
A. Definisi Menurut Para Ahli
menurut Amstrong dalam Sujiono (2013:59) Menjelaskan kecerdasan kinestetik adalah suatu kecerdasan dimana saat menggunakannya seseorang mampu atau terampil menggunakan anggota tubuhnya untuk melakukan gerakan seperti, berlari, membangun sesuatu, melakukan kegiatan seni dan hasta karya.
Menurut Gardner dalam Umama (2016:15) Menjelaskan Kecerdasan kinestetik (Gerak Tubuh) adalah Kemampuan seseorang untuk menuangkan perasaan dalam gerakan tubuh.
Menurut Gentza dalam Madyawati (2017:22) Menjelaskan Kecerdasan kinestetik adalah suatu kecerdasan ketika saat menggunakanya seseorang mampu atau terampil menggunakan anggota tubuhnya untuk melakukan gerakan, seperti berlari, menari, membangun sesuatu, melakukan kegiatan seni,dan hasta karya.
Menurut tiga pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa kecerdasan kinestetik adalah kemampuan dalam melakukan gerakan-gerakan tubuh dan kemampuan seseorang untuk menuangkan perasaan dalam gerakan tubuh seperti berlari, menari, membangun sesuatu, melakukan kegiatan seni,dan hasta karya
B. Hubungan Antara Gerak Tubuh dan Kemampuan Berpikir
Ketika membicarakan proses berpikir, bayangan kita sering kali tertuju pada aktivitas mental yang berlangsung di dalam kepala—otak yang bekerja, menganalisis, mengingat, dan menafsirkan informasi. Namun, berbagai penelitian mutakhir menunjukkan bahwa proses berpikir tidak bisa dilepaskan dari keberadaan tubuh. Gerak tubuh memiliki peran yang sangat penting dalam membangun cara seseorang memahami dunia. Inilah yang kemudian menjadi dasar dari pendekatan embodied cognition, sebuah paradigma yang menegaskan bahwa pikiran manusia tidak pernah bekerja sendirian, melainkan selalu bekerja bersama tubuh.
1. Pikiran yang Terwujud dalam Gerakan: Dasar Teori Embodied Cognition
Menurut Shapiro (2021), embodied cognition berangkat dari gagasan bahwa “kognisi tidak berada secara terpisah dari tubuh, tetapi lahir dari interaksi antara otak, tubuh, dan lingkungan.” Dengan kata lain, cara seseorang bergerak, merasakan, atau menyentuh sesuatu turut membentuk proses berpikirnya. Selama bertahun-tahun, kita sering menganggap bahwa pikiran adalah aktivitas abstrak, namun penelitian menunjukkan bahwa pengalaman fisik justru menjadi fondasi dari banyak konsep kognitif.
George Lakoff (2025), tokoh besar dalam teori kognisi, juga menegaskan bahwa sebagian besar kemampuan memahami konsep abstrak — seperti ruang, arah, angka, dan bahkan emosi — berakar pada pengalaman sensorik-motorik tubuh. Ia menyebut bahwa “pikiran manusia pada dasarnya adalah tubuh yang berpikir.” Dalam konteks pendidikan, hal ini bermakna bahwa ketika anak bergerak, berlari, melompat, atau memanipulasi objek, sebenarnya mereka sedang memperkuat jalur saraf yang mendukung kemampuan berpikir tingkat tinggi.
2. Bukti Ilmiah: Gerak Mengaktifkan dan Menguatkan Fungsi Kognitif
Blackwood (2025), dalam artikelnya Thinking with the Body, menunjukkan bahwa aktivitas fisik memiliki dampak langsung pada proses berpikir. Ia menulis bahwa “gerakan sederhana seperti berjalan dapat meningkatkan perhatian, kemampuan memecahkan masalah, serta mendorong kreativitas.” Temuannya menjelaskan bahwa bagian otak yang bertanggung jawab atas gerakan motorik—korteks motorik dan serebelum—memiliki koneksi kuat dengan area yang mengatur fungsi eksekutif.
Hal yang sama ditegaskan oleh Fauzen, Pratama, & Pratama (2025) melalui model Neuro-Sports Learning. Dalam penelitian kuasi-eksperimental yang mereka lakukan, diketahui bahwa aktivitas fisik yang terstruktur dapat meningkatkan:
Mereka menuliskan bahwa “stimulasi motorik yang diberikan secara teratur mampu memperkuat fungsi eksekutif yang berperan dalam proses akademik anak.”
Tidak hanya itu, meta-analisis yang dilakukan oleh Fu & He (2025) juga memperlihatkan bahwa proses tubuh berpengaruh dalam kemampuan numerik. Mereka menyimpulkan bahwa “pengalaman sensorik dan gerakan tubuh memberikan kontribusi penting
3. Anak Belajar Lewat Tubuh: Mengapa Gerak Penting dalam Pendidikan
Anak usia dini hingga sekolah dasar adalah pembelajar aktif yang memanfaatkan gerak untuk memproses informasi. Ketika anak melompat, menyeimbangkan tubuh, berlari zig-zag, meronce manik-manik, atau memindahkan benda, maka ia sedang membangun keterampilan motorik dan kognitif secara bersamaan.
Kuswanto & Indriani (2025) dalam penelitian tentang kecerdasan kinestetik menyatakan bahwa aktivitas senam sederhana mampu “meningkatkan kemampuan koordinasi sekaligus memberikan landasan bagi perkembangan kognitif anak.” Di sisi lain, penelitian Khasanah & Prasetyo (2025) mengenai kegiatan neurokinestetik menunjukkan bahwa rangsangan motorik tertentu dapat meningkatkan kesiapan literasi, terutama pada keterampilan pra-membaca dan bahasa.
Temuan-temuan ini memperlihatkan bahwa gerak bukan hanya alat pengembangan motorik, namun juga jembatan yang menghubungkan tubuh dan proses berpikir pada anak.
4. Implikasi dalam Pembelajaran: Ruang Kelas yang Memberi Kesempatan Anak untuk Bergerak
Berdasarkan hasil-hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yang mengintegrasikan gerak tubuh akan menghasilkan pengalaman belajar yang lebih bermakna. Anak bukan hanya duduk dan mendengarkan, tetapi:
Pendekatan ini sejalan dengan pernyataan Re (2025) yang menyebut bahwa “belajar akan lebih efektif ketika tubuh dilibatkan dalam pemaknaan konsep.”
Dengan demikian, ruang kelas seharusnya tidak membatasi gerakan anak, tetapi justru memfasilitasi aktivitas kinestetik sebagai bagian dari pembelajaran. Guru dapat mengintegrasikan aktivitas fisik dalam mata pelajaran apapun—baik itu matematika, bahasa, sains, maupun pendidikan karakter.
C. Bentuk-bentuk keterampilan kinestetik
Keterampilan kinestetik (atau kecerdasan kinestetik) berkaitan dengan kemampuan mengontrol dan mengkoordinasikan gerakan tubuh serta menggunakan tubuh untuk mengekspresikan ide, perasaan, dan pemikiran. Konsep ini populer dalam teori multiple intelligences oleh Howard Gardner sebagai bodily-kinesthetic intelligence.
Dalam konteks pembelajaran, keterampilan kinestetik bukan hanya soal olahraga, tetapi mencakup gerak yang sistematis dan terampil yang dipelajari melalui pengalaman langsung. Adapun terdapat beberapa bagian dari keterampilan kinestetik, diantaranya :
Motorik Kasar (Gross Motor Skills)
Ini adalah kemampuan menggerakkan otot-otot besar tubuh untuk melakukan aktivitas fisik yang melibatkan seluruh atau sebagian besar anggota tubuh.
Contoh bentuk keterampilan kinestetik dalam kelompok ini:
2. Motorik Halus (Fine Motor Skills)
Ini melibatkan gerakan presisi menggunakan otot-otot kecil, terutama tangan, jari, dan koordinasi mata-tangan.
Contoh bentuk keterampilan kinestetik dalam kelompok ini:
Kemampuan motorik halus adalah bagian penting dari keterampilan kinestetik karena memerlukan koordinasi yang akurat antara otot kecil dan persepsi visual.
3. Gerakan Ekspresif / Kreatif
Selain kemampuan motorik, keterampilan kinestetik juga melibatkan ekspresi diri melalui gerakan, contohnya:
4. Koordinasi dan Keseimbangan
Ini adalah bentuk keterampilan kinestetik yang mendukung penguasaan gerakan kompleks, seperti:
D. Karakter individu dengan kecerdasan kinestetik tinggi
Setiap individu dianugerahi potensi kecerdasan yang beragam. Salah satu bentuk kecerdasan yang kerap tampak melalui aktivitas fisik dan gerak tubuh adalah kecerdasan kinestetik. Menurut teori Multiple Intelligences yang dikemukakan Howard Gardner, kecerdasan kinestetik merujuk pada kemampuan seseorang dalam menggunakan seluruh tubuh atau bagian-bagian tubuhnya secara terampil untuk mengekspresikan gagasan, memecahkan masalah, serta menciptakan karya tertentu.
Individu dengan kecerdasan kinestetik tinggi umumnya memiliki kontrol tubuh yang baik, koordinasi gerak yang seimbang, serta kepekaan terhadap posisi dan pergerakan tubuhnya di ruang. Mereka mampu mengkoordinasikan tangan, kaki, dan anggota tubuh lainnya secara efektif, baik dalam aktivitas olahraga, seni tari, maupun keterampilan praktis lainnya. Gerakan bagi mereka bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan juga sarana berpikir dan belajar.
Karakter utama yang menonjol pada individu dengan kecerdasan kinestetik tinggi adalah kecenderungan untuk belajar melalui praktik langsung. Mereka lebih mudah memahami konsep ketika terlibat secara aktif, misalnya melalui percobaan, simulasi, permainan peran, atau aktivitas fisik lainnya. Pembelajaran yang bersifat pasif cenderung kurang efektif, karena tubuh mereka “menuntut” untuk bergerak seiring dengan proses berpikir.
Selain itu, individu dengan kecerdasan kinestetik tinggi biasanya memiliki energi fisik yang besar dan tidak betah berdiam diri dalam waktu lama. Mereka lebih nyaman ketika diberikan ruang untuk bergerak, bereksplorasi, dan menyalurkan ide melalui aktivitas nyata. Dalam konteks pendidikan, karakter ini sering kali disalah artikan sebagai perilaku hiperaktif, padahal sejatinya mereka sedang mengekspresikan potensi kecerdasannya.
Karakter lain yang juga sering muncul adalah ketangkasan dan keterampilan motorik yang baik, baik motorik kasar maupun motorik halus. Hal ini terlihat pada individu yang terampil dalam olahraga, kerajinan tangan, seni pertunjukan, hingga profesi yang membutuhkan presisi gerak seperti atlet, penari, aktor, teknisi, atau ahli bedah. Keunggulan ini berkembang melalui latihan berulang dan pengalaman langsung, bukan semata-mata melalui teori.
Individu dengan kecerdasan kinestetik tinggi juga dikenal memiliki ekspresivitas yang kuat melalui bahasa tubuh. Gerakan, mimik, dan postur tubuh sering kali menjadi sarana utama mereka dalam menyampaikan emosi dan gagasan. Tidak jarang, mereka lebih fasih “berbicara” melalui tindakan daripada kata-kata.
Dengan memahami karakter individu yang memiliki kecerdasan kinestetik tinggi, pendidik dan orang tua diharapkan mampu menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif dan menghargai keberagaman potensi anak. Aktivitas pembelajaran yang melibatkan gerak, permainan edukatif, praktik langsung, dan eksplorasi fisik akan menjadi sarana efektif untuk mengoptimalkan kecerdasan ini. Pada akhirnya, kecerdasan kinestetik bukan sekadar tentang kemampuan bergerak, melainkan tentang bagaimana tubuh dan pikiran bekerja selaras dalam proses belajar dan kehidupan.
E. Pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning)
Belajar sejatinya bukan hanya tentang mendengar penjelasan atau menghafal konsep, melainkan tentang mengalami secara langsung apa yang dipelajari. Inilah inti dari pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning), sebuah pendekatan pembelajaran yang menempatkan pengalaman nyata sebagai sumber utama proses belajar.
Gagasan ini telah lama diperkenalkan oleh tokoh pendidikan progresif John Dewey, yang menegaskan bahwa Pendidikan akan bermakna apabila peserta didik terlibat secara aktif dalam pengalaman yang relevan dan reflektif. Menurut Dewey, pengalaman bukan sekadar aktivitas, tetapi harus diolah melalui proses berpikir agar menghasilkan pemahaman dan perubahan perilaku.
Pemikiran tersebut kemudian dikembangkan secara sistematis oleh David A. Kolb melalui teori Experiential Learning. Kolb menjelaskan bahwa belajar adalah proses di mana pengetahuan diciptakan melalui transformasi pengalaman. Dalam pandangannya, pengalaman bukanlah hasil akhir dari belajar, melainkan titik awal yang akan diproses menjadi pemahaman yang lebih mendalam.
Kolb merumuskan pembelajaran berbasis pengalaman dalam sebuah siklus belajar yang terdiri dari empat tahapan. Tahap pertama adalah pengalaman konkret, yaitu ketika peserta didik terlibat langsung dalam suatu aktivitas atau peristiwa. Tahap ini diikuti oleh observasi reflektif, di mana peserta didik diajak untuk merenungkan apa yang telah dialami. Selanjutnya, refleksi tersebut diolah menjadi konseptualisasi abstrak, yakni pembentukan konsep, prinsip, atau pemahaman baru. Tahap terakhir adalah eksperimen aktif, ketika peserta didik mencoba menerapkan pemahaman tersebut dalam situasi baru.
Melalui siklus ini, pembelajaran tidak berhenti pada aktivitas semata, tetapi berlanjut pada proses berpikir dan penerapan. Peserta didik tidak hanya “melakukan”, tetapi juga memaknai apa yang dilakukan. Inilah yang membedakan experiential learning dari pembelajaran yang sekadar berorientasi pada praktik tanpa refleksi.
Dalam konteks pendidikan, pembelajaran berbasis pengalaman mendorong peserta didik untuk menjadi subjek aktif dalam proses belajar. Mereka diajak untuk bertanya, mencoba, merasakan, gagal, memperbaiki, dan mencoba kembali. Proses ini membantu peserta didik membangun pengetahuan secara mandiri, sekaligus mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kreativitas, dan kemampuan memecahkan masalah.
Pembelajaran berbasis pengalaman juga sangat relevan dengan karakteristik anak dan remaja yang pada dasarnya belajar melalui aktivitas dan eksplorasi. Ketika peserta didik dilibatkan dalam simulasi, eksperimen, permainan edukatif, proyek lapangan, atau praktik langsung, pembelajaran menjadi lebih hidup dan bermakna. Pengetahuan tidak lagi terasa abstrak, karena terhubung langsung dengan pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Lebih jauh lagi, experiential learning tidak hanya berdampak pada aspek kognitif, tetapi juga pada perkembangan sikap dan karakter. Melalui pengalaman langsung, peserta didik belajar tentang tanggung jawab, kerja sama, ketekunan, serta keberanian mengambil keputusan. Nilai-nilai tersebut tumbuh secara alami melalui proses mengalami, bukan sekadar melalui nasihat atau ceramah.
Dengan demikian, pembelajaran berbasis pengalaman dapat dipahami sebagai pendekatan yang memanusiakan proses belajar. Ia mengakui bahwa setiap individu belajar secara aktif melalui interaksi antara pikiran, perasaan, dan tindakan. Dalam dunia pendidikan yang terus berkembang, experiential learning menjadi jembatan penting antara teori dan praktik, antara pengetahuan dan kehidupan nyata.
F. Hubungan gerak, emosi, dan kognisi (Tiga Dimensi Saling Terhubung)
Selama ini, belajar dan berpikir sering dipahami sebagai aktivitas mental yang terjadi di dalam kepala. Padahal, berbagai kajian ilmu saraf dan psikologi modern menunjukkan bahwa pikiran, perasaan, dan gerak tubuh bekerja sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Apa yang kita rasakan mempengaruhi cara kita bergerak, cara kita bergerak mempengaruhi emosi, dan keduanya secara langsung membentuk proses berpikir dan belajar.
Pendekatan ini dikenal dengan istilah embodied cognition, yaitu pandangan bahwa kognisi manusia tidak berdiri sendiri, melainkan tertanam dalam pengalaman tubuh. Dalam perspektif ini, tubuh bukan sekadar alat untuk menjalankan perintah otak, tetapi menjadi bagian aktif dalam proses memahami dunia. Ketika seseorang bergerak, berjalan, menunjuk, atau melakukan gestur tertentu, otaknya ikut bekerja mengolah informasi, membangun makna, dan membuat keputusan.
Gerak memiliki peran penting dalam mengaktifkan fungsi kognitif. Aktivitas fisik ringan seperti berjalan, meregangkan tubuh, atau menggunakan tangan saat menjelaskan sesuatu terbukti membantu meningkatkan fokus, daya ingat, dan kemampuan berpikir. Tidak mengherankan jika banyak orang merasa ide-ide mengalir lebih lancar ketika mereka bergerak dibandingkan saat duduk diam dalam waktu lama. Tubuh membantu otak “berpikir”.
Di sisi lain, emosi juga memainkan peran kunci dalam hubungan ini. Emosi bukan hanya perasaan yang hadir setelah seseorang berpikir, tetapi merupakan bagian dari proses kognitif itu sendiri. Suasana hati yang positif dapat memperluas cara berpikir, meningkatkan kreativitas, dan mempermudah pemecahan masalah. Sebaliknya, emosi negatif seperti takut atau cemas dapat menyempitkan perhatian dan menghambat proses belajar.
Menariknya, hubungan antara emosi dan gerak bersifat dua arah. Emosi tertentu akan mempengaruhi cara seseorang bergerak—misalnya langkah yang lebih ringan saat bahagia atau postur tubuh yang menunduk saat sedih. Namun, gerak tubuh juga dapat memengaruhi emosi. Postur yang tegap, ekspresi wajah yang rileks, atau aktivitas fisik sederhana dapat membantu memperbaiki suasana hati dan meningkatkan rasa percaya diri. Inilah yang menunjukkan bahwa tubuh tidak hanya mengekspresikan emosi, tetapi juga membentuknya.
Keterkaitan antara gerak, emosi, dan kognisi menjadi sangat relevan dalam konteks pendidikan dan pembelajaran. Peserta didik yang terlibat dalam aktivitas fisik yang bermakna cenderung lebih mudah memahami materi, merasa lebih nyaman secara emosional, dan lebih siap secara mental untuk belajar. Pembelajaran yang hanya menuntut duduk diam dan mendengarkan dalam waktu lama berpotensi mengabaikan cara alami manusia dalam belajar.
Ketika peserta didik diberi kesempatan untuk bergerak, bereksperimen, dan mengalami langsung, mereka tidak hanya mengaktifkan otot, tetapi juga mengaktifkan emosi dan pikiran secara bersamaan. Proses belajar menjadi lebih hidup, lebih personal, dan lebih bermakna. Pengalaman inilah yang kemudian membentuk pemahaman yang lebih mendalam dan bertahan lama.
Dengan memahami hubungan erat antara gerak, emosi, dan kognisi, kita diajak untuk memandang belajar sebagai proses yang utuh—melibatkan tubuh, perasaan, dan pikiran. Pendidikan yang baik bukan hanya mengisi kepala dengan pengetahuan, tetapi juga menggerakkan tubuh, menyentuh emosi, dan menumbuhkan kesadaran. Dalam harmoni ketiganya, proses belajar akan menjadi pengalaman yang benar-benar memanusiakan manusia.
G. Integrasi kecerdasan kinestetik dalam kehidupan sehari-hari
Kecerdasan kinestetik sering kali dipersempit maknanya hanya pada kemampuan atletik atau aktivitas olahraga. Padahal, kecerdasan ini sesungguhnya hadir dan bekerja dalam berbagai aktivitas sederhana yang kita lakukan setiap hari. Kecerdasan kinestetik adalah kemampuan seseorang dalam menggunakan tubuh secara sadar, terkoordinasi, dan bermakna untuk menyelesaikan tugas, mengekspresikan diri, serta berinteraksi dengan lingkungan.
Dalam kehidupan sehari-hari, kecerdasan kinestetik tampak ketika seseorang mampu melakukan pekerjaan dengan keterampilan tangan yang baik, seperti memasak, merakit, berkebun, menulis, atau membuat kerajinan. Aktivitas-aktivitas ini tidak hanya melibatkan gerakan fisik, tetapi juga proses berpikir, pengambilan keputusan, serta kepekaan terhadap detail. Tubuh dan pikiran bekerja secara bersamaan untuk mencapai hasil yang diinginkan.
Pada anak-anak, kecerdasan kinestetik terintegrasi secara alami melalui aktivitas bermain. Saat anak berlari, melompat, memanjat, atau menyusun balok, mereka tidak hanya melatih kekuatan dan koordinasi tubuh, tetapi juga mengembangkan kemampuan kognitif, emosi, dan sosial. Melalui gerak, anak belajar memahami aturan, mengelola emosi, bekerja sama, serta mengenali kemampuan dirinya sendiri.
Integrasi kecerdasan kinestetik juga terlihat dalam kebiasaan sehari-hari orang dewasa. Aktivitas seperti berjalan kaki, bersepeda, membersihkan rumah, atau melakukan pekerjaan manual membantu menjaga kebugaran tubuh sekaligus mendukung kejernihan berpikir dan kestabilan emosi. Banyak orang merasakan bahwa setelah bergerak, pikiran menjadi lebih segar dan suasana hati membaik. Hal ini menunjukkan bahwa gerak tubuh memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan mental dan emosional.
Dalam dunia pendidikan, mengintegrasikan kecerdasan kinestetik ke dalam aktivitas belajar sehari-hari dapat membuat pembelajaran lebih bermakna. Belajar tidak harus selalu dilakukan dengan duduk diam dan mendengarkan. Ketika peserta didik diajak bergerak, mempraktikkan, dan mengalami langsung materi yang dipelajari, pemahaman akan tumbuh lebih kuat. Konsep-konsep abstrak menjadi lebih mudah dipahami karena terhubung dengan pengalaman nyata.
Kecerdasan kinestetik juga berperan dalam pembentukan karakter. Melalui aktivitas fisik yang terarah, seseorang belajar tentang disiplin, ketekunan, tanggung jawab, serta kesadaran terhadap tubuh dan lingkungan. Nilai-nilai ini berkembang secara alami melalui proses melakukan, bukan sekadar melalui nasihat atau teori.
Dengan demikian, mengintegrasikan kecerdasan kinestetik dalam kehidupan sehari-hari berarti memberi ruang bagi tubuh untuk terlibat aktif dalam setiap proses belajar dan bekerja. Ketika gerak, pikiran, dan perasaan berjalan seiring, aktivitas sehari-hari tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi juga sarana pengembangan diri yang utuh. Inilah esensi kecerdasan kinestetik: menjadikan tubuh sebagai jembatan antara pengalaman, pemahaman, dan kehidupan.
Kreator : Abdul Mujib
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: BAB 2 : Belajar Lewat Gerak dan Pengalaman
Sorry, comment are closed for this post.