BAB 3: JEJAK YANG MEMBEKU DAN SIHIR YANG BELAJAR
KEJAR-KEJARAN
Asap dari atap yang jebol masih mengepul.
Pasukan bertopeng es mundur karena bunga es dari sisa kekuatan Eira. Tapi dari kejauhan terdengar terompet. Pasukan kedua datang.
Leon menarik napas.
“Kita tidak bisa bertahan. Bawa semua orang ke hutan.”
Kael menggendong dua anak desa. Toran memecahkan jendela belakang. Vanya membuat lorong es.
Riko dan Mira melindungi anak-anak yang menangis.
Eira masih berdiri. Matanya biru belum padam. Rantai liontinnya kosong.
“Eira, ayo,” kata Lyra sambil menarik tangannya.
Selene menggenggam tangan Ardin. “Kita harus pergi. Sekarang.”
Ardin mengangguk. “Tuntun aku.”
Mereka berlari. Salju tebal. Bulan tertutup awan.
Di belakang, suara langkah pasukan semakin dekat.
Anak panah es melesat. Mira mendorong Riko. Panah itu meledak di pohon.
“Terlalu banyak,” bisik Vanya.
Suara Veyrin menggema.
“Selene. Anak itu milikku. Kau tidak bisa melindunginya selamanya.”
Selene berhenti. “Dulu aku lari darimu. Sekarang tidak.”
Dia maju ke tengah jalan. Dari tangannya keluar cahaya hangat keemasan. Salju mencair.
“Aku tidak lari lagi. Aku melawan.”
Eira ikut maju. Debu cahaya dari liontinnya berputar.
Dia mengangkat tangan. Dari tanah tumbuh bunga es raksasa yang melindungi semua orang.
Anak panah memantul. Tapi bunga itu mulai layu. Kekuatan Eira belum cukup.
Leon menggendong Eira. “Jalan lagi. Sekarang.”
Saat berlari, Eira berbisik. “Kak, lihat.”
Di salju ada jejak kaki kecil dan satu helai rambut putih. Arahnya ke utara. Ke gunung.
LATIHAN EIRA
Mereka berhenti di balik batu besar. Napas mereka terengah.
Lyra membuka Buku Sihir Tanah Fajar. Halamannya terbuka sendiri.
Bab Tujuh. Benih Kedua.
Terletak di tempat kelahiran si penanam. Di Gunung Es Ardentia.
Semua terdiam.
“Jadi kita harus ke istananya Veyrin,” kata Eira pelan.
Selene menatap gunung yang saljunya hitam. “Ya. Untuk menghentikan semua ini.”
Malam itu mereka membuat perkemahan darurat.
Lyra duduk di samping Eira. Membuka buku di pangkuan mereka.
“Ra, dengarkan,” kata Lyra. “Kekuatanmu bukan dari liontin. Liontin hanya pemantik.”
Eira mengangguk. Matanya masih sembab.
Lyra menunjuk tulisan.
Untuk mencabut benih dibutuhkan tiga hal. Darah yang memaafkan, Air mata yang jujur, dan Sihir yang hangat.
“Coba rasakan,” bisik Lyra. “Ingat hangatnya pelukan Ayah tadi. Ingat.”
Eira menutup mata. Tangannya bergetar.
Dari telapak tangannya keluar uap hangat kecil. Salju di dekatnya mencair dan menumbuhkan bunga es mini.
Ardin yang duduk di sebelah tersenyum walau buta.
“Itu dia. Salju yang belajar jadi bunga.”
Selene memeluk Eira dari belakang. “Kamu hebat, nak.”
Tapi Eira menggeleng. “Aku takut. Kalau aku tidak cukup kuat.”
Leon jongkok di depan mereka. “Maka kita sembilan yang akan jadi kuat bersamamu.”
VEYRIN MARAH
ISTANA ES ARDENTIA
BRAKKK
Singgasana es hancur berkeping-keping.
Veyrin berdiri di tengah ruangan. Nafasnya berat.
Di depannya, cermin retak. Di dalamnya terlihat Eira yang baru saja menumbuhkan bunga es.
“TIDAK MUNGKIN,” geramnya. “Benih pertama seharusnya melemahkannya.”
Penasihatnya berlutut gemetar. “Tuan. Benih itu… retak. Karena air mata.”
Veyrin meninju dinding. Es pecah.
“Air mata? Air mata apa yang bisa melelehkan kutukanku?”
Dia berjalan ke peta besar. Tiga titik. Gunung menyala merah.
“Kalau begitu percepat. Bangunkan Benih Ketiga sekarang.”
“Benih Ketiga belum stabil, Tuan.”
Veyrin menoleh. Matanya abu-abu es penuh amarah.
“Aku bilang BANGUNKAN. Aku tidak akan kehilangan dia dua kali.”
Dia menancapkan tangan ke tanah. Rune ᛜ menyala hitam.
Dari bawah istana terdengar suara jeritan. Tanah bergetar.
“Selene… Eira…” bisik Veyrin. “Kalian datang kepadaku. Dan kali ini, tidak ada yang akan hangat lagi.”
Kreator : Nadya Putri
Comment Closed: Bab 3 dari novel Sihir Tanah Fajar Perjalanan 9 bintang
Sorry, comment are closed for this post.