Menjadi dewasa tidaklah mudah, apalagi berada di daerah yang jauh dari orang tua dan jauh dari saudara. Jika ada masalah keluarga biasanya bisa sedikit atau mungkin lebih membantu dibandingkan hidup sendirian. Itulah yang sekarang dirasakan Tarjo, kakak pertama Suli yang sedang merantau di daerah Kalimantan.
Tarjo sekarang bekerja di sebuah perkebunan kelapa sawit, sebelum berangkat dia sudah diberitahu tentang SOP dalam pekerjaannya nanti seperti apa. Akan tetapi, semua tiba-tiba berubah sejak dia sampai di Kalimantan. Dia melakukan semua pekerjaan dan tanpa terkecuali ikut membantu memasak di dapur karena semuanya seakan-akan membutuhkan bantuannya dalam segala bidang. Saat jam istirahat dimulai, dia akan membantu staf bagian memasak untuk ikut andil dalam memasak bahkan menyiapkan makanan para pekerja.
Tarjo dikenal sebagai orang yang rajin serta suka membantu, karena itu dia selalu dimintai tolong oleh semua temannya bahkan atasannya. Awalnya, dia berpikir karena merasa sebagai anak baru dan tidak enak juga menolaknya, dan apa yang mereka minta tolong juga bisa dia kerjakan, makanya dia mau membantu.
Tapi sekarang, semua seakan-akan memanfaatkan kebaikannya. Ada juga yang meminta tolong ambilkan air untuk kebutuhan kamar mandi. Mereka semua tahu bahwa Tarjo di rumahnya masih mencari air untuk kebutuhan sehari-hari. Ada yang meminta tolong membantu memasak karena dia dikenal sebagai anak seorang pemilik warung nasi. Ada juga yang meminta tolong membersihkan rumput dekat perkebunan karena bapaknya dikenal suka bertani. Semua temannya dan bahkan atasannya seakan-akan sedang memanfaatkan kebaikan Tarjo yang tidak bisa menolak membantu orang lain.
Semakin hari dia mulai sadar betapa dia sangat lelah dalam bekerja dibandingkan teman-temannya yang lain setelah enam bulan lamanya. Kesadaran itu terjadi saat dia tidak sengaja mendengar atasan dan temannya saling bicara di belakang dan ternyata mereka sedang membicarakan dirinya.
Meski terlambat, tapi dia bersyukur segera menyadari hal itu. Akhirnya, dengan berani Tarjo meminta izin untuk bertemu dengan Pak Salim sebagai kepala personalia di sana yang menangani masalah para pekerja. Mungkin semua orang di sana lupa, jika selain pandai membantu, Tarjo juga dikenal pandai menyuarakan pendapat dan punya prinsip yang kuat. Dengan yakin, Tarjo mengetuk pintu ruangan Pak Salim.
“Pagi Pak Salim, maaf menggangu waktunya sebentar,” ucap Tarjo minta izin bicara.
“Silahkan Tarjo, masuklah. Ada yang bisa saya bantu?”
“Pak, saya mohon maaf sebelumnya. Tapi ada yang ingin saya sampaikan.”
“Oh, apa itu? Silahkan.” Pak Salim antusias karena beliau memang menyukai pekerjaan Tarjo selama ini.
“Saya tidak tahu selama ini Bapak mengetahuinya atau tidak, tapi saya ingin cerita sama Bapak soal apa yang saya alami dan ternyata ada juga beberapa pekerja yang mengalami hal yang sama seperti saya. Itu pun jika Bapak tidak keberatan dan meluangkan waktu Bapak sebentar.”
“Silahkan, tidak mengganggu sama sekali, jika itu soal para pekerja silahkan katakan saja. Sepertinya agak serius ya?”
Tarjo mulai menceritakan semuanya soal rekan kerjanya dan juga atasannya tentang cara mereka memperlakukan dia selama ini. Awalnya semua dia pikir tidak masalah, tapi saat dia mendengar langsung apa yang mereka rencanakan, dia mulai terganggu dan ingin segera meluruskannya.
Dulu, saat menerima pekerjaan ini, gurunya berpesan jika ada yang tidak memperlakukan dirinya dengan sebagaimana mestinya, dia disuruh oleh gurunya untuk mencari Pak Salim.
Setelah dia menceritakan semua, ternyata Pak Salim tidak tahu menahu, karena semua laporan yang dia terima dari stafnya tidak pernah ada keluhan apalagi kejadian yang mencurigakan atau ada tindakan senioritas dalam pekerjaan selama ini. Jika itu memang ada, maka itu adalah tindakan yang dilarang, apalagi memperalat pekerja untuk hal-hal yang bukan menjadi tanggung jawabnya.
Masalah ini semakin serius dan segera ditangani oleh Pak Salim dengan cepat, karena beliau tahu kinerja Tarjo sangat bagus selama ini. Dia tidak mau kehilangan pekerja-pekerja yang begitu baik dan kompeten hanya karena masalah staf dan rekannya yang tidak menghargai mereka. Apalagi ada alasan hinaan di kasus ini, walau dia anak dari orang yang tidak berada tetap itu adalah hal yang tidak pantas untuk dihina. Di lingkup pekerja ternyata semua orang selalu membicarakan status sosial yang membuat si miskin akan di suruh-suruh dan si kaya akan duduk manis.
Setelah di telusuri semua, hampir semua anak baru disuruh-suruh oleh mereka yang mengaku senior dan juga atasan mereka yang tidak sesuai dengan SOP yang mereka kerjakan.
Kasus semakin runyam, para korban tidak pernah mengadu kepada Pak Salim karena takut kehilangan pekerjaan. Mereka sudah jauh dari kampung dan tidak mau pulang dengan tangan kosong.
Akhirnya, semua yang diperlakukan tidak baik hanya bisa diam, berjuang dan bertahan hidup di tempat yang jauh dari keluarga masih-masih.
Dan, yang membuat mereka bertahan saat merasakan ketidakadilan di dalam pekerjaan ini adalah keluarga mereka. Mereka takut pulang tidak bawa uang. Ada juga yang takut tidak bisa bayar hutang karena untuk berangkat ke Kalimantan butuh biaya yang lumayan. Ada yang memikirkan orang tuanya yang sakit untuk biaya pengobatannya dan banyak hal yang mereka perjuangkan dari setiap cerita mereka masing masing.
Setelah Tarjo bicara dan mengungkapkan semuanya, ditemani dengan para pekerja yang menjadi korban, akhirnya pekerja yang bersalah dikeluarkan dari perkebunan, walau ada juga yang masih diberi kesempatan tetapi tetap dalam pengawasan mengingat perkebunan ini sangat membutuhkan banyak tenaga kerja.
Semua orang bersyukur atas tindakan Tarjo yang berani mengungkap dan membongkar senioritas di dalam lingkup pekerjaan ini, walau awalnya Tarjo juga ada rasa takut akan hal-hal yang tidak dia inginkan. Tapi, dia lebih takut kalau mereka yang suka memerintah ini dibiarkan terus menerus lalu bertambah semena-mena kepada yang lainnya.
Atas tindakannya ini, Pak Salim mengangkat Tarjo sebagai bagian dari staf personalia yang bertugas mengawasi dan membantu para pekerja yang mengalami hal buruk di lingkungan pekerjaan, serta menjadi kaki tangan Pak Salim dalam mengevaluasi pekerjaan dari para pekerja agar setiap saat selalu semangat dalam bekerja. Agar saat mereka pulang nanti, tidak hanya uang yang mereka bawa, tapi juga pengalaman bekerja yang mereka syukuri karena mereka ada dalam bagian pengalaman itu.
Perkebunan ini sangat luas. Tidak hanya fisik yang dibutuhkan, tapi juga kepercayaan dalam bekerja bersama. Mereka tidak akan mampu menyelesaikan pekerjaan berat ini jika tidak dilakukan bersama dan saling percaya.
Semua pekerja yang memang sudah mengenal baik Tarjo sangat senang akan berita ini. Semua bersyukur ada Tarjo di tengah-tengah mereka yang siap membantu dan menyuarakan pendapat mereka. Mereka yakin, Tarjo selalu membela siapa yang membutuhkan keadilan, bukan siapa yang memiliki jabatan.
Tarjo bersyukur atas jabatan baru yang dia dapatkan ini. Jabatan ini adalah pemberian Allah yang maha adil yang membuat dia mampu bersabar dalam menghadapi ketidakadilan dan dimanfaatkan oleh orang-orang yang selalu menganggap dia rendah, bahkan kata miskin yang sering dia dengar sudah bukan hal baru lagi.
Berkat nasehat orang tuanya yang selalu dia ingat bahwa, selalu sabar dalam menghadapi sifat orang lain, sabar terhadap hinaan orang lain, sabar dalam ketidakadilan orang lain kepadanya, membuat dia kuat untuk berjuang hidup sendiri jauh dari keluarga yang dia rindukan. Jarak hanyalah angka, tapi doa yang akan menghubungkan mereka untuk selalu saling mendoakan dan merindukan.
Yang bisa kita kendalikan adalah mulut kita agar tidak menyakiti orang lain, yang bisa kita jaga adalah telinga kita dari mendengar perkataan buruk orang lain, dan yang bisa kita jaga adalah pikiran kita dari merendahkan orang lain, karena kita cuma memiliki satu mulut dan dua tangan maka hanya kita hanya bisa gunakan untuk menutupi diri kita sendiri bukannya menutupi banyaknya mulut orang yang tidak tau diri.
Setelah Tarjo mengalami semua ini dia jadi ingat isi surah Al Qur’an yang sering dia baca akhir-akhir ini, Al-Hujurat ayat 11 yang berbunyi :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain,(karena) boleh jadi mereka(yang diolok-olok) lebih baik dari mereka(yang mengolok-olok).”
Dan, surah Qaf ayat 18 yang berbunyi :
“ma yalfizu ming qaulin illa ladaihi raqibun atid.”
“Tidak ada sesuatu kata pun yang terucap, melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).”
Istiqomah dalam kesabaran adalah kunci dari ketaatan kita kepada Allah, karena yakinlah bahwa semua akan ada balasannya walaupun sekecil biji sawi, ataupun sebutir debu, semua akan ada perhitungannya nanti di pengadilan Allah yang maha adil, tidak ada yang luput dari perhitungan-Nya.
Kreator : Siti Purwaningsih (Nengshuwartii)
Comment Closed: BAB 12 – BERJUANG HIDUP
Sorry, comment are closed for this post.