KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Self-Improvement
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » Bab 2 – Galih

    Bab 2 – Galih

    BY 24 Sep 2026 Dilihat: 13 kali
    Bab 2 – Galih_alineaku

    Kereta Gajayana melintasi stasiun Kesamben pada pukul 06.10 WIB dengan daya tarik era kolonial yang menawan tapi mudah terlupakan. Kalau dipikir-pikir, letak stasiun itu juga luar biasa cantik dengan latar gunung Kawi yang menjulang tegas dan sawah berwarna keemasan disekelilingya. Bagaimana bisa tempat secantik itu mudah dilupakan? Tapi memang benar, beberapa peristiwa dalam hidup terasa seperti stasiun ini. Memukau, indah, menyenangkan, tapi terlampau singkat dan asing untuk dikenang. 

     

    Riri mendesah perlahan. Seandainya ia bisa mengendalikan pikirannya, ia ingin kepalanya hanya diisi kenangan-kenangan singkat yang menyenangkan saja. Akan tetapi, mengapa justru kenangan-kenangan menyakitkan yang lekat dan enggan beranjak? Apakah karena kenangan-kenangan itu terlalu dekat hingga perihnya kerap muncul tanpa diundang walaupun telah lama berlalu? Riri membenamkan wajahnya dalam sweater berhoodie yang ia kenakan. Ia menyukai sepi. Namun kali ini sepi terasa sangat menyakitkan.

    Kereta berhenti di stasiun Kota Baru, Malang, tepat pukul 07.05 WIB. Riri mengangkat tubuhnya dengan malas. Satu koper ukuran tanggung dan tas punggung kesayangannya dia raih setelah kereta hampir kosong.

    “Namanya Galih ya, Ri. Ini foto dan nomor plat mobil mama. Jangan sampai salah ya…,” 

    Pesan WA mama menyertai foto laki-laki berusia 30-an. Mungkin hanya sedikit lebih tua dari Riri. Walaupun Riri hanya melihat foto Galih melalui WA, ia sudah mendapatkan ciri khas dari wajah penjemputnya itu sehingga ia yakin bisa menemukannya di antara para penjemput lain. 

    Begitu melalui pintu keluar Riri langsung tersedak kaget. Seseorang yang terlihat sangat mirip dengan laki-laki di foto yang dikirimkan oleh ibunya melalui WA berdiri beberapa meter di hadapannya, mengangkat karton manila putih bertuliskan: 

    ANANDA TERSAYANG KARTIKA SARI

    PUTRI DARI NY. RR LARASATI PRAWIRODIBJO

    SELAMAT DATANG DI KOTA MALANG

    Mulut Riri ternganga dengan sendirinya. Kacamata oversized dan hoodie yang dia kenakan tak dapat membantu menutupi rasa malunya. 

    “Oh… My… God…. Gue musti lari kemana nih?” 

    Riri melirik ke kanan dan kiri, memikirkan jalan untuk melarikan diri dari situ dan menelpon taksi online. Tapi belum sempat ia mengambil keputusan, laki-laki pembawa karton itu memanggilnya dengan kepercayaan diri luar biasa dan volume maksimal yang membuat orang-orang di sekeliling mereka ikut menengok. 

    “HALOO MBAK KARTIKA SARI!! WELKOM TU NGALAM MBAAAK!!”

    Riri terjebak. Laki-laki itu berlari ke arah Riri dengan senyum seluas samudra Atlantik, menunjukkan betapa bangganya dia melakukan tugas penjemputan itu. 

    Sejurus kemudian, dia berdiri tepat di hadapan Riri, mengulurkan tangan dan tetap dengan suara super stereo.

     “SAYA GALIH MBAK, ASISTEN BUNDA LARAS!!” 

    Wajah laki-laki itu tulus memperkenalkan diri, dengan senyum lebar dan mata bersinar ia menanti Riri membalas uluran tangannya. Riri tersenyum kikuk. 

    “Eh.. Apa kabar, Mas Galih? Panggil aja saya Riri.” Riri berucap sambil menjabat tangan Galih. 

    “WOOO YA NGGAK BISA, MBAK. SAYA NGELAMAK KALO MANGGIL NAMA AJA KE MBAK,” jawab Galih tetap dengan nada ceria dan menggelegar. Ia dengan sigap mengambil koper Riri. 

    “CUMA INI MBAK BAWAANNYA?” sambung Galih.

    Riri mengangguk, semakin tidak nyaman dengan volume suara Galih yang belum turun juga. 

    “OKEEE, KALO GITU.”

    “MAS GALIH!” Riri memotong, secara tak sengaja ia menaikkan suaranya. Galih menengok ke arahnya dengan wajah tak berdosa. 

    “Eh… bisa ga…uhm… kalo bicara.. uhm… jangan kenceng-kenceng suaranya?” tanya Riri sedikit terbata, ia merasa bersalah karena barusan menaikkan nada suara dan sedikit takut Galih akan tersinggung dengan permintaannya.

    Galih menyeringai, “Hehehe… Sori, Mbak. Kebiasaan. Lha saya ini lupa terus e Mbak, padahal bundanya Mbak Riri sudah sering ingatkan saya, hehehe… Sorii ya Mbak!!” 

    Wajah Galih terus tersenyum lebar, tak ada tanda tersinggung sedikitpun. 

    “Mari, mbak!” 

    Galih mengisyaratkan agar Riri mengikutinya. Sesekali ia menyapa tukang parkir dengan nada dan volume super stereo seperti tadi, dan yang disapa menjawab kurang lebih dengan cara yang sama. Riri hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

    “MONGGO MBAK KAR.. eh.. meh lali aku.. Silahkan mbak Kartika Sari…” 

    Galih membuka pintu mobil di belakang supir dan mengubah nada bicaranya selembut mungkin. Riri segera masuk dan duduk dengan nyaman. Matanya terasa sangat berat setelah semalam suntuk terjaga di kereta. Galih menyimpan koper di bagasi kemudian segera duduk di kursi supir. 

     

    “Selamat datang di kota Malang, silahkan menikmati perjalanan yang durasinya kurang lebih 60 menit”, sampai disini Galih masih bisa menahan suaranya agar tetap ‘lembut’. Iapun menstarter mobil, keluar dari lapangan parkir, dan mulai menyusuri jalan raya. 

     

    Tiba-tiba ia kembali bertanya dengan suara lantang, “MAU SAYA TUR GÈTI ATAU ENGGAK MBAK?” 

     

    Riri yang hampir terlelap langsung menegakan badan, ia tak paham dengan apa yang dikatakan Galih. Dengan wajah kebingungan dan sedikit panik dia bertanya, “Ada apa mas Galih? Ada masalah?” 

    Menyadari bahwa Riri masih sangat lelah dan barusan kaget gara-gara suaranya, Galih tersipu, agak ragu mengulangi pertanyaan.

    “Eh he…. Enggak mbak.., saya tadi nanya… mbak Kartika Sari apakah mau saya tur gèti?” 

    Riri mengernyitkan dahi, “ee… maksudnya gimana ya? Saya ga ngerti….”

     

    Mobil berhenti di lampu merah. Galih memutar badannya hingga menghadap penuh ke arah Riri. “GI, eh, gini mbak…, saya ini TUR GÈT. Bunda Laras itu nugasi saya buat ngantar-ngantar tamu Wisma kemana-mana. Pokoknya beliau itu wes.. percuaya pol sama saya mbak. Biasanya kalo saya jemput tamu dari stasiun itu saya bawa lewat alun-alun, lewat gereja terus toko Oen, sambil saya jelaskan itu sejarah kota Malang.” Lampu kembali hijau. Riri mengisyaratkan agar Galih kembali fokus.

     

    “Kalau mbak Kartika Sari pengen…,”

    “Riri, panggil aja Riri. Saya bukan pisang bolen,” potong Riri, mulai tidak sabar.

    Galih mengernyitkan dahi, mencoba mencerna kalimat Riri barusan. Sejurus kemudian dia tertawa lepas, “HAHAHA… MBAK KARTIKA, eh, mbak Riri ini selera humornya bagus juga. Hihihi… Tapi terakhir saya ke Mbandung buanyak mbak macemnya. Bukan cuma pisang bolen saja, mbak. Saya suka pae susunya lho mbak.” Galih terus berceloteh riang. Riri sakit kepala.

    “Mas Galih, saya lagi pusing nih, ga pengen ngobrol,” 

    Galih langsung menghentikan celotehannya. “Siaaap, selamat istirahat ya mbak, nanti kalau sudah sampai saya bangunkan,” pungkas Galih, tetap dengan nada riang. 

    Riri kembali memejamkan mata. Akan tetapi kantuknya hilang entah kemana. Sepertinya suara stereo Galih mengandung kafein yang bikin kantuk dan lelah lenyap tanpa jejak. 

     

    Riri membuang pandangan keluar jendela, mencoba mengingat jalanan yang kini dilaluinya. Setelah keluar dari jalan Semeru, ia akan melalui Jl. Ijen yang iconic sekaligus penuh kenangan. Dan dia akan melihat… Tunggu, kenapa belok disini? Riri sudah siap dengan berjuta bittersweet memories masa SMP yang siap diputar di kepalanya, tapi mas Galih kenapa justru belok ke jalan Bromo?

     

    “Kok belok sih mas? Bukannya lewat Ijen?” 

    Galih tak menjawab. Mulutnya komat kamit sementara kepalanya bergoyang-goyang. Riri membuang napas dengan kesal. Galih mengenakan earphone, mungkin sedang mendengarkan musik sehingga ia tak mendengar pertanyaan Riri barusan. Riri mencolek bahu Galih. “ASTAGHFIRULLAH HAL ADZIIM,” reaksi Galih spontan, ia terlihat sangat kaget tanpa dibuat-buat. Ia segera melepas earphonenya. 

    “MBAK RIRIIII… JANGAN NGAGET-NGAGETI TOH!!” suara stereo itu lagi. Sepertinya sudah tidak tertolong.

    “Lah, mas Galih sih pake earphone, kan jadi ga denger,” Riri bicara sedikit sinis.

    “OOH… SAYA KIRA MBAK RIRI TIDUR, SAYA GA BERANI GANGGU. MAKANYA SAYA PAKE EARPHONE. KALO GAK ADA MUSIK NGANTUK SAYA MBAK,” balas Galih, tetap dengan senyum lebar. 

    “EEE.. MBAK RIRI MAU NANYA APA?” Riri yang kesal tidak lagi ingin bertanya. Ia tahu rute ini akan membawa mereka keujung barat  jalan Ijen, lalu mereka akan melalui jalan Veteran, Sumbersari, Dinoyo, sebelum akhirnya jalan raya menuju Batu. Ia hanya menyayangkan Galih tidak melalui jalan besar ijen dan melewatkan kenangan yang tadi sudah ingin diputar di kepalanya.

     

    “Ga jadi. Udah ilfil saya.” 

    Galih tersipu, “HE.. HE.. HE…. MAAF YA MBAAAK, SAYA KIRA MBAK RIRI TIDUR. MAU DENGERIN MUSIK MBAK?” Riri membelalakkan mata. Oh no… jangan-jangan musiknya bakal bikin Riri makin pusing karena lebih stereo dibanding suara Galih. Tapi belum sempat Riri menjawab, Galih sudah menghidupkan sound system dan memasang usb dengan sangat cekatan. Musik lembut mengalun, sebuah lagu yang sangat disukainya ketika remaja tapi sudah lama terlupakan. “She Will be Loved” milik Maroon 5 memenuhi mobil, membawa kenangan hangat yang langka, seakan-akan memeluk Riri seraya mengucapkan, “welcome home.”

     

    Riri tak jadi protes. Seketika pemandangan di luar jadi sangat menarik. Dia merebahkan punggungnya dan bersandar dengan nyaman. Galih menggoyangkan kepalanya sambil ikut bersenandung pelan, terkadang suara falsnya muncul disela-sela suara bang Adam Levine tanpa ingin mendominasi. Riri tersenyum kecil, ternyata kalau ngikutin lagu suaranya justru bisa pelan. Walaupun kesan pertamanya terhadap Galih jauh dari baik, Riri mulai paham kenapa mamanya menaruh kepercayaan besar terhadap orang ini.

     

     

    Kreator : Hilda Candra P. K. Putri (HC Putri)

    Bagikan ke

    Comment Closed: Bab 2 – Galih

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021