KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » BAB 2 – Pemicu

    BAB 2 – Pemicu

    BY 01 Mar 2026 Dilihat: 7 kali
    BAB 2 - Pemicu_alineaku

    Matahari memasuki celah-celah jendela rumah. Hal itu membuatku beranjak bangun dari tidur.

    “Aduh.. Badanku sakit semua” gerutuku sembari menepuk-nepuk badanku yang dipenuhi rasa nyeri.

    Sedari malam aku tertidur di sofa karena aku sibuk menonton drama korea Hi Bye! Mama. Bukan tanpa alasan, kegiatan itu sengaja kulakukan atas duka yang terus melanda diri. Sejak kepulanganku dari acara Mingyu, aku dihantui perasaan insecure hingga dada terasa sesak dan amat menyiksa. Oleh karena itu, aku memilih untuk melihat drama tersebut. Agar aku bisa menangis dengan keras tanpa ada perasaan gundah yang tersisa.

    “Kamu masih belum bangun?” 

    Sebuah pesan masuk dari Hae-Joon muncul di layar handphone-ku. Aku memberi balasan padanya.

    “Hei, kau tahu dari mana aku baru bangun?”

    Tak lama kemudian, Hae-Joon merespon pesan tersebut.

    “Tahu! Tirai rumahmu sampai saat ini masih belum dibuka.”

    Aku tertegun. Bagaimana dia tahu aku biasa membuka tirai jam setengah enam pagi? Apa selama ini dia menguntitku?

    “Cepatlah keluar. Sarapanmu sudah siap,” sambung Hae-Joon melalui kiriman pesan.

    Aku merapikan diriku terlebih dahulu sebelum menapakkan kaki keluar rumah. Saat pintu depan dibuka, Hae-Joon menelisik bagian wajahku. Hal itu membuatku ketakutan setengah mati.

    “Apa yang sedang kamu lakukan?” tanyaku cemas.

    “Sudah kuduga. Ada yang tidak beres setelah kamu pulang dari acara kemarin. Matamu benar-benar sembab, membuatmu tambah jelek saja. Lekas kompres kedua matamu dengan es batu supaya lingkaran gelapnya menghilang” ucap Hae-Joon sembari menyerahkan botol minuman berukuran sedang dengan es batu di dalamnya.

    “Ini buat aku?” tanyaku tak percaya.

    “Hanya ada dirimu saja di sini. Memangnya buat siapa lagi?” jelas Hae-Joon dengan sedikit keras.

    Aku tersentuh sekaligus mengaku salah pada diriku yang telah berburuk sangka tadi. Aku pikir dia seorang penguntit. Namun sebenarnya, Hae-Joon bukan pria seperti itu.

    “Hae-Joon, aku benar-benar penasaran. Apakah kamu tahu rutinitas harianku?” tanyaku pelan sembari mengusap kedua mata dengan botol berisi kumpulan es batu.

    “Tahu,” jawabnya singkat.

    “Kamu tahu??” ucapku terperanjat.

    “Memangnya kenapa?” sambung Hae-Joon.

    “Ah.. Aku.. tak menyangka saja,” kataku lirih.

    Tiba-tiba Hae-Joon menghubungi seseorang yang belum kukenali identitasnya. Hingga aku sadar kontak penerima panggilan tersebut ialah tante Hong So-ra, ibu kandung Hae-Joon.

    “Halo, Bu. Tolong beritahu anak angkatmu ini untuk berhenti berpikir tidak rasional. Anak kandungmu sudah dianggap sebagai laki-laki tidak baik lantaran memahami kesibukan hariannya. Jika bukan tuntutan darimu, saya juga malas memperhatikan anak angkat Ibu,” ucap Hae-Joon emosi.

    “Bicaralah dengan ibu angkatmu,” ucapnya lagi.

    Aku memperoleh telepon seluler Hae-Joon, lalu aku mulai pembicaraan dengan suara pelan.

    “Halo, Bibi.”

    “Ara.. Bibi minta maaf mewakili Hae-Joon ya.. Hae-Joon anak baik. Dia memang dipaksa sama bibi untuk memantau aktivitas harianmu.. Karena kamu anak kesayangan bibi. Oh iya, agar kamu percaya dengan perkataan Bibi, kamu bisa baca chat antara kami berdua,” ucap Ibu Hae-Joon.

    “Baik, Bibi.. Saya juga minta maaf sebelumnya sempat negative thinking pada Hae-Joon,” tuturku.

    “Tidak apa-apa. Sebagai sesama perempuan, Bibi juga paham kekhawatiranmu. Ya sudah, kamu boleh berikan telepon ini pada Hae-Joon kembali” jelas Ibu Hae-Joon.

    Aku menyerahkan telepon pada Hae-Joon. Tak lama kemudian, Hae-Joon menutup telepon setelah mengucapkan beberapa kata pada ibunya.

    “Kamu lihatlah semua ini,” ucap Hae-Joon sembari menunjukkan percakapan chat antara dia dengan Bibi Hong So-ra.

    Setelah kubaca perlahan isi obrolan tersebut, aku tertawa cengengesan sambil melirik Hae-Joon. Laki-laki itu segera menunjukkan ekspresi kesalnya.

    “Jadi, kamu sudah bisa memberikan handphone saya?” ucap Hae-Joon.

    “Hae-Joon.. Aku sungguh minta maaf padamu.. Hae-Joon mau dibeliin apa? Nanti aku belikan segera,” kataku.

    “Tidak usah.. Saya cukup diberikan ganti berupa informasi lengkap darimu soal kejadian sebenarnya yang membuat lingkaran hitam ini menonjol,” jelas Hae-Joon sembari menunjuk kantung hitam bawah mataku.

    “Eh.. itu.. Haruskah aku menceritakannya?” ucapku ragu.

    “Cepatlah!” cakap Hae-Joon.

    Aku menceritakan peristiwa detail yang terjadi pada saat acara variety show Mingyu. Mulai dari obrolan dari lima karyawan sampai ejekan dari satu orang staf laki-laki. Setelah Hae-Joon mendengar penuturanku, ia terdiam cukup lama. Lalu ia berkata, “Apa kamu akan ke kantor itu lagi untuk melihat idola favoritmu di sana, Ara?”

    Aku menggeleng dan menjawabnya, “Tidak. Aku sudah tahu diri. Lagipula aku sudah senang bisa melihat Mingyu secara langsung kemarin. Bagiku semua itu terbilang cukup.”

    Hae-Joon tersenyum. Kemudian ia berkata lagi, “Terus laki-laki yang mengaku sebagai kakak kandungmu telah bertemu denganmu kembali di lokasi acara itu, Ara?”

    “Tidak.. Dia sama sekali tidak muncul sampai aku keluar dari Kantor Bibigo,” jelasku.

    “Baiklah.. Nanti kita cari tahu kembali tentang orang tersebut. Sekarang kamu habiskan dulu sarapanmu,” ucap Hae-Joon.

    Aku mengangguk. Lalu kulahap bubur yang diberikan oleh Hae-Joon. Makanan tersebut habis setelah sepuluh menit berlalu.

    “Ara, hari ini, apakah pelangganmu membuat janji temu denganmu?” tanya Hae-Joon.

    “Memangnya ada apa kamu menanyakan tentang mereka?” ucapku.

    “Agar kamu lekas pulih dari rasa sedihmu, kita luangkan waktu bersama untuk bermain arcade. Bagaimana menurutmu?” ucap Hae-Joon.

    “Tidak. Aku tidak bisa hari ini, Hae-Joon. Aku sudah berjanji pada Kak Sisi untuk mengunjungi café miliknya. Aku benar-benar minta maaf,” tuturku.

    “Kak Sisi? Dia siapa? Sepertinya saya baru mendengar nama orang itu,” ungkap Hae-Joon.

    Aku tersenyum lalu berkata, “Dia kakak perempuan yang baru berkenalan denganku kemarin saat waktu kunjungan ke acara variety show Mingyu. Kak Sisi adalah seorang penata rias dalam tim makeover dan stylist acara tersebut.”

    Hae-Joon mengerti. Kemudian ia berkata, “Apakah saya perlu menemanimu ke lokasi cafe-nya?.”

    “Terima kasih Hae-Joon.. Tapi menurutku tidak perlu.. Aku bisa ke tempat cafe itu dengan transportasi umum,” ucapku.

    “Baiklah.. Jika itu keinginanmu, maka saya tidak bisa berbuat apa-apa,” terang Hae-Joon.

    Aku merasa senang. Interaksiku dengan Hae-Joon telah membuat perasaan sedihku semakin lama menghilang. Sungguh tak mudah mendapatkan sosok teman yang perhatian dengan kondisimu saat kamu benar-benar membutuhkan kehadirannya.

    “Hae-Joon, aku ingin menata diri dulu. Soalnya aku takut klien-ku mampir ke toko pada saat tampilanku yang kumuh ini,” ucapku.

    Hae-Joon tertawa kecil lalu berkata, “Ya sudah, cepatlah kamu bersihkan tubuhmu. Baumu memang sudah tercium tidak sedap.”

    Saat kudengar ejekan halusnya itu, bibirku manyun sejenak lalu senyuman kecil muncul. Kemudian aku memasuki rumah tanpa menghiraukan Hae-Joon kembali.

    ————————————————————————————————

    Waktu sudah menunjukkan pukul 10 siang. Aku gegas menata diriku sendiri untuk lawatan ke cafe Kak Sisi. Sebelum pergi, aku memasang informasi bagi para pelanggan toko bahwa saat ini sedang ada keperluan keluar dan memberitahu untuk datang kembali esok serta jika ada klien baru bisa menghubungiku melalui pesan suara lewat telepon rumah.

    Aku mengunci semua akses masuk ke dalam rumahku. Tiba-tiba notifikasi pesan masuk berbunyi. Aku membuka pesan tersebut.

    “Berangkat sekarang?” tanya Hae-Joon.

    “Iya. Kamu kok tahu? Oh iya, aku titip rumahku ya bila kamu sedang tidak ada kegiatan pergi ke tempat manapun,” kataku.

    “Iya, siap,” ucap Hae-Jooon.

    Aku menggelengkan kepala karena Hae-Joon tidak memberitahuku mengapa dia bisa tahu akan berangkat sekarang. Hingga aku secara tak sadar melihat ke rumahnya, ternyata dia sedang berdiri di balkon rumah. Oleh karena itu, aku menjadi mengerti dia tahu tentang jam kepergianku dari mana. Aku melambaikan tangan pelan pada Hae-Joon. Dia hanya bereaksi dengan anggukan kepalanya dari kejauhan jarak antar kami berdua.

    Aku berangkat ke cafe Kak Sisi menggunakan bus dan kereta cepat sehingga aku sampai di lokasi pertemuan setelah dua jam lebih.

    “Permisi,” ucapku.

    Sungguh, aku terkejut saat kulihat beberapa member Seventeen di sana bersama orang-orang yang sepertinya staf mereka.

    “Ara!” panggil kak Sisi.

    Aku mencari arah suara tersebut. Kak Sisi muncul dari balik kumpulan orang itu.

    “Kita pergi dari sini dulu ya.. Mereka sedang membahas rencana penampilan Going Seventeen di cafe saya” jelas Kak Sisi.

    Mataku terbelalak saat mendengar penjelasan dari Kak Sisi. Going Seventeen? Di cafe beliau? Keren sekali..

    “Kak, kok mereka bisa berencana menggunakan cafe kakak sebagai tempat syuting Going Seventeen?” tanyaku penasaran.

    “Nanti kita akan bicarakan hal itu setelah tiba di taman belakang toko saya” ucap kak Sisi.

    Aku mengerti. Kemudian ku ikuti langkah kaki beliau hingga kedua kaki kami sudah berada di area taman cafe kak Sisi dengan disertai fasilitas ayunan ukuran medium

    “Wah.. Cantik sekali taman ini,” takjubku saat mata melihat area taman kak Sisi.

    Indah.. Sungguh indah.. Beragam bunga dan buah ada di taman itu. Tak lupa sebuah ayunan dipasang dengan penataan yang estetik sehingga menambah kesan ‘wah’ taman tersebut.

    “Ini.. Taman yang kakak kelola sendiri?” tanyaku penasaran.

    “Tentu tidak.. Pasti butuh bantuan orang lain dalam mengelola taman ini, Ara. Jika saya mengurus sendiri, maka berjuta keringat akan memenuhi tubuh saya. Lagipula saya tidak punya waktu banyak untuk mengelola semua ini sendirian. Sebenarnya cafe ini adalah bisnis bersama antara saya dengan bibi dan paman saya,” ucap kak Sisi.

    “Sebelumnya saya membantu bibi dan paman saya untuk mengelola restaurant mereka. Namun lambat laun, saya ingin membuka usaha sendiri dengan tetap diawasi oleh mereka berdua. Akhirnya bibi dan paman saya mengizinkan saya untuk membuka bisnis cafe ini. Penghasilan cafe ini sebagian diserahkan pada mereka karena dari awal kami bertiga sudah membuat kesepakatan terkait hal itu” sambung kak Sisi.

    “Keren sekali kak.. Tapi, bolehkah saya bertanya sesuatu?” ucapku.

    “Tanya apa? Soal member Seventeen yang datang ke cafe saya? Hahaha” ujar kak Sisi.

    “Hehe, soal itu juga.. Tapi.. Saya mau tahu hal lain dulu,” balasku.

    “Tentang apa?” timpal kak Sisi.

    “Daritadi pembahasannya tentang Bibi dan Paman terus. Memangnya, orang tua Kakak tidak tahu soal bisnis cafe ini?” tanyaku pelan.

    Kak Sisi tampak sedikit terkejut saat aku membicarakan tentang orang tuanya. Ia sesekali menghela nafas pelan dan cukup dalam. Seolah pembicaraan tersebut adalah suatu topik yang tidak ingin diungkit oleh orang lain.

    “Haruskah saya menjawabnya?” kata beliau.

    Aku menggelengkan kepala sembari berkata, “Tidak harus, Kak. Saya tidak ingin kita menjadi dua orang yang canggung.”

    Kak Sisi tersenyum pahit. Hal itu membuatku mengerti untuk segera mengubah obrolan antara kami berdua.

    “EH.. Saya mau tanya hal lain Kak. Tentang yang tadi itu.. Kenapa beberapa member Seventeen ada di cafe kakak termasuk keberadaan Mingyu?” tanyaku.

    “Jadi, semua berawal dari keinginan Mingyu yang berencana memproduksi konsep Going Seventeen untuk para carat korea melalui pelayanan cafe. Semua member memiliki andil dalam syuting acara tersebut. Ada yang melayani para tamu, membuat masakan tertentu, atau mengantarkan pesanan dengan jam kerja cafe hanya berlangsung pukul 9-11 pagi,” kata kak Sisi.

    “Seriusan, Kak?” tanyaku tak percaya.

    “Betul. Saya tidak berbohong,” tutur kak Sisi.

    “Lalu kenapa justru cafe kakak yang terpilih di antara lokasi lainnya?” tanyaku ingin tahu.

    “Sebenarnya itu pure faktor ketidaksengajaan. Waktu acara variety show di Kantor Bibigo, saya ingin memberitahu bos bahwa kamu sudah pamit pulang ke rumah. Ternyata ketika saya menemui beliau, bos menyarankan Mingyu untuk menggunakan cafe saya terkait pelaksanaan ide cafe member Seventeen. Jadilah sekarang mereka tengah berdiskusi tentang jadwal syuting dan konsep fix-nya pada waktu pelaksanaan,” tutur kak Sisi.

    “Tunggu.. Kok bos kakak tahu tentang bisnis cafe ini?” tanyaku heran.

    Kak Sisi tampak tersenyum jahil. Kemudian ia menjawab, “Sebenarnya.. Bos saya itu adalah sepupu yang merupakan anak semata wayang Paman dan Bibi.”

    Saat kudengar penuturan Kak Sisi, aku sontak kaget.

    “Sepupu?! Ya ampun.. Kakak satu lokasi kerja dengan sepupu?” ungkapku.

    “Ya.. Bisa dibilang begitu, untuk sementara waktu ini,” jelas kak Sisi.

    “Sementara? Memangnya kakak bekerja freelance di Kantor Bibigo?” soalku.

    Bingo! Saya cuma pekerja lepas harian setiap ada syuting acara variety show Mingyu. Kebetulan sepupu saya minta bantuan. Ditambah lagi bibi saya benar-benar merayu dengan pemberian uang kompensasi setiap kali saya bersedia membantu anak laki-lakinya itu. Soal duit, tentu saya tidak akan menolak kan.. Hahahaha.” cakap kak Sisi.

    “Oh.. Jadi begitu.. Pantas saja kakak rela jadi freelancer” ungkapku.

    “Hehe, begitulah..” ujar kak Sisi.

    “Lalu, kakak aslinya bekerja tetap di mana?” tanyaku penasaran.

    “Saya bekerja di studio milik saya sendiri. Studio itu dikembangkan dari hasil jerih payah saya mengelola bisnis cafe. Walaupun studio itu masih belum luas, tapi saya senang keinginan kecil saya tercapai,” tutur kak Sisi.

    “Keinginan kecil?” sahutku.

    Kak Sisi mengangguk. Sedangkan aku masih bingung dengan pernyataannya itu.

    “Kalo kamu.. Apakah ada keinginan kecilmu sendiri, Ara?” tanya kak Sisi ingin tahu.

    “Hmm.. Keinginan kecil itu maksudnya cita-cita yang belum terwujud ya, Kak?” soalku.

    “Iya.. Bisa juga dibilang begitu,” jelas kak Sisi.

    “Kalo soal itu.. Sebenarnya sedari dulu saya ingin menjadi model wanita, Kak,” ungkapku yang tiba-tiba menjadi lesu.

    “Ara, kenapa kamu mendadak jadi muram begini?” tanya kak Sisi kelimpungan.

    “Kamu baik-baik saja?” sambung Kak Sisi.

    Aku menangis sembari menutupi sebagian wajahku. Seluruh emosi negatif seketika menyelimuti diriku sehingga aku kalah dari perasaan yang selama ini terus ditutup rapat.

    “Ara, kamu kenapa? Kak Sisi jadi serba salah melihat kamu seperti ini? Sebenarnya apa yang terjadi padamu?” ucap Kak Sisi yang kini prihatin padaku.

    Aku menggelengkan kepala. Kemudian tangisanku tetap saja berlangsung hingga Kak Sisi merengkuh erat sembari mengusap lembut kepalaku.

    “Sudahlah.. Jika memang berat untukmu, maka lebih baik tak perlu kamu ceritakan pada saya,” tutur beliau.

    Aku melepas pelukan Kak Sisi lalu berucap, “Tolong beri saya waktu untuk bisa menceritakan tragedi menyedihkan tentang ibu, Kak.”

    Kak Sisi terdiam sejenak lalu berkata, “Ternyata kamu menangis hebat perihal ibumu. Baiklah.. Kamu tidak perlu terburu-buru menceritakannya pada saya. Kamu saja mau memberi kesempatan saya untuk menunda bercerita tentang orang tua saya. Jadi, kamu tenang saja dan lepaskan semua emosi negatif yang kini mengganjal di dalam dadamu.”

    Aku tersenyum tipis lalu secara perlahan ku biarkan emosi negatif keluar dari tubuhku melalui air mata yang makin lama berkurang jumlahnya.

    Aku melihat Kak Sisi tengah mengamati handphone-nya. Hingga aku sedikit terkejut matanya tampak menyiratkan ekspresi tertegun.

    “Kak? Ada apa?” tanyaku.

    “Sepupu datang kemari dengan laki-laki yang tidak ingin saya temui,” ucap Kak Sisi.

    Aku sungguh penasaran siapakah laki-laki tersebut sehingga Kak Sisi sangat enggan menemui beliau.

    “Ayo kita masuk ke dalam cafe. Para member Seventeen dan stafnya sudah selesai berdiskusi terkait mekanisme acara mereka” tutur kak Sisi.

    Aku mengangguk pelan lalu ku ikuti langkah kaki wanita yang lebih tua dariku itu.

    Saat aku mendekati pintu masuk cafe, hatiku langsung terperanjat dengan kehadiran Kak Hoseok.

    “Kak Hoseok? Sedang apa di sini?” tanyaku heran.

    “Menemani teman SMP,” kata kak Hoseok.

    “Kalian adik kakak?” tanya Kak Sisi seraya menunjukkan ekspresi terkejutnya.

    “Iya Kak..” jawabku lirih.

    Kak Sisi melirik ke arah laki-laki yang merupakan teman SMP Kak Hoseok. Aku rasa laki-laki itu adalah sepupu yang dimaksud oleh Kak Sisi. Aku terus melihat Kak Sisi seperti enggan untuk banyak bicara saat Kak Hoseok berada di cafe. Situasi itu membuat atmosfer canggung di antara kami berempat.

    Tak lama kemudian, Mingyu dan S Coups menghampiri lokasi kami berbincang.

    “Kak, kami sudah selesai berdiskusi terkait mekanisme acara Going Seventeen untuk para carat terpilih. Kami juga berterima kasih atas jamuan makan dan minum bagi para anggota Seventeen dan staf yang ke mari. Mungkin kami mau izin pulang dahulu ya, Kak Si-Kwan” ucap Mingyu pada kak Sisi.

    Kak Sisi mengucapkan “terima kasih kembali” kepada Mingyu. Kemudian kak Hoseok dan teman SMP-nya berbincang dengan Mingyu dan para member Seventeen. Sedangkan aku tengah dilirik tajam ke arahku.

    “Kenapa, Kak?” tanyaku ingin tahu.

    “Kamu.. benar-benar adik kandung Hoseok?” soal kak Sisi.

    “I..Iya Kak. Memangnya ada apa?” balasku.

    “Jadi.. saya dijebak oleh sepupu saya.. S*alan” ujar kak Sisi.

    “Kak.. Kenapa Kakak jadi tiba-tiba mengumpat?” tanyaku seraya kaget dengan ucapan makian dari kak Sisi.

    “Sepupu saya telah merahasiakan identitas teman SMP-nya pada saya. Sebenarnya sebelum acara cooking show Mingyu di Kantor Bibigo waktu itu, sepupu saya meminta saya untuk mendampingi kamu dalam kunjungan acara tersebut. Saat itu sepupu saya hanya memberitahu bahwa kamu adalah adik dari teman SMP-nya. Namun saya sungguh tidak menyangka bahwa ternyata teman SMP yang dimaksud adalah Jung Hoseok” tutur kak Sisi.

    “Sebentar.. Bila kamu benar adik Hoseok, kenapa saya tidak tahu soal itu? Memangnya tahun lahir kamu berapa?” tanya kak Sisi padaku.

    “Saya.. tahun 1992, Kak,” ucapku padanya.

    “1992? Berarti kamu beda lima tahun dengan kami. Seharusnya saat kami masih SMP, saya tahu tentangmu dari sepupu saya,” kata Kak Sisi.

    “Kami? Maksud kakak ‘kami’ itu siapa?” tanyaku memastikan.

    “Hoseok, lah. Saya dan dia pernah satu kelas sewaktu SMP. Jadi, seharusnya saya mengenal kamu bila benar jarak usiamu dengan Hoseok hanya 5 tahun. Akan tetapi, saya tidak pernah mendengar tentangmu dari Hoseok ataupun sepupu saya, Kak Beom-gyu” ucap kak Sisi.

    “Eh.. Sebenarnya.. Saya juga baru tahu saya punya hubungan darah dengan Kak Hoseok baru-baru ini,” ujarku.

    “Apa?!” ucap Kak Sisi dengan sedikit nada tinggi. Hal itu membuat Kak Hoseok dan yang lainnya menoleh ke arah aku dan Kak Sisi.

    “Tidak ada apa-apa, Kak. Silahkan teruskan ngobrolnya,” jelasku seraya memberi isyarat ‘baik-baik saja’ pada Kak Hoseok dan yang lainnya.

    “Kak Sisi.. Kenapa kakak sampai berteriak begitu.. Saya jadi malu dengan yang lain,” ujarku pada kak Sisi.

    “Aduh, saya minta maaf. Saya cuma terkejut saja dengan ucapanmu tadi bahwa kamu tahu adanya hubungan darah dengan Hoseok baru-baru ini,” ucap Kak Sisi padaku.

    “Iya.. Saya baru tahu soal itu ketika dia ke toko sekaligus rumah saya,” jelasku padanya.

    “Toko? Kamu buka bisnis kecil-kecilan juga?” tanya Kak Sisi ingin tahu.

    “Hanya toko jasa pakaian saja Kak.. Itu pun hanya toko kecil-kecilan,” ujarku.

    “Benarkah? Hebat sekali kamu” puji kak Sisi yang kubalas dengan respon biasa saja.

    “Tidak.. Itu hanya toko warisan dari almarhum ibu saya kak” jelasku.

    “Almarhum? Jadi ibumu sudah meninggal?” tanya kak Sisi tak percaya.

    “Iya Kak. Beliau meninggal karena tabrakan mobil orang yang tidak bertanggung jawab” jelasku padanya.

    “Ya ampun.. Saya benar-benar minta maaf malah membuatmu jadi sedih kembali, Ara” tutur kak Sisi saat aku mendadak sedih mendengar kata ibu.

    “Iya kak, tidak apa-apa” ucapku.

    “Apakah kalian sudah selesai mengobrol?” tanya sepupu kak Sisi yang dipanggil ‘Kak Beom-gyu’.

    “Sudah kak” ucapku dan kak Sisi serempak.

    “Sisi.. Kamu ikut saya. Ada yang mau saya bicarakan denganmu” ucap kak Beom-gyu.

    Kak Sisi membuntuti kak Beom-gyu dari balik punggungnya. Sedangkan aku berdiri bersama kak Hoseok tanpa satupun bicara. Hingga semenit kemudian aku bertanya padanya, “Kakak bahas tentang apa dengan para anggota Seventeen?.”

    “Nanti kamu akan tahu setelah saya antar pulang ke tempat tinggalmu” ucap kak Hoseok.

    Apa ini? Kenapa kak Hoseok bermain rahasia-rahasiaan denganku? Aku benar-benar dibuat penasaran olehnya.

    Setelah para member Seventeen dan stafnya meninggalkan lokasi cafe, Kak Hoseok mengantarkanku pulang ke rumah. Dalam perjalanan pulang, kak Hoseok membuka pembicaraan denganku. 

    “Kamu dengan Sisi, apakah hubungannya baik dan lancar?” tanya kak Hoseok.

    “Baik-baik saja kak. Memangnya kenapa? Oh iya, sebenarnya saya penasaran dengan 1 hal, kak” ucapku.

    “Apa itu?” tanya Kak Hoseok lagi.

    “Tadi Kak Sisi sempat bilang kalo kakak pernah satu sekolah dengan dia saat jenjang SMP. Namun kenapa waktu kak Sisi melihat kakak tadi suasananya benar-benar canggung? Dan kalo tidak salah kak Sisi menyebut kakak ‘laki-laki menyebalkan,’” ujarku padanya.

    “Apa? Jadi dia menganggap saya seperti itu? Ya sudahlah, biarkan saja. Toh dia memang tidak menyukai keberadaan saya,” ucap kak Hoseok sedikit kesal.

    Aduh.. Kenapa aku jadi mendengar keluhan kakak kandungku itu.. Menyebalkan sekali.

    Akhirnya, aku dan kak Hoseok telah sampai di rumah. Kulihat Hae-Joon juga tidak ada di tempat dia berdiri sebelumnya. Tentu saja.. Kini waktu sudah petang hari, dia tidak mungkin masih berdiri di tempat yang sama.

    “Kakak mau masuk?” tanyaku pada Kak Hoseok

    “Boleh,” jawab beliau sembari mengamati area depan rumahku.

    Kami berdua masuk ke dalam rumah. Kemudian kak Hoseok duduk di sebuah bangku, sedangkan aku menyiapkan minuman untuknya.

    “Ini, Kak,” ucapku sembari memberikan minuman teh chamomile pada kakak kandungku itu.

    “Terima kasih,” balasnya.

    “Jadi.. Apa yang mau Kakak jelaskan tadi?” ucapku.

    “Kamu.. akan ikut serta dalam kegiatan variety show Going Seventeen,” tutur kak Hoseok.

    “Tunggu.. Apa?! Kakak serius? Berarti nanti aku termasuk carat terpilih untuk acara tersebut?” ujarku girang.

    “Tidak.. Kamu bukan untuk hal itu,” ucap Kak Hoseok yang membuatku mendadak lesu.

    “Lalu, pada bagian mana saya akan berpartisipasi, Kak?” tanyaku yang masih tak bersemangat.

    “Kamu akan menjadi desainer pakaian dan model wanita sementara untuk keberhasilan acara tersebut,” kata kak Hoseok.

    “Tunggu.. Apa?!” histerisku tiba-tiba.

    “Kak, yang benar saja.. Saya anak gendut yang tidak mungkin bisa menjadi model wanita untuk acara tersebut,” tuturku sedikit menggebu-gebu.

    “Oleh karena itu.. Kamu akan dapat pelatihan khusus dari saya dan Sisi sehingga kami juga tidak merasa dipermalukan olehmu,” ucap kak Hoseok.

    Sontak perasaanku campur aduk. Antara tidak percaya, marah, kesal, dan bahagia. Lalu, apakah rencana kak Hoseok akan berhasil? Sedangkan aku benar-benar tidak percaya diri dan khawatir hanya akan mempermalukan mereka berdua. 

    Di tengah perasaanku yang masih kalang kabut, kak Hoseok berkata padaku.

    “Tenang saja.. Saya percaya kamu tidak akan mempermalukan saya, Sisi dan grup idol favoritmu itu,” ucap kak Hoseok yang lambat laun membuat hatiku sedikit tenang.

     

     

    Kreator : Rofa Sholihatunnisa (Fatuni_Shigeru)

    Bagikan ke

    Comment Closed: BAB 2 – Pemicu

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021