Beberapa orang di Desa Wetan Kali memang terkenal dengan kehidupan sosial yang suka membeda-bedakan status mereka. Biasanya, keluarga dari kalangan menengah atas akan berkumpul dengan kalangan mereka sendiri, bahkan terkadang sampai tidak mau saling menyapa saat berjumpa dengan kalangan menengah ke bawah.
“Bu, jangan suka nyapa Pak Kasmen. Ingat, lo, Bu, nanti ketularan miskinnya. Apalagi itu keluarga yang banyak utang.”
“Hus! Jangan asal bicara, jenengan (kamu) ini. Pak Kasmen itu orang yang giat dan rajin kerjanya. Saya sering suruh dia beresin kebun; semua kerjaannya rapi, bersih, dan bertanggung jawab. Jangan asal ngomong. Di mana lagi kita dapat orang yang bisa disuruh, wes (sudah) murah upahnya dan rajin begitu?”
“Eh, iya juga sih, Bu. Maaf, maaf.”
Begitulah obrolan para ibu-ibu yang suka dijuluki orang kaya baru (OKB), karena suami mereka seorang kontraktor yang baru dapat banyak proyek, sampai hasilnya bisa dipakai untuk membangun rumah besar bahkan membeli motor lebih dari satu.
Mereka, para OKB itu, mungkin lupa bahwa pekerjaan mandor proyek tidak menentu dan sering pasang surut. Hari ini mungkin dapat banyak proyek, tapi bisa jadi tiga atau empat bulan lagi proyeknya boncos alias nombok total. Hal seperti itu sudah biasa dalam dunia pembangunan.
Bahkan banyak gosip beredar bahwa oknum mandor sering menggunakan uang proyek untuk kebutuhan pribadi. Padahal, uang itu seharusnya untuk gaji para tukang dan kenek. Hal seperti ini sering terjadi dan sudah bukan rahasia umum lagi. Mereka, para mandor itu, suka memakai uang proyek lebih dulu untuk membangun rumah atau membeli kendaraan mewah. Padahal, secara logika, apa mungkin gaji mandor bisa jutaan per minggu, sampai baru kerja tiga atau empat bulan saja sudah bisa menurunkan motor baru dari dealer dengan pembayaran tunai, sementara proyek masih berjalan dan jauh dari kata selesai?
Karena Pak Kasmen terkadang juga mengambil pekerjaan sebagai kenek di proyek, pengalaman seperti itu sudah sering ia alami. Tak heran, mandor yang juga tetangganya pernah tidak memberikan gaji dengan alasan uang dari bos proyek belum turun. Padahal, minggu lalu ia menurunkan motor baru dari dealer. Hal-hal seperti ini sudah tidak bisa dihindari, bahkan seolah menjadi kebiasaan.
Belum lagi oknum yang suka menguntit (menilep) gaji tukang atau kenek. Seharusnya dalam tender proyek gaji harian tukang Rp90.000 dan kenek Rp70.000, tapi kenyataannya mereka hanya menerima Rp70.000 untuk tukang dan Rp50.000 untuk kenek. Setiap kepala mandor akan mengantongi Rp40.000 yang diambil dari gaji bawahannya. Alhasil, gaji mandor sendiri tetap utuh.
Korupsi di kalangan proyek sudah mendarah daging dan sulit dihapuskan. Pelakunya selalu saja mereka yang berperan sebagai mandor—yang seharusnya bertugas mengawasi dan menjembatani antara tukang bangunan dengan pemilik proyek.
Walau kelakuan mereka yang suka membeda-bedakan banyak dibicarakan oleh orang-orang di sekitar rumah Suli, mereka seakan tidak peduli dan masa bodoh. Mereka berperilaku sok kaya, bermartabat, dan selalu ingin dihormati, padahal masih banyak orang yang jauh lebih kaya dari mereka—dan justru yang benar-benar kaya itu tidak sombong.
Saat ada acara desa seperti kumpul bulanan, biasanya mereka selalu minta dijemput (disamperin), seolah perlu diajak secara pribadi untuk berangkat bersama, padahal semua warga tahu acara itu dan diwajibkan hadir jika tidak berhalangan.
Mereka adalah segelintir orang yang memandang rendah orang lain, padahal baru kaya. Sementara itu, masih banyak warga lain yang ramah, suka menyapa, saling membantu, dan selalu guyup rukun bergotong royong jika ada yang membutuhkan. Walau praktik buruk seperti itu sudah sering terjadi, tak satu pun orang berani menegur atau menasihati, karena mereka sudah tidak saling peduli. Semua berjalan masing-masing, dosa pun ditanggung masing-masing. Sebuah keburukan yang tak ada obatnya—kecuali Allah memberikan hidayah kepada mereka agar bertobat.
“Wes, ya, saya tak pulang duluan. Soalnya anak putri saya mau ngaji,”
ucap Pak Kasmen kepada tetangganya yang sedang punya hajat membangun rumah baru. Masyarakat di sana memang senang bergotong royong membantu.
Setiap kegiatan bermasyarakat, Pak Kasmen selalu pulang tepat waktu karena ia harus membantu istrinya menyiapkan bahan dagangan untuk besok pagi di pasar.
“Bu’e, Bapak kok belum pulang, to? Kan aku mau ikut belajar kelompok di rumah e Warti, baru setelah itu ke musala buat ngaji,”
tanya Suli agak cemas karena bapaknya tak kunjung pulang.
“Bentar lagi mungkin Bapakmu pulang. Sabar, ya, tunggu dulu,”
jawab ibunya menenangkan. Suli memang tidak akan beranjak ke mana pun sebelum bapaknya pulang.
“Alhamdulillah, Bapak gak telat, to? Tadi Bapak lari-lari biar kamu gak telat ngaji dan belajar,”
ucap sang bapak sambil tersenyum.
“Telat dikit, tapi gak apa-apa. Bapak, aku belajar kelompok dulu di rumah Warti, ya, baru lanjut ngaji, soalnya ada PR yang harus dikerjakan di sana,”
izin Suli sambil berjalan pergi.
Suli khawatir nanti bapaknya mencari dia jika ia telat pulang.
“Iya, gak papa. Besok kan kamu mulai sekolah lagi. Belajar yang baik, biar jadi anak pintar dan selalu sopan sama orang yang lebih tua, ya.”
“Ngeh, Pak. Saya berangkat dulu.”
“Hati-hati. Sentermu sudah dibawa? Jangan lupa, takutnya nanti mati lampu pas kamu pulang.”
“Sudah, Pak. Mboten usah khawatir,”
jawab Suli sambil bergegas menuju rumah Warti di ujung jalan besar kampungnya.
Rumah besar berwarna putih di ujung jalan itu adalah rumah Warti, anak seorang polisi dan guru. Mereka sangat baik kepada keluarga Suli, tidak sombong seperti orang kaya baru di desanya.
Di mana orang lain menganggap orang miskin sebagai ladang amal, tempat memberi apa yang sisa, keluarga Warti justru tidak demikian. Tapi ketika si miskin benar-benar butuh bantuan, orang lain justru marah saat dimintai tolong.
Tidak semua orang di desa itu sopan, dan tidak semua orang desa itu kampungan. Begitulah hidup di desa—unik.
Tumbuh di desa memang penuh kedamaian dan ketenangan jika kita mampu bersyukur atas apa yang dimiliki, tanpa iri pada milik orang lain. Keluarga Suli tidak memiliki banyak harta; rumah kecil mereka sederhana bahkan sering bocor saat hujan. Setiap hari mereka hidup dengan kerja keras agar ada sisa uang untuk sekolah dan membayar utang. Meski sedih dan lelah, senyum keluarga itu justru membuat orang lain iri.
“Bagaimana bisa senyum Suli manis sekali, padahal dari pagi sampai malam dia membantu orang tuanya?”
“Bagaimana bisa keluarga Pak Kasmen selalu terlihat rukun, padahal banyak utang dan hidup pas-pasan?”
Kalimat-kalimat itu sering mereka dengar, dan jawaban mereka selalu sama:
“Bersyukur mawon (saja).”
Di desa mereka, sopan santun sangat dijunjung tinggi oleh keluarga yang mau mengajarkannya pada anak-anak. Namun, ada juga keluarga yang bahkan tak mengerti apa itu sopan dan santun. Bagaimana berbicara dengan orang tua, membedakan tutur bahasa untuk yang lebih tua, sebaya, dan anak-anak—semua ada aturannya, tapi tidak semua rumah menerapkannya.
Setiap kali Suli pergi ke rumah temannya untuk mengerjakan PR atau ke sekolah, ia selalu mengingat pesan bapaknya yang dikutip dari hadis Rasulullah saw.:
“Thalabul ‘ilmi faridhatun ‘ala kulli muslimin wa muslimah.”
“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim dan muslimah.” (HR. Ibnu Majah)
“Bismillah,” ucap Suli pelan — kalimat yang tak pernah ia lupakan dalam setiap langkah hidupnya. Ia pun selalu menutup setiap usaha dengan Alhamdulillah ‘ala kulli hal, artinya: Segala puji bagi Allah atas setiap keadaan.
Semuanya dimulai dengan bismillah dan diakhiri dengan alhamdulillah. Kata yang ringan diucapkan, tapi berat pahalanya di sisi Allah. Sayangnya, tidak semua orang ingat untuk mengucapkannya, meski hanya satu ayat.
Berjalan cepat, bahkan berlari menuju tujuan, adalah hal biasa bagi Suli. Ia tak pernah mengeluh dan selalu bersyukur. Ia selalu mengingat kata gurunya:
“Dalam menuntut ilmu pasti ada lelah dan letih. Tapi jangan pernah berputus asa, karena Allah akan senantiasa bersama para penuntut ilmu—memberikan kekuatan dan pertolongan kepada siapa saja yang Dia kehendaki.”
Kreator : Siti Purwaningsih (Nengshuwartii)
Comment Closed: BAB 2 – TUMBUH DI DESA
Sorry, comment are closed for this post.