Yunita mengajak Tiara berkemas karena saat itu waktu sudah menunjukkan pukul dua siang.
“Alamat telat kita sampai Bandung, Tiara. Ayo cepetan!” desak Yunita sambil mengemas semua barang dan perlengkapan ke dalam koper.
“Iya, bentar. Tapi, kenapa buru-buru. Ada apa nih? Pan ini masih Sabtu, belum Minggu,” ujar Tiara terheran-heran sambil ikut membereskan pakaiannya.
“Ada kasus mendesak yang harus segera diselesaikan. Tiba-tiba komandan Thomas dan Asep meminta saya mendampingi korban kasus pembunuhan baru..” ujar Yunita datar.
“Sepertinya dia udah biasa menangani kasus seberat itu,” ujar Tiara dalam hati, dan sepertinya memang berat.
“Iya, ayo kita bergegas,” ujar Tiara sambil mengambil tas kulit selempang hadiah dari sang pacar, Gunadi, teman freelance Yunita.
Mereka pun naik bus jurusan Bandung dengan waktu tempuh delapan jam perjalanan, karena lokasi penginapan dan kota Pangandaran cukup jauh.
Sesampainya di Bandung, Yunita bergegas ke rumah tinggalnya di kawasan sederhana perumahan Bandung Tengah, jl.Merbabu No. 22, sementara Tiara tinggal di tempat kost daerah Cikutra Bandung.
Yunita baru meletakkan tasnya, handphone berdering, suara Thomas masih parau seperti tak pernah tidur menghalau lelah Yunita
“Iya, ada apa?” desak Yunita, sepertinya ingin sekali mandi ketimbang menerima telepon dari rekannya itu. Tapi mau bagaimana lagi, karena bagi Yunita isi kasus lebih penting daripada mandi.
“Halo,” desak Yunita sekali lagi.
“Kasus pembunuhan ini belum terungkap siapa pelakunya, Yun. Namun, istrinya diduga sebagai pelaku dan kini sedang ditahan di Polres Bandung,” ucap Thomas sambil terdengar sedang menyeruput minuman di ujung telepon.
“Oh, okay. Mungkin besok aku kesana,” Ujar Yunita memastikan. “Sekarang sudah malam, mungkin aku analisis dulu bahannya untuk pendampingan besok,” jawab Yunita ingin mengakhiri percakapan.
“Oh, okay. Ketemu di kantor besok ya,” ucap Thomas memastikan.
“Iya, aku datang. Tenang saja,” ujar Yunita sekali lagi.
Telepon pun ditutup dan Yunita bersiap untuk tidur.
Bip. Bunyi ponsel berdering lagi. Namun, Yunita tidak mendengar panggilan tersebut yang ternyata berasal dari nomor telepon tak bernama.
Jam di tangan Yunita menunjukkan pukul tujuh tepat ketika ia melihat mobil avanza hitam melintas dan berhenti tepat di depan Yunita.
“Ayo masuk,” ajak brigadir Asep sesaat setelah kaca mobil terbuka. Mereka pun berangkat menuju Polres bersama.
“Mana Pak Thomas?” tanya Yunita membuka percakapan.
“Dia sudah duluan ke TKP. Ternyata lokasinya berada di daerah perbatasan Bandung Timur dan Selatan, wilayah Pameungpeuk, jadi ku antar saja, hehe,” ujar Asep cengengesan.
Asep, sebuah nama Sunda dan sesuai tradisi Sunda, orangnya memang senang bercanda. Banyak banyolan sepanjang jalan bersama Asep sang brigadir, sehingga tidak terasa sudah berada di Polres.
Menghadapi situasi senyap di ruang wawancara, Yunita meletakkan alat tes yang biasa ia bawa untuk menangani perkara. Secara khas juga Yunita membuat materi sendiri untuk alat tes pendampingan korban agar lebih mudah dan hal itu mengantarkannya menjadi Magister Psikologi.
“Halo, Bu,” sapa seorang polwan berseragam dengan nama Shinta di dadanya.
“Hai,” balas Yunita akrab.
Shinta membawa terduga tersangka dan melihat sang terduga berjalan lunglai menuju meja wawancara.
Dengan analisis mendalam, Yunita dengan lihai menggali beberapa profil kehidupan sang terduga, mengernyitkan dahi dan menempelkan pulpen di bibir ketika sulit diceritakan oleh terduga. Sampai lebih dari lima jam, semua sudah didapat baik informasi tentang latar belakang kehidupannya dan keluarganya hingga muncul beberapa symptom dari apa yang dialami oleh terduga.
“Yunita memang lihai,” ujar Thomas di balik kaca ruang wawancara.mAsep pun mengangguk.
Dengan teliti, mereka menunggu Yunita selesai mewawancarai. Jam menunjukkan pukul 15.30 sore hari, sang terduga keluar dari ruang wawancara dengan tertunduk dan polwan Shinta mengantarkan terduga kembali ke dalam sel. Yunita mengikuti di belakang, dan Thomas pun menghampiri.
“Gimana, Yun?” desak Thomas
“Data lengkap sudah ada, informasi juga sudah oke. Tinggal diolah aja.” Yunita menyebutkan.
“Oke, berhubung kamu sudah lebih dari lima jam melakukan tugas, sekarang giliran aku traktir makan ya,” Thomas mengajak Yunita secara halus.
Yunita pun tak mau menolak dan mereka lanjut menuju kantin Polres dan menu Sunda menjadi makanan yang menghangatkan suasana di sana, meski cuaca sedikit temaram.
Yunita pun pamit setelah cukup kenyang dan Thomas pun mengantar Yunita ke rumahnya.
“Menurutmu beberapa kasus yang ditangani, apakah membuatmu lelah, Yun?” Tanya Thomas.
“Hmm, tidak sih. Justru menjadi tantangan tersendiri buat ku mengerjakan kasus profiling ini, apalagi kasus besar.”
“Senang atau butuh, nih?” goda Thomas sambil menyetir.
“Ya, salah satunya…” Yunita tersenyum dan tak terasa mereka sudah sampai di depan rumah Yunita.
Yunita turun dari mobil, kemudian melambaikan tangan lalu bergegas masuk rumah mengerjakan kasus kembali.
Sementara Thomas melihat di ujung jalan berdiri sosok pemuda yang seperti dikenalnya, namun tersamarkan oleh malam yang kelam.
Thomas masih mengernyitkan dahi, kemudian turun karena penasaran. Sambil berjalan mendekat, sosok pemuda itu semakin jelas, dan …
“Eh, kamu Doni, kan? Sedang apa di sini?” tanya Thomas sedikit lega, saat mengetahui bahwa ia mengenal sosok pemuda itu.
“Eh … Hai, Thomas! Nggak papa, tadi mau ke rumah Yunita, tapi sepertinya dia sibuk jadi aku nggak berani ganggu,” ujar Doni menjelaskan, mereka pun berjabat tangan.
Doni adalah seorang audit perusahaan yang merupakan teman SMA Thomas dan Yunita, dan secara kebetulan mereka bertemu di depan rumah Yunita.
“Ehm, jangan-jangan mau melanjutkan pertemanan lama yang dulu nih,” goda Thomas.
Doni pun mengajak Thomas ke toko sebelah rumah Yunita dimana di depannya ada teras untuk ruang ngopi. Doni dan Thomas tertawa bersama ketika masing-masing bercerita pekerjaan dan masa-masa SMA.
“Kamu masih menghubungi Yunita, ya?” tanya Thomas tersenyum.
“Sejak putus dari Ilham, Yunita banyak menghabiskan waktu dengan bekerja, Don. Dia jadi lebih banyak seriusnya,” ungkap Thomas menambahi sambil menyeruput kopi seduhan sore menjelang malam kala itu.
“Iya, Yunita enak diajak diskusi. Selalu muncul ide untuk menyelesaikan kasus, termasuk masalahku dengan tunanganku,” ucap Doni.
Seteguk kopi mengakhiri pertemuan mereka, sementara di dalam rumah Yunita masih asyik mengetik beberapa kasus yang akan diserahkan ke pimpinan Thomas esok harinya.
Bagi Yunita, malam itu ia harus menyelesaikan dua kasus sebelumnya yang akan digulirkan di meja hijau, dan hal ini semoga bisa menjadi promosi untuk Yunita melaju memperoleh izin praktek pribadi dan keinginannya untuk meniti karier lebih baik. Malam semakin dingin diselingi tuts laptopnya. Yunita masih mendengar tawa Thomas di seberang jalan, membuat Yunita tersenyum.
Kreator : Yusi Hariyumanti HS ( Uchi)
Comment Closed: Bab 2: Pengalaman Membuka Kesempatan Berkarir
Sorry, comment are closed for this post.