BAB 3: TEH EMBUN PENENANG
Malam ketiga di gubuk itu hujan enggan turun.
Tapi dinginnya lebih menusuk. Hampir seperti dingin yang datang dari dalam dada.
Tio tidak bisa tidur.
Di tikar sebelahnya, Nenek Ysra sedang duduk. Di pangkuannya ada buku kayu itu. Halamannya terbuka sendiri.
Angin membawa suara langkah kaki. Pelan. Berhenti di depan pintu.
Tok. Tok.
Tidak ada jawaban dari luar. Hanya napas tertahan.
Nenek Ysra menutup bukunya.
“Bukakan.”
Tio membuka pintu kayu yang berderit itu.
Di luar berdiri seorang laki-laki.
Umurnya sekitar tiga puluh. Bajunya mahal tapi kotor lumpur. Wajahnya lelah. Matanya merah. Di tangannya ada kendi kosong.
Dia tidak masuk.
“Saya cuma mau air,” katanya. Suaranya kasar, menahan sesuatu. “Boleh?”
Nenek Ysra mengangguk. “Masuk. Duduk. Tehnya masih panas.”
Laki-laki itu ragu. Tapi akhirnya masuk. Duduk paling jauh dari api.
“Nama saya Daren,” katanya cepat. “Saya dari istana. Saya utusan. Saya… saya nyasar.”
Tio menuang teh ke cangkir tanah liat. Uapnya tipis. Baunya embun pagi dan daun mint.
“Teh Embun Penenang,” kata Nenek Ysra. “Minum.”
Daren meneguk. Tangannya gemetar.
“Rasanya… tawar,” katanya. “Kayak air biasa.”
“Karena kamu belum cerita,” jawab nenek itu. “Teh ini baru ada rasanya kalau kamu jujur.”
Daren tertawa pendek. Pahit. “Saya tidak punya cerita. Saya cuma utusan.”
“Utusan yang tiga hari tidak pulang karena takut,” kata Nenek Ysra pelan. “Utusan yang bawa surat perintah penangkapan. Tapi suratnya kamu buang di sungai.”
Tangan Daren berhenti di tengah jalan. Cangkirnya bergetar.
“Bagaimana nenek tahu?”
“Karena bukunya bilang begitu,” jawab Nenek Ysra, menepuk sampul kayu. “Kamu diperintah menangkap anak kecil. Anak yang mencuri roti karena adiknya kelaparan. Dan kamu tidak tega.”
Daren menunduk. Bahunya turun.
“Saya sudah dua puluh tahun jadi prajurit,” bisiknya. “Saya selalu nurut. Tapi kali ini… saya lihat matanya. Mirip adik saya yang mati waktu perang.”
Dia diam lama. Lalu air matanya jatuh ke teh.
Tio tidak bicara. Hanya duduk, mendengarkan suara bara.
“Saya buang suratnya,” lanjut Daren. “Saya lari. Sekarang saya buronan. Kalau kembali, saya dihukum. Kalau tidak kembali, saya pengecut.”
Nenek Ysra mengambil kendi kosong dari tangan Daren. Mengisinya dengan teh.
“Bawa ini,” katanya. “Bukan untuk kamu. Untuk anak itu. Bilang… bilang maaf dari paman yang tidak jadi menangkapnya.”
Daren mengangkat wajah. “Kenapa nenek bantu saya?”
“Karena teh ini butuh dua orang biar manis,” jawab nenek itu. “Yang menyeduh, dan yang mau minum kejujurannya.”
Buku di meja bergetar pelan. Halamannya terbuka.
Resep 3: Teh Embun Penenang
Bahan: Embun yang diambil sebelum matahari terbit, daun mint dari pinggir sungai, satu rahasia yang selama ini dipendam.
Cara: Seduh sambil mengingat wajah orang yang kamu sakiti.
Catatan: Pahit di tegukan pertama. Manis di tegukan terakhir. Kalau kamu berani sampai habis.
Di bawahnya ada tulisan baru:
Daren memilih. Dia pulang bukan ke istana. Dia pulang ke sungai.
Daren berdiri. Meminum tehnya sampai habis. Kali ini tidak pahit.
Dia mengangguk sekali ke Nenek Ysra, lalu ke Tio.
Lalu pergi. Kendi di tangannya tidak kosong lagi.
Di luar, fajar mulai naik. Pelan. Tidak terang, tapi cukup untuk melihat jalan.
Tio menarik napas.
“Dia akan baik-baik saja?”
“Tidak tahu,” kata Nenek Ysra. “Tapi dia sudah memilih. Itu langkah pertama.”
Nenek itu menuang sisa teh ke tanah.
“Untuk luka yang belum sempat minta maaf,” katanya.
Tio menatap cangkir kosong di tangannya. Hangatnya masih ada.
Untuk pertama kali, dia mengerti.
Gubuk ini bukan tempat orang sembuh.
Gubuk ini tempat orang berani jujur.
Di luar, pintu kayu berderit lagi.
Tapi kali ini bukan karena tamu baru.
Hanya angin. Yang membawa pergi satu rahasia.
Kreator : Nadya Putri
Comment Closed: Bab 3 dari novel Rahasia buku sihir nenek Ysra
Sorry, comment are closed for this post.