Kereta Gajayana melintasi stasiun Kesamben pada pukul 06.10 WIB dengan daya tarik era kolonial yang menawan tapi mudah terlupakan. Kalau dipikir-pikir, letak stasiun itu juga luar biasa cantik dengan latar gunung Kawi yang menjulang tegas dan sawah berwarna keemasan disekelilingya. Bagaimana bisa tempat secantik itu mudah dilupakan? Tapi memang benar, beberapa peristiwa dalam hidup terasa seperti stasiun ini. Memukau, indah, menyenangkan, tapi terlampau singkat dan asing untuk dikenang.
Riri mendesah perlahan. Seandainya ia bisa mengendalikan pikirannya, ia ingin kepalanya hanya diisi kenangan-kenangan singkat yang menyenangkan saja. Akan tetapi, mengapa justru kenangan-kenangan menyakitkan yang lekat dan enggan beranjak? Apakah karena kenangan-kenangan itu terlalu dekat hingga perihnya kerap muncul tanpa diundang walaupun telah lama berlalu? Riri membenamkan wajahnya dalam sweater berhoodie yang ia kenakan. Ia menyukai sepi. Namun kali ini sepi terasa sangat menyakitkan.
Kereta berhenti di stasiun Kota Baru, Malang, tepat pukul 07.05 WIB. Riri mengangkat tubuhnya dengan malas. Satu koper ukuran tanggung dan tas punggung kesayangannya dia raih setelah kereta hampir kosong.
“Namanya Galih ya, Ri. Ini foto dan nomor plat mobil mama. Jangan sampai salah ya…,”
Pesan WA mama menyertai foto laki-laki berusia 30-an. Mungkin hanya sedikit lebih tua dari Riri. Walaupun Riri hanya melihat foto Galih melalui WA, ia sudah mendapatkan ciri khas dari wajah penjemputnya itu sehingga ia yakin bisa menemukannya di antara para penjemput lain.
Begitu melalui pintu keluar Riri langsung tersedak kaget. Seseorang yang terlihat sangat mirip dengan laki-laki di foto yang dikirimkan oleh ibunya melalui WA berdiri beberapa meter di hadapannya, mengangkat karton manila putih bertuliskan:
ANANDA TERSAYANG KARTIKA SARI
PUTRI DARI NY. RR LARASATI PRAWIRODIBJO
SELAMAT DATANG DI KOTA MALANG
Mulut Riri ternganga dengan sendirinya. Kacamata oversized dan hoodie yang dia kenakan tak dapat membantu menutupi rasa malunya.
“Oh… My… God…. Gue musti lari kemana nih?”
Riri melirik ke kanan dan kiri, memikirkan jalan untuk melarikan diri dari situ dan menelpon taksi online. Tapi belum sempat ia mengambil keputusan, laki-laki pembawa karton itu memanggilnya dengan kepercayaan diri luar biasa dan volume maksimal yang membuat orang-orang di sekeliling mereka ikut menengok.
“HALOO MBAK KARTIKA SARI!! WELKOM TU NGALAM MBAAAK!!”
Riri terjebak. Laki-laki itu berlari ke arah Riri dengan senyum seluas samudra Atlantik, menunjukkan betapa bangganya dia melakukan tugas penjemputan itu.
Sejurus kemudian, dia berdiri tepat di hadapan Riri, mengulurkan tangan dan tetap dengan suara super stereo.
“SAYA GALIH MBAK, ASISTEN BUNDA LARAS!!”
Wajah laki-laki itu tulus memperkenalkan diri, dengan senyum lebar dan mata bersinar ia menanti Riri membalas uluran tangannya. Riri tersenyum kikuk.
“Eh.. Apa kabar, Mas Galih? Panggil aja saya Riri.” Riri berucap sambil menjabat tangan Galih.
“WOOO YA NGGAK BISA, MBAK. SAYA NGELAMAK KALO MANGGIL NAMA AJA KE MBAK,” jawab Galih tetap dengan nada ceria dan menggelegar. Ia dengan sigap mengambil koper Riri.
“CUMA INI MBAK BAWAANNYA?” sambung Galih.
Riri mengangguk, semakin tidak nyaman dengan volume suara Galih yang belum turun juga.
“OKEEE, KALO GITU.”
“MAS GALIH!” Riri memotong, secara tak sengaja ia menaikkan suaranya. Galih menengok ke arahnya dengan wajah tak berdosa.
“Eh… bisa ga…uhm… kalo bicara.. uhm… jangan kenceng-kenceng suaranya?” tanya Riri sedikit terbata, ia merasa bersalah karena barusan menaikkan nada suara dan sedikit takut Galih akan tersinggung dengan permintaannya.
Galih menyeringai, “Hehehe… Sori, Mbak. Kebiasaan. Lha saya ini lupa terus e Mbak, padahal bundanya Mbak Riri sudah sering ingatkan saya, hehehe… Sorii ya Mbak!!”
Wajah Galih terus tersenyum lebar, tak ada tanda tersinggung sedikitpun.
“Mari, mbak!”
Galih mengisyaratkan agar Riri mengikutinya. Sesekali ia menyapa tukang parkir dengan nada dan volume super stereo seperti tadi, dan yang disapa menjawab kurang lebih dengan cara yang sama. Riri hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“MONGGO MBAK KAR.. eh.. meh lali aku.. Silahkan mbak Kartika Sari…”
Galih membuka pintu mobil di belakang supir dan mengubah nada bicaranya selembut mungkin. Riri segera masuk dan duduk dengan nyaman. Matanya terasa sangat berat setelah semalam suntuk terjaga di kereta. Galih menyimpan koper di bagasi kemudian segera duduk di kursi supir.
“Selamat datang di kota Malang, silahkan menikmati perjalanan yang durasinya kurang lebih 60 menit”, sampai disini Galih masih bisa menahan suaranya agar tetap ‘lembut’. Iapun menstarter mobil, keluar dari lapangan parkir, dan mulai menyusuri jalan raya.
Tiba-tiba ia kembali bertanya dengan suara lantang, “MAU SAYA TUR GÈTI ATAU ENGGAK MBAK?”
Riri yang hampir terlelap langsung menegakan badan, ia tak paham dengan apa yang dikatakan Galih. Dengan wajah kebingungan dan sedikit panik dia bertanya, “Ada apa mas Galih? Ada masalah?”
Menyadari bahwa Riri masih sangat lelah dan barusan kaget gara-gara suaranya, Galih tersipu, agak ragu mengulangi pertanyaan.
“Eh he…. Enggak mbak.., saya tadi nanya… mbak Kartika Sari apakah mau saya tur gèti?”
Riri mengernyitkan dahi, “ee… maksudnya gimana ya? Saya ga ngerti….”
Mobil berhenti di lampu merah. Galih memutar badannya hingga menghadap penuh ke arah Riri. “GI, eh, gini mbak…, saya ini TUR GÈT. Bunda Laras itu nugasi saya buat ngantar-ngantar tamu Wisma kemana-mana. Pokoknya beliau itu wes.. percuaya pol sama saya mbak. Biasanya kalo saya jemput tamu dari stasiun itu saya bawa lewat alun-alun, lewat gereja terus toko Oen, sambil saya jelaskan itu sejarah kota Malang.” Lampu kembali hijau. Riri mengisyaratkan agar Galih kembali fokus.
“Kalau mbak Kartika Sari pengen…,”
“Riri, panggil aja Riri. Saya bukan pisang bolen,” potong Riri, mulai tidak sabar.
Galih mengernyitkan dahi, mencoba mencerna kalimat Riri barusan. Sejurus kemudian dia tertawa lepas, “HAHAHA… MBAK KARTIKA, eh, mbak Riri ini selera humornya bagus juga. Hihihi… Tapi terakhir saya ke Mbandung buanyak mbak macemnya. Bukan cuma pisang bolen saja, mbak. Saya suka pae susunya lho mbak.” Galih terus berceloteh riang. Riri sakit kepala.
“Mas Galih, saya lagi pusing nih, ga pengen ngobrol,”
Galih langsung menghentikan celotehannya. “Siaaap, selamat istirahat ya mbak, nanti kalau sudah sampai saya bangunkan,” pungkas Galih, tetap dengan nada riang.
Riri kembali memejamkan mata. Akan tetapi kantuknya hilang entah kemana. Sepertinya suara stereo Galih mengandung kafein yang bikin kantuk dan lelah lenyap tanpa jejak.
Riri membuang pandangan keluar jendela, mencoba mengingat jalanan yang kini dilaluinya. Setelah keluar dari jalan Semeru, ia akan melalui Jl. Ijen yang iconic sekaligus penuh kenangan. Dan dia akan melihat… Tunggu, kenapa belok disini? Riri sudah siap dengan berjuta bittersweet memories masa SMP yang siap diputar di kepalanya, tapi mas Galih kenapa justru belok ke jalan Bromo?
“Kok belok sih mas? Bukannya lewat Ijen?”
Galih tak menjawab. Mulutnya komat kamit sementara kepalanya bergoyang-goyang. Riri membuang napas dengan kesal. Galih mengenakan earphone, mungkin sedang mendengarkan musik sehingga ia tak mendengar pertanyaan Riri barusan. Riri mencolek bahu Galih. “ASTAGHFIRULLAH HAL ADZIIM,” reaksi Galih spontan, ia terlihat sangat kaget tanpa dibuat-buat. Ia segera melepas earphonenya.
“MBAK RIRIIII… JANGAN NGAGET-NGAGETI TOH!!” suara stereo itu lagi. Sepertinya sudah tidak tertolong.
“Lah, mas Galih sih pake earphone, kan jadi ga denger,” Riri bicara sedikit sinis.
“OOH… SAYA KIRA MBAK RIRI TIDUR, SAYA GA BERANI GANGGU. MAKANYA SAYA PAKE EARPHONE. KALO GAK ADA MUSIK NGANTUK SAYA MBAK,” balas Galih, tetap dengan senyum lebar.
“EEE.. MBAK RIRI MAU NANYA APA?” Riri yang kesal tidak lagi ingin bertanya. Ia tahu rute ini akan membawa mereka keujung barat jalan Ijen, lalu mereka akan melalui jalan Veteran, Sumbersari, Dinoyo, sebelum akhirnya jalan raya menuju Batu. Ia hanya menyayangkan Galih tidak melalui jalan besar ijen dan melewatkan kenangan yang tadi sudah ingin diputar di kepalanya.
“Ga jadi. Udah ilfil saya.”
Galih tersipu, “HE.. HE.. HE…. MAAF YA MBAAAK, SAYA KIRA MBAK RIRI TIDUR. MAU DENGERIN MUSIK MBAK?” Riri membelalakkan mata. Oh no… jangan-jangan musiknya bakal bikin Riri makin pusing karena lebih stereo dibanding suara Galih. Tapi belum sempat Riri menjawab, Galih sudah menghidupkan sound system dan memasang usb dengan sangat cekatan. Musik lembut mengalun, sebuah lagu yang sangat disukainya ketika remaja tapi sudah lama terlupakan. “She Will be Loved” milik Maroon 5 memenuhi mobil, membawa kenangan hangat yang langka, seakan-akan memeluk Riri seraya mengucapkan, “welcome home.”
Riri tak jadi protes. Seketika pemandangan di luar jadi sangat menarik. Dia merebahkan punggungnya dan bersandar dengan nyaman. Galih menggoyangkan kepalanya sambil ikut bersenandung pelan, terkadang suara falsnya muncul disela-sela suara bang Adam Levine tanpa ingin mendominasi. Riri tersenyum kecil, ternyata kalau ngikutin lagu suaranya justru bisa pelan. Walaupun kesan pertamanya terhadap Galih jauh dari baik, Riri mulai paham kenapa mamanya menaruh kepercayaan besar terhadap orang ini.
Kreator : Hilda Candra P. K. Putri (HC Putri)
Comment Closed: Bab 2 – Galih
Sorry, comment are closed for this post.