
Di balik penampilan yang necis saat sekolah, anak-anak keluarga berada selalu mengenakan seragam bermerk terkenal. Kainnya halus, jahitan rapi, dan tentu saja mahal. Tren seragam bermerek seolah menjadi tanda status sosial. Terlebih lagi, SD tempatku bersekolah tidak menyediakan baju seragam. Barang itu harus dibeli di kota yang jauh dari rumah. Tentu saja ibuku akan mengandalkan jurusnya: membeli kain dan menjahit sendiri. Namun kesempatan itu nampaknya harus tertunda dulu.
Baju seragam putih-merah itu masih di dalam kantong kresek sejak kemarin. Warnanya yang hampir kusam membuat hatiku ngilu. Bagaimana tidak? Siswa lain mendapat seragam baru dari orang tuanya setiap kenaikan kelas. Seragam yang kupakai sehari-hari bahkan sudah berumur tiga tahun, beberapa malah warisan dari saudara yang telah beranjak SMP.
“Pakai ini dulu ya, masih sangat layak kok,” kata ibu membujukku.
“Tapi ini kan sudah kependekan Bu,” aku manyun tak setuju.
“Itu gampang, nanti di permak bisa tambah panjang,” ibu masih membujukku.
“Kapan aku punya seragam baru?” Tanyaku dengan kepala yang tak berani kuangkat. Air mataku mendadak jatuh tak terbendung.
“Bulan depan kuusahakan ya, akan kujahit sendiri seragam milikmu,” jawab ibu menenangkanku.
Ibu lalu menyetrika seragam itu hingga rapi. Paginya aku dan adikku berangkat sekolah dengan penuh percaya diri, sudah lupa itu seragam lama atau baru. Pokoknya, apa pun dari ibu, itulah yang terbaik yang kami miliki.
Suatu hari aku mengalami sakit keras dan harus dirawat di rumah sakit. Ibu sengaja tidak mengabari bapak agar tidak khawatir. Terlebih lagi, bapak di perantauan juga memiliki kesulitannya sendiri. Ia tidak pernah bercerita, namun tubuhnya yang kurus telah berbicara melalui foto yang dikirimnya. Beberapa hari berada di rumah sakit, aku bahkan tidak merasa cemas atau takut. Entah akan hidup atau mati aku tidak mengerti. Yang kutahu hanyalah ibu selalu diam di pojokan penuh harap, menyimpan segala kekhawatirannya di sudut hatinya yang terdalam demi bisa tetap kuat dan tersenyum di depanku.
Malam itu kupejamkan mata sambil menahan sakit pergelangan tanganku yang masih dihinggapi jarum infus. Udara dingin menembus dinding-dinding paviliun rumah sakit. Tiba-tiba terasa getaran hebat membangunkan semua orang dari mimpinya. Seisi kamar berhamburan keluar, berdesakan ke arah pintu. Listrik padam, kami berlari dalam gelap.
“Lindhu Yu, Lindhu Yu,” teriak ibuku sambil membangunkan keluarga pasien sebelahku. Ibu menarikku dan menggendongku keluar sambil membawa infus. Suara riuh terdengar dari berbagai arah. Anak-anak menangis karena ketakutan, orang-orang panik dan berlarian. Listrik menyala kembali. Detak jantung masih menggetarkan seluruh badan. Para petugas sibuk mengkondisikan keadaan. Kami masih berdiam diri di kursi taman. Aku lalu tertidur dengan nyaman di hangatnya pelukan ibu.
Pagi itu dokter spesialis anak berkeliling untuk memeriksa pasien di setiap ruangan. Dengan gaya kocaknya, dokter itu berjalan beriringan dengan seorang perawat menghampiri setiap anak sambil bercanda. Pandanganku terhadap dokter yang dulu terkesan menakutkan dengan jarum suntiknya, seketika luntur ketika ia menyapa. Anak-anak pun menyambutnya dengan sukacita.
“Hayo, siapa yang pinter minum obatnya, nanti saya kasih hadiah,” kata dokter sambil tersenyum.
“Hadiahnya apa?” tanya seorang pasien.
“Hadiahnya… doa.” Jawab dokter. Gelak tawa lalu mewarnai ruangan kami.
Setelah melalui serangkaian pemeriksaan, kondisiku dinyatakan sudah membaik dan besok sudah bisa pulang. Aku sangat senang. Seminggu lebih aku tidak bercengkerama dengan pohon-pohon jambu, atau berburu kembang pagar untuk dihisap sari madunya. Malam terakhirku di rumah sakit, tanpa diduga saudara-saudaraku datang menjenguk. Mereka adalah saudara-saudara bapak. Malam itu kami berkemas dengan perasaan senang, haru, juga penuh rasa syukur. Aku segera terbebas dari tajamnya jarum suntik, aroma obat, juga kesendirian yang seperti tak berujung.
Pagi-pagi ibuku segera mengurus administrasi. Seminggu dirawat sepertinya aku telah menghabiskan sebagian besar tabungan ibu selama ini. Bau angin musim semi di kebun belakang rumah akhirnya kuhirup kembali. Di bilik sederhana itu, ibu membaringkan tubuhku yang kurus dan lemah. Kelambu usang itu perlahan-lahan membenamkanku di ranjang tua peninggalan nenek. Sementara adikku menyambutku dengan girang, tak sabar untuk mengajak bermain. Karena penyakitku itu, aku sebulan penuh tidak bersekolah. Seminggu sekali aku masih harus cek up kesehatan ke dokter, hingga akhirnya dinyatakan sembuh total.
Sebulan berlalu, aku kembali menginjakkan kaki di kelas yang telah lama kutinggalkan. Sambutan hangat para guru dan teman mewarnai suasana pagi itu. Aku berusaha mengejar ketertinggalan. Namun tubuhku masih lemah, belum diizinkan ikut olah raga. Ketika teman-teman sibuk bermain kasti, aku diam di teras kelas untuk membaca. Aku belajar untuk tidak menjadi beban. Mandiri adalah nilai pertama yang tertanam tanpa perlu diajarkan lewat kata-kata. Aku terbiasa menyiapkan peralatan sekolah sendiri, mengancingkan seragam, dan membereskan tempat tidur tanpa perlu diperintah. Rasa mandiri itu perlahan menjalar ke dalam ruang kelas. Aku menaruh perhatian penuh pada setiap pelajaran, menyerap angka dan huruf bagaikan spon yang menyerap air. Bahkan setiap hari belajar tanpa diperintah. Belajar tidak hanya sebagai kewajiban, namun juga kebutuhan.
Siang itu terik matahari menyengat tubuh. Di bawah bayang-bayang pohon jati kukayuh sepeda legendarisku sekuat tenaga sambil membonceng adikku. Jalan terabasan itu mendadak menjadi arena balap liar ketika anak-anak pulang sekolah. Sepeda Hordog buatan Belanda itu telah lama menjadi primadona di parkiran sekolah. Pasalnya, di antara semua sepeda yang parkir, hanya sepedaku yang paling ketinggalan zaman. Sepeda ini peninggalan kakek, yang telah puluhan tahun mengantarkannya ke sawah, bahkan ke sekolah memenuhi undangan wali murid.
Sesampainya di rumah, seperti biasa, ibuku melontarkan kata-kata yang sangat fasih dan sudah kuhafal sepenuhnya.
“ Cepat ganti baju, cuci tangan, makan,………”, ibu belum selesai dengan kalimatnya.
“ Lalu salat!” sahut adikku sambil menganggukkan kepala.
Kami balapan lari menuju kamar mandi. Aku selalu mejadi orang yang harus mengalah dalam segala hal, terutama dengan adikku. Sifatnya yang sedikit manja tidak suka dikalahkan siapapun. Setelah beberes, kami menuju dapur untuk menyambut makanan yang disiapkan ibu. Saat itulah kami dikagetkan dengan sebuah bungkusan besar di atas meja. Benda yang terbungkus kertas koran itu membuatku penasaran. Sementara ibu terdengar sibuk mencuci piring. Adikku yang tidak sabaran langsung mengambil bungkusan itu dan membukanya.
“ Wow….seragam baru!” Teriak adikku penuh kegirangan. Aku terperanjat. Segera kuperiksa seluruh isi bungkusan. Aku sangat senang setelah mendapati seragam baru milikku dan beberapa peralatan sekolah. Semua tampak bersih dan baru. Bau kainnya yang khas masih melekat. Pasti beberapa hari ini ibu sangat capek, harus lembur menjahit seragamku. Kelelahan itu tak pernah kami tahu. Di pojokan ruangan sudah terparkir sebuah sepeda yang masih terbungkus plastik. Warnanya hitam, dilengkapi keranjang putih di bagian depan. Bentuknya cantik, seperti sepeda anak perempuan kebanyakan. Kami menari-nari, menyanyi meluapkan kebahagiaan. “Terima kasih Bu,” teriak kami kegirangan. Ibu tersenyum dari balik pintu dapur sambil terus membereskan piring.
Kini aku bisa mengayuh sepedaku sendiri dengan dada tegak dan angin pagi yang menyapa wajah. Tentu saja, sambil menbonceng adikku yang cerewet. Setiap kali momen kenaikan kelas tiba, ibu selalu mengajakku ke toko untuk membeli peralatan sekolah yang baru dan berkualitas: tas, sepatu, hingga kotak pensil bermerek yang dulu hanya bisa kupandangi dari kejauhan. Keesokannya kami menulis surat untuk bapak yang jauh di perantauan, menceritakan tentang peralatan sekolah dan sepeda baru kami. Setelah hampir sebulan, barulah mendapat surat balasan.
Dengan sepeda itulah aku berkeliling kampung bersama teman-temanku, menikmati segarnya aroma kebebasan dan kebanggaan. Bahkan kami bersama mencari buah ceplukan dari sawah bekas jagung yang tak jauh dari rumah. Rasanya sungguh manis ketika buah keemasan itu hampir layu kelopak pembungkusnya. Tahukah kalian, buah dengan nama ilmiah Physalis angulata itu kaya manfaat? Batangnya memang kecil, termasuk tumbuhan perdu. Namun tumbuhan ini memiliki banyak manfaat, di antaranya bisa menurunkan kadar gula darah, meredakan peradangan dan nyeri sendi, mengontrol kesehatan jantung, dan meningkatkan imunitas tubuh. Buah ceplukan juga kaya vitamin K yang sangat baik untuk kesehatan tulang. Keesokan harinya, hasil perburuan itu kami jual di sekolah. Teman-teman sangat menyukai buah ini karena rasanya manis dan harganya murah. Dari situlah kami belajar mencari uang kecil dengan berjualan. Bahkan es lilin yang dibawa guru pun kami jualkan ke teman-teman saat jam istirahat.
Usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Sejak kelas dua, namaku selalu bertengger di peringkat pertama saat pembagian rapot. Prestasi yang konsisten itu membuat para guru mulai melirikku. Aku sering ditunjuk untuk mewakili sekolah dalam berbagai ajang perlombaan, mulai dari menulis kaligrafi, tartil Qur’an, baris-berbaris, serta menggambar dan mewarnai. Setiap kali berdiri di atas panggung perlombaan dengan seragam putih-merah yang bersih, rasa percaya diri yang dulu sempat redup sewaktu kecil mulai tumbuh membesar. Aku berani bermimpi lebih tinggi, aku ingin menjelajahi dunia yang penuh misteri.
Setelah dua tahun lamanya, akhirnya bapak pulang dari perantauan. Kehangatan sebuah keluarga kecil kembali kami rasakan di rumah sederhana itu. Sebelum tidur, bapak menggendong tubuh mungilku di punggungnya sambil bergurau. Adikku juga mengantri untuk digendong. Kami saling berbagi cerita tentang masa-masa yang lalu ketika bapak tidak di rumah. Pahit dan manis harus kami telan bersama. Lalu cerita itu menguap seiring dengan malam yang semakin gelap.
Ibuku masih sama seperti kemarin. Dengan sebuah mesin jahit tua yang suaranya gemelutuk saban malam, Ibu menerima jahitan pakaian tetangga, memotong kain, dan menyatukan benang hingga larut malam. Usaha jahit ibu mengalami kemajuan pesat. Berawal dari jahitan perorangan, ketelitian dan kerapian karya ibu mulai terdengar luas hingga ibu dipercaya mengerjakan berbagai seragam sekolah, PKK, yasinan, hingga seragam hajatan di daerah kami.
Suara mesin jahit di rumah kami yang tadinya tunggal kini berubah menjadi ritme yang riuh. Ibu menambah beberapa unit mesin baru dan mempekerjakan tetangga sekitar. Rumah kami bertransformasi menjadi bengkel kerja yang hidup. Roda ekonomi keluarga kami berputar makin kencang dan membaik secara signifikan. Dengan kesibukan ibu dan bapak yang makin padat, keluarga kami mulai mampu memiliki asisten rumah tangga untuk membantu mengurus rumah dan mengurusku. Mbak Yah, begitulah panggilannya. Ia dengan sabar mengajariku mencuci baju, memasak, dan membersihkan rumah. Namun pada akhirnya ia harus pulang kampung karena menikah dan tidak akan kembali bekerja di rumah kami. Aku dan adikku menjadi terbiasa melakukan pekerjaan rumah sendiri; menimba air mengisi bak mandi, memasak, mencuci, dan membereskan rumah. Anak sekecil ini, yang biasanya masih bermain, harus dihadapkan pada situasi yang menuntutnya untuk mandiri. Bahkan kami terbiasa memasak sendiri ketika orang tua tidak di rumah untuk bekerja. Aku dan adikku sangat jauh dari kehidupan anak manja pada umumnya.
Usaha bapak juga sempat mengalami pasang surut. Namun keadaan telah memaksanya untuk bertahan. Kami yakin bahwa Allah telah mengatur rezeki masing-masing. Dengan mengumpulkan biaya sedikit demi sedikit, akhirnya bapak dan ibu mampu mewujudkan impian lama mereka: membangun rumah yang lebih kokoh dan luas. Proses pembangunan rumah berjalan beriringan dengan pembiayaan sekolahku sehingga pembangunan sempat tersendat. Kami menempati rumah yang masih jauh dari sempurna. Lantainya masih kasar, tembok masih bata yang belum di plaster. Bahkan pintu dan jendela dibuat dari anyaman bambu. Rumah yang belum layak ini kami tempati bertahun-tahun. Pernah kami merasa malu dan berkecil hati ketika saudara jauh berkunjung. Kami belum bisa menjamunya di tempat yang layak, belum bisa menyediakan tempat yang nyaman untuk beristirahat. Namun di sisi lain, berada di rumah ini kami merasa lebih tentram. Bagaimanapun ini rumah hasil jerih payah keluarga kami. Aku sangat bersyukur telah memiliki kamar sendiri. Meskipun sederhana, itu tak apa-apa. Bagiku rumahku adalah istanaku.
Baju seragam putih-merah itu kini terlipat rapi di lemari. Wangi kain dan sabun pelicin baju menyerbak halus, bercampur dengan aroma angin pagi yang menerobos jendela sederhana rumah kami. Setiap kali jemariku menyusuri serat kainnya yang halus, kenangan masa lalu selalu berputar pelan—tentang bagaimana selembar seragam tidak hanya menjadi penanda bahwa aku adalah seorang murid Sekolah Dasar, melainkan juga saksi bisu atas transformasi, kerja keras, dan pencarian jati diri keluarga kami.
Kreator : Maria Ulfa, S.S.
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: BAB 2 Di balik Wangi Seragam Sekolah
Sorry, comment are closed for this post.