
Bagi Maru, malam ini terasa berbeda.
Biasanya, setiap kali memejamkan mata, yang datang hanyalah bayangan luka dan kata-kata tajam Mawar yang membekas di kepalanya.
Namun malam ini, ingatannya justru kembali pada masa SMP.
Pada seorang wanita bernama Ayra.
Sosok yang tidak pernah ia duga akan kembali muncul dalam hidupnya
Beberapa bulan yang lalu, setelah bertahun-tahun tidak bertemu, Maru memberanikan diri untuk mencari tahu mengenai salah satu sosok dari teman masa SMP-nya, di salah satu aplikasi media sosial. Dan sosok itu adalah Ayra, wanita yang pada masa remajanya selalu dijahilinya.
Setelah sekian lama mencari, Maru akhirnya berhasil menemukan akun yang ia percayai milik Ayra. Dan tanpa ragu lagi ia pun langsung menghubunginya. Dengan tujuan meminta bantuan untuk dicarikan pekerjaan.
Meskipun di awal terasa canggung, namun pada akhirnya wanita itu mau membantunya.
Akan Tetapi, pekerjaan yang ditawarkan Ayra membutuhkan ijazah SMA. Sedangkan Maru sendiri, memiliki ijazah SMP pun ia tidak punya. Dengan terpaksa akhirnya ia melepaskan kesempatan itu.
Setelah hari itu, tidak ada interaksi apapun diantara mereka. Saat itu Maru berpikir interaksi mereka mungkin hanya sampai disitu. Terlebih saat itu sikap Ayra padanya terkesan dingin. Membuat Maru sulit untuk membuat topik percakapan baru selain menanyakan pekerjaan.
Tapi kini, takdir berkata lain.
Hari ini, Ayra mengirimkan pesan lebih dulu padanya.
Menanyakan kabarnya.
Ada rasa senang sekaligus rasa tidak percaya pada diri Maru.
Wanita dingin itu saat ini sedang bertukar pesan dengannya?
Dalam ingatan Maru, Ayra adalah sosok wanita yang acuh. Dia selalu memiliki wajah datar.
Maru masih ingat, semasa SMP ia kerap kali menarik ujung kerudung yang dipakai Ayra dari belakang. Membuat kepalanya langsung mendongkak sekali hentak. Tidak hanya itu, ia juga suka menyingkap Rok Ayra sampai tersangkut di sela pintu kelas. Bahkan sapu kelas yang dipegang Ayra saat digunakan waktu piket kelas itu pun sampai patah akibat kejahilan Maru.
Meskipun dijahili seberapa sering olehnya, Ayra temannya itu tidak pernah membalas. Justru disaat Maru kesulitan dalam ujian, Ayra lah yang selalu membantu dengan cara memberi contekan padanya.
Maru tidak pernah menyangka kehadiran sosok wanita masa SMP-nya itu membuat ingatan masa remaja nya pun ikut kembali.
Malam ini bulan diatas mega terlihat bulat sempurna. Cahayanya yang terang seolah menjadi hiasan satu-satunya di tengah gelapnya atap semesta.
Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam.
Namun layar ponsel ditangan Maru masih tetap menyala.
Untuk sesaat ia menggerakkan kakinya. Merubah posisi duduk, karena terasa pegal.
Dan pesan baru dari Ayra kembali muncul.
Maru membacanya pelan. Sudut bibirnya terlihat bergerak tipis.
Sudah lama sekali ia tidak merasa sesantai ini saat berbicara dengan seseorang.
Ayra :”Kalau kau di Garut, anakmu dimana?Dan bersama siapa?”
Jemari Maru mulai mengetik balasan.
Maru : “Dirumah, ada ibu dan juga pengasuhnya”
Dia meraih bungkusan rokok di sampingnya dengan santai. Sambil menunggu balasan dari seberang.
Ayra :” Pengasuh?Wah kau sudah kaya ya sekarang. Anak saja harus ada pengasuhnya segala”
Maru mengulum senyum, lalu mulai menyalakan api. Untuk sesaat ia menghisap rokoknya lama, lalu menghembuskannya kembali.
Maru :”Sejak usia lima bulan dia suka ditinggal ibunya pergi. Jadi harus ada pengasuh”
Balasan Ayra muncul lebih cepat.
Ayra: “Pergi?Pergi kemana?”
Maru tampak berpikir, jemarinya sempat berhenti diatas layar sebelum kembali mengetik.
Maru:”Kerja ke Bekasi, tapi itu tidak lama, cuman tiga bulan”
Ia berhenti sejenak. Lalu tombol send pun kembali ia klik setelah ia mengetik pesan.
Maru: “Sisanya lebih sering hangout sama teman-temannya”
Tak lama kemudian pesan dari Ayra muncul lagi.
Ayra:”Masa sih begitu?Gak mungkin de. Masa ada ibu yang mau ninggalin anak nya hanya untuk hangout bareng temen-temennya?Kamu yang bener kalau ngomong”
Maru membaca pesan itu cukup lama. Bahkan sampai berulang kali.
Sudut bibirnya terangkat kecil.
Bukan karena lucu.
Tapi karena untuk pertama kalinya, ada orang yang merasa tingkah mawar memang aneh. Sudah lama sekali tidak ada orang yang berpendapat seperti itu, saat mendengar ceritanya tentang Mawar.
Biasanya, orang-orang justru menyalahkannya balik. Kalau tidak mereka akan berucap,
“Sabar saja” atau “Maklum dia masih muda”
Terkadang beberapa orang disekitarnya menanggapi bahwa itu hal yang wajar. Seolah menormalisasikan sikap Mawar.
Maru sendiri sudah tidak merasa aneh jika apa yang dikatakannya dianggap kebohongan. Ya, karena siapa yang akan percaya kalau didunia ini ada ibu yg bersikap seperti itu pada anaknya. Terlebih anak itu masih sangat kecil.
Maru lalu merebahkan kepalanya di dinding, menatap lampu kamar yang belum dinyalakan.
Ia kembali mengetik balasan.
Maru :”Serius Ra.”
Maru menghisap rokok, lalu menghembuskannya dengan satu kali helaan nafas berat.
Maru:” Sikap Mawar selama kami menikah bahkan ibuku pun tahu”
Dua alis Maru tampak melengkung. Kali ini Ayra tidak membalas cepat pesannya.
Matanya terus menatap layar ponsel, menunggu pesan lain muncul. Entah kenapa, ia jadi memikirkan bagaimana kesan Ayra saat membaca pesannya tadi.
Perasaan gugup mulai menjalar keseluruh tubuhnya. Ia menghela nafas pasrah, lalu menatap langit-langit kamar,
“Apa dia tidak percaya pada apa yang kukatakan?”
Ia menaruh ponselnya di lantai. Lalu berdiri- menyalakan lampu, menutup jendela kamarnya. Dan suara notifikasi kembali terdengar.
Tubuh Maru bergerak cepat tanpa sadar, segera mengambil ponsel.
Sebuah pesan baru kembali muncul.
Ayra :” Ngomong-ngomong, kamu sudah makan?”
Maru membaca pelan.
Maru :”Belum”
Ujung Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk sisi ponsel-menunggu balasan
Ayra:”Makanlah dulu, biar strong dalam menghadapi hidup”
Maru menatap pesan itu cukup lama. Ia menaruh rokok di pinggiran asbak. Matanya melirik pada bungkusan makanan pemberian Bang Hendra yang belum disentuhnya. Tangannya mulai terulur untuk mengambil bungkusan itu. Saat dibuka, ada beberapa gorengan didalamnya. Ia mengulum senyum tipis. Lalu mengambil salah satunya. Kemudian digigitnya.
Maru :”Kamu sendiri sudah makan, Ra?”
Sambil mengunyah makanan,ia menunggu pesan balasan.
Ayra :”Sudah tadi, Terima kasih”
Saat Maru hendak mengetik, pesan lain lebih cepat muncul.
Ayra :” Mar, boleh nanya gak?”
Maru terdiam, makanan yang hendak digigit nya pun ia taruh kembali. Dengan cepat dia kembali mengirimkan pesan balasan.
Maru:”Apa?”
Maru menatap ponsel miliknya, tangannya terulur untuk mengambil botol air minum yang ada di pojok kamar. Lalu meneguknya.
Ayra: ”Waktu SMP, aku dengar kamu keluar dari sekolah. Kenapa?”
Maru terdiam. Ia tampak berpikir sebentar sebelum mengetik pesan balasan. Satu kalimat berhasil diketiknya tapi kemudian dihapusnya lagi. Beberapa kali ia menggelengkan kepala, terasa kalimat yang ia tulis terlalu panjang. Dan setelah lama berfikir akhirnya satu pesan berhasil ia kirim.
Maru :” Aku Keluar karena kendala biaya ”
Maru kembali mengambil gorengan yang tadi ia taruh. Meskipun rasa gorengan itu sudah sedikit keras, dan dingin, entah kenapa di mulutnya gorengan itu masih tetap bisa dimakan.
suara notifikasi kembali muncul.
Ayra:”Lalu, Kenapa Waktu itu kamu minta dicarikan kerjaan disini. Padahal kamu sendiri sudah mapan?”
Maru terdiam. Ia tidak langsung membalas.
Ia meneguk air minumnya lalu mengusap-ngusap tangannya menggunakan tisu, sebelum mengetik.
Maru : “Itu dulu, sekarang aku bangkrut, Ra. Aku harus bayar hutang. Terlebih sebelum pergi, Mawar bawa kabur uang arisan orang satu kampung”
Pesan terkirim.
Tidak lama pesan balasan dari Ayra muncul.
Ayra:”Dan sekarang orang-orang itu nagih nya sama kamu gitu?”
Dengan wajah sendu, Maru mengetik,
Maru:”Iya.”
Maru menghisap rokoknya kembali.
Ayra:”Kenapa tidak suruh mereka untuk menghubungi dia saja? Toh dia yang bawa kabur uangnya”
Maru sedikit bergeser ke belakang. Bersandar di dinding.
Maru :”Mereka tidak tahu Mawar ada dimana sekarang. Jadi, ya … mereka kesini, cari aku”
Maru menghela nafas berat.
Ayra :”wah gila juga ya tu cewek. Udah selingkuh bawa kabur duit orang pula. Kamu Menemukan wanita paket lengkap kaya gitu tuh dari mana?. Sampai bisa bawa sialnya berlapis-lapis.”
Maru tersenyum kecut.
Belum sempat ia mengetik, pesan lain muncul lagi.
Ayra:”Dulu waktu SMP perasaan kamu gak bodoh-bodoh amat. Kok bisa sih, milih cewek kaya gitu dijadiin istri.
Ayra :”Cinta emang bawa kegoblokan ya”
Maru terdiam. Dia tidak merasa sakit atau tersinggung akan kata-kata yang ditulis teman masa SMP nya itu. Karena baginya kata-kata itu sudah sering ia dengar. Bahkan saking seringnya, ia sudah terbiasa dengan itu.
Maru menunduk menatap layar ponsel cukup lama. Jarinya bergerak pelan diatas keyboard, lalu berhenti beberapa detik, sebelum mengetik.
Maru :” Sekarang yang ada di pikiranku, bagaimana cara nya bisa mendapat pekerjaan di tempat jauh. Agar aku bisa membereskan semuanya.”
Ia mengusap wajahnya pelan, matanya tampak lelah seperti seseorang yang sudah terlalu lama memikirkan hal yang sama setiap malam.
Maru :” Kemarin aku ke surabaya ngelamar kerja, tapi tidak diterima .”
Lirihan nafas berat terdengar di kedua bibirnya. Seakan keputusasaan mulai menenggelamkan semangat hidupnya.
Beberapa saat setelah pesan itu terkirim. Maru mulai merebahkan tubuhnya yang lelah di atas kasur lipat. Pandangannya kosong menatap langit -langit.
Sesaat kemudian suara pesan masuk terdengar, membuatnya teralihkan.
Ayra :” Coba istirahat dulu de Mar, kaya nya kamu perlu diem dulu de. Kondisi mental mu belum pulih sepenuhnya. Aku yakin kalau mental mu sudah pulih rezekimu pasti datang.”
Maru membaca pesan itu berulang kali. Entah kenapa dadanya terasa sedikit sesak. Bukan karena tersinggung, melainkan karena untuk pertama kalinya ada seseorang yang sadar kalau dirinya sedang tidak baik-baik saja.
Selama ini orang-orang disekitarnya terutama kedua kakak perempuannya-lebih sering menganggap hal yang dialaminya adalah hal yang sepele.
“Baru begitu aja langsung drop. Pantes istrimu ninggalin”
Kalimat itu masih jelas teringat di kepalanya. Bukan hanya menyakitkan,tapi juga membuatnya sulit percaya, bahwa orang terdekatnya sendiri bisa berkata sekejam itu.
Sementara seseorang yang berada di jarak ribuan kilometer justru mampu menyadari kalau dirinya sedang hancur perlahan.
Pesan lain muncul lagi.
Ayra :” Karena walau dipaksa bagaimanapun, jika kondisimu seperti itu aku yakin apa yang kamu cari dan kamu butuhkan tidak akan kamu dapatkan.”
Jari Maru hendak Mulai mengetik, tapi pesan lain tidak lama muncul kembali lebih cepat.
Ayra :” Kadang orang itu terlalu fokus nyari jalan keluar, sampai lupa kalau dirinya sendiri sudah kelelahan.Padahal sebelum mulai lagi, yang paling perlu dipulihkan itu, diri kita sendiri”
Maru termenung membaca pesan itu.
Tatapannya diedarkan ke sekeliling kamar kosnya yang sempit.
Ia melihat ke arah beberapa botol minuman bekas di sudut kamar yang berserakan. Asbak di depannya juga penuh dengan puntung rokok. Ia menghela nafas, tangannya dengan perlahan meraba kasur lipat yang ditempatinya.
Maru menarik nafas panjang.
Untuk pertama kalinya, ia berpikir,…
Mungkin yang dikatakan Ayra benar
Entah sejak kapan ia selalu sibuk memikirkan cara untuk bertahan hidup sampai lupa memikirkan dirinya sendiri. Dengan ragu, Jarinya mulai mengetik.
Maru:”Kalau aku berhenti sebentar, apa semuanya gak semakin berantakan?”
Maru menatap lama pesan yang baru ia kirim.
Beberapa detik berlalu tanpa balasan.
Helaan nafas panjang terdengar lirih dari bibirnya. Menatap langit-langit di atas wajahnya. Ponsel yang dipegangnya pun jatuh pelan di atas dada.
Entah sejak kapan hidupnya terasa seperti tali yang terus dipaksa tegang.
Sedikit saja ia berhenti menariknya,semuanya seperti akan putus bersamaan.
Dalam larutan pikiran, ia memejamkan mata. Dan suara notifikasi kembali terdengar.
Ayra :”Tentu tidak. Justru itu akan membuat tubuhmu lebih fresh. Dan siap untuk bertempur kembali😁”
Tanpa sadar Maru menyunggingkan senyuman saat membaca pesan yang dibubuhi emoji itu.
Senyuman itu tidak bertahan lama.
Tatapannya kembali jatuh pada layar ponsel.
Maru :”Ra, kenapa kamu percaya dengan perkataanku? Padahal kakak-kakakku sendiri pun tidak ada yang percaya dan lebih membelanya”
Setelah mengirimkan pesan itu, entah kenapa Maru merasa menyesal. Ia hampir menarik kembali pesan itu.
Bagaimana pun, Ayra adalah sosok yang sudah lama tak pernah ia temui. Wanita itu tidak tahu bagaimana dirinya sekarang. Bagaimana kehidupannya yang sekarang. Bahkan mungkin bisa disebut dia adalah sosok asing yang berada jauh kilometer.
Namun anehnya justru kepadanya lah, ia lebih berani bercerita.
Maru mengerjap sesaat saat mendengar suara pesan balasan di ponselnya.
Ayra :”Karena aku melihat masalahnya, bukan jenis kelaminnya.”
Maru mengerutkan dahi. Dan pesan lain mengikutinya.
Ayra:”Kalau kakak perempuanmu membelanya itu hal yang wajar. Mereka mendengar cerita hanya dari sisi sesama perempuan”
Maru menatap layar ponselnya cukup lama. Jempolnya menggantung diatas keyboard, tetapi tidak segera mengetik.
Entah kenapa, perkataan sederhana itu terdengar sangat menenangkan daripada banyaknya nasehat yang pernah ia dengar.
Ia menoleh ke sisi kanan, lalu beranjak duduk. Tangannya terulur untuk mengambil bungkusan rokok. Namun, sebelum tangan itu sampai. Ia kembali menariknya. Lalu mulai mengetik.
Maru:” Kamu orang yang pertama bilang begitu padaku”
Maru beranjak dari duduknya, mengambil asbak yang berisi puntung rokok yang sudah menggunung. Ia kemudian berjalan keluar kamar. Diluar sebuah tempat sampah sudah tersedia. Ia kemudian memasukkan gunungan puntung rokok itu ke dalamnya. Lalu kembali masuk ke dalam kamar.
Dan saat melihat layar ponsel. Dua pesan ayra sudah ada disana.
Ayra:”Aku juga perempuan, dan aku tahu perempuan tidak selalu benar.”
Ayra:”Laki-laki juga tidak selalu salah”
Maru terkekeh pelan.
Kalau saja teman-temannya melihat isi chat itu, mereka pasti mengira Ayra sedang membela kaum pria.
Maru mulai mengetik sambil mengulum senyum.
Maru:” Awas, kalau sampai perempuan lain tahu apa yang kamu ketik. Mereka bisa melabrakmu🤣.”
Pesan balasan muncul lebih cepat.
Ayra:”Biarin aja. Kalau perlu, aku ajak berantem sekalian🤣🤣”
Tanpa sadar Maru mulai tertawa. Suara tawanya terdengar pelan mengisi kamar sepi itu lalu menggeleng ringan.
Maru:”Aku tidak tahu kamu bisa bercanda seperti itu”
Maru melihat ke sisi pojok kamar dimana botol minuman bekasnya berada. Ia menaruh ponselnya di atas kasur. Lalu berjalan untuk mengambil satu kresek berukuran sedang. Kemudian mulai memasukan botol-botol itu ke dalamnya.
Setelah selesai, ia melangkah keluar kamar menaruh kantong kresek berisikan botol bekas itu di samping tempat sampah
Setelah kembali, ia mulai merapikan serta membereskan seisi kamar.
Kamar kecil yang awalnya berantakan penuh aroma alkohol dan asap rokok pun, kini sudah bersih dan terlihat rapi. Tidak lupa dia juga menyemprotkan sedikit perfume ke seluruh ruangan.
Maru menghela nafas lega. Dan setelah semuanya selesai ia kembali duduk untuk melihat ponselnya. Dan pesan dari ayra sudah muncul.
Ayra: ”Hei!Aku manusia. Tentu saja aku bisa. Sebenarnya selama ini kau anggap aku bukan manusia ya, dasar😑”
Maru tersenyum sampai memperlihatkan gigi rapinya. Saat melihat emoji di akhir pesan.
Ayra :”Perselingkuhan itu bisa dilakukan siapa saja, Mar. Yang menentukan itu bukan gendernya tapi pilihan orangnya.”
Senyum Maru langsung hilang kembali. Saat membaca pesan ke dua. Lalu mengetik.
Maru:”Kalau begitu kenapa semua orang langsung menganggap aku penyebabnya?”
Tiga titik milik ayra tanda sedang mengetik muncul di layar.
Maru mengerutkan dua alisnya. Ia berfikir sepertinya saat ini Ayra sedang mengetik pesan yang panjang karena sejak tadi hanya tiga titik itu yang muncul dilayar.
Maru menunggu dengan sabar. Tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
Dan pesan pun akhirnya muncul setelah sekian lama menunggu.
Untuk kesekian kalinya Maru menunggu pesan dari seseorang dengan begitu sabar. Dan dengan penuh kehati-hatian, ia mulai membaca.
Ayra:”Karena perubahan sikap seorang istri ada pada bagaimana suami memperlakukannya.”
Pesan lain kembali terlihat
Ayra:”Mungkin kamu tidak sadar mar, ada beberapa sikapmu yang membuat istrimu kecewa atau merasa tidak dihargai. Sebagai contoh, kamu lupa hari ulang tahunnya, atau kamu terlalu fokus sama kerjaan kamu. Atau bisa juga kamu gak bisa diajak romantis, atau bercanda sedikit. Coba deh kamu ingat-ingat hal apa yang membuat istrimu pertama kali mengalami perubahan sikap?”
Maru terdiam. Ingatannya mengalir begitu saja ke masa awal pernikahannya. Ia mencoba mengingat kapan pertama kali Mawar berubah.
Namun semakin jauh ia mengingatnya semakin ia menyadari suatu hal.
Mawar tidak pernah benar-benar berubah.
Sejak awal pernikahan, wanita itu memang tidak pernah menunggunya pulang kerja, tidak pernah menyiapkan kopi untuknya atas kemauannya sendiri. Semua yang ia lakukan saat itu dilakukan atas dasar permintaan ibunya Mawar. Bahkan sarapan yang sesekali tersedia di atas meja makan untuknya, itu pun adalah perintah dari ibunya.
Sejak awal wanita itu memang tidak pernah menunjukkan perhatian kecil, layaknya seorang istri pada suaminya. Seperti yang sering ia lihat dari pasangan lain. Bahkan saat berjalan berdua pun, Mawar selalu menepis tangannya saat ia hendak menggandengnya.
Kalau begitu…..
Maru menatap langit-langit kamar.
“Bukankah Mawar sudah seperti itu sejak awal?”
“Hanya aku saja yang baru menyadarinya, sekarang?”
Pertanyaan itu membuat dadanya terasa sesak.
“Apakah Rumah tangga ini hanya didasari cinta sepihak?”
Dan saat itulah sebuah ingatan lama tiba-tiba kembali muncul.
Malam itu. Malam dimana ia dan Mawar bertengkar hebat. Dimana suara tangis sang buah hati mereka ikut menjadi bukti pertengkaran diantara keduanya.
“Sebenarnya aku bisa saja meninggalkanmu”
Suara wanita itu kembali terdengar jelas di kepalanya.
“Tapi aku kasihan padamu. Tanpa aku, kau tidak akan memiliki apapun”
Maru memejamkan mata.
“Omong kosong”
Ia mendengus pelan.
Selama ini ia selalu menganggap kalau kalimat itu sebagai penghinaan. Sebagai bukti bahwa Mawar meremehkannya.
Tapi sekarang untuk pertama kalinya, ia melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.
“Benarkah aku suami yang buruk?”
“Benarkah Mawar menjalani semua ini karena terpaksa dan merasa kasihan padaku?”
Pertanyaan itu tiba-tiba muncul dan berputar di kepalanya.
“Kalau aku suami yang buruk dan dia tidak mencintaiku, kenapa dia tidak pergi saja dariku?Bukankah pergi dariku adalah hal yang mudah baginya?”
“Sebenarnya apa yang dia inginkan dariku?”
“Apa maksud perkataannya malam itu?”
“Apa maksudnya aku tidak punya apa-apa?”
Maru mengusap kasar wajahnya. Merasa frustasi. Dia benar-benar tidak mengerti akan sikap Mawar.
“Tidak”
Ia menggeleng cepat. Menyangkal semua yang ada di kepalanya.
Maru mendecak pelan. Ia mulai meraih bungkusan rokok, lalu menyalakan api.
Asap mengepul di atas wajahnya, saat helaan nafas terdengar lirih di kamar itu.
“Tunggu…”
Maru mulai mengingat sesuatu.
Ingatannya jatuh pada saat dia mulai menyadari Mawar jarang terlihat berada di rumah.
Maru melihat ponselnya. Diseberang, pesan Ayra tidak muncul seakan membiarkan dirinya untuk berfikir.
Dengan ragu dan penuh kehati -hatian ia mulai mengetik.
Maru:”Aku tidak tahu pastinya. Tapi … Mungkin perubahan sikap dia mulai terlihat jelas saat dia ku ijinkan pergi belanja untuk kebutuhan toko”.
Dengan wajah serius, Maru membenarkan posisi duduknya menjadi sedikit tegak. Kedua kakinya ia silangkan (bersila).
Jari jemarinya dengan cepat mengetik di layar ponsel.
Maru:” Saat itu,…. Mawar mulai jarang pulang. Ia sering mengatakan sedang membeli berbagai jenis barang tambahan untuk kebutuhan toko. Tetapi perjalanan yang biasa ditempuh dalam satu hari dengan pulang pergi. Menjadi dua atau tiga hari.”
Pesan terkirim.
Pesan balasan dari sosok di seberang layar kembali muncul.
Ayra :”Kalau boleh tahu, Semenjak kapan Mawar diperbolehkan belanja kebutuhan toko oleh mu?”
Maru menatap puntung rokok yang sudah memanjang di sela jarinya. Lalu menaruhnya di atas asbak.
Maru:”Saat itu aku sakit parah dan Mawar mengajukan diri membantuku untuk pergi belanja kebutuhan toko. Karena barang di toko saat itu sudah mulai kosong”
Tombol send kembali ditekan. Dan pesan pun terkirim.
Ayra :”Dan kau mengijinkannya?”
Maru menghisap rokoknya sebentar sebelum mengetik.
Maru:”Saat itu aku pikir dengan membimbing dia menjalankan tokoku, itu akan membuat dia menjadi sosok mandiri, jika suatu saat aku meninggalkan dunia ini lebih dulu”
Maru Menghela nafas. Ia tidak tahu apakah ia harus menyesal atau tidak akan tindakannya saat itu. Tapi yang jelas dan pasti keputusannya saat itulah yang mungkin mengantarkan dia pada kehancuran seperti sekarang ini.
Ayra:”Aku mengerti niatmu. Tapi, … jika sampai 3 hari. Apa kamu tidak menanyakannya?”
Kali ini, Maru tidak langsung membalas pesan Ayra.
Ia memijat pelipisnya pelan. Wajahnya pucat, seolah tubuhnya sudah terlalu lama dipaksa tetap berdiri, meski nyaris kehabisan tenaga.
Maru:”Tentu aku pernah menanyakannya. Dan saat itu dia menjawab katanya capek dan takut kalau kemalaman dijalan. Aku mencoba mengerti dan percaya padanya, Ra”
Maru mengambil rokoknya yang masih mengeluarkan asap putih dengan garis lurus di ujung. Lalu menghisapnya.
Ayra :”Mar, terkadang saat seorang istri melewati batas kebebasannya, kamu sebagai suami harus mengerem dia. Memberitahu dia dan juga menasehatinya”
Maru menaruh ponselnya di lantai. Lalu Mengusap wajahnya kasar. Lalu mengetik.
Maru:”Aku sudah lakukan itu Ra. Di rumah saat rumah berantakan dan dia lebih memilih asyik live di salah satu aplikasi sampai sehari penuh aku coba tegur. Dan dia jawab kalau dia itu jenuh dan bosan katanya. Dia melakukan live itu untuk hiburan semata. Aku mencoba mengerti itu. Aku dah ingatkan itu sampai tiga kali. Tapi dia selalu tidak mendengarkan.”
Maru menggerakkan tubuhnya ke belakang. Membuat punggungnya menyentuh tembok. Kepala bagian belakangnya ia benturkan pelan di dinding.
Dan layar yang tadinya padam kini terlihat menyala seiring pesan muncul.
Ayra:”Kenapa kamu tidak ajak dia main ke luar, jalan-jalan atau tamasya?”
Sudut bibir maru terangkat sedikit. Lalu kembali meraih ponselnya. Mengetik tanpa henti.
Maru:”Sudah, aku pernah mengajak dia ke suatu tempat untuk liburan dan dia menolaknya. Tapi anehnya, seminggu setelah itu dia malah pergi dengan teman-temannya ke tempat dimana aku inginkan.”
Maru:” Ra, bukankah itu artinya dia malu pergi denganku? Makanya dia lebih memilih untuk pergi dengan teman-temannya?”
Maru Kembali menghisap rokoknya. Lalu mengetik kembali.
Maru:”Terlebih dia pernah bilang kalau dia merasa terpaksa menikah denganku…..”
Tanpa menunggu balasan dari sosok di balik layar ponselnya. Maru terus mengetik.
Maru:”Mungkinkah dia memang tidak pernah mencintaiku?”
Raut wajah Maru berubah mengeras. Dia melemparkan ponselnya ke atas kasur. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Cukup lama.
Dan di atas kasur lipat suara pesan kembali terdengar.
Untuk sejenak Maru tak menanggapi pesan itu. Ia tak menghiraukan suara notifikasi itu. Ia terus memejamkan mata dibalik dua telapak tangannya. Tetesan air muncul di sudut matanya. Ia terisak. Dadanya terasa sesak untuk bernafas.
Lama Maru terdiam dalam posisinya. Dan saat membuka kembali telapak tangannya. Ia menarik nafas. Lalu mengusap kedua pipinya kasar. Tatapannya jatuh pada ponsel yang tertelungkup di atas kasur.
Dengan lemas dia berdiri lalu mengambil ponselnya lalu mengusap layarnya pelan. Dan pesan Ayra sudah tertera di sana.
Ayra:”Apa kalian pacaran dulu sebelum menikah?”
Maru terdiam. Dia menatap kata demi kata di pesan itu. Lalu mulai mengetik.
Maru:” Ya, satu tahun”
Ia mendudukan dirinya kembali dengan lemas. Seakan tenaganya memang sudah terkuras habis.
Ayra:”Kalau kalian pernah pacaran Satu tahun lalu menikah. Dan sampai punya dua anak. Apa itu disebut terpaksa?”
Maru memandangi pesan itu tanpa niat untuk membalas. Ia tidak tahu harus membalas apa. Karena dia sendiri pun tidak tahu jawabannya.
Dan Pesan lain kembali muncul.
Ayra:”Baiklah kita skip dulu kata cinta. Tapi apakah selama Kalian menikah tidak ada rasa saling sayang satu sama lain?Atau saling memiliki satu sama lain? Mengingat pernikahan kalian tidak dijalani hanya satu atau dua tahun. Tapi belasan tahun”
Maru terdiam. Pesan yang dikirimkan Ayra untuk yang satu itu membuatnya kembali bertanya pada dirinya sendiri.
Apakah dia memang benar-benar memiliki Mawar sepenuhnya?
Bagaimana jika dia hanya memiliki raganya saja?
Maru memejamkan mata. Dan tiba-tiba sebuah pertanyaan muncul di dalam hatinya.
Bagaimana dengan dirinya sendiri?
Bagaimana jika itu kebalikannya?
Saat bergelut dengan pertanyaan yang memenuhi kepalanya, pesan Ayra kembali muncul.
Maru membuka mata, dan….
Ayra:”Mar, aku ingin tanya. Selama Kalian menikah apakah kau benar-benar mencintai istrimu?Apakah kau benar-benar sayang dia?”
Pupil mata Maru melebar. Pesan Ayra kali ini seakan menampar dirinya. Ujung Jari jempol maru ikut bergetar di atas layar.
Maru:”Cinta???Sayang??”
Kreator : Ayra (Pisces aqua )
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: Bab 2. Sosok wanita Masa Remaja
Sorry, comment are closed for this post.