
Pagi selalu datang perlahan di hutan Kalimantan.
Cahaya matahari menyelinap di antara tajuk-tajuk pohon yang tinggi, jatuh sebagai garis-garis keemasan di atas daun yang masih basah oleh embun. Udara terasa sejuk. Kabut tipis menggantung di antara batang-batang pohon, sementara suara burung bersahutan dari kejauhan.
Di salah satu pohon besar yang telah berusia puluhan tahun, sebuah keluarga kecil orang utan menjalani kehidupan mereka.
Raya, sang induk betina, adalah sosok yang lembut dan penuh perhatian. Di sampingnya ada Bara, orang utan jantan dengan tubuh besar dan lengan panjang yang kuat. Dan di antara mereka, ada Uli—anak jantan mereka yang masih kecil, penuh rasa ingin tahu dan selalu bergerak ke sana kemari.
Pagi itu, Uli bergelantungan pada sebuah dahan.
“Ayah! Lihat!”
Bara yang sedang duduk di dahan lebih tinggi menoleh.
“Apa?”
“Aku bisa sampai ke sana!”
Uli menunjuk sebuah cabang pohon yang cukup jauh.Bara segera berdiri.
“Jangan.”
Uli mengerutkan wajah.
“Kenapa?”
“Terlalu jauh.”
“Tapi aku bisa.”
Raya yang sedang memetik buah di dekat mereka tersenyum.
“Uli, dengarkan Ayah.”
“Tapi, Ibu…”
“Kalau kamu jatuh, siapa yang akan menangkapmu?”
Uli berpikir sebentar.
“Ayah.”
Bara tertawa kecil.
“Jangan terlalu yakin.”
Uli ikut tertawa.
” Ibu…..”
Raya menggeleng.
“Makanya jangan pergi terlalu jauh.”
Uli akhirnya kembali mendekat.
Ia duduk di antara kedua orang tuanya.
“Ayah…”
“Hm?”
“Kenapa kita tinggal di pohon?”
Bara menatap hutan yang terbentang luas di hadapannya.
“Karena ini rumah kita.”
“Apakah kita akan tinggal di sini selamanya?”
Bara memandang Raya.
Raya tersenyum.
“Selama hutan ini masih menjadi tempat yang aman bagi kita.”
Uli tidak benar-benar mengerti. Baginya, hutan hanyalah tempat bermain. Tempat mencari buah. Tempat tidur. Tempat mendengar suara hujan. Dan tempat ia selalu menemukan ayah dan ibunya. Ia belum tahu bahwa suatu hari nanti, semua itu akan berubah.
Beberapa hari kemudian, Bara membawa banyak ranting. Uli memperhatikannya dengan rasa ingin tahu.
“Ayah sedang apa?”
“Membangun sesuatu.”
“Apa?”
“Rumah.”
Uli tertawa.
“Tapi kita sudah punya rumah.”
Bara menunjuk sebuah tempat di antara dua cabang pohon besar.
“Rumah yang lebih nyaman.”
Raya datang membawa daun-daun lebar.
“Kalau begitu, kami harus membantu.”
“Betul.”
Mereka bertiga bekerja sepanjang hari. Bara mengikat dan menyusun ranting-ranting besar. Raya menata daun untuk menjadi alas. Uli membawa ranting kecil. Kadang ia menyeret ranting yang terlalu besar hingga tubuhnya sendiri ikut terseret. Bara tertawa melihatnya.
“Uli.”
“Apa?”
“Itu terlalu besar.”
“Aku kuat.”
“Benarkah?”
Uli mengangguk bangga. Namun beberapa detik kemudian, ranting itu terlepas dari tangannya dan jatuh. Uli terduduk. Raya tertawa kecil.
“Masih kuat?”
Uli mengangguk.
“Masih.”
Bara mendekatinya dan mengusap kepalanya.
“Kalau begitu, istirahat sebentar.”
Menjelang sore, gubuk kecil itu akhirnya selesai. Tidak besar.
Tidak kokoh seperti rumah manusia. Hanya susunan ranting dan daun yang bertumpu pada cabang pohon besar. Namun ketika mereka bertiga duduk di dalamnya, tempat itu terasa sempurna. Uli berbaring sambil tersenyum.
“Aku suka rumah ini.”
Raya menatap Bara.
“Aku juga.”
Bara memandang keduanya.
“Kalau begitu, kita harus membuat janji.”
Uli segera bangkit.
“Janji apa?”
Bara mendekatkan tubuhnya kepada Raya dan Uli.
“Seberapa jauh pun kita pergi, kita akan selalu kembali ke sini.”
Raya menatap suaminya.
“Dan apa pun yang terjadi…”
Bara melanjutkan,
“…kita akan tetap bersama.”
Uli mengangkat kedua tangannya.
“Aku juga berjanji!”
Mereka bertiga saling mendekap. Di bawah cahaya matahari yang perlahan tenggelam, gubuk kecil itu menjadi saksi sebuah janji sederhana. Janji yang diucapkan tanpa tahu bahwa suatu hari nanti, janji itu akan menjadi satu-satunya hal yang tersisa.
“Suara apa itu?” tanya Raya.
“Manusia.”
“Mereka semakin dekat.”
Bara mengangguk. Namun hutan masih hijau. Buah masih tersedia. Air masih mengalir. Hewan-hewan masih memenuhi pepohonan. Mereka mencoba menjalani kehidupan seperti biasa. Sampai suatu pagi, burung-burung terbang dalam jumlah besar.
Uli memandang ke atas.
“Kenapa mereka pergi?”
Raya tidak menjawab. Ia mencium sesuatu di udara. Asap. Tipis. Hampir tidak terlihat. Bara berdiri.
“Kita harus pergi.”
“Ke mana?” tanya Raya.
“Lebih dalam.”
Mereka mulai bergerak. Namun beberapa hari kemudian, asap itu kembali. Kali ini lebih tebal. Lebih panas. Daun-daun mulai mengering. Beberapa hewan meninggalkan sarang mereka. Hutan yang selama ini penuh suara kehidupan perlahan berubah menjadi tempat yang sunyi. Kemudian mereka melihat api. Merah. Panas. Membakar segala sesuatu yang dilewatinya. Uli berteriak ketakutan.
“Ibu!”
Raya segera menariknya ke dalam pelukan.
“Jangan lihat.”
“Tapi apinya besar!”
“Jangan lihat, Nak.”
Bara berdiri di depan mereka.
Ia menatap api yang semakin dekat.
“Kita harus pergi sekarang.”
Mereka bergerak. Hari demi hari mereka berpindah. Tetapi ke mana pun mereka pergi, asap selalu mengejar. Musim yang Berakhir. Makanan semakin sulit ditemukan. Buah-buah yang biasanya bergelantungan di dahan telah hangus. Daun-daun menghitam. Air sungai menjadi keruh oleh abu.
Uli mulai sering bertanya,
“Ayah, kapan kita pulang?”
Bara selalu menjawab,
“Sebentar lagi.”
Namun ia sendiri tidak tahu ke mana mereka harus pulang. Suatu malam, Raya terlihat sangat lemah. Ia duduk di dalam gubuk yang dahulu mereka bangun bersama. Uli mendekat.
“Ibu lapar?”
Raya tersenyum.
“Sedikit.”
Uli segera melihat sekeliling.
“Aku cari buah.”
Raya menahannya.
“Jangan.”
“Tapi Ibu lapar.”
“Di luar banyak asap.”
“Aku cepat.”
Raya menggenggam tangan anaknya.
“Jangan pergi.”
Uli kembali duduk. Bara datang membawa beberapa buah kecil.
“Hanya ini yang Ayah dapat.”
Raya memandang buah itu.
“Berikan kepada Uli.”
Bara menggeleng.
“Kita makan bersama.”
Raya mengambil sedikit.
Namun ia hanya mampu menggigit sekali.
“Raya…”
“Aku kenyang.”
Bara tahu itu bukan kenyataan. Tubuh istrinya semakin kurus. Matanya cekung. Napasnya semakin berat. Malam itu Bara duduk di samping Raya.
“Kita akan keluar dari sini.”
Raya menatapnya.
“Kalau aku tidak kuat?”
“Kamu harus kuat.”
“Bara…”
“Kita masih punya Uli.”
Raya menoleh kepada anak mereka. Uli telah tertidur dalam keadaan memeluk sebuah daun. Raya tersenyum sedih.
“Dia masih kecil.”
“Aku tahu.”
“Dia membutuhkan kita.”
Bara menggenggam tangan Raya.
“Karena itu kamu harus bertahan.”
Raya diam.
Kemudian berkata pelan,
“Kalau aku tidak bisa…”
“Jangan.”
“Janjikan sesuatu padaku.”
Bara menatapnya.
“Jangan bicara seperti itu.”
“Janjikan.”
Bara menghela napas.
“Apa?”
“Jaga Uli.”
Bara menundukkan kepala.
“Kita akan menjaganya bersama.”
Raya tersenyum.
“Terima kasih.”
Bara memeluk istrinya.
Untuk beberapa saat mereka hanya diam.
Di luar, hutan masih terbakar. Asap masuk perlahan melalui celah-celah daun. Malam itu tidak ada suara tawa. Tidak ada permainan Uli. Tidak ada suara burung. Hanya suara angin dan napas Raya yang semakin lemah.
Pagi datang.
Namun Raya tidak bangun. Uli mendekatinya.
“Ibu?”
Tidak ada jawaban.
“Ibu…”
Ia menyentuh tubuh ibunya. Dingin. Uli mengguncang tubuh Raya perlahan.
“Ibu, bangun.”
Bara berdiri di samping mereka. Ia tahu. Namun hatinya menolak menerima kenyataan itu.
“Raya…”
Ia menyentuh wajah istrinya.
“Bangun.”
Tidak ada jawaban.
Uli mulai menangis.
“Ibu tidur?”
Bara memeluk anaknya.
“Ya.”
“Kita bangunkan?”
Bara menutup mata. Air mata jatuh di wajahnya.
“Ibu sudah sangat lelah.”
“Kalau begitu biar Uli tunggu sampai Ibu bangun.”
Bara memeluk anaknya semakin erat.
“Uli…”
“Ibu akan bangun, kan?”
Bara tidak mampu menjawab. Ia hanya memeluk anaknya sambil menahan suara tangis. Hari itu, Uli kehilangan ibunya. Dan Bara kehilangan pasangan yang selama bertahun-tahun menjadi tempatnya berbagi kehidupan. Namun tidak ada waktu bagi mereka untuk berduka. Hutan masih terbakar. Mereka harus pergi.
Bara memeluk Uli yang menangis.
“Ayah…”
“Iya, Nak…”
“Ibu benar-benar tidak ikut kita?”
Bara tidak mampu menjawab.
Ia hanya memeluk anaknya semakin erat.
“Ayah…”
“Hm?”
“Kita masih bersama, kan?”
Bara menutup matanya.
“Iya.”
Suaranya pecah.
“Kita masih bersama.”
“ Kenapa harus ada api disini, siapa yang membakar?
——————————————————————————
Beberapa hari setelah kematian Raya, Bara dan Uli terus berpindah. Bara selalu menjaga anaknya tetap dekat. Namun suatu pagi, ketika Bara pergi mencari makanan, Uli berada sendirian. Ia mendengar suara manusia.
Ia mencoba bersembunyi. Namun terlambat. Beberapa orang datang. Salah seorang dari mereka adalah Jhoni.
“Di sana!”
Uli berusaha melarikan diri.
“Jangan biarkan kabur!”
Bara yang baru kembali melihat kejadian itu dari kejauhan. Ia mengeluarkan suara keras. Uli menoleh.
“Ayah!”
Bara bergerak mendekat. Namun orang-orang itu menghalanginya.
“Pergi!”
Bara berhenti. Ia tahu satu gerakan yang salah dapat membahayakan Uli. Jhoni menangkap Uli. Uli meronta.
“Ayah!”
Bara mengeluarkan suara keras. Matanya tidak pernah lepas dari anaknya. Uli terus menangis.
“Ayah!”
Bara maju satu langkah. Kemudian mundur lagi. Ia tidak bisa melawan. Tidak sekarang. Jhoni dan kelompoknya membawa Uli ke sebuah pohon. Mereka mengikat tubuh kecil itu.
“Diam!”
Uli berusaha melepaskan diri.
“Ayah…”
Bara bersembunyi di balik pepohonan. Ia melihat semuanya.
Hatinya seperti dihancurkan. Namun ia tidak dapat melakukan apa-apa. Beberapa waktu kemudian, kelompok itu pergi. Bara menunggu. Ia memastikan tidak ada manusia yang kembali. Barulah ia keluar dari persembunyiannya. Uli melihatnya.
“Ayah!”
Bara berlari mendekat. Ia menyentuh kepala anaknya.
“Ayah di sini.”
“Bebaskan aku.”
“Ayah akan membebaskanmu.”
Bara menarik tali itu. Sekali. Tidak lepas. Ia mencoba lagi. Tali semakin menekan tubuh Uli.
“Ayah… sakit.”
Bara berhenti. Ia menggigit tali dengan hati-hati.
“Ayah tidak akan meninggalkanmu.”
Ia terus mencoba. Tangannya terluka. Mulutnya terluka. Namun ia tidak berhenti. Karena sekarang, Uli adalah satu-satunya bagian dari keluarga yang masih ia miliki.
Matahari mulai turun. Bara masih berusaha membuka ikatan itu ketika terdengar suara langkah dari kejauhan. Bara segera bersembunyi. Beberapa manusia muncul di antara pepohonan. Namun mereka berbeda. Mereka membawa peralatan penyelamatan.
Salah seorang membawa kamera. Yang lain membawa kotak pertolongan. Mereka adalah sukarelawan penyelamat satwa.
“Perhatikan jejak ini.”
“Sepertinya ada orang utan.”
Bara mengintip dari balik pohon. Ia memandang mereka.
Kemudian memandang Uli. Ia berjalan beberapa langkah keluar. Berhenti.
Menoleh kepada para sukarelawan. Lalu kembali menatap Uli. Salah seorang sukarelawan memperhatikan gerakannya.
“Tunggu.”
“Ada apa?”
“Sepertinya dia ingin kita mengikutinya.”
Bara berjalan lagi. Berhenti. Menoleh. Kemudian berjalan menuju tempat Uli berada. Para sukarelawan mengikutinya. Ketika mereka melihat Uli, semua terdiam.
“Ya Tuhan…”
“Anaknya diikat.”
Salah seorang sukarelawan segera mendekat.
“Tenang.”
Uli meronta ketakutan. Bara berdiri tidak jauh. Ia tidak pergi.
Ia hanya menatap manusia-manusia itu. Seolah-olah seluruh tubuhnya sedang mengatakan satu hal:
Tolong anak saya.
Sukarelawan itu perlahan memotong tali.
“Sudah…”
“Kamu aman.”
Begitu ikatan terlepas, Uli langsung berlari menuju Bara. Ia memeluk tubuh ayahnya.
“Ayah…”
Bara memeluknya. Ia menutup mata. Untuk pertama kalinya setelah berhari-hari, ia merasa bisa bernapas lega.
“Ayah kira Ayah akan kehilangan kamu.”
Uli menangis.
“Ibu sudah pergi.”
Bara menempelkan wajahnya pada kepala anaknya.
“Iya.”
“Aku tidak mau Ayah pergi.”
Bara memeluknya lebih erat.
“Ayah tidak akan pergi.”
Para sukarelawan membawa Bara dan Uli ke tempat rehabilitasi satwa.
Di sana ada pepohonan. Ada air. Ada makanan. Tidak ada api. Tidak ada asap. Tidak ada suara mesin yang mengejar mereka. Uli tampak kebingungan. Ia duduk dekat Bara.
“Ayah…”
“Ya?”
“Ini rumah kita?”
Bara memandang sekeliling. Bukan. Ini bukan hutan mereka. Bukan gubuk yang dibangun bersama Raya. Bukan tempat di mana mereka pernah tertawa. Namun tempat itu aman. Bara menatap anaknya.
“Ini tempat kita memulai lagi.”
Uli terdiam. Kemudian bertanya,
“Apakah Ibu bisa datang?”
Pertanyaan itu membuat Bara menunduk. Ia tahu tidak ada jawaban yang dapat membuat hati anaknya benar-benar tenang.
“Ibu tidak bisa datang.”
Uli menundukkan kepala.
“Aku rindu Ibu.”
“Ayah juga.”
“Apakah Ibu tahu kita di sini?”
Bara menatap langit.
“Mungkin.”
Kemudian ia mendekap Uli.
“Yang penting, Ibu pasti ingin kita hidup.”
Uli memejamkan mata.
“Ayah…”
“Hm?”
“Janji kita masih ada?”
Bara terdiam.
“Janji yang di gubuk?”
Uli mengangguk.
“Kita akan selalu bersama.”
Bara memeluk anaknya.
“Masih.”
“Benarkah?”
“Selama Ayah masih hidup.”
Uli menyandarkan kepalanya di dada Bara. Di luar, matahari sore menyinari pepohonan. Cahaya keemasan jatuh perlahan di antara daun-daun. Bara memandang ke langit. Dalam hatinya, ia berbicara kepada Raya.
Raya…
Anak kita selamat. Aku tidak bisa menyelamatkanmu. Tapi aku menepati janjiku. Air mata jatuh dari matanya. Hutan mereka mungkin telah hilang. Gubuk kecil mereka mungkin telah menjadi abu. Raya telah pergi untuk selamanya.
Tetapi janji itu masih hidup.
Janji yang pernah mereka ucapkan pada sebuah pagi yang indah, ketika hutan masih hijau dan kehidupan masih terasa sederhana.
“Seberapa jauh pun kita pergi, kita akan selalu kembali satu sama lain.”
Dan mungkin, itulah arti sebuah rumah yang sesungguhnya. Bukan sekadar tempat untuk berteduh. Bukan sekadar pohon atau gubuk dari ranting. Rumah adalah seseorang yang tetap kita cari ketika dunia terasa menakutkan. Rumah adalah pelukan yang membuat kita berani bertahan. Dan bagi Uli, setelah kehilangan ibunya dan hutan tempat ia dilahirkan, rumahnya kini hanya tinggal satu:
Bara.
Sementara bagi Bara, Uli adalah satu-satunya alasan untuk terus hidup. Di tempat yang baru itu, mereka memulai musim berikutnya. Bukan musim yang penuh kebahagiaan seperti dahulu. Melainkan musim untuk bertahan. Musim untuk menyembuhkan luka. Dan musim untuk menjaga sebuah janji yang pernah diucapkan ketika kehidupan mereka masih sederhana:
Tetap bersama. Apa pun yang terjadi.
Kreator : Yulita Halim
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: BAB 2 MUSIM SEMI PERTAMA: SAAT JANJI ITU DIUCAPKAN
Sorry, comment are closed for this post.