
Pintu rumah akhirnya terbuka dengan engsel berderit pelan. Kayaknya engselnya udah lama nggak dikasih minyak, sama kayak hidupku—seret banget.
Malam masih melekat di kulit, dingin yang menusuk belum juga pergi meski perjalanan sudah berakhir.
Mungkin malamnya, dendam nggak mau lepas begitu saja. Aroma dapur semalam masih menggantung di udara—campuran minyak goreng, bawang yang sudah kehilangan wangi segarnya, dan sisa kopi hitam yang tak habis di meja.
Aromanya sungguh menggugah selera… untuk muntah. Tubuh yang nyaris roboh itu disambut oleh kursi kayu tua di ruang tamu.
Kursi itu sudah lama retak di sandarannya, tapi tetap jadi satu-satunya tempat melepaskan helm, jaket tebal, dan rasa letih yang tak terhitung.
Kursi itu setia banget, kayak mantan yang selalu ada pas kita lagi susah. Tapi ya gitu, udah retak.
Tangan gemetar berusaha membuka ikatan sepatu yang basah oleh embun. Susahnya minta ampun, kayak lagi nyabut bulu ketek kingkong.
Di dada, napas masih memburu, bercampur dengan rasa lapar yang menekan perut. Perutku demo minta diisi, kayak buruh yang menuntut kenaikan upah.
Di kepala, masih ada gema suara motor sepanjang jalan: deru knalpot truk, klakson bus malam, dan rasa was was setiap kali ada pengendara yang menyalip terlalu dekat.
Semua itu seharusnya berhenti di depan pintu rumah. Rumah mestinya jadi tempat pulang, tempat istirahat. Tapi nyatanya, rumah cuma tempat numpang tidur dan ngutang.
Luka Tak Terlihat: Dampak Ucapan yang Meremehkan
Belum sempat meneguk air untuk membasuh tenggorokan yang kering, ada suara terdengar dari arah dalam.
Ringan, seolah hanya bercanda. “Lho, pulang juga? Dari tadi ke mana aja? Kerja kan nggak harus kayak ngeronda,…”
Sial, pertanyaan yang sangat menusuk. Kalimat itu sederhana, tapi kenapa menusuknya begitu dalam?
Mengapa kalimat itu begitu menyakitkan? Mungkin karena kalimat itu meruntuhkan semua yang telah ia bangun semalaman.
Semua perjuangan, semua pengorbanan, semua risiko yang diambil, seolah tidak ada artinya.
Kalimat itu seperti tamparan keras yang membuatnya merasa tidak dihargai, tidak diakui, dan tidak berarti.
Dampaknya bagi harga diri dan semangat hidupnya sangat besar. Ia merasa harga dirinya direndahkan, semangat hidupnya meredup, dan keyakinannya pada diri sendiri goyah.
Kalimat itu meluncur cepat, tanpa jeda, tanpa pertimbangan. Tidak ada niat jahat, mungkin hanya spontanitas—sebuah kelalaian kecil yang justru menjadi bom waktu bagi jiwa yang tengah berjuang.
Spontanitas yang lebih mematikan daripada spontanitas kentut di depan gebetan.
Di telinga yang baru saja menempuh perjalanan panjang, kata-kata itu lebih tajam daripada sembilu. Lebih tajam daripada lidah netizen.
Semua yang dilakukan semalaman—dingin malam, bahaya jalan, kantuk yang ditahan, risiko kehilangan nyawa—seketika seakan lenyap tak berbekas.
Seolah semua perjuangan itu hanya khayalan, hanya drama picisan yang tak layak mendapat apresiasi.
Kursi kayu yang tadi seperti penyelamat kini terasa dingin, seakan menolak menopang tubuh yang rapuh. Kursi itu, seperti dunia, tiba-tiba menjadi tempat yang tak ramah.
Kayak mantan yang tiba-tiba unfollow kita di Instagram. Tidak ada luka di kulit, tidak ada darah yang terlihat tapi luka di hati menganga lebar, kayak dompet habis gajian.
Luka fisik mungkin bisa sembuh dengan obat dan perawatan, tapi luka batin? Luka batin lebih sulit disembuhkan karena tidak terlihat, tidak teraba, dan seringkali tidak disadari.
Luka fisik bisa diobati dengan Betadine, tapi luka batin diobati dengan apa? Dengan uang? Dengan pujian? Dengan pengakuan? Mungkin semua itu bisa membantu, tapi yang paling penting adalah kesadaran diri untuk menerima keadaan, memaafkan, kemudian mencintai diri sendiri.
Di dalam dada, ada sesuatu yang terasa retak. Retak itu tak berbunyi, tak bisa ditunjukkan, tapi jelas ada. Retaknya kayak hubungan kita sama dia—nggak jelas juntrungannya.
Retaknya harga diri, retaknya keyakinan bahwa apa yang dilakukannya berarti. Retaknya kayak janji politisi—nggak bisa dipercaya.
Seperti kaca yang dilempar kerikil kecil, pecahnya tak selalu terlihat dari luar, tapi retakan itu merambat perlahan.
Dari telinga, menembus hati, lalu menjalar ke seluruh diri. Racun ketidakpedulian itu menyebar, merusak pondasi semangat yang sudah dibangun dengan susah payah. Kayak virus Corona—nyerangnya nggak kelihatan, tapi efeknya mengerikan.
Kata-kata itu menempel seperti cap di dahi: “Kerja kan nggak harus kayak nge-ronda,…”
Sebuah kalimat singkat, tapi cukup untuk meruntuhkan sisa harga diri yang masih bertahan setelah malam panjang.
Kayak password Wi-Fi—pendek, tapi bikin lupa diri. Sebuah kalimat yang mengingatkan bahwa di mata sebagian orang, ia hanyalah seorang “pengangguran berseragam ojek online“. Pengangguran yang punya cicilan motor dan tanggungan keluarga.
Kalimat yang mengiris,“Kerja kan enggak harus kayak ngeronda. Makanya cari kerja,…”
Frasa pendek, ringan, bahkan mungkin terdengar seperti kelakar bagi yang mengucapkannya tapi di telinga yang baru saja diguyur malam panjang, kalimat itu terdengar lebih keras daripada deru mesin truk di jalan raya. Lebih keras daripada suara emak-emak yang lagi nawar harga di pasar.
Itu bukan sekadar suara—itu penjelmaan gema yang terus-menerus terpantul di rongga dada. Setiap suku katanya seperti batu kecil yang dilemparkan ke permukaan air, menimbulkan riak yang tak kunjung reda. Kayak chat dari debt collector—bikin panik nggak berkesudahan.
Kalimat “Makanya cari kerja,…” menempel seperti cap di dahi. Tak peduli betapa banyak keringat yang sudah bercampur dengan debu jalanan, betapa banyak rasa kantuk yang dipaksa ditelan dengan kopi sachet murahan di warung pinggir jalan, betapa sering tubuh berguncang menahan dingin malam, semua itu lenyap dalam sekejap. Kayak utang—datangnya cepet, ngilangnya lama.
Kerja yang nyata—yang menguras tenaga, waktu, dan keberanian—dihapus begitu saja hanya karena tak menghasilkan segepok uang kertas seratus ribuan. Kayak mantan—udah ngasih segalanya, tapi tetep aja ditinggalin.
Dadanya menegang. Ada sesuatu yang retak, samar tapi jelas terasa. Seolah-olah tulang rusuknya mendadak jadi rapuh, tak kuat menahan beban yang tiba-tiba ditimpakan.
Kayak harga diri—gampang banget anjloknya.
Ia ingin menjelaskan: bahwa kerja tidak selalu harus berupa gaji bulanan; bahwa menjaga, mengantar, menolong, atau sekadar hadir di tempat yang dibutuhkan orang lain pun adalah kerja.
Lidahnya kelu. Kata-kata itu hanya berputar-putar di dalam kepala, tak sanggup keluar. Kayak lagi nervous mau nembak gebetan.
Ia terdiam. Mulut terkunci, bukan karena setuju, tapi karena sadar: apapun bantahannya akan mental seperti batu dilempar ke dinding. Kayak lagi debat sama netizen—nggak ada gunanya.
Orang yang sudah percaya bahwa “kerja” berarti hanya satu hal—uang, takkan mudah diyakinkan oleh cerita lain.
Diam menjadi satu-satunya pilihan, meski diam itu sendiri terasa seperti mengiyakan. Diam itu emas, tapi kadang juga bikin nyesek.
Tatapannya jatuh ke lantai. Ia memperhatikan serat kayu kusam, seakan mencari retakan kecil untuk menyembunyikan getir yang menggumpal di dada, persis kayak lagi nyari Wi-Fi gratisan buat ngilangin stres.
Punggungnya terasa semakin berat menempel di kursi kayu tua itu. Napas yang sejak tadi ditahan perlahan dihela, panjang dan penuh rasa pahit.
Tubuh yang sudah letih makin terasa merunduk, kalah oleh kalimat yang tak lebih dari gurauan singkat. Kayak abis ditolak mentah-mentah sama gebetan.
Satu hal yang paling menyakitkan justru kesederhanaan kalimat itu. Tidak ada teriakan, tidak ada caci-maki, tidak ada tuduhan keras. Nggak ada drama, nggak ada air mata.
Hanya celetukan ringan, mungkin bahkan sambil tersenyum. Namun efeknya lebih tajam daripada pisau. Senyum palsu lebih berbahaya daripada tatapan sinis.
Luka fisik masih bisa diperban, luka batin dari ucapan semacam ini hanya bisa disembunyikan—dan itu pun tak menjamin ia akan sembuh.
Sekali lagi kubilang, luka fisik bisa diobati dengan Betadine, luka batin diobatin pake apa? Pake duit?
Dalam sekejap, sisa harga diri yang coba dipertahankan setelah malam panjang, runtuh berkeping-keping. Kayak menara yang dibangun dari kartu—sekali kesenggol, langsung ambruk.
Tak ada yang mendengar suaranya hancur, tak ada yang melihat serpihannya, tapi ia sendiri tahu, di dalam hati, serpihan itu berserakan di lantai, menunggu disapu entah oleh siapa dan entah kapan. Serpihan yang kayaknya nggak bakal bisa disatuin lagi.
Tak perlu diulang. Walau tak ada darah yang menetes. Tak ada memar di kulit. Dari luar, tubuh itu tampak biasa saja: masih duduk diam di kursi, menunduk, benar-benar kelelahan setelah perjalanan jauh. Kayak patung—tanpa ekspresi, tanpa emosi.
Dadanya terasa sesak. Napasnya tertahan lebih lama dari biasanya. Bukan luka yang bisa difoto lalu dibagikan, bukan pula luka yang bisa dibalut perban atau disembuhkan obat merah.
Ia menarik napas, lalu melepaskannya pelan, seolah takut napas itu sendiri bisa menyakitkan. Luka yang cuma bisa dirasakan dan dinikmati sendiri.
Di balik diamnya, ada gelombang perasaan yang beradu tak karuan. Ia menatap ujung sepatunya. Kotoran kering masih menempel di sana. Rahangnya mengeras. Ia menggigitnya pelan, menahan sesuatu yang tak jadi keluar. Kayak lagi demo—teriak-teriak, tapi nggak didengerin.
Ada juga rasa pasrah, karena jauh di dalam hati, ia sudah tahu: inilah pandangan umum yang sudah lama mengakar.
Ia teringat ucapan itu lagi. Singkat. Ringan. Tapi tak ada satu pun dari malam panjang tadi yang ikut pulang bersamanya.
Kayak lagi ngukur kesuksesan—cuma diliat dari jabatan, gaji, dan mobil padahal semalaman ia bergulat dengan dingin, kantuk, dan bahaya jalanan.
Ia mengalahkan rasa takut ketika jalan sepi hanya ditemani lampu motor redup. Ia mengganjal lapar dengan mie instan di warung kecil, menunda tidur demi menyelesaikan apa yang ia anggap sebagai tugas.
Kayak lagi berjuang buat dapetin hati gebetan—mau ngelakuin apa aja, demi dia. Semua nyata, tapi benar-benar menguras tenaga.
Sayangnya begitu sampai rumah, kerja itu mendadak berubah seolah ilusi, seolah tak pernah terjadi, hanya karena tak ada tanda bukti bernama uang.
Kayak janji—manis di bibir, tapi nggak ada buktinya. Di situlah luka itu semakin dalam.
Ia menatap lantai. Tidak lama. Lalu menunduk lagi.
Ia duduk lebih dalam di kursi itu. Kursi tua yang berderit pelan, tapi setidaknya masih mau menopangnya.
“Terus ini semua apa?”
Kalimat itu lewat begitu saja, tanpa jawaban.
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di benaknya, menambah berat di pundak yang sudah nyaris roboh. Kayak lagi mikirin cicilan—bikin pusing tujuh keliling.
Itulah luka tak kasat mata: rasa sakit yang tidak tampak tapi nyata, luka yang tidak bisa dilihat tapi menghantam keberadaan paling dalam dari jiwa seseorang. Luka yang lebih perih daripada luka ditolak cinta.
Luka yang diam-diam mengikis harga diri, sedikit demi sedikit, sampai akhirnya yang tersisa hanya rasa lelah tanpa arti. Kayak abis lari maraton—capeknya nggak ilang-ilang.
“…Tapi tunggu dulu! Jangan buru-buru baper, Guys! Sebelum kita hanyut dalam kesedihan yang mendalam, mari kita bedah lebih jauh, kenapa sih celetukan itu bisa seberbahaya itu? Kenapa sih kita gampang banget nge-judge orang dari pekerjaannya? Padahal, pekerjaan itu kan cuma salah satu aspek dari diri seseorang.
Sama kayak zodiak, cuma sebagian kecil dari gambaran besar kepribadian kita, tapi anehnya, banyak orang lebih percaya sama ramalan zodiak daripada melihat potensi dan kemampuan nyata yang ada di depan mata. Kenapa sih kita lebih percaya zodiak daripada logika?”
Bagi yang mengucapkannya, celetukan tadi mungkin terasa sepele. Sekadar gurauan, keluar begitu saja tanpa niat menyakiti. Bibir yang mengucapkannya bahkan mungkin sudah lupa dalam hitungan menit, tapi bagi telinga yang mendengarnya, kata itu tak berhenti di udara. Persis kayak kentut—yang ngeluarin udah lupa, yang nyium masih menderita.
Ia jatuh, menancap, dan tertinggal seperti pecahan kaca kecil yang diam-diam menggores setiap kali disentuh.
Kata-kata ringan itu berubah wujud menjadi senjata—pisau tak kasat mata, tajam, dingin, tapi mematikan perlahan. Kayak ghosting—nggak keliatan, tapi bikin trauma.
Masalahnya bukan hanya pada satu kalimat. Masalahnya adalah cara pandang yang dibawanya. Ketika kerja nyata dianggap tidak kerja, lahirlah sebuah keyakinan keliru: bahwa nilai seseorang hanya bisa diukur dari hasil instan, bahwa yang dihitung hanyalah uang yang masuk, barang yang terlihat, atau gelar yang bisa dipajang.
Kayak lagi ngukur kesuksesan—cuma diliat dari saldo ATM. Sementara kerja yang tak menghasilkan bukti kasat mata akan langsung dianggap kosong—tak penting, tak perlu dihargai. Sia-sia. Kayak ngasih harapan palsu—nggak ada gunanya.
Pandangan semacam ini tidak berhenti di ruang tamu kecil atau meja makan keluarga. Ia merayap pelan, seperti air yang meresap ke tanah. Lama-lama ia menyebar, mengendap menjadi kebiasaan berpikir, lalu tumbuh menjadi norma sosial.
Apa yang awalnya hanya celetukan ringan akhirnya menjadi ukuran sahih di mata banyak orang: “Kalau ngak ada uangnya, artinya bukan kerja.” Kayak meme—awalnya lucu, lama-lama jadi kenyataan.
Begitulah stigma lahir, bukan brojol dari teori besar, melainkan dari kalimat sederhana yang diulang-ulang hingga dipercaya.
Kayak gosip—awalnya nggak jelas, lama-lama dianggap menjadi sebuah kebenaran. Proses ini mengalir membawa efek. Efeknya berlapis.
Bukan hanya melukai satu orang pengemudi yang pulang dengan tangan kosong malam itu, tapi juga merembes ke banyak individu lain: ibu rumah tangga yang lelah mengurus anak, disebut “nganggur,” relawan yang bekerja tanpa bayaran, dianggap sekadar “iseng,” petani kecil yang hanya menghasilkan untuk makan keluarga sendiri, dicap “tidak produktif.” Kayak lagi nge-bully—korbannya nggak cuma satu orang.
Semua bentuk kerja itu nyata, semua menguras tenaga, tapi karena tidak terlihat dalam bentuk rupiah, maka mereka dianggap seperti tak pernah ada. Kayak hantu—ada, tapi nggak keliatan.
Kreator : Adhipateyya Khanti Wardoyo (ADWANTHI)
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: Bab 2_Celetukan Menghancurkan
Sorry, comment are closed for this post.