
Hari demi hari berlalu, Bulan berganti tahun baru pun menunggu. Suara deras hujan pagi hari ini menandakan musim hujan sudah datang.
Jalanan becek, sungai yang penuh, dan banyaknya nyamuk di malam hari juga menandakan musim kemarau telah pergi. Tak ada lagi suara burung berkicau di pagi hari, juga tak ada lagi pedagang es putar keliling jalan. Setiap hari yang terdengar adalah kicauan jangkrik di malam hari dan juga kodok yang saling bersahutan. Banyak orang mengenakan lampu kepala yang sedang mencari kodok di sawah untuk mereka bawa pulang sebagai bahan sayur asem yang terkenal.
Di musim hujan ini Suli tak lagi sendiri. Saat matanya terbuka, ada suami yang dia cintai di sisi. Saat memejamkan mata, ada dia yang sedia tidur di samping diri. Senyumnya malu-malu dan wajahnya merona menandakan bahwa Suli bahagia dengan pernikahannya.
Darmanto adalah laki laki yang setia, mau menunggu Suli sampai dia menjanda. Ia tak berpaling ke lain hati hanya karena cintanya sudah memenuhi hati untuk sang istri.
Tak hanya pekerja keras, Darmanto juga suami yang bertanggung jawab. Dia mau ikut serta membantu Suli menyekolahkan adik kecilnya yang kini tinggal bersamanya. Saudara Suli yang lain juga sudah berumah tangga dan bahagia bersama keluarga kecil mereka.
Perasaan sedih dan senang akan selalu datang beriringan. Kebahagian datang karena diciptakan bukan diharapkan. Hanya dengan mensyukuri setiap nikmat akan mampu membuat kita selalu bahagia. Apa yang kita punya hendaknya selalu bersyukur, tidak peduli itu sedih atau pun susah, semua datang dengan hikmah masing-masing.
Hujan tak kunjung berhenti sore itu. Langit tampak berat, seperti memendam sesuatu yang tak ingin jatuh. Suli sedang merapikan kamar ketika suara batuk dari ruang depan terdengar keras. Darmanto sejak pagi memang mengeluhkan badannya yang tidak enak, tapi tetap memaksa membantu memperbaiki saluran air di belakang rumah.
Saat Suli keluar, ia menemukan Darmanto sedang menggenggam dadanya sambil duduk terhuyung. Wajahnya pucat, napasnya tersengal.
“Mas… kenapa?” Suli segera memegang bahu suaminya itu.
Darmanto mencoba tersenyum, seperti biasa. “Nggak apa-apa, Dek. Mungkin masuk angin.”
Namun, tangan Darmanto yang bergetar membuat Suli panik. Suli memanggil tetangga untuk membantu membawa suaminya ke puskesmas terdekat. Perjalanan itu terasa sangat panjang meski hanya beberapa menit. Hujan yang mengguyur kaca mobil pick-up membuat semuanya terlihat kabur.
Di ruang pemeriksaan, perawat mengatakan Darmanto kelelahan dan tekanan darahnya turun drastis. Mungkin karena terlalu memforsir diri sejak beberapa hari terakhir. Mendengar itu, Suli langsung menunduk. Ia tahu suaminya bekerja tanpa henti demi keluarga kecil mereka.
Ketika semuanya sudah reda dan Darmanto diperbolehkan pulang, Suli duduk di samping ranjang, menatap wajah suaminya yang masih lemah tapi tetap berusaha tersenyum.
“Maaf, Dek…” Darmanto berbisik. “Harusnya aku nggak maksa kerja. Aku cuma pengen kamu dan adikmu nggak kekurangan apa-apa.”
Suli menggenggam tangan Darmanto lalu mengusapnya pelan.
“Mas… aku nikah sama kamu bukan supaya kamu jadi penopang hidupku. Aku nikah sama kamu karena aku mau hidup bersamamu, bukan cuma pas senang saja.”
Darmanto terdiam. Matanya berkabut menahan perasaan yang sejak dulu tidak pernah ia ucapkan.
“Selama ini aku takut… kalau aku nggak cukup baik buat kamu.” Suara Darmanto pecah pelan.
“Aku cuma laki-laki biasa, Dek. Kerja pas-pasan. Aku takut kamu kecewa.”
Suli menatap suaminya dengan mata memerah.
“Mas… aku ini nggak butuh laki-laki sempurna. Aku cuma butuh laki-laki yang mau tinggal, yang mau pulang, yang mau genggam tanganku sampai tua dan itu semua ada di kamu.”
Hening sesaat. Hujan di luar terdengar lebih halus, seperti ikut mendengarkan.
Darmanto menarik napas dalam, lalu mengusap kepala istrinya dengan tangan gemetar.
“Kalau gitu… izinkan aku terus hidup bersamamu. Bukan hidup yang sempurna… tapi hidup yang kita jalani berdua.”
Suli tersenyum, air matanya jatuh tanpa ia cegah. “Dari awal… yang kubutuhkan memang cuma itu. Hidup bersama kamu.”
Di luar, hujan mulai reda. Bau tanah basah meresap ke seluruh rumah. Malam itu, untuk pertama kalinya Suli merasa bahwa kebersamaan tidak dibangun oleh hari-hari penuh tawa, melainkan oleh hari ketika seseorang memilih untuk tetap tinggal, meski tubuhnya lelah, meski hidupnya sederhana, meski dunia tidak selalu baik.
Dan malam itu, Darmanto memilih Suli.
Dan, Suli memilih Darmanto.
Setelah hujan benar-benar berhenti, rumah kecil Suli diterangi cahaya lampu minyak yang redup. Darmanto sudah mulai membaik, meski tubuhnya masih lemah. Suli duduk di sampingnya, memegang tangannya erat-erat seakan takut kehilangan.
Di dadanya, ada rasa syukur yang menyala. Bersyukur karena masih diberi kesempatan hidup bersama orang yang ia cintai.
Dalam hening itu, Suli teringat sebuah ayat yang pernah ia dengar saat pengajian di kampung. Ayat yang membuatnya selalu merasa bahwa setiap pernikahan adalah amanah besar:
“Dan di antara tanda-tanda kebesaran-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kamu rasa kasih dan sayang.” (QS. Ar-Rum: 21)
Ia memandang wajah suaminya, dan hatinya bergetar. Inilah sakinah yang dulu hanya ia dengar namanya. Inilah mawaddah dan rahmah yang Allah tanamkan pelan-pelan tanpa ia sadari.
Suli berbisik. “Mas… mungkin Allah memang mau ingatkan kita. Hidup bersama bukan tentang kuat atau tidaknya, tapi tentang saling menguatkan.”
Darmanto menatap istrinya dengan mata yang lembut.
“Kamu benar Dek. Bahkan Rasulullah pernah bilang, kalau orang beriman itu saling menguatkan.”
Ia mengulang sebuah hadis yang pernah ia hafal dari ayahnya. “Mukmin yang satu dengan mukmin lainnya bagaikan satu bangunan, saling menguatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Suli tersenyum kecil. “Bangunan apapun kalau salah satu tiangnya retak, pasti ambrol. Harus saling jaga ya, Mas…”
Darmanto mengangguk pelan. “Dan, kita cuma bisa kuat… kalau kita sabar dan saling menolong.”
Suli menyeka sudut matanya yang basah.
“Kita ini… bukan keluarga kaya. Tapi aku yakin, selama kita saling bantu, Allah bukakan jalan.”
Ia lalu teringat satu ayat lain, ayat yang sering disebut ustadzah di pengajian ketika membahas ketahanan rumah tangga.
“Saling tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan ketakwaan.” (QS. Al-Mā’idah: 2)
Ayat itu kembali menenangkan hatinya. Bahwa setiap langkah kecil mereka, memasak bersama, memikul beban bersama, mengurus adik, menjaga rumah, semua itu adalah ibadah jika diniatkan untuk kebaikan.
Darmanto menarik napas panjang, lalu dengan suara lemah tapi penuh harapan, berkata, “Dek… hidup bersama kamu itu bukan cuma soal bahagia. Tapi soal berjuang bareng, soal sabar, soal Nerima, soal yakin kalau Allah nggak bakal ninggalin kita.”
Suli menunduk, memegang tangan suaminya yang hangat. “Allah memang janji Mas… bahwa setiap kesulitan pasti ada kemudahan.”
Ia mengucapkan ayat itu perlahan, seakan ingin menanamkannya dalam-dalam pada hati mereka berdua.
“Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)
Darmanto memejamkan mata, meresapi setiap kata.
“Kalau gitu… apapun yang datang nanti, capek, miskin, sakit, susah, kita hadapi bareng-bareng, ya Dek?”
Suli menggenggam tangannya semakin erat. Air matanya jatuh, tapi kali ini bukan karena takut… melainkan rasa syukur yang begitu dalam.
“Ya Mas… kita hadapi semuanya. Karena hidup bersama kamu… selalu indah, meski banyak cobaan.”
Di luar, tanah yang baru saja disiram hujan menguapkan aroma basah yang menenangkan. Malam itu, untuk pertama kalinya, Suli merasa bahwa pernikahan bukan sekadar hidup satu rumah tetapi dua hati yang belajar saling memikul, saling memeluk, dan saling bersandar.
Dan di tengah remang lampu minyak, Suli membatin pelan. “Inilah takdir yang Allah tulis. Tidak mudah… tapi selalu indah kalau dijalani bersama.”
Beberapa hari berlalu sejak kejadian itu. Hujan kini turun lebih tenang, tidak lagi mengamuk seperti waktu-waktu sebelumnya. Rumah kecil Suli kembali dipenuhi aktivitas sederhana; suara ceret mendidih, aroma kayu bakar, dan langkah kecil adik Suli yang mondar-mandir mencari kakaknya.
Darmanto sudah pulih perlahan. Kulitnya kembali hangat, dan senyum khasnya kembali menghiasi wajahnya. Setiap pagi, ia duduk di teras sambil memandang sawah yang mulai hijau. Suli biasanya duduk di sampingnya, membawa secangkir teh panas.
Ada sesuatu yang berubah di antara mereka. Bukan cinta itu sendiri, cinta mereka tetap sama, tetapi cara mereka memandang kebersamaan. Seolah-olah, kejadian itu membuka tirai baru dalam rumah tangga mereka. Bahwa hidup bersama bukan tentang siapa yang kuat dan siapa yang lemah. Bukan juga siapa yang memberi lebih banyak. Melainkan tentang dua orang yang saling menopang, saling menegakkan ketika salah satunya hampir runtuh.
Suli menatap suaminya yang sedang memakai sandal sepatu, bersiap kembali bekerja mengais rezeki.
“Mas, jangan kerja terlalu berat dulu. Pelan-pelan saja,” katanya lembut.
Darmanto tertawa kecil.
“Tenang saja, Dek. Aku sudah janji sama kamu, kita jalani semua bareng-bareng. Kalau capek, kita istirahat. Kalau susah, kita peluk sama-sama.”
Suli tersenyum. Dalam hatinya, ia mengingat satu hadist yang kini menjadi pegangan hidup mereka.
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya.” (HR. Tirmidzi)
Dan, setiap kali ia melihat suaminya, ia tahu suaminya bukan hanya laki-laki baik, tetapi anugerah paling besar yang Allah titipkan untuknya.
Sementara itu, Darmanto mengusap kepala istrinya sebelum berangkat.
“Dek… apa pun yang kita hadapi nanti, ingat satu hal, Allah bersama orang-orang yang sabar.”
Suli mengangguk, mengulang ayat yang selalu menenangkan hatinya.
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)
Kata-kata itu seperti tali yang mengikat jiwa mereka agar tetap kuat dalam badai apa pun.
Saat Darmanto melangkah ke halaman, Suli berdiri di ambang pintu. Hujan mulai turun rintik-rintik, namun tak deras seperti hari-hari sebelumnya. Di antara rintik itu, Suli melihat punggung suaminya yang teguh namun sederhana, punggung seorang laki-laki yang akan ia dampingi, baik dalam gelap maupun terang. Dalam hati, Suli berdoa.
“Ya Allah… jadikan rumah ini tempat kami saling memaafkan, tempat kami saling memeluk, dan tempat kami kembali, apapun yang terjadi.”
Bagi Suli, hidup bersama Darmanto mungkin tidak selalu mudah. Akan ada hari-hari berat, mungkin juga air mata. Tapi ia tahu, selama mereka berjalan bersama, Allah akan selalu membuka jalan pulang.
Hidup mereka bukan hidup tanpa beban, tapi hidup yang penuh makna karena dijalani bersama dengan cinta yang tumbuh dari perjuangan dan kesabaran.
Dan di bawah gerimis yang lembut itu, Suli tersenyum. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasa bahwa hidup bersama Darmanto adalah jawaban dari semua doa yang dulu ia kirimkan ke langit.
Kreator : Siti Purwaningsih (Nengshuwartii)
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: BAB 22 – HIDUP KU BERSAMA KAMU
Sorry, comment are closed for this post.