Aku hanya berdiri di sudut ruangan, menyaksikan semuanya, menangis tanpa suara, tidak cukup besar untuk melerai, tidak cukup jauh untuk tidak melihat. Aku ingat setiap detail dari malam itu — suara tendangan yang membentur logam motor, suara Rendi memohon, suara Ibu yang menangis tanpa hasil, dan diriku sendiri yang hanya bisa berdiri diam, seperti saksi kecil dari sesuatu yang jauh lebih besar dari yang bisa kupahami waktu itu.
Setelah malam itu, Rendi tetap tidak kembali sekolah. Dan, sesuatu di dalam dirinya seperti ikut mati di garasi itu, bersama kapuk kasur yang berhamburan dan gorden yang robek di malam-malam lain di rumah kami. Rumah kami sedang terlalu sibuk dengan kehancurannya sendiri untuk memperhatikan bagaimana satu per satu dari kami ikut runtuh.
Rendi menjadi mudah marah, dan aku, adiknya, yang paling sering ada di dekatnya, menjadi tempat paling mudah untuk melampiaskannya. Ada pukulan-pukulan yang datang tanpa alasan jelas, dari tangan yang seharusnya melindungiku. Aku belajar untuk tidak bertanya kenapa. Bertanya hanya akan membuatnya lebih lama.
Tapi ada satu malam yang tidak pernah benar-benar meninggalkanku, meskipun aku sudah berusaha keras untuk melupakannya.
Malam itu aku tidur sekamar dengan Rendi, seperti biasa. Ia di ranjang, aku di kasur bawah, tanpa dipan, hanya beralaskan lantai yang dingin. Aku sudah tertidur, atau setidaknya berada di ambang tidur, ketika aku merasakan sesuatu yang salah, celanaku sudah terbuka, dan ketika aku membuka mata, aku melihat Rendi tersenyum, menatap tubuhku dengan cara yang membuat aku tahu, tanpa perlu ada yang menjelaskan, bahwa ini bukan sesuatu yang boleh terjadi.
Aku berteriak.
Aku tidak ingat apa yang terjadi setelah itu. Entah bagaimana malam itu berakhir, aku sudah lupa, atau mungkin aku memilih untuk lupa, karena terlalu menyakitkan untuk diingat secara utuh. Ada bagian-bagian dari ingatan yang tubuh dan pikiran kita sendiri putuskan untuk dikubur, bukan karena kita ingin melupakannya, tapi karena mengingatnya terlalu berat untuk ditanggung sendirian, apalagi oleh seorang anak yang bahkan belum sepenuhnya mengerti apa yang baru saja terjadi padanya.
Aku tidak menceritakannya pada siapa pun. Kepada siapa aku bisa bercerita? Ibu sedang berjuang dengan amarahnya sendiri, dengan luka pernikahannya sendiri, dengan Ali yang masih terlalu kecil untuk ditinggalkan, dengan caranya sendiri untuk tetap waras di tengah rumah yang terasa seperti runtuh setiap harinya. Aku tidak tahu ke mana kata-kata itu akan pergi jika aku mengucapkannya, dan aku terlalu takut untuk mencari tahu.
Dan, malam itu bukan satu-satunya. Pamanku, adik dari ibuku, juga pernah melakukan hal serupa padaku di lain waktu, dengan caranya sendiri. Aku tidak akan menceritakan detailnya di sini, sebagian karena aku sendiri tidak sanggup menuliskannya secara utuh, sebagian karena aku sudah cukup lama belajar bahwa tidak semua luka perlu dibuka lebar-lebar untuk dipahami beratnya. Yang bisa kukatakan adalah, pada usia itu, aku belajar sebuah pelajaran yang tidak seharusnya dipelajari anak seusiaku: bahwa bahaya tidak selalu datang dari orang asing, dan rumah, dengan segala orang yang seharusnya menyayangi dan melindungiku di dalamnya, ternyata bisa menjadi tempat paling rawan sekalipun.
Hubunganku dengan Ibu tidak menjadi lebih dekat setelah semua itu. Bagaimana bisa aku mendekat kepada seseorang yang sendiri sedang tenggelam, ketika aku juga sedang tenggelam dengan caraku sendiri, hanya dengan luka yang berbeda, yang bahkan tidak sempat kuceritakan padanya?
Dan, hubunganku dengan Rendi berubah menjadi sesuatu yang rumit. Takut, tapi juga terikat, karena bagaimanapun ia tetap kakakku, satu-satunya orang yang tidur di kamar yang sama denganku. Satu-satunya yang tahu seperti apa rasanya tumbuh di rumah yang sama denganku.
Aku mulai memahami, meskipun belum bisa mengucapkannya dengan kata-kata saat itu, bahwa rumah bukan hanya tidak terasa aman karena apa yang terjadi antara Ayah dan Ibu. Rumah juga tidak aman karena apa yang terjadi di dalam kamar tempat aku seharusnya bisa beristirahat, dari orang yang seharusnya menjadi pelindungku, bukan sumber ketakutanku.
Setiap luka menambah lapisan baru pada dinding yang mulai kubangun di dalam diriku sendiri, dinding yang, tanpa aku sadari akan terus kubawa jauh melampaui masa kecilku, jauh setelah aku meninggalkan rumah itu, jauh setelah aku pikir aku sudah sembuh.
Kreator : Adelia Rahma
Comment Closed: Bab 2 – Anak Yang Menjadi Tempat Pelampiasan
Sorry, comment are closed for this post.