kubaca — campuran letih, marah, dan sayang yang tersisa sedikit.
“Aku tidak lelah denganmu. Aku hanya… tidak tahu bagaimana membuat semuanya seimbang lagi.”
Kejujuran itu menamparku sekaligus menenangkan.
Kami dua orang dewasa yang kehabisan cara. Itu saja.
Tidak perlu mengkambinghitamkan siapa pun.
Malam itu aku kembali menulis:
“Cinta dewasa bukan tentang selalu bahagia,
tapi tentang tidak lari ketika bahagia berubah bentuk.”
Dan untuk pertama kalinya, aku merasa lebih dewasa dari sebelumnya.
Pagi berikutnya, sebelum Bagas berangkat kerja, ia mendekat dan berkata pelan. “Aku minta maaf.”
Aku menatapnya. “Untuk apa?”
“Untuk semua malam yang membuatmu merasa sendirian.”
Kata-kata itu tidak menghapus luka, tetapi membuatnya tidak lagi bernanah.
“Kita coba lagi?” ia bertanya.
“Kita terus berusaha,” jawabku. “Karena cinta bukan tentang berhasil atau gagal. Cinta tentang kembali memilih.”
Ia mengangguk.
Hari itu, sebelum keluar rumah, ia menepuk pundakku seperti dulu waktu kami masih muda.
Dan entah kenapa, sentuhan itu terasa seperti doa.
Aku membuka jendela dan membiarkan angin dingin masuk. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku melihat hujan bukan sebagai tirai kesedihan, tapi sebagai pengingat bahwa sesuatu yang jatuh pun bisa membawa kesuburan.
Malam itu, aku menulis:
“Hidup adalah menunggu reda tanpa kehilangan keyakinan bahwa matahari akan datang lagi.
Dan mungkin, matahari itu tidak selalu datang dari langit —
kadang ia datang dari dalam diri kita sendiri.”
Aku menutup buku harian dengan hati yang lebih tenang.
Perjalananku belum selesai, rumah tanggaku belum sempurna, studiku belum tuntas. Tapi untuk pertama kalinya, aku tidak merasa sendirian di tengah semua itu.
Aku merasa… hidup.
Dan, itu cukup untuk malam ini.
Kreator : Shavitri Nurmala Dewi
Comment Closed: Bab 10 — Malam-Malam Hujan dan Doa yang Panjang
Sorry, comment are closed for this post.