Menjelang tahun baru Islam, orang-orang di kampungku sudah tampak sibuk menyiapkan perlengkapan hajatan syukuran. Warga kampung sudah mulai berburu daun pisang dan janur kuning di pagi hari. Hajatan masal itu akan digelar pada malam 1 Muharram, di jalan umum, tepatnya di pertigaan jalan depan rumahku. Memang tradisi ini sudah berlangsung turun temurun, bahkan ibuku juga turut melestarikannya, sebagaimana yang dilakukan oleh simbahku. Baritan, itulah nama hajatan itu. Waktu itu usiaku masih delapan tahun. Aku sangat penasaran dengan hal-hal yang belum kumengerti, bisa dibilang rasa ingin tahuku lebih besar dari tubuhku sendiri. Aku masih belum mengerti mengapa disebut baritan, yang kutahu anak-anak sangat antusias mengikuti hajatan tersebut sambil membawa beberapa takir plonthang di nampan. Setiap takir berisi nasi dan lauk-pauk yang tak biasa. Ada sambal goreng, telur dadar, dan ayam goreng. Tentu ini bukan menu yang biasa kusantap setiap hari. Betapa lezatnya, itulah yang terbayang di benak kami, anak-anak kampung Semanding. Waktu itu pernah kutanyakan pada ayahku tentang baritan, namun belum mendapat jawaban yang memuaskan.
Pagi itu ibuku tampak sibuk di dapur menyiapkan masakan khas untuk acara baritan. Sedangkan simbahku tampak sibuk membuat takir. Takir adalah wadah yang dibuat dari daun pisang dan dikunci dengan lidi. Di bagian luar, disematkan sehelai janur kuning. Sedangkan aku hanya bantu-bantu mengupas bawang dan mengiris sayuran. Sambil terus bekerja, kutanyakan pada simbahku tentang takir plonthang. Sambil tersenyum simbahku menjelaskan bahwa takir yang dibuatnya disebut takir plonthang karena warna takir merupakan perpaduan warna daun pisang yang hijau dan janur yang berwarna kuning. Aku masih penasaran mengapa orang-orang sangat nekat memanjat pohon kelapa hanya untuk mengambil beberapa helai janur demi membuat takir plonthang? Simbah kembali menjelaskan bahwa makna simbol takir plonthang adalah wadah atau bentuk penyampaian rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, meminta keselamatan dunia dan akhirat, langgeng dalam berkeluarga, dan penyelamatan untuk diri sendiri serta saudara. Percakapan kami terputus ketika ibu memanggilku untuk membantunya mengambil kayu bakar di belakang dapur.
Menjelang magrib semua masakan sudah siap. Aku dan simbah segera menyajikannya di sebuah nampan. Satu nampan berisi lima takir. Sambil menata lauk-pauknya, aku kembali bertanya pada simbah, mengapa harus takir? Padahal saat itu sudah ada besek, wadah yang terbuat dari anyaman bambu. Simbah kembali menjelaskan bahwa takir itu bukan sembarang wadah. Takir berasal dari perpaduan kata “tata” dan “pikir”, yang berarti manusia harus menata pikirannya, dengan cara bersyukur kepada Allah, maka harus berusaha memperbaiki diri agar menjadi pribadi yang lebih baik dan menjadi muslim yang taat. Aku semakin mengerti maksud simbah. Aku menjadi merasa bersalah ketika ingat tragedi di mushola saat Ramadhan, aku dan beberapa gadis kecil kabur dari jamaah salat tarawih. Pak Ustad sangat marah ketika menemukan kami sembunyi di rumah tetangga untuk nonton televisi. Kami lari kocar-kacir. Sampai di rumah, aku pun didamprat ayahku. Aku ketakutan bukan kepalang. Simbah lalu menarikku ke biliknya dan menasehatiku. Aku menangis tersedu-sedu.
Selepas salat magrib, aku dan bapak bersiap berangkat ke tempat hajatan. Tak lupa aku juga membawa satu kardus air mineral. Sesampainya di lokasi, kulihat banyak nampan berkat sudah berjejer di tikar. Lalu kuletakkan nampanku pada barisan berikutnya. Warga pun sudah ramai berdatangan dan duduk mengitari nampan. Peserta putra dan putri duduk di tempat terpisah. Tradisi baritan memang bisa diikuti oleh semua orang, baik laki-laki, perempuan, dewasa atau anak-anak. Hal ini memang berbeda dengan selamatan pada umumya, yaitu tradisi kenduri hanya dihadiri kaum laki-laki. Tak lama kemudian acara dimulai. Pak Ustad memimpin doa bersama, dilanjutkan dengan istighotsah. Acara yang paling kutunggu-tunggu adalah acara terakhir, yaitu makan. Kami saling menukarkan takir yang kami bawa. Pikiran anak-anak memang beda, memilih makanan yang disukai, bahkan satu per satu dibuka tutupnya, ketika menemukan yang cocok, langsung diambil. Bahkan kami harus berebut dengan anak lain dan membuatnya menangis karena tidak kebagian. Para orang tua kemudian melerai dan menasehati kami untuk berbagi. Akhirnya kami kenyang dengan damai, makan satu takir untuk berdua. Kami pun tak mau ketinggalan ketika nampan semangka berkeliling. Makanan hasil rebutan memang terasa nikmat sekali. Nasi takir juga kami bagikan kepada setiap orang yang melewati jalan itu. Pulangnya kami membawa dua takir yang tersisa di nampan. Ibu menyambutnya dengan semangat. Menurutnya, nasi berkat dari acara syukuran atau hajatan memang spesial dan dipercaya sebagai perantara berkah dari Yang Maha Kuasa.
Keesokan harinya, di dalam kelas terdengar hiruk-pikuk percakapan para siswa. Nampaknya para siswa asyik menceritakan baritan di lingkungan masing-masing. Kelas menjadi tenang ketika Ustad Ikhwan, guru mapel PAI kami memasuki kelas. Setelah berdoa bersama, pelajaran pun dimulai. Materi hari itu adalah sejarah perjuangan wali songo dalam menyebarkan agama Islam di Jawa. Kami semakin tertarik, pasalnya Ustad Ikhwan bertanya tentang baritan kemarin malam. Para siswa pun menjawab dengan antusias. Ustad Ikhwan kemudian menjelaskan bahwa tradisi baritan sering dikenal sebagai sedekah bumi ataupun sedekah laut. Pada masa sebelum islamisasi, tradisi ini dilaksanakan dengan cara ritual dengan tindakan khusus dan doa-doa khusus serta sesajen sebagai bentuk penghormatan terhadap roh-roh kudus. Sedangkan setelah masa islamisasi tradisi ini berkembang, terdapat akulturasi budaya dengan rutinan keagamaan seperti dzikir dan tahlil. Tradisi ini dikenalkan oleh Sunan Kalijaga. Kami pun bertanya asal mula nama baritan. Ustad Ikhwan pun menjawab, kata simbah buyutnya baritan itu singkatan dari “mbubarake peri lan setan” (membubarkan peri dan setan). Kami pun tertawa terpingkal-pingkal, membayangkan setan kocar-kacir saat disidak.
Kreator : Maria Ulfa, S.S.
Comment Closed: BAB 3 Berkat Baritan
Sorry, comment are closed for this post.