Hari ini hari yang ditunggu
Bersama kita melangkah maju
Perjalanan panjang ini, aku memilihmu
Mari kita bahagia selalu
Yang kuberi bukan hanya cincin
Bukan hanya janji sehidup semati
dan saling mengerti
Dengan janji serta doa yang suci
Semoga Allah meridhoi ibadah ini
Menggapai keluarga sakinah mawadah warohmah bersama
Selamanya, saling suka dan duka selalu bahagia
Walau badai datang silih berganti
Aku harap kita tak akan berpisah sampai mati
Penggalan puisi yang ditulis Suli saat malam pasean (malam hari menjelang pernikahan). Hatinya gundah gulana, entah apa yang sedang Suli pikirkan. Ia takut akan ada badai besar yang datang di hari bahagianya. Buru-buru Suli tepis pikiran buruk itu dan juga kekhawatirannya. Tak henti lisannya mengucapkan banyak istighfar agar hatinya tenang.
Akhirnya rombongan keluarga Pak Kades, Bu Kades dan Mas Ardi mulai memasuki rumah Suli dengan penuh orang dan juga riuh iringan pengantin laki-laki. Semua memancarkan wajah bahagia, terutama kedua mempelai yang terus saja saling melempar senyum, sedikit melirik dan sedikit menahan tawa.
Sambutan dari kedua belah pihak sudah diutarakan, dari utusan Pak Kades dan juga dari keluarga Suli yang diwakili oleh Pak RT. Beberapa ucapan haru yang disampaikan ada yang menerimanya dengan sedikit air mata, ada pula yang mendengarnya dengan canda karena hari bahagia tak ingin ada kesedihan yang mungkin bisa merusak suasana.
Ijab kabul mulai diucapkan mempelai pria. ”Saya terima nikah dan kawinnya Suli binti almarhum Bapak Kasmen dengan mas kawin sepuluh gram emas dan uang tunai seratus ribu rupiah dibayar kontan.”
Semua orang di lokasi pernikahan sontak berteriak, “SAH!”
Haru, sedih, lega, dan air mata yang diiringi tawa, bahagia dan doa membanjiri pernikahan Suli dan Mas Ardi, tak kuasa air mata Bu’e menangis pilu, lega dan rindu akan suami yang pergi terlebih dahulu yang belum sempat melihat putri kecilnya telah dipersunting orang. Ditemani Kang Yoto dan adik kecilnya, mereka saling merangkul lega dan bahagia akan selesainya ijab yang sakral. Mereka sangat bahagia melihat Suli tersenyum gembira dalam pernikahan itu.
Walau ada kesedihan yang tak bisa disembunyikan oleh Bu’e karena putranya yang lain tidak bisa pulang menghadiri pernikahan adik perempuan satu-satunya. Tapi mau bagaimana lagi, jarak dan waktu yang membuat mereka tak bisa bertemu.
Kang Tarjo, Kang Naryo dan Kang Yanto merupakan tiga orang putra Bu’e yang tidak bisa pulang karena urusan mereka yang tak kunjung selesai. Konsep itu sangat cocok sekali dengan kesibukan mereka yang tergolong orang-orang yang peduli tapi hanya di lisan saja. Jika masalah pulang, akan ada seribu alasan yang akan mereka ucapkan. Entah itu ongkos pulang, kapal tak datang atau urusan yang belum kelar. Semua siap mereka dalilkan di atas kesibukan yang mereka perjuangkan, melupakan orang tua yang tak kunjung dijumpai, kebahagiaan adik yang tak ikut menyertai, serta kerinduan berkumpul bersama yang tak bisa diwujudkan. Tapi, tetap rasa syukur tidak putus karena mereka ikut bahagia dan turut mendoakan walau dikirim lewat pesan semalam.
Banyak sekali tamu asing yang Suli tidak kenal. Semua adalah kenalan atau teman-teman Mas Ardi. Suli hanya berdiam diri duduk di ujung ruangan sambil menahan sedikit rasa sakit perutnya karena kemarin dia baru saja mendapat datang bulan.
“Kenapa perutku sakit sekali tidak seperti biasa, kepalaku pusing juga. Apa boleh ya aku istirahat dulu di kamar? Rasanya aku sungguh tak kuat menahan.” Gumam Suli dalam hati sendirian.
Karena tidak tahan dengan sakit perutnya, Suli bilang ke Bu’e untuk izin istirahat lebih dulu. Lagipula, acara juga sudah selesai dan jam menunjukan pukul sembilan malam. Sedangkan Mas Ardi masih sibuk dengan teman-temannya.
Semua orang hampir sudah pulang satu per satu, baik dari keluarga Pak Kades juga sudah meninggalkan rumah sejak habis isya tadi, tinggal beberapa orang saja dan itu juga teman-teman Mas Ardi. Tiba-Tiba ada yang berteriak sangat kencang. Seorang wanita yang berdiri sempoyongan. Suli yang di dalam kamar sontak kaget dan melihat dari jendela kamarnya.
“Kamu kenapa tega sama aku, hah?!”
“Kenapa kamu ninggalin aku pas aku lagi sayang-sayangnya sama kamu?!”
“Apa aku di sampingmu gak cukup, sampai kamu malah nikah sama wanita desa itu?!”
“Kenapa kamu tega sama aku Ardi?!” Wanita itu terus meracau tak karuan sambil berderai air mata.
“Aku udah kasih kamu segalanya, bahkan mau nungguin kamu lulus. Tapi apa yang aku dapatkan? Kenapa kamu tega sih?!”
Tangisnya semakin kencang, seperti sedang meratapi kematian seseorang. Ia terus bicara panjang lebar sambil teman-temannya mencoba mengangkat badannya di tanah dan menutup mulutnya agar diam.
Semua orang disana kaget dan syok dengan yang diteriakkan wanita itu. Ternyata ia sedang mabuk. Awalnya ia dikira tidur oleh temannya. Tapi, tiba-tiba ia bangun dan berteriak tak karuan. Yang mengagetkan, ternyata mereka memiliki dua botol minuman beralkohol yang semua orang rumah tidak mengetahuinya karena minuman itu dimasukan ke dalam botol air biasa, seakan hendak mengelabui semua orang.
Salah seorang laki-laki mencoba menutup mulut wanita itu lagi, tapi dia tidak bisa menghentikan ocehan wanita itu karena pria tersebut juga setengah mabuk. Akhirnya, wanita itu diseret dan diajak pulang oleh teman-temannya sambil menunduk malu dan terus meminta maaf sepanjang jalan. Suli yang sedang rebahan di kamar cukup terkejut dengan semua yang dikatakan wanita itu.
“Apa hubungan wanita itu dengan Mas Ardi? Kenapa ada minuman alkohol disana? Apa dia seseorang yang suka minum?” Pikiran Suli tak karuan dibuatnya.
Mas Ardi masuk ke dalam rumah dengan diam saja. Bahkan, ada Bu’e di ruang tamu yang masih belum tidur. Semua terkejut dengan kejadian itu. Siapa yang akan menyangka jika akan ada kejadian yang sangat mengejutkan di malam penutupan acara. Berita itu langsung didengar oleh Pak Kades yang kemudian bergegas ke rumah Suli dan langsung minta izin Bu’e untuk bicara dengan Ardi.
“Nak, ada Pak Kades. Beliau mau bicara dengan Mas-mu sebentar,” ucap Bu’e mengetuk pintu kamar Suli.
“Nggih, Bu’e.”Suli menjawabnya dan membukakan pintu.
Mas Ardi didalam kamar diam saja tidak bilang apa-apa atau bahkan mengatakan sesuatu kepada Suli. Menjelaskan pun tidak. Suli yang kebingungan juga ikut diam karena tidak tahu harus bertanya apa.
“Nak Suli, boleh Bapak ajak Ardi bicara dulu sebentar ya. Nanti kalau sudah selesai pasti langsung tak suruh kesini.” Pak Kades meminta izin kepada Suli untuk membawa Mas Ardi bicara di luar.
Suli menyetujuinya, karena pasti ada hal penting yang ingin dibicarakan, sampai Pak Kades langsung ke rumah malam-malam. Tapi, hal itu juga sangat mengganggu Suli. Dia sebenarnya juga ingin mengetahui apa yang terjadi, dan siapa wanita itu. Tapi, semuanya dia tahan karena Bu’e pasti juga khawatir jika memang ternyata ada masalah yang belum terselesaikan.
Suli memang sering mendengar kabar yang kurang baik soal Mas Ardi, terutama soal pergaulannya di kampus. Kalau pulang ke rumah sering didatangi para wanita. Akan tetapi, dia mencoba untuk husnudzon. Suli juga tidak tahu bagaimana pergaulan anak kuliah. Pasti sering banyak teman-temannya yang datang main ke rumahnya. Tapi selain hal yang tidak baik, dia juga mendengar banyak hal baik dari Mas Ardi kalau dia orang yang tidak meninggalkan sholat. Dia sangat menyayangi orang tuanya. Dia juga kakak yang baik kepada adiknya, dan termasuk yang sering ikut mengantar Pak Kades keliling melakukan tugas jika dia sedang ada di rumah tidak memiliki jadwal kuliah.
Suli selalu berprasangka baik terhadap apapun dan kepada siapapun. Jika ternyata dia salah prasangka terhadap mereka yang terlihat baik nyatanya tidak, Suli tidak merasa rugi karena dia hanya menjalankan perintah Allah untuk terus berprasangka baik terhadap orang lain. Satu hal yang patut disangka jelek (suudzon) hanyalah setan.
Pernikahan ini memang bukan yang Suli sukai karena di dalam hatinya dia masih menyimpan cita-cita untuk melanjutkan sekolah dan menjadi seorang guru. Tapi, dia tau kalau Bu’e sangat ingin melihat anaknya segera menikah, tetapi bukan juga menerima pernikahan ini karena paksaan. Karena melihat orang yang kita cintai bahagia itu lebih Suli senangi dibandingkan tidak melakukan apa-apa untuk orang tersebut.
Yakin akan semua takdir Allah pasti baik untuk kita, tugas kita hanya melakukan apapun dengan sungguh-sungguh, berikhtiar semampunya dan hasilnya bagaimana, seperti apa, semua serahkan pada Allah azza wa jalla.
Malam saat sebelum pernikahan, entah kenapa Suli jadi senang membaca sebuah surah di dalam Al-Quran Surah Al-Baqarah ayat 216 bahwa:
”Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
Dari ayat ini, Suli belajar ikhlas dengan apa yang sudah dia putuskan dan lakukan. Segala resiko akan ditanggung dan bertanggung jawab. Pernikahan ini adalah bentuk ketaatannya dalam menjalankan perintah Allah. Jika ternyata keputusannya salah, maka Suli hanya perlu bersabar. Jika ternyata keputusannya benar, maka ia syukuri dan tidak ada keraguan tentang itu. Semua akan baik-baik saja asal kita yakin dan melakukannya semaksimal yang ia bisa. Jika masih terpeleset, bukan salah kaki kita melangkah. Hanya saja, lantai yang kita injak licin. Maka tetaplah bersyukur dalam setiap keadaan.
Kreator : Siti Purwaningsih (Nengshuwartii)
Comment Closed: BAB 17 – HARI H
Sorry, comment are closed for this post.