Orang tua adalah simbol kehidupan serta panutan bagi anak-anaknya. Mereka selalu menganggap anak-anaknya adalah dirinya, belahan jiwanya, hidupnya dan segalanya baginya. Jika mereka sakit, orang tua ikut sakit. Anak-anak merasa sedih, orang tua juga ikut bersedih. Semua kesusahan anaknya, orang tua pasti ikut merasakan susah.
Sebenarnya, meski masih anak-anak mereka tahu tentang perasaan orang tuanya. Akan tetapi, terkadang ada anak yang tidak menyadarinya. Ada juga yang pura-pura tidak tahu. Dan, ada juga yang tahu dan peduli namun mereka memilih untuk diam, tidak menceritakan masalah mereka kepada orang tuanya karena mereka takut akan membuat orang tua mereka khawatir lalu jatuh sakit.
Setiap anak menyampaikan rasa sayangnya kepada orang tua mereka dengan cara yang berbeda-beda, ada yang diam saja agar orang tua tidak ikut kepikiran, ada yang peduli dan tetap cerita tapi dengan perasaan yang hati hati, ada juga yang sangat terbuka agar orang tua bisa turut mendoakan yang terbaik dalam masalah yang mereka hadapi.
Itulah sebabnya saat mendengar orang tuanya dihina, Daryoto, kakak ketiga Suli, tidak lagi diam dan tidak bisa untuk tidak peduli seperti halnya saat adiknya dihina. Dia sangat marah, ingin sekali mulutnya juga melontarkan kata-kata yang mungkin lebih kasar dari apa yang dia terima. Tapi, lisannya masih bisa menahannya. Sayangnya, tidak dengan tubuhnya.
Tanpa berpikir panjang, Kang Yoto akan langsung memukul dan memberi pelajaran terhadap siapa saja yang suka menghina orang lain.
Sedangkan, Pak Kasmen dan Bu Darsimi saat mendengar anaknya dihina oleh orang lain, justru akan menyalahkan diri mereka sendiri karena merasa tidak mampu memberikan yang terbaik untuk anaknya atau kehidupan yang layak untuk anak-anaknya. Mereka akan terus menyalahkan diri mereka sendiri sampai jatuh sakit karena merasa tidak layak menjadi orang tua.
Perbedaan kasih sayang yang sangat terlihat jelas. Bagaimana sikap seorang anak yang mendengar orang tuanya dihina, mereka akan memukuli si penghina itu, sedangkan sikap orang tua yang mendengar anaknya dihina mereka akan memukuli diri mereka sendiri. Karena mereka tahu, menyalahkan orang lain bukanlah hal yang baik dari apa yang terjadi di dalam hidup mereka. Meski seharusnya semua itu tidak pantas juga mereka urusi apalagi mereka hina, karena setiap kehidupan orang tidak ada yang tahu bagaimana mereka berjuang menghadapi ujian yang setiap hari berganti atau bahkan belum semua selesai mereka jalani.
Sebaik apapun kita sebagai anak yang menyayangi orang tua kita tetap tidak akan mampu menandingi sayangnya orang tua kita terhadap kita, karena kita masih menunjukan sikap dimana saat orang tua kita dihina kita akan menyalahkan orang lain, bukannya introspeksi terhadap diri sendiri malah orang lain yang akan kita salahkan, sudahkah kita sebagai anak mempelajari hal ini, bertengkar bukanlah solusi melainkan menunda masalah baru datang yang mungkin jauh lebih besar.
“Apa yang sudah kita lakukan untuk orang tua kita?”
“Sudahkan kita melakukan sesuatu untuk orang tua kita agar orang lain tidak memiliki hak untuk menghina orang tua kita?”
“Sudahkah kita memikirkan itu, kenapa harus orang lain yang kita salahkan?”
“Bukankah seharusnya kita juga menyalahkan diri kita sendiri sebagaimana orang tua kita menyalahkan diri mereka sendiri saat anak mereka dihina!”
Kita masih belum layak disebut sebagai anak yang berbakti kepada orang tua jika kita masih menyalahkan orang lain saat mereka menghina orang tua kita. Segala kebaikan akan tumbuh menghasilkan kebaikan pula, meski semuanya juga termasuk ujian hidup—entah itu anak kepada orang tua, orang tua kepada anak, teman kepada teman lainnya, dan seterusnya. Berbakti kepada orang tua itu wajib, apa pun kondisinya dan apa pun keadaannya. Hasil selalu milik Allah, dan Allah pasti memberikan yang terbaik, meskipun tidak selalu “mata diganti mata.”
Sebaik-baiknya seorang anak adalah yang berbakti kepada orang tuanya; bukan yang mendapatkan nilai sempurna untuk membuat orang tua tersenyum, bukan yang memberikan banyak harta agar orang tua tidak hidup susah, dan bukan yang melontarkan ucapan indah saat hari-hari penting. Para orang tua hanya menginginkan anak-anak mereka hidup bahagia, sehat, dan sesekali menemani atau mengajak mereka mengobrol—meluangkan waktu di tengah kesibukan, walau hanya sekadar bercanda gurau.
Tidak ada orang tua di dunia ini yang sengaja ingin merepotkan anaknya. Tidak ada yang ingin menyusahkan atau mengambil sesuatu dari anaknya, bahkan meski itu hanya waktu luang. Mereka tahu anak-anak mereka adalah segalanya bagi mereka, meskipun hanya dalam bentuk waktu. Mereka tidak mungkin mengatakan, “Nak, kalau ada waktu luang, tengoklah Ibu dan Bapak ya.” Mustahil mereka mengatakan itu kepada anak yang mereka cintai.
Kita sebagai anak harus mulai menyadari hal itu karena waktu kita tidak banyak. Jika bukan orang tua kita yang lebih dahulu meninggalkan kita (meninggal dunia), maka kitalah yang akan meninggalkan mereka.
Sebagaimana Allah perintahkan dalam salah satu surah Al-Qur’an, yaitu Al-Isra ayat 23 dan 24:
“Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapakmu. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.”
Dan ayat 24:
“Rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua menyayangiku, mendidik aku pada waktu kecil.”
Tarjo, Kusnaryo, Daryoto, Moh Yanto, Suli, dan si bungsu adalah anak-anak dari Pak Kasmen dan Bu Darsimi. Mereka belum mampu sepenuhnya membahagiakan orang tua mereka—masih seperti anak-anak lainnya: kadang bandel, kadang melawan, kadang keras kepala. Namun sifat-sifat itu hanya muncul sesekali. Selebihnya, mereka adalah anak-anak yang nurut, sopan, dan ramah kepada orang tua maupun orang lain. Kemiskinan tidak menghalangi mereka untuk menjadi anak yang baik dan berbakti, meskipun belum sempurna dan masih terus belajar karena kesempurnaan hanya milik Allah.
Sebagai orang tua yang tidak bisa memberikan kesempurnaan hidup bagi anak-anaknya, Pak Kasmen dan Bu Darsimi tetap hidup dengan bersyukur. Mereka selalu istiqomah dan yakin bahwa “hari esok pasti lebih baik.
Kreator : Siti Purwaningsih (Nengshuwartii)
Comment Closed: BAB 11 – HINAAN ORANG TUA
Sorry, comment are closed for this post.