BAB 2: ROTI UNTUK ANAK YANG TAKUT PULANG
Pagi di Tanah Fajar datang tanpa matahari.
Langitnya putih. Udara masih dingin. Tapi tidak setajam semalam.
Tio bangun karena bau roti.
Bukan bau roti toko. Ini bau roti yang baru keluar dari oven tanah liat. Wangi gandum, madu, dan sesuatu yang hangat.
Nenek Ysra sudah di dapur. Meja kayu penuh tepung. Tangannya sedang menguleni adonan.
Duduk, kata nenek itu tanpa menoleh. Uleni.
Tio mendekat. Tangannya kotor. Kukunya hitam.
Caranya?
Tinju. Lipat. Putar. Ulangi seratus kali. Tiap ulenan bisikin. Kamu aman.
Tio melakukannya. Awalnya canggung. Adonannya lengket.
Tapi lama tangannya ingat. Kayak pernah melakukan ini dulu. Waktu kecil. Waktu masih ada dapur dan ibu.
Untuk siapa, tanya Tio pelan.
Nenek Ysra menunjuk ke pintu.
Di luar, berdiri seorang anak perempuan.
Umurnya sekitar dua belas tahun. Bajunya basah kuyup. Rambutnya menempel di pipi. Di tangannya ada karung kecil. Kosong.
Dia tidak masuk. Hanya berdiri di ambang pintu. Kayak takut kalau melangkah satu kaki lagi, lantainya akan runtuh.
Namanya Lyra, kata Nenek Ysra. Dia takut pulang.
Lyra tidak menjawab. Matanya menatap lantai.
Tio berhenti menguleni. Kenapa takut?
Karena dia pikir rumahnya sudah tidak mau menerimanya lagi, jawab nenek itu. Tiga hari lalu dia kabur. Bertengkar dengan ibunya. Sekarang ibunya sakit. Dan Lyra takut kalau dia pulang, yang ada hanya nisan.
Lyra menggigit bibir. Bahunya bergetar.
Nenek Ysra mengambil adonan dari tangan Tio. Membaginya menjadi dua.
Roti ini harus dibagi dua. Separuh untuk yang takut. Separuh untuk yang ditakuti.
Dipanggangnya di atas bara. Bukan api besar. Pelan pelan. Sampai pinggirnya kecoklatan dan dalamnya tetap lembut.
Wangi madu memenuhi gubuk.
Lyra, panggil nenek itu. Masuk.
Lyra menggeleng pelan.
Kalau kamu tidak masuk, rotinya gosong, kata Nenek Ysra datar. Dan sayang. Gandumnya dari ladang ibumu.
Kalimat itu yang membuat Lyra melangkah. Satu langkah. Dua langkah.
Kakinya gemetar.
Tio menyodorkan setengah roti yang masih hangat.
Ini untuk kamu.
Lyra mengambilnya dengan dua tangan. Tidak makan dulu. Dipeluknya ke dada. Hangatnya merambat ke jari jarinya yang biru karena dingin.
Kamu aman, bisik Tio, menirukan kata yang tadi dia ucapkan ke adonan. Nenek menyuruh bilang begitu tiap menguleni.
Lyra mendongak. Air matanya jatuh ke roti.
Ibu benar benar sakit?
Nenek Ysra mengangguk. Demam. Tiga hari. Menunggu kamu.
Lyra langsung berdiri. Rotinya masih di tangan.
Mau kemana, tanya Tio.
Pulang, jawab Lyra cepat. Ini separuhnya untuk Ibu.
Dia lari. Tidak menunggu jawaban. Karung kecilnya ditinggal di lantai.
Gubuk menjadi hening lagi. Hanya ada suara bara.
Tio menatap setengah roti yang tersisa di meja.
Dia berani ya.
Belum, kata Nenek Ysra. Dia baru melangkah satu langkah. Roti ini tidak menyembuhkan. Roti ini hanya membuat berani melangkah.
Nenek itu mengambil buku di meja. Halamannya terbuka sendiri. Tintanya masih basah.
Resep 2: Roti untuk Anak yang Takut Pulang
Bahan: Gandum dari ladang Lyra, madu dari lebah Aira, ragi dari napas Tio.
Cara: Uleni seratus kali. Tiap ulenan bisikin kamu aman.
Catatan: Rotinya harus dibagi dua. Karena luka tidak pernah hanya di satu sisi.
Di bawahnya ada coretan baru:
Lyra sudah pulang. Separuh roti sudah sampai.
Tio menatap tangannya. Masih ada tepung yang menempel.
Ragi dari napas saya?
Nenek Ysra tersenyum pertama kali sejak Tio datang.
Kamu yang menguleni. Napas kamu masuk ke adonan. Makanya dia berani.
Siang itu, hujan berhenti.
Dari kejauhan, terdengar suara pintu dibuka. Lalu suara tangis. Tapi bukan tangis takut. Tangis lega.
Nenek Ysra menutup bukunya.
Ada satu tamu lagi besok. Lukanya lebih berat.
Tio mengangguk. Dia tidak tahu kenapa, tapi tiba dia tidak mau pergi dari gubuk ini.
Di luar, pintu kayu berderit lagi karena angin.
Tapi kali ini tidak ada yang ketakutan.
Karena di dalam gubuk itu, ada roti. Ada hangat. Dan ada kata. Kamu aman.
Kreator : Nadya Putri
Comment Closed: Bab 2 dari novel Rahasia buku sihir nenek Ysra
Sorry, comment are closed for this post.