Saat Suli lulus sekolah waktu itu, tak sengaja dia mengalami kecelakaan. Dia terserempet sepeda motor yang melaju cukup kencang dan pengemudinya ternyata seorang laki-laki yang sudah lanjut usia. Bersyukurnya, luka Suli hanya goresan kecil. Akan tetapi, kakinya terkilir dan susah untuk berjalan. Di saat itu, Suli dibantu seorang laki-laki sopir truk kecil yang sedang lewat. Wajahnya tampak tidak asing, tapi entah siapakah dia.
“Siapa dia, sepertinya aku pernah melihatnya, tapi dimana?” gumam Suli dalam hati.
“Monggo, Mbak. Kula antar pulang.”
“Sinten, nggih?”
“Oh, jenengan mboten kepanggih kula?” (oh, anda tidak kenal saya?)
“Ngapunten ne, kulo supe,” (mohon maaf saya lupa) ucap Suli sambil berusaha mengingat.
“Mboten nopo-nopo (gak apa apa). Maklum saja, saya seringnya ketemu sama Ibu jenengan.”
“Oh, nggih.”
Suli makin bingung. Dia belum bisa mengingat wajah laki-laki itu dan dia juga takut kalau diantar pulang dengan sembarang orang.
“Maksud saya, kalau pas beli makan di warung ibune jenengan, seringnya ibune yang melayani.”
“Oh, jenengan pelanggan warung?” tanya Suli penasaran, dan samar samar ingatannya mulai terlihat.
“Nggih, Mbak.”
“Oh nggih, Mas. Matur nuwun (terima kasih) sudah dibantu.”
Akhirnya, Suli bersedia diantar pulang oleh laki-laki itu, kebetulan arah pulang mereka memang sejalan.
Di dekat rumah Suli ada pabrik selep pari (pembersih padi menjadi beras) yang memiliki banyak sekali karyawan, baik itu sopir truk, sopir kol, tukang selep beras (bekerja di dalam pabrik) dan juga ibu-ibu yang bekerja untuk menjemur padi di area pabrik. Tak lupa juga, keluarga kami ikut serta bekerja di selep itu saat musim panen padi melonjak.
Dari kecil, terkadang saat sore kami juga sering main di pelataran pabrik, entah itu main kejar kejaran atau hanya sekedar ngobrol bersama teman-teman saat bulan purnama datang. Dulu kami suka sekali main selodor (permainan mengkotakkan orang lalu ditangkap dengan cara menyentuhnya dari garis kotak itu).
Mengenang masa lalu memang menyenangkan, apalagi saat Bapak masih ada. dulu sering sekali duduk duduk diatas rerumputan bersama Bapak sambil mencari uban (rambut putih). Tapi sayangnya, dari dulu uban Bapak paling banyak hanya tiga biji, tak pernah lebih saat Suli mencarinya. Itulah kenapa teman-teman sebayanya suka menyebut Bapak awet muda. Sampai saat terakhir umur Bapak, tak bisa Suli temukan lagi ada uban di rambutnya yang hitam pekat.
Jika rindu Bapak selalu saja Suli memandang Kang Yoto karena perawakannya semakin mirip dengan Bapak. Rambutnya lurus hitam pekat, wajahnya tirus tidak besar dan tidak kecil, tubuhnya sedang, tingginya semampai, perawakannya tampan. Itu juga menjadi alasan Kang Yoto banyak sekali disukai gadis-gadis desa. hkan, beberapa di antaranya sudah sering mengungkapkan perasaan suka kepada Kang Yoto. Namun, ia memang tidak ingin berpacaran dengan siapa pun. Sejak dulu hingga sekarang, ia memilih fokus pada sekolah dan mencari uang. Walaupun tak dipungkiri, teman sekolah wanitanya dulu sering sekali main ke rumah. Bahkan, ada yang jika sudah main malah ikut membantu ibu di dapur, entah itu potong sayur atau bahkan mencuci perabotan.
Tak lupa, setiap kali rindu pada Bu’e, Suli biasanya pergi ke rumah buleknya (adik ibu) yang kini satu-satunya masih hidup. Empat saudara laki-laki Bu’e sudah meninggal. Walau Bulek sebenarnya berbeda ayah dengan Bu’e, hubungan kami tetap sangat dekat.
Nenek pernah menikah tiga kali. Dari pernikahan pertama, Nenek melahirkan Bu’e, namun Kakek pertama meninggal karena sakit tidak lama setelah Bu’e lahir. Dari pernikahan kedua, Nenek memiliki empat anak laki-laki, namun Kakek kedua meninggal akibat kecelakaan. Lalu, pada pernikahan ketiga, Nenek melahirkan Bulek, tetapi Kakek ketiga juga meninggal saat itu, bertepatan dengan masa wabah penyakit.
Dua dari anak laki-laki Nenek meninggal karena sakit, sementara dua lainnya meninggal akibat kecelakaan. Meskipun terjadi pada waktu yang berbeda, rangkaian musibah itu membuat Nenek sangat sedih dan terpukul.
Kehadiran Bulek tidak benar-benar mampu mengobati rindu Nenek kepada anak-anak laki-lakinya. Karena itulah, dulu Bulek sempat dititipkan kepada adik Nenek. Hal itu membuat Bulek sedikit berjarak dengan Nenek dan Bu’e pada waktu itu. Namun setelah Nenek meninggal, semuanya kembali seperti semula; tiap orang kembali berkumpul dengan keluarga masing-masing. Bulek pun kini sudah menikah dan memiliki anak.
Kenangan tinggal kenangan. Yang terpenting sekarang adalah memikirkan hari ini agar esok bisa menjadi lebih baik.
Hari ini, Suli bertemu dengan laki-laki yang dulu pernah menolongnya, entah sudah berapa lama mereka tidak berjumpa. Suli sibuk dengan keluarga dan pernikahannya dulu, dan laki laki itu juga sibuk dengan pekerjaannya.
Namanya Darmanto, laki-laki yang dulu pernah menolongnya. Setelah sekian lama, mereka akhirnya bisa kembali bertegur sapa dan saling berkenalan. Suasana canggung begitu terasa. Suli sendiri tidak tahu pasti apa yang sedang ia rasakan. Ada perasaan aneh yang hinggap di hatinya—rasa ingin tahu, ingin mengobrol, dan ingin bertemu, yang sulit ia pungkiri.
Ternyata, Suli pernah menyimpan rasa padanya sejak dulu. Pada laki-laki yang sudah lama ia ketahui keberadaannya, tetapi baru sekarang ia benar-benar mengenalnya. Seiring waktu berjalan, kebersamaan yang mereka alami perlahan membuat mereka saling mengenal dan memahami satu sama lain.
“Sore sore begini enaknya kita jalan kemana, Dik Suli?”
“Sae ne Mas Dar mawon mau kemana (baiknya mas saja mau kemana).”
Mereka saling melemparkan senyum dan saling menatap dalam rindu yang dalam.
Darmanto ternyata juga hadir saat pernikahan Suli. Ia datang untuk memberi ucapan selamat, tetapi bukan langsung kepada Suli, melainkan melalui Bu’e. Setelah itu, Darmanto kembali pada rutinitasnya seperti mengantar beras ke Wonogiri, membawa padi ke pabrik, dan begitu terus berulang setiap hari. Tanpa disadari, ia masih sering melihat Suli dalam kesehariannya dari balik kendaraannya.
Ia tidak pernah berani turun hanya untuk menyapa, apalagi mengajak bicara. Rasa tidak percaya diri selalu menahannya. Padahal, sejak lama Darmanto menyimpan perasaan kepada Suli.
Jatuh cinta pada pandangan pertama, kata mereka. Tapi bagi Darmanto, rasa suka itu melebihi segalanya. Hanya saja, karena malu dari kalangan tak punya, dia tak berani melangkah untuk mengatakannya. Perasaan itu dipendam erat jauh di lubuk jiwanya yang membuat kepercayaan dirinya hilang karena saking dalamnya rasa itu bersemayam di dada.
Rasa yang dahulu Suli rasakan, yang diabaikan karena harus berjuang dalam kekurangan dan keterbatasan membuat dia memberanikan diri untuk mulai menyapa cinta pertamanya. Memang Suli pernah menikah, tapi bukan suaminya cinta pertamanya. Melainkan laki-laki yang dulu menolongnya sewaktu kecelakaan.
Rasa berdebar memenuhi relung hati Suli ketika tanpa sengaja ia kembali berjumpa dengan Darmanto. Seolah alam semesta benar-benar tahu caranya mempertemukan dua manusia—bahwa ketika ada yang pergi, selalu ada yang datang. Pertemuan kadang membangkitkan rindu pada kisah lama, sementara perpisahan membuat seseorang menginginkan kisah baru. Bukan untuk melupakanmu, tapi untuk bertahan.
Hidup harus terus berjalan; kita tidak bisa berhenti ketika cobaan baru sudah menunggu di depan, entah itu membawa bahagia ataupun sedih. Dan Suli pun telah memutuskan: ia akan menjalani hidup yang manis-asam seperti gula jawa bersama Darmanto.
Karena saat melihatnya, dia merasa tenang, tentram, dan aman. Jatuh cinta memang lucu, membuat orang tersenyum malu tapi mau., Membuat orang tertawa bahagia, tapi tak mampu berkata-kata saking tak tahu harus mulai dari mana.
Allah berfirman dalam Quran surah Ar-Rum ayat 21 bahwa:
“Dan di antara tanda tanda(kebesaran)-Nya, (ialah) Dia menciptakan untukmu dari jenismu sendiri pasangan pasangan agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan diantaramu rasa kasih dan sayang, sungguh, pada yang demikian itu benar benar terdapat tanda tanda bagi kaum yang berpikir.”
Hadist Rasullah (HR. Ibnu Majah) bahwa:
“Kami belum pernah melihat(solusi) untuk dua orang yang saling jatuh cinta selain menikah.”
Kreator : Siti Purwaningsih (Nengshuwartii)
Comment Closed: BAB 21 – JATUH CINTA
Sorry, comment are closed for this post.