Seandainya waktu bisa ku putar kembali
Tak akan aku biarkan diri ini pergi
Akan aku peluk selalu raga ini
Yang tinggal beberapa detik bersama kami
Dia tak akan pernah kembali
Allah lebih mencintai beliau ketimbang kami
Anaknya yang tak mampu merawatnya sendiri
Kesedihan ini tak kuasa kami rasakan sangat menyayat hati
Melihat sosoknya yang terbujur kaku sendiri
Melihat senyum di wajah yang begitu pucat dan putih berseri
Melihat sosok yang masuk ke liang lahat tanpa kami
Dialah seorang ibu yang berumur 57 tahun 10 bulan 14 hari
Yang meninggalkan kami sendiri
Berpulang dengan senyum di hari jumat yang diberkati.
Kami merindukan mu wahai ibu yang baru saja pergi
Sampai berjumpa lagi, mari kita berkumpul di surgawi
Betapa banyak orang yang mendoakan dan membantu pemakaman Bu’e, membuat Suli dan Kang Yoto kembali tersadar bahwa mereka sudah tidak memiliki orang tua. Bapak tiada, Ibu pun tak punya. Hanya Allah yang mereka miliki. Tidak pernah terlintas dalam benak mereka jika ternyata hari ini benar-benar telah usai umur Bu’e. Bagaimana mereka akan menjalani hari-hari jika pujaan hati telah pergi.
Bagaimana mereka menjalani hidup jika sosok pemilik doa telah tiada. Bagaimana juga mereka berjuang untuk hidup jika tiada ibu di sisi mereka. Tak kuasa jiwa ikut meronta, tetapi mereka berusaha sekuat tenaga untuk menyembunyikannya.
Mereka mengetahui, setiap yang berjiwa akan merasakan mati. Tapi, jika secepat ini akankah mereka mampu melewati.
Ratapan tak diperbolehkan, tangisan tak akan cukup menenangkan. Walau semua tak masuk akal, mereka terpaksa menerima dengan sabar. Karena mereka yakin dalam surah Ali Imran ayat 185, Allah mengatakan bahwa:
“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati dan balasan penuh akan diberikan di hari kiamat.”
Kemudian, surah Az-Zumar ayat 42:
“Allah memegang nyawa seseorang saat ia meninggal dan saat ia tidur.”
Dalam surah Ar-Rahman ayat 26-27:
“Semua yang ada di bumi akan binasa. Dan, tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemulian.”
Qs. Al-Mulk ayat 2:
“Allah menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji manusia.”
Qs. Ali Imran ayat 145:
“Setiap yang bernyawa tidak akan mati kecuali atas izin Allah.”
Qs. Al-A’raf ayat 34:
“Setiap umat memiliki ajal yang tidak bisa ditunda atau dipercepat.”
Qs. Al-Jumuah ayat 8:
“Kematian pasti akan menemui setiap orang.”
Cepat atau lambat kita akan menyusul. Ini hanya masalah waktu siapa yang duluan pulang dan siapa yang lanjut berjuang. Yang sekarang perlu dipikirkan dan dipersiapkan adalah bekal pulang, karena hidup yang belum usai dengan mengumpulkan amal shaleh sebanyak-banyaknya untuk pulang dan kembali berkumpul dengan orang tua yang sudah mendahului kami.
Karena, hanya doa dari anak sholeh lah yang amal jariahnya tak akan putus. Harus mulai sadar diri untuk berdiri di kaki sendiri dan kuat dengan cobaan hati, karena hati tak akan mampu bertahan kecuali meminta pertolongan kepada Sang Pemilik hati ini.
Badan boleh lelah tapi hati tak boleh resah
Badan boleh tumbang tapi hati tak boleh menyerah
Badan boleh sakit tapi hati tak boleh pahit
Berdiri bangkit, belum saatnya pamit
Kuatkan hati, teguhkan iman, yakinkan diri
Jalani hidup dengan mandiri, tidak merepoti
Jalan masih panjang, menunggu giliran pulang
Dengan tersenyum, gembira dan senang
Allah selalu menjaga dan tak akan pernah jauh dari diri yang bertawakal kepada-Nya dengan sepenuh hati.
Cobaan ini membuat Suli menyadari satu hal bahwa semua di luar kehendaknya dan kemampuannya. Apa daya yang bisa dia lakukan karena dia juga kehilangan.
Banyak tetangga yang mulai bergosip tentang bagaimana Bu’e meninggal dunia. Ada yang mengatakan stres karena memikirkan anak perempuannya yang tak beres dalam berumah tangga. Ada yang mengatakan kesedihan yang mendalam sejak suaminya tiada. Ada yang mengatakan anak-anaknya tak mengurusnya. Banyak hal yang sudah Suli dengar dari mereka yang mengaku peduli, namun mencibir di belakang Suli.
Tidak perlu klarifikasi, tidak perlu peduli omongan yang tak menyemangati dan tidak perlu sakit hati dengan mereka yang tak mengerti. Diam dan lanjutkan hidup, karena ada pesan mulia yang perlu dijaga. Ada doa terakhir yang perlu disyukuri, ada hikmah yang perlu diambil.
Tak perlu risaukan orang lain, karena yang mati tak akan bersuara dan yang hidup tak akan mampu menyenangkan mereka. Fokus pada tujuan menyelesaikan masalah dan melanjutkan hidup, kumpulkan bekal sebanyak mungkin agar pulang nanti tak sia sia.
Karena semua belum usai. Ada hari yang masih harus dijalani. Ada waktu yang masih harus disyukuri. Dan, ada keluarga yang masih harus dijaga. Hidup harus terus berjalan karena kita tidak tau di depan ada apa yang sedang menanti. Tak tahu apa, bagaimana dan siapa yang nantinya akan jadi pemenang.
Sepuluh hari sudah berlalu, diawali dengan pernikahan, pengkhianatan, kematian dan perpisahan. Tapi, Suli yakin ini belum usai.
Dia akhirnya memutuskan bercerai dengan Mas Ardi setelah berpikir panjang dengan tenang dan yakin dalam mengambil keputusan.
Di saat-sat seperti ini Suli mengingat Bu’e yang baru tiada. Apa mungkin harus diakhiri segera setelah ibu pergi. Sedih dan penuh air mata terus mendera jiwa. Luka tak bisa sembuh hanya dengan pujian kata.
Akan tetapi, mempertahankan pun hanya akan membuat kebohongan terus merajalela, yang jika semakin dipendam akan semakin menyakitkan. Tidak ada kata yang tepat kecuali usai. Atas keputusan Suli ini kakang-kakangnya juga mendukung.
“Akhiri saja jika memang tak sanggup dan tak ada tanggung jawabnya. Sepertinya itu yang terbaik bagi kalian berdua. “
Kang Yoto memeluk adik perempuannya yang tak kuasa menangis dalam pelukannya.
Dukungan moral dan semangat agar terus kuat dan sabar adalah yang paling Suli butuhkan saat ini. Tidak ada yang lebih baik dari itu. Tidak ada yang lebih tepat dari keputusan itu.
Suli hanya butuh tenang dan diam. Banyak bicara semakin tidak menyelesaikan masalah. Banyak mengeluh juga tak akan habis perkara.
Suli sudah mengatakan keputusan pisah ini dengan Mas Ardi walau tanggapannya tidak baik. Tapi dia yakin, ini yang terbaik. Dia tidak ingin menjalani rumah tangga dengan bersikap baik-baik saja padahal sebaliknya. Dia tidak ingin menjalani rumah tangga hanya karena ada kata terlanjur menikah. Tak peduli kata orang, tak peduli nanti akan jadi bahan cemoohan, Suli tidak peduli lagi.
Diam adalah solusi terbaik, seperti apa yang kemarin Suli baca dalam Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 155:
“Dan kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang yang sabar.”
Surah Al-Baqarah ayat 286 :
“Allah tidak membebankan seseorang melainkan dengan kesanggupannya.”
Surah Al-Insyirah ayat 6:
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
Surah Al-Baqarah ayat 186:
“Apabila hamba-hambaku bertanya kepadamu (Wahai Muhammad) tentang Diriku, maka jawablah, bahwa Aku ini dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu, maka hendaknya mereka itu memenuhi perintahKu dan hendaklah mereka yakin kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”
Suli yakin awal dia memulai pernikahan ini adalah dengan berbaik sangka kepada Allah. Jika ternyata hasilnya tidak baik bukan salah prasangkanya, tapi memang ada ujian bagi setiap manusia. Tidak akan ada satupun makhluk di bumi ini yang bernyawa lolos dari ujian. Maka, terima saja dengan sabar dan meminta petunjuk dengan sholat sebagai jalan terbaik untuk berjuang melanjutkan hidup.
Kreator : Siti Purwaningsih (Nengshuwartii)
Comment Closed: BAB 20 – USAI
Sorry, comment are closed for this post.