“Aku belajar bahwa bertahan bukan hanya tentang kuat, tapi juga tentang mengerti kapan harus diam.”
Waktu berjalan tanpa suara. Tidak ada jam dinding yang mengetuk, tidak ada lonceng yang menandai perubahan hidup. Namun semuanya berubah — perlahan, pasti, seperti daun-daun jati yang menguning tanpa pernah meminta izin pada musim.
Anak-anakku tumbuh secepat rumput setelah hujan.
Mainan-mainan mereka satu per satu kehilangan pemiliknya: boneka beruang yang dulu selalu dipeluk saat tidur, kini tergeletak di keranjang tanpa wajah. Mobil-mobilan yang dulu menjadi alasan pertengkaran, kini dibiarkan berdebu di bawah lemari. Seragam TK yang dulu terlalu besar, kini digantikan seragam SMP yang mulai sempit.
Dan, aku?
Aku berubah pelan-pelan, kadang rasanya seperti merangkak. Dari perempuan muda yang canggung, sering menangis diam-diam, sering merasa kalah, menjadi perempuan yang mulai bisa berdiri tegak — bukan karena tidak rapuh, tapi karena tahu bagaimana tetap berjalan meski gemetar.
Setelah wisuda, aku bekerja di sebuah kantor kecil di dekat kampus. Enam ruangan, dua jendela, satu dispenser yang selalu macet, dan banyak kertas yang harus diurus. Setiap pagi aku melewati gang sempit dengan bau gorengan, menyapa tukang parkir yang hafal jadwalku, lalu duduk di meja yang kayunya mulai mengelupas.
Hari-hariku diisi dengan laporan. Banyak laporan.
Angka-angka, tabel, rapat, revisi.
Aroma mesin tik berdebu bercampur wangi fotokopi yang hangat menjadi bagian dari rutinitas yang entah kenapa menenangkan.
Tapi, di antara semua itu, aku menemukan sesuatu yang hilang — diriku sendiri.
Menulis laporan mengajarkanku bahwa ada banyak cara bercerita, bahkan tentang hal-hal yang tampak kering. Ada hari ketika aku menghabiskan waktu menuliskan ringkasan data yang panjang hanya untuk mengubah satu kalimat menjadi lebih hidup.
Bosku suatu sore memanggilku.
“Kamu punya cara menulis yang berbeda,” katanya sambil menepuk-nepuk map laporan. “Seolah kalimatmu hidup. Tidak kaku.”
Aku tersenyum malu. “Mungkin karena saya suka bercerita, Pak.”
Ia menatapku beberapa detik, lalu berkata, “Pertahankan. Angka bisa menjelaskan hasil, tapi cerita bisa menjelaskan manusia.”
Kalimat itu seperti kunci kecil yang membuka pintu yang sudah lama terkunci dalam diriku.
Sejak hari itu, aku menulis bukan hanya untuk bekerja — tapi untuk hidup.
Aku menulis di sela istirahat makan siang.
Menulis di angkringan sambil menunggu hujan reda.
Menulis di antara tumpukan cucian.
Menulis ketika anak-anak sudah tidur.
Kadang hanya dua kalimat. Kadang satu halaman penuh.
Di antara kalimat-kalimat itu, aku menemukan diriku tumbuh — tidak dengan kilat, tidak heroik, tapi lembut, pelan, mengalir seperti air sumur di belakang rumah.
Dalam diamnya, rumah kami berubah.
Suara anak-anak masih memenuhi pagi dan sore, tapi tawa mereka berbeda — lebih cepat hilang, lebih sering berganti dengan suara pintu kamar yang menutup. Meja makan tidak lagi dipenuhi cerita panjang; kini hanya ada percakapan singkat seperti:
“PR-mu sudah?”
“Baju olahraga mana?”
“Besok kamu piket, ya.”
Bagas juga berubah.
Ia lebih banyak mendengarkan, lebih sering mengamati, seolah takut aku meledak atau runtuh kapan saja. Konflik beberapa bulan lalu masih menyisakan jejak, tapi kami mencoba. Kami benar-benar mencoba.
Suatu malam, ketika aku sedang melipat baju sekolah anak-anak, Bagas duduk di lantai dan berkata lirih, “Aku sadar selama ini kamu berjalan terlalu jauh sendirian.”
Aku berhenti melipat. “Tidak apa-apa.”
“Tidak,” katanya. “Harusnya aku berjalan di sampingmu. Bukan di depan. Bukan di belakang.”
Aku tidak menjawab.
Tidak perlu.
Kadang diam adalah bentuk maaf terbaik.
Tahun 2001 datang seperti angin dingin yang membawa kabar rahasia.
Suatu pagi, di meja kerjaku, ada sepucuk surat berkop universitas Jepang. Aku mengira itu brosur atau seminar. Tapi ketika kubuka, aku terpaku:
“Kami dengan senang hati menawarkan Anda beasiswa penelitian singkat selama enam bulan.”
Tanganku gemetar.
Aku membacanya lagi. Dan, lagi.
Setiap kata terasa seperti detak jantung yang salah ritme.
Jepang?
Aku?
Seorang ibu dengan dua anak?
Seorang pegawai kantor kecil?
Bagaimana mungkin?
Sore itu aku pulang dengan langkah panjang yang bahkan tidak kusadari. Sesampainya di rumah, aku memberikan surat itu pada Bagas. Ia membacanya perlahan, lalu menatapku. Tatapan yang panjang, nyaris tanpa kedip.
“Kamu mau?” tanyanya pelan.
Aku tidak bisa menjawab.
Ingin? Tentu.
Siapa yang tidak ingin?
Tapi takut? Oh, aku takut setengah mati.
“Aku tidak tahu,” kataku akhirnya. “Bagaimana dengan rumah? Anak-anak? Kamu?”
Bagas menghela napas. “Kita bisa atur. Mereka sudah besar. Aku bisa bagi waktu.”
“Bagas, enam bulan itu lama.”
“Tidak selama kamu pikir.”
“Kalau mereka sakit?”
“Kalau aku terlalu rindu?”
“Kalau kamu kewalahan?”
Aku hampir menangis hanya karena memikirkan kemungkinan-kemungkinan itu.
Bagas berdiri, meraih bahuku, dan berkata dengan suara yang tidak pernah kudengar sebelumnya — tenang, mantap, seperti tanah setelah hujan lebat.
“Pergilah.”
Aku menggeleng cepat. “Aku tidak bisa.”
“Ma,” katanya, memanggilku dengan suara rendah seperti ketika kami masih muda, “kamu sudah terlalu lama menjadi penopang. Sekarang saatnya kamu berjalan lagi.”
Dan saat itulah aku menangis.
Bukan karena sedih.
Bukan karena takut.
Tapi karena akhirnya — untuk pertama kalinya dalam hidup — aku diberi izin untuk menjadi diriku sendiri.
Malam sebelum keberangkatan, Jogja seperti memberikan salam perpisahan. Langitnya redup, tapi tidak gelap. Anginnya lembut, membawa aroma tanah basah dan kayu jati tua.
Aku berdiri di halaman rumah. Anak-anak sudah tidur. Bagas sedang menyiapkan koper terakhir.
Aku menatap langit.
Bintang-bintang seperti malu-malu menampakkan diri, seakan tahu aku akan meninggalkan mereka untuk sementara.
Aku berbicara dengan suara pelan, hampir seperti doa.
“Mungkin, saatnya kota lain bernyanyi untukku.”
Dan entah kenapa, angin yang melewati rambutku terasa seperti jawaban.
“Pergilah,” bisiknya.
“Tapi jangan lupa — setiap kota hanya gema dari hatimu sendiri.”
Aku memejamkan mata dan rasanya seperti memegang tangan Jogja untuk terakhir kali. Bukan perpisahan, tapi izin.
- Percakapan-Perpisahan
Sebelum aku masuk kamar, Bagas memanggilku.
“Kamu yakin?” tanyanya.
Aku mengangguk, meski keraguan masih berputar-putar di dadaku seperti kupu-kupu gelisah.
“Aku takut,” kataku jujur.
“Aku juga.”
Ia tersenyum kecil. “Tapi takut bukan alasan untuk tidak melangkah.”
Aku duduk di sebelahnya. “Kalau aku gagal?”
“Kalau kamu gagal, kamu pulang. Dan kita mulai lagi dari awal.”
Ia menatapku dengan lembut. “Yang penting kamu pergi dulu.”
Aku memegang tangannya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tidak ada jarak.
Tidak ada peran suami-istri yang membuat kami kaku.
Kami hanya dua manusia yang mencoba memahami satu sama lain.
“Aku akan menelpon setiap hari,” kataku.
Ia tertawa kecil. “Kalau sinyalnya bagus.”
Aku memukul lengannya pelan. “Serius, Gas.”
“Aku tahu. Dan aku akan mengangkat setiap kali kamu menelepon.”
Kami berbicara lama — bukan tentang hal-hal besar, tapi tentang hal-hal kecil yang justru terasa paling penting:
Siapa yang harus mengingatkan anak sulung untuk bawa buku kesenian.
Siapa yang harus memeriksa PR matematika adiknya.
Siapa yang harus membayar listrik.
Siapa yang harus membeli minyak kayu putih.
Dan di antara percakapan itu, terselip kalimat-kalimat seperti:
“Kamu pasti bisa.”
“Kita akan baik-baik saja.”
“Jangan lupa makan.”
“Hati-hati di sana.”
Hal kecil, tapi bukan hal kecil.
Malam itu aku tidak bisa tidur.
Aku membayangkan kota baru yang bahasa penduduknya tidak kumengerti.
Aku membayangkan musim dingin pertama yang mungkin membuat kulitku perih.
Aku membayangkan stasiun kereta, lampu-lampu neon, jalanan Nagoya yang penuh bunga sakura.
Aku membayangkan diriku duduk sendirian di kamar asrama.
Dalam bayangan-bayangan itu, aku merasa seperti perempuan asing — seseorang yang harus belajar lagi dari awal.
Tapi di tengah ketakutan itu, ada sesuatu yang lain muncul:
Keberanian.
Bukan keberanian besar seperti milik tokoh-tokoh dalam novel.
Keberanian kecil.
Keberanian yang lahir dari banyak luka kecil yang sembuh pelan-pelan.
Keberanian yang lahir dari malam-malam panjang, dari tulisan-tulisan yang kutulis diam-diam, dari mata Bagas yang akhirnya belajar melihatku lagi, dari anak-anak yang memelukku tanpa tahu betapa takutnya aku.
Keberanian yang membuatku berkata pada diri sendiri:
“Kalau aku tidak pergi sekarang, aku mungkin tidak akan pernah pergi.”
Subuh itu, Bagas mengantarku ke bandara.
Anak-anak tidur, dan kami memutuskan tidak membangunkan mereka.
Di dalam mobil yang dingin, kami diam cukup lama.
Lalu Bagas berkata,
“Kamu tahu apa yang aku pikirkan?”
“Apa?”
“Bahwa kamu bukan pergi… kamu pulang.”
Aku mengernyit bingung. “Pulang ke mana?”
“Ke dirimu sendiri.”
Aku menggigit bibir agar tidak menangis lagi.
Dalam pesawat, ketika kota perlahan mengecil, aku melihat Jogja dari langit — seperti peta kecil dengan sungai perak yang membelahnya.
Aku menyentuh jendela dan berkata dalam hati,
“Terima kasih.”
Bukan karena aku meninggalkannya, tapi karena ia mengajarkanku satu hal yang tidak pernah kupahami:
Hidup bukan tentang bertahan di tempat yang sama,
tapi tentang berani melangkah ketika hati memintanya.
Dan akhirnya, setelah bertahun-tahun diam, aku melangkah juga.
Kreator : Shavitri Nurmala Dewi
Comment Closed: Bab 11 — Kota Baru, Sayap Baru
Sorry, comment are closed for this post.