KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Beranda » Artikel » BAB 2-Keluar Jalur

    BAB 2-Keluar Jalur

    BY 30 Jan 2026 Dilihat: 11 kali
    Keluar Jalur_alineaku

    “A heart that’s full up like a landfill.  A job that slowly kills you. Bruises that won’t heal. You’re driving in your car. You’re driving in your car. You’re driving in your car
    To get it over with.” 

    Alunan lagu “No Surprise” milik Radiohead menemaniku membaca “Aku” di dalam kamar kesayanganku. Sebuah ruangan yang tidak terlalu besar, namun nyaman dan menenangkan. Keempat sisi dindingnya kuberi 3 warna cat berbeda, warna – warna kesukaanku. Hitam, putih dan abu – abu. Warna – warna dingin yang mungkin mewakili pribadiku yang dingin. 

    Ketukan di pintu  kamar menghentikan tatapan mataku yang sedang fokus mengikuti deretan kalimat – kalimat penuh makna. 

    “Sudah makan siang?” Ibu bertanya setelah aku buka pintu kamar. 

    “Sudah, tadi di sekolah,” jawabku. 

    “Sedang tidak bisa tidur?” tanya Ibu.

    Ku jawab pertanyaan Ibu dengan menunjukkan buku yang sedang kugenggam. 

    “Chairil Anwar?” 

    Aku mengangguk sebagai jawaban. 

    “Baiklah. Ibu tidak akan mengganggu kalau begitu. Jangan lupa, sebentar lagi waktu sholat Ashar.” 

    Aku kembali mengangguk, dan segera menutup pintu setelah Ibu meninggalkan kamarku.  

    Ibu benar. 

    Aku selalu tidak ingin diganggu ketika aku sedang membaca, apalagi ‘Chairil Anwar’. Tulisannya membuaiku larut dalam dimensi waktu yang dia ciptakan, seolah sebuah mesin waktu yang mampu membuatku time travel untuk menjadi saksi perjalanan hidupnya. ‘Aku’, memberiku banyak sekali contoh sisi – sisi kehidupan nyata. Puisi – puisi nya ‘mendidik’ ku tentang betapa nyatanya ketidakadilan, dan merasa akulah tokoh utama yang dia ceritakan.

    Tiba – tiba slide power point kejadian semasa kecil dulu bergantian muncul di layar dalam otakku. Perlakuan tak adil terus menerus pada saat itu berlanjut di 4 tahun berikutnya, hanya karena dianggap low level dibanding mereka. Sembilan tahun cukup membentuk trauma mendalam hingga saat ini. Itulah kenapa, pada akhirnya, aku memberanikan diri untuk menentukan sendiri dimana SMA ku. Cukup sudah aku mengikuti life setting dari orang tua ku. 

    “Kriiiiing…. Kriiiing… Kriiiing…” 

    Suara telepon duduk di buffet dekat kamar Ayah dan Ibu memecahkan lamunan flashback–ku. Samar kudengar ibu menjawab telepon. Beberapa saat berikutnya…

    “Adek, teman adek menelepon,” ucap Ibu dengan lembut dari depan pintu kamarku. 

    “Iya, Bu. Sebentar,” jawabku sambil berjalan keluar.

    Seorang teman laki – laki dari kelas 3 IPS 5 mengajakku menonton pertunjukan teater nanti malam. Dia tahu betul kalau saya suka sekali pertunjukan teater. Dan saya juga tahu betul, dia berusaha mengambil hatiku dengan berbagai cara sejak lama. 

    “Oke.” Ku jawab ajakannya singkat. Dia terlihat sangat senang dengan jawabanku. 

    “Jemput aku tepat waktu. Aku tidak suka menunggu.”

    Kudengar ‘Pasti’ dengan mantap sebagai jawabannya.

    Cinta dan asmara hanya hal sebesar biji kacang hijau bagiku. Terlahir Perempuan tapi terdidik laki – laki secara jiwa dan fisik, membuatku terlibat hal – hal yang tak biasa di kalangan kaum hawa. Hobi, sikap, sifat dan cara berpikirku lebih dominan dan condong seperti kaum Adam. Itulah kenapa aku tidak tertarik untuk fokus pada hati dan perasaan. Apalagi setelah aku menjadi siswa menengah atas, aku semakin suka berteman dengan teman laki – laki, dan melakukan hobi – hobi penuh tantangan.

    Aku melirik jam dinding kamarku. 17.30. Aku beranjak, kubuka pintu kamar, ada ibu di depanku.

    “Baru saja Ibu mau panggil adek. Sebentar lagi sholat Maghrib, sayang. Dan, adek belum mandi kan?” ucap Ibu. 

    “Iya. Ini mau mandi.” 

    Ibu tersenyum. “Jangan lupa ngaji dulu bentar setelah sholat ya.”

    Aku mengangguk sebagai jawaban. 

    “Dan langsung makan malam. Ibu sudah siapkan menu favorit adek. Nanti jangan kemana – mana. Belajar. Kalau mau main sama teman, jangan malamya. Adek itu anak perempuan.”

    Aku terdiam mendengar rangkaian perintah dari Ibu. Bagiku Ibu terdengar seperti seorang CEO yang sedang membacakan what-to do list untuk anak buahnya. Dan, aku tidak suka.

    “Adek nanti malam mau lihat pertunjukan teater sama teman. Jam delapan nanti dijemput teman.” 

    Ibu menghentikan langkah Ketika mendengar kalimatku. Ibu berbalik, menatapku. 

    “Pulang jam berapa?” tanya Ibu.

    “Belum tahu. Pertunjukan teater biasanya sampai tengah malam.” 

    Ibu terlihat terkejut. Aku sudah bisa menduga, kalimat selanjutnya yang akan ibu katakan. 

    “Adek…”

    “Ibu, adek sudah besar. Sudah kelas 3 SMA. Hampir 17 tahun. Adek tahu apa yang membuat adek nyaman dan bahagia.” Aku menyela. 

    “Pulang malam itu tidak baik, adek. Adek itu anak perempuan. Kesan negatif akan muncul nanti. Mas saja, yang laki – laki, tidak pernah keluar malam.” 

    Kalimat yang sama kembali meluncur dari Ibu yang membuatku merasa bosan. 

    “Kenapa selalu itu saja yang Ibu bahas. Selalu saja adek dibanding – bandingkan dengan Mas. Selalu saja ada kata – kata perempuan tidak boleh, laki – laki boleh. Selalu saja perempuan terkekang, dan laki – laki bisa bebas melakukan apapun.” Aku memberondong Ibu dengan bantahan yang sudah lama aku tahan. Aku lelah menjadi anak penurut dan pendiam. 

    Sunyi. Aku tak mendengar apapun lagi. 

    Aku tinggalkan Ibu dan masuk ke dalam kamar untuk sholat Maghrib. 

    Setelah sholat, aku berdiam diri. Hening. Tak ada suara apapun juga dari luar kamar. Hanya derikan batang pohon bambu samping rumah yang saling bergesekan terhantam angin, menghiasi keheningan petang ini. Aku mendongak ke arah jam dinding. Sudah hampir pukul tujuh malam. Ibu tak kunjung memanggilku keluar untuk makan malam. Ibu marah, simpulku. Aku tidak tahu apakah aku merasa sedih atau senang. Tapi yang jelas, ada yang hilang dari hatiku. Beban yang kutahan itu, hilang. Aku senang. Tapi, rasa hangat yang selama ini kurasa, juga hilang tiba – tiba. Ada gundah yang berusaha aku lawan dan lupakan. 

    Waktu menunjukkan pukul delapan malam Ketika aku mendengar deru mesin vespa berhenti di halaman rumah. Aku sudah selesai bersiap, menyusul suara ketukan pintu depan terdengar. Beberapa waktu berlalu, tapi aku tidak mendengar Ibu membukakan pintu. Ketukan kembali terdengar. Akhirnya, aku putuskan keluar kamar dan membuka pintu untuk Wicaksono, nama teman laki – laki yang mengajakku keluar malam ini. 

    Ready to go?” tanyanya setelah kubuka pintu.

    “Wa’alaikumsalam,” jawabku untuk mengingatkan dia.

    “Sorry. Assalamu’alaikum, cewek tomboy. Yuk berangkat. Pamit Ayah Ibu dulu?” 

    Aku menggeleng. “Tidak perlu, Ibu sudah tahu kalau kita mau pergi.”

    Kami berangkat tanpa pamit dan aku dalam keadaan lapar. Selama perjalanan, aku banyak terdiam. Obrolan Wicaksono tidak kuhiraukan. Ini pertama kalinya aku melawan ibuku. Pertama kalinya, aku merasa bebas. Pertama kalinya pula aku merasa, ini waktu yang tepat aku mendapatkan ‘keadilan’.

    Sejak kejadian malam itu, aku sering berselisih paham dengan ibu. Aku mulai merasa nyaman bersama circle yang terkesan ‘liar’ dan tidak nyaman di keluarga yang penuh ‘keteraturan’. Balap motor, main musik, dan menonton pertunjukan teater hingga malam menjadi aktivitas baru yang sering aku lakukan, meskipun aku tetap menjaga diri dan melaksanakan perintah Allah swt.

    Ayah selalu mengkritik sikapku, dan Ibu sering menangis diam – diam. Dan entah kenapa, aku merasa bahagia.

     

     

    Kreator : Riski Sintia Putri (Key2)

    Bagikan ke

    Comment Closed: BAB 2-Keluar Jalur

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021