KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » BAB 3 – Dukungan dan Harapan

    BAB 3 – Dukungan dan Harapan

    BY 06 Apr 2026 Dilihat: 15 kali
    BAB 3 – Dukungan dan Harapan_alineaku

    “Ara, kamu mau ke mana lagi?” tanya Hae-Joon.

    Dengan baju casual berupa T-shirt putih dan celana training warna hitam beserta headset hitam yang bertengger di leher laki-laki itu, ia lontarkan pertanyaan padaku yang tengah mengunci akses masuk rumah dan/atau tokoku. 

    “Aku mau ketemu kak Sisi di rumahnya,” jawabku.

    Setelah Hae-Joon mendengar hal itu, kerutan dahinya muncul dan sorot mata padaku yang kian menajam. Dia bertanya perihal urusan apa gerangan sehingga aku harus menemui Kak Sisi kembali. Kusampaikan pada Hae-Joon bahwa kini aku diberi tugas yakni menjadi desainer busana dan model wanita sementara untuk acara Going Seventeen dengan sokongan dari Kak Sisi dan kakak laki-laki, Jung Hoseok.

    “Jadi kamu sudah bertemu dengan laki-laki yang mengaku sebagai kakak kandungmu itu? Sudah kamu cari tahu perihal masa lalu orang tuamu, Ara?” tanya Hae-Joon lagi.

    Sontak detak jantungku tak beraturan dan rahang mulut yang mengendur serta leher terasa tercekik sehingga tak ada satupun kata yang keluar antar bibirku. Tunggu, mengapa Hae-Joon sangat ingin tahu tentang masa lalu orang tuaku? Lagipula apakah aku harus segera mengorek informasi tentang mereka melalui kak Hoseok?

    “Maaf Hae-Joon, soal itu, aku belum sempat mencari tahu. Namun, terima kasih kamu sudah mengingatkanku kembali terkait hal itu. Nanti aku akan mencari fakta tentang masa lalu orang tuaku melalui kak Jung Hoseok,” ujarku.

    Kemudian aku pamit pada Hae-Joon untuk gegas pergi karena tak ingin membuat kak Sisi menunggu lama kehadiranku. Hae-Joon mempersilahkan aku lekas berangkat sehingga ku pesan taksi online dengan tujuan rumah kak Sisi. Rumah beliau masih di daerah yang sama dengan cafe miliknya yakni wilayah Seongnam, Provinsi Gyeonggi-do. Awalnya aku enggan berkendara dengan taksi karena tarif perjalanan dari kota Wonju (lokasi rumahku) dan Seongnam terbilang mahal. Namun kak Sisi dan kak Hoseok bersikeras menyuruhku menggunakan taksi pada awal pertemuan dengan ongkos perjalanan dipikul mereka berdua.

    Saat aku sampai di rumah kak Sisi, kulihat binar mata dan senyuman lebar menghiasi wajah cantiknya. Kemudian kak Sisi menyuguhkan teh omija padaku bak tahu aku sedang letih atas perjalanan sebelumnya. Lalu beliau menanyakan pendapatku tentang perjalanan ke rumahnya.

    “Duh, Kak. Saya sedang tidak mood untuk membahas hal itu,” keluhku sambil memijat lembut beberapa anggota tubuh yang masih terasa penat akibat perjalanan.

    “Haha, maaf, saya tidak berniat membuatmu kesal. Hanya saja, saya ingin kamu tahu bahwa keputusan saya yang memaksamu naik taksi adalah tepat,” ucap kak Sisi.

    Bola mataku bergerak cepat mencoba mencerna perkataan beliau. “Maksud kakak tepat?” tanyaku yang masih dilanda kebingungan atas ucapannya itu.

    “Kemarin kan kamu memohon supaya saya mengizinkan kamu menaiki kendaraan bus dan kereta cepat. Sebenarnya inilah maksud saya, kenapa saya tidak mengizinkan hal itu. Saya tahu jelas jarak dan waktu tempuhnya cukup besar. Ditambah lagi, kita sedang efisiensi waktu sehingga taksi online-lah kendaraan yang lebih baik untukmu. Jujur saja, selama di perjalanan kamu sempat tidur sebentar kan?” ujar kak Sisi.

    Seketika aku cengar-cengir, mengingat tingkahku di dalam taksi yang sempat mengistirahatkan diri kala rasa kantuk melanda. Walaupun ku akui perjalanan yang ditempuh memang cukup melelahkan. Kak Sisi menjelaskan apabila aku tetap nekat menggunakan kereta cepat dan bus, belum tentu ada waktu istirahat bagiku karena harus beradu tempat duduk dengan penumpang lain. Kak Sisi juga menambahkan bahwa hanya hari ini aku harus berkendara dengan taksi. Selebihnya aku diperbolehkan menaiki transportasi umum atau menumpang mobil pribadi milik kak Sisi/kak Jung Hoseok.

    “Kita akan tinggal sementara di daerah Hongdae untuk mengasah keterampilanmu,” ucap kak Sisi.

    Apa?? Tinggal di Hongdae? Kenapa mendadak aku harus ke daerah sana? Aku mengutarakan pada kak Sisi bahwa saat ini aku tengah menerima pesanan jahit dari salah satu pelanggan toko sehingga rencana tersebut akan memberiku kesulitan apabila menetap di area sana lebih dari kurun waktu satu hari. Kak Sisi mencondongkan tubuhnya ke depan lalu menepuk pelan bahuku seraya menyatakan kami berdua hanya tinggal di daerah Hongdae selama satu hari saja. Ia juga menjelaskan aku harus berpartisipasi dalam pertunjukan jalanan kawasan Hongdae.

    Tiba-tiba dadaku bergemuruh, pupil mata ikut melebar bersama kucuran keringat dingin yang membasahi kening wajahku. Aku pun berceloteh bagaimana mungkin ikut andil dalam kegiatan tersebut dengan kondisi badanku yang dipenuhi lemak tak sehat. Kak Sisi berkata apakah sebuah hal keliru apabila orang gendut ikut serta dalam aktivitas pertunjukan jalanan Hongdae? Namun aku menganggap hal itu benar-benar serius dan sungguh tak masuk akal. Wajahku seketika merah padam diikuti air mata dan suara lengkingan tanda aku menolak keras keinginan kak Sisi tersebut. Akan tetapi, sepuluh menit air mataku berjatuhan tak mampu melunakkan hati wanita independen itu.

    “Sudah selesai dramanya?” tanya kak Sisi padaku.

    Aku masih merajuk dengan bibirku yang manyun sedikit. 

    “Sudahlah.. Tidak ada gunanya kamu menangis histeris seperti itu.. Air matamu tidak akan membatalkan rencana strategi saya dan Hoseok,” kata kak Sisi.

    “Kak.. Bukankah kakak selalu tidak akur dengan kak Hoseok? Lalu kenapa sekarang kalian bekerja sama?” tanyaku heran.

    Kak Sisi menjelaskan bahwa dia tidak punya pilihan lain. Beliau harus bekerja sama dengan kakakku karena hal itu mengembangan reputasi baiknya dalam perspektif bibi dan paman kandungnya. 

    “Jadi kakak diminta sepupu kakak lagi?” tanyaku memastikan.

    “Betul sekali! Kemarin saat dia meminta saya untuk mendekatinya, rupanya dia memohon bantuan saya dalam mengasah keterampilanmu. Dia bilang kalau saya berhasil membimbingmu, paman dan bibi akan mengakomodasi biaya pembesaran studio kecantikan saya. XIXIXI,” cakap kak Sisi sembari tersenyum lebar.

    Saat kulihat tingkah kakak perempuan itu, aku hanya bisa menghela nafas pelan. Percuma saja aku terus merajuk, ditengah ambisinya yang tak bisa kusesali. Aku hanya bisa mematuhi keinginan beliau dan kak Hoseok. Aku pun menanyakan pada tanggal berapa kami harus tinggal di daerah Hongdae. Kak Sisi memberitahu bahwa hari ini adalah waktu pelaksanaannya.

    “Hari ini?! Kenapa dadakan sekali.. Saya sama sekali tidak bawa baju ganti, kak!” desahku.

    Kak Sisi meredam emosiku dengan mengatakan bahwa ia sudah mendapat jaminan uang dari kak Hoseok dan sepupu laki-lakinya terkait biaya akomodasi selama proses bimbinganku. Setelah mendengar ucapannya, aku melabeli mereka orang yang amat loyal padaku dan hal itu membuatku seperti beban bagi orang lain. Kedua otot bibir kak Sisi melengkung ke atas, kemudian beliau memegang kedua tanganku sembari menepuk punggung tanganku secara halus.

    “Selama ada yang membantu kita dengan ikhlas, maka tugas kita hanya menjalankan dengan sebaik-baiknya,” tutur beliau.

    Aku terharu mendengar ucapan kak Sisi. Benar, aku tidak boleh mengecewakan orang lain yang menaruh harapan padaku. Aku tahu aku banyak kelemahan. Namun, kelemahan tidak selalu menjadi penghambat kemajuan diri ke arah yang lebih baik kan?

    —————————————————————

    Aku dan kak Sisi sudah berada di Hongdae. Kami menaiki kereta bawah tanah menuju apartemen harian yang sudah kak Sisi pesan.

    “Leganya sudah sampai kemari,” celetuk kak Sisi di atas hamparan tempat tidur.

    Aku tertawa kecil melihat tingkah laku kakak perempuanku itu. Aku bertanya kegiatan berikutnya setelah kami berdua sampai di lokasi apartemen. Kak Sisi menguraikan kegiatan harian kami yakni aktivitas shopping dan berlanjut pada peran sertaku dalam pagelaran jalanan kawasan Hongdae saat hari mulai petang. Kemudian kami kembali ke apartemen setelah pukul 9 malam. 

    “Nanti kamu siap-siap menari salah satu tarian koreografi yang sudah kamu hafal ya,” jelas kak Sisi.

    “Baiklah kak,” balasku lesu.

    “Eh.. Ayo semangat!!” ucap kak Sisi lantang.

    Aku membalas ucapan beliau dengan senyum tipis dan kepalan tangan yang mengayun. Walaupun hati kecil masih keberatan dengan ide dari kak Sisi. Kemudian kususuri jalan Hongdae bersama kak Sisi guna mencari pakaian yang pas untuk kami berdua. Beragam model baju ditujukan padaku. Mulai dari kesan girly, tomboi, casual, dan campuran boyish-feminin. Hingga waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Beragam kelompok tari dan musisi mulai terlihat menampilkan keistimewaan mereka masing-masing.

    “Jadi kamu bisa menguasai koreografi lagu apa?” tanya kak Sisi sembari mendekap leherku.

    “Mungkin lagu Hot dari Seventeen, kak,” jelasku.

    “Seventeen lagi? Jangan-jangan kamu penggemar Seventeen ya?” cakap kak Sisi yang segera kubalas anggukan padanya.

    “Memangnya kakak baru tahu?!” ungkapku.

    “Sebenarnya saya telah menduganya, tetapi saya ingin kamu mengatakan secara langsung. Dan ternyata dugaan saya benar, hahaha,” tutur kak Sisi.

    Kak Sisi menanyakan kedudukan siapakah yang kuputuskan saat menunjukkan koreografi lagu ‘Hot’. Bahkan dia mengira aku akan mengambil posisi Mingyu dengan ledekan halusnya. Namun aku menjawab bahwa aku lebih sanggup memperagakan posisi sebagai Jeonghan SVT. Saat aku mengatakan hal itu, Kak Sisi tampak tertegun dan bertanya apakah aku tidak akan merasa insecure apabila mengambil bagian sebagai visual ‘malaikat’ Seventeen. Namun aku bersiteguh atas keputusanku tersebut. Kak Sisi mengerti lalu ia menghampiri tiga kelompok tari yang tak lama kemudian diberi uang tunai olehnya.

    “Ara, ayo cepat! Sekarang adalah waktu untukmu menampilkan keahlian tarianmu itu. Semangatlah!” tutur kak Sisi memberiku motivasi.

    Lagu Hot pun diputar. Aku menari bersama para penari yang berjumlah dua belas orang dengan susunan yakni tujuh laki-laki dan lima perempuan. Puluhan mata mengarah pada penampilan kelompokku. Hal itu membuat pupil mataku bergerak cepat, sekujur tubuh yang mulai getar getir dan kucuran keringat overproduksi. Namun kak Sisi bersorak menyemangatiku sehingga otot-otot kulitku perlahan rileks dan pandangan mata yang kini lebih teratur. Akhirnya pertunjukan tim telah berakhir dan kak Sisi menghampiri keberadaanku. 

    “Kamu keren!” ucapnya.

    Lalu kak Sisi memberi hormat dan menunjukkan ungkapan terima kasihnya pada tim tari yang telah membantu penampilanku. Tak lupa lambaian tangan perpisahan dari kak Sisi untuk mereka. Beberapa diantaranya membalas sikapnya itu. Namun hanya 8 orang dari jumlah keseluruhan. Setelah itu, kak Sisi mengajakku pergi menuju tempat lain.

    “Kita mau ke mana kak?” tanyaku ingin tahu.

    “Tentu saja kita berkeliling mencari makanan dan minuman. Saya tahu kamu butuh asupan kembali setelah capek menari kan?” balas beliau.

    Wah, kak Sisi cukup responsif terhadap situasiku sekarang. Aku sungguh senang atas kebaikan hatinya itu. Kami gegas menelusuri dan memborong tteokbokki, odeng, soda dan santapan lainnya yang cukup banyak.

    “Kak, ini kita gak kebanyakan belinya? Udah malam.. Kakak gak takut gendut kayak saya?” ujarku.

    “Hahaha.. Puas-puasin aja makannya. Karena besok dan tujuh bulan ke depan kamu akan mengikuti program diet sehat dari kakak laki-lakimu, Hoseok,” ucap kak Sisi.

    Mataku terbelalak, kedua alisku terangkat hingga mulutku terbuka tanpa sadar. “Jadi saya harus kurus supaya bisa berpartisipasi dalam acara Going Seventeen, kak?!” timpalku tak percaya. Kak Sisi mengiyakan dan mengingatkan bahwa semua itu demi realisasi cita-cita kecilku yakni seorang model wanita.

    “Kak.. Lebih baik batalkan saja rencana itu. Saya benar-benar terima kasih sudah diberi tawaran. Namun sepertinya sudah cukup sampai step ini,” ujarku.

    Aku bersandar pada sebuah bangunan, membelakangi kak Sisi sembari sibuk memainkan ponsel milikku. Tak ingin ku hiraukan kembali tawaran sebagai model wanita dalam acara Going Seventeen.

    “Hei! Tidak boleh begini.. Kemarin kan kamu sudah janji akan menuruti keinginan saya dan Hoseok. Jadi tidak ada kata menolak dan pamit undur diri,” ucap kak Sisi tegas.

    Walaupun kak Sisi berbicara tegas, aku tetap membuang muka dan menyilangkan kakiku sembari menatap layar handphone. Kak Sisi mengalihkan perhatianku dengan mengambil ponsel milikku. Wajahku memerah dan tanganku mengepal hingga tampak urat-urat nadinya menonjol dengan denyutan lebih cepat. Kak Sisi justru menyodorkan coklat yang ia ambil dari tasnya untuk aku kunyah. Aku menuruti permintaannya itu. Kemudian kak Sisi membahas alasan ia memaksaku menerima tawaran sebagai model sementara Going Seventeen yaitu ia tak ingin aku melewatkan kesempatan berharga untuk meraih cita-cita kecilku. Terutama hal itu menyangkut kebanggaan pribadi di hadapan orang-orang yang kita cintai. Ia juga meminta maaf telah mendesak diriku dalam memberikan penampilan tari di hadapan banyak orang. 

    Kak Sisi berkata bahwa ia sengaja memintaku demikian supaya aku tahu kesulitan menerima cinta orang banyak yang justru tidak peduli padaku. Saat kudengarkan penuturannya itu, aku mengusap bagian belakang kepala diikuti pundakku yang turun dan suara gemetar bak rasa bersalah menyelimuti diriku. Aku benar-benar pengecut apabila kuberikan sikap dingin pada orang yang membantu kemajuan hidupku. 

    Kemudian kak Sisi mengajakku kembali ke apartemen supaya kami lekas rehat. Namun mendadak ia menghentikan langkahnya dan berkata hendak membeli sesuatu. Beliau menyuruhku menunggu kehadirannya di tempat kami berhenti sekarang. Aku mempersilakan kak Sisi untuk segera memburu barang tersebut dan memintanya cepat kembali bila sudah selesai belanja. Kak Sisi membentuk lingkaran melalui jari jempol dan telunjuk, sementara jari-jari tangan lainnya lurus menghadap ke atas. Kak Sisi pergi jauh dari lokasi tempatku sekarang.

    Saat aku sedang berdiri bersandar di depan toko distro, seorang anak kecil bersama ibunya lewat. Lalu anak itu berkata, “Bu, dia kakak gempal yang tadi menari dengan keren.” Ibunya mendadak panik saat mendengar perkataan anaknya tersebut. Hingga beliau berulang kali mengucap maaf. Kemudian ia membawa anaknya pergi meninggalkanku. Aku mematung sejenak. Otot badanku menegang dan nyeri dada merapat kala mendalami ucapan bocah ingusan itu. “Bahkan anak kecil saja menyebutku gempal. Sungguh ironis sekali” ucapku sembari bibir yang sedikit manyun.

    Kak Sisi datang dengan tas belanja berukuran sedang. Dia tampak bingung melihatku dan bertanya tentang perasaanku sekarang. Aku menuturkan bahwa tadi seorang anak kecil memuji keterampilan dance-ku. Walaupun dia menyebutku bertubuh gempal dan hal itu membuat dadaku terasa nyeri layaknya orang patah hati.

    “Hahaha.. Itu tandanya kamu harus menguruskan badan,” ujar beliau.

    “Kak…” protesku pada kakak perempuan yang lebih tua lima tahun dariku.

    Kak Sisi meminta maaf telah menyinggung perasaanku. Namun dia berkata kejadian itu memang menggelitik perut dan mengundang tawa orang lain. Aku melirik tajam ke arah kak Sisi, lalu melangkah pergi menjauhinya. Kak Sisi berlari menghampiriku dan bertanya aku hendak pergi ke mana. 

    “Pulang,” ketusku. 

    Kak Sisi terus saja tertawa jahil sambil berucap, “Memangnya kamu sudah hafal jalannya?”

    “Sedikit,” tandasku.

    Kak Sisi tertawa dan mengejek diriku sebagai seorang yang gampang sensitif. Ia raih tanganku dan menyuruhku mengikuti langkah kaki cantiknya yang mengarah pada lokasi apartemen kami. Saat kudengar kata ‘cantik’ melalui lisannya, dahiku berkerut dan bibir bawahku kian menonjol. Kak Sisi mengabaikan rasa kesalku dan terus berjalan mendahului. Aku hanya bisa pasrah mengekor di tengah hilir mudik orang sekitar jalanan Hongdae.

    ———————————————————————

    Aku membersihkan tubuhku dahulu sebelum kak Sisi. Hal itu bukan suatu tanpa alasan. Justru kak Sisi berharap membersihkan diri setelah giliranku karena dia masih mau berlama-lama di atas kasur sejak kami sampai di apartemen.

    “Kak Sisi, saya sudah selesai mandi,” ucapku setelah dua puluh menit membersihkan diri.

    Kak Sisi menguap. Ia berkata bahwa perasaan malasnya terus mengelabui diri. Namun agar dia tetap cantik, rasa malas tidak boleh hinggap di dalam dirinya sehingga dia berjuang menahan godaan kasur yang terus mengajaknya untuk lekas beristirahat. Akan tetapi, butuh delapan menit hingga dia benar-benar pergi ke kamar mandi. Saat kulihat perilakunya itu, aku hanya menggelengkan kepala sembari mengeringkan rambut yang masih agak lembab. Kemudian kak Sisi keluar setelah 25 menit berlalu.

    “Segarnya..” ucap kak Sisi saat berjalan ke arah kasur.

    Ia mengeringkan rambut yang masih basah dengan usapan ringan. Aku bertanya pada kak Sisi tentang barang yang tadi ia beli dan mengutarakan keinginanku untuk melihat benda tersebut. Kak Sisi justru meledekku dengan ungkapan barang yang ia beli saat seorang bocah menjulukiku si gemuk yang pandai menari. 

    Mataku seketika melotot, alisku berkerut dan bibirku yang menjuih kaku tanda aku berang atas gurauan kak Sisi. Dia segera mengakhiri candaannya tersebut dan berjanji tidak akan mengulangi hal itu. Aku bertanya kembali pada kak Sisi tentang barang yang ia beli sebelum kepulangan kami. Ia pun menunjukkan sebuah dream catcher bercorak merah muda yang sontak melumpuhkan sarafku. Napasku menjadi berat dan jantung berdetak lebih cepat dari biasanya. Memori kelam yang tak ingin kuingat hadir tanpa kata permisi. Peristiwa ketika kudapati jenazah ibu yang terbaring di rumah sakit muncul di pikiranku hingga kendali tubuhku mendadak hilang layaknya orang kekurangan akal sehat.

    Aku meraung di tengah lintasan peristiwa yang terus muncul. Pacuan darah dalam jantung menghimpit hingga berjejal-jejal dan suaraku terganjal akibat tumpahan memori buruk yang tak kunjung lenyap. Ucapan yang mengalir dari mulutku hanya kata maaf dan kebodohan diriku meremehkan permintaan ibu sebelum insiden kecelakaannya. Kak Sisi mendekap erat tubuhku dan samar-samar kudengar permohonannya yang berharap aku sadar dari bayangan memori kelam saat ini.

    —————————————————-

    Aku bangun dan kulihat sekeliling. Tampak kak Sisi sedang tertidur dalam posisi duduk seraya memegang tangan kananku. Sedangkan kak Hoseok tidur tegak berhadapan dengan kak Sisi sembari memegang tangan kiriku.

    “Kak Sisi.. Kak Hoseok..” ucapku lirih.

    “Ara.. Kamu sudah bangun? Syukurlah.. Saya benar-benar khawatir dengan kondisimu. Untung Hoseok segera datang ke mari,” ungkap kak Sisi.

    Aku bertanya pada kak Sisi apakah ia menelpon kakakku itu. Kak Hoseok justru menjawab pertanyaanku dengan ungkapan rasa syukurnya karena kak Sisi enggan menelepon demi keselamatan diriku. Sudut bibirku terangkat tipis dan mata menyipit lembut ke arah kak Sisi yang seketika membuat ia tampak salah tingkah. Kak Hoseok menanyakan kabarku saat ini. Aku menjawab kondisiku sekarang masih sedikit pening.

    “Istirahatlah.. Saya akan memantau keadaanmu melalui ruang kamar lain bersama rekan dekat saya,” ucap kak Hoseok.

    Aku mengangguk pelan menanggapi ucapan kakakku itu. Kemudian Kak Hoseok meminta kak Sisi juga lekas beristirahat dengan posisi yang baik yakni rebahan di atas tempat tidur. Ia menegaskan posisi tidur sebelumnya tidak membuat seseorang nyaman terutama bagi kaum wanita.

    “Baiklah. Saya paham! Cepatlah kau keluar dari sini. Ngomong-ngomong, terima kasih atas bantuanmu yang cepat tanggap!” tutur kak Sisi dengan senyum kaku dan wajah merah bak kepiting rebus.

    Kudengar suara pintu kamar yang tertutup rapat. Kemudian kak Sisi datang menghampiriku. Dia menyuruhku lekas beristirahat dan esok hari kami berdua akan diantar pulang menggunakan mobil milik kak Hoseok. Kak Sisi juga mengatakan ia harus tidur di sampingku. Agar saat ku butuh bantuan, dia sigap menolong seketika. Aku tersenyum padanya sembari mengangguk kecil. Kami pun tidur di atas kasur yang sama dengan kak Sisi berbaring menghadap sisi kiri tubuhku.

    —————————————————

    Kudengar dering telepon yang sepertinya berasal dari telpon kak Sisi.

    “Aduh.. Siapa yang menelpon jam segini sih?” ujar kak Sisi.

    “Astaga.. Sudah jam 9 pagi,” teriak kak Sisi yang membuatku melirik ke arahnya.

    “Eh, maaf, maaf. Saya terlalu berisik ya. Sebentar ya, saya angkat telpon Hoseok dulu,” tutur beliau lagi.

    Kak Sisi keluar dari kamar, meninggalkan aku yang masih berbaring di atas kasur. Kupijat kening dengan sedikit tekanan sehingga aku bisa bangkit perlahan dari posisi sebelumnya. Ku miringkan badan ke kiri dan ke kanan, kemudian duduk bersandar pada headboard tempat tidur. Aku mengatur nafas perlahan guna menstabilkan kondisiku menjadi lebih baik. Kemudian kak Sisi mendatangi kamar dengan membawa makanan dan minuman. Rupanya Kak Hoseok membeli makanan untukku berupa telur rebus dan bubur hangat.

    Kak Sisi menawarkan bantuan menyuapiku. Namun aku menolak tawarannya tersebut. Kak Sisi menatap ke arahku dengan tatapan sedikit tajam dan kepalanya yang mendekat sembari bertanya apakah aku benar-benar sanggup? Aku memberi jawaban bahwa aku mampu sehingga beliau mengizinkanku makan sendiri sambil mengingatkanku bila sewaktu-waktu butuh bantuannya. Aku mengangguk. Kemudian kak Sisi memberiku bubur dengan sendok untuk makan. Lalu ia mengupas telur rebus dan memasukkannya ke dalam bubur yang hendak ku makan.

    “Makan yang lahap ya, cantik..” kata kak Sisi sembari tersenyum.

    Aku hanya membalas dengan senyuman heran atas kata-katanya tersebut. Lalu kusantap makanan yang telah diberikan yakni bubur dan satu buah telur rebus di dalamnya. Sedangkan kak Sisi makan dengan roti panggang. Sesekali kulihat ia menyeruput sebuah minuman yang sepertinya berisi seduhan kopi hangat. Setelah kami selesai makan dan minum, kak Sisi tampak membereskan barang-barang yang ada di kamar.

    “Kita pulang sekarang, kak?” tanyaku pada kak Sisi.

    “Iya” jawabnya singkat.

    Tiba-tiba kak Sisi mengomel saat aku hendak membantunya.

    “Eh, eh, kamu mau bantuin? Gak usah.. Mending kamu istirahat aja. Saya bisa kok sendiri” tegas beliau.

    Aku melemparkan pandangan mata sayu dengan bibir yang sedikit menurun ke bawah guna berharap ia mengizinkan aku membantu pekerjaannya. Akan tetapi kak Sisi menolak dan memintaku melepas barang yang tengah kugenggam dengan suara nyaring. Kuturuti perintahnya lalu bercokol di tepian kasur tanpa sedikitpun mengulurkan tangan. Sekitar dua puluh menit kak Sisi selesai mengemas barang-barang kami dan gegas mengajakku pulang. 

    Aku dan kak Sisi berjalan keluar dari kamar apartemen yang sebelumnya kami tempati. Kemudian kami menaiki mobil yang sudah ada kak Hoseok dan temannya di dalam kendaraan. Di tengah perjalanan, aku merasa kenalan tersebut sering curi-curi pandang ke arahku. Seketika aliran jantung berdenyut lebih cepat hingga otot tubuh terasa tegang dari ujung kepala sampai jari-jari kaki. Mengapa dia terus-menerus melihat ke arahku? Gejolak tanda tanya memenuhi isi kepala hingga aku tidak bisa mengatupkan mata sejenak di dalam mobil.

    ——————————————————

    Kami berempat turun dari mobil. Kemudian kak Hoseok dan kak Sisi membantuku masuk ke dalam rumah. Sedangkan teman kak Hoseok mengikuti dari belakang punggung kami bertiga. Aku membawakan empat gelas air putih dan menyajikannya di atas meja ruang tamu sembari meminta maaf hanya bisa menyuguhkan minuman itu.

    Kak Sisi dan kak Hoseok sama-sama tidak merasa keberatan atas hal itu karena mereka menyadari kondisi fisikku yang masih kurang stabil. Tiba-tiba kak Hoseok menyampaikan bahwa ia ingin memberitahu sesuatu padaku. Kumiringkan kepala sembari menatap lurus ke arahnya dan dahi yang sedikit berkerut. “Soal apa ini kak? Kenapa kakak senang sekali bersikap misterius..” ujarku diikuti tawa simpul dari kak Sisi. 

    Namun kak Sisi segera mengatupkan bibirnya kala mata kak Hoseok mengarah tajam padanya. Kak Hoseok memaparkan bahwa ke depannya aku akan mendapat pengawasan khusus dari dua orang coach yang bantu proses penurunan berat badanku dan terapi psikologis dari teman yang ikut berkunjung bersamanya. Rupanya orang itu adalah seorang psikiater yang mengenal sosok kakakku, batinku dalam hati.

    Coach kamu terdiri dari satu orang laki-laki dan satu orang perempuan. Coach laki-laki akan bantu terkait latihan beban fisik per minggu, sedangkan coach perempuan akan bantu mengevaluasi kondisi fisik kamu setiap kali ada sesi latihan. Latihan bersama coach dilakukan setiap hari senin s.d. jumat. Untuk hari sabtu, khusus kegiatan terapi bersama kak Baek Chung-Ho. Sedangkan hari minggu, kamu gunakan untuk kelas modeling yang dibimbing langsung oleh Sisi dan teman perempuannya,” tutur kak Hoseok sembari mempersilahkan teman psikiaternya memperkenalkan diri.

    Ia memperkenalkan diri dengan cukup detail mulai dari aktivitasnya saat ini dan bertempat tinggal di wilayah mana. Dari sesi perkenalannya itu, aku tahu dia sedang menangani klien kasus pidana. Kak Hoseok memberikanku informasi tentang identitas lengkap dua orang coach yang nantinya menemani proses latihan fisik setiap pekan. Setelah kubaca detail informasi kedua pelatihku tersebut, kak Hoseok melampirkan surat perjanjian kesepakatan bersama.

    Saat kubaca beberapa baris dalam surat tersebut, pupil mataku melebar dan segera melemparkan pandangan ke arah kakakku. “Tunggu kak, haruskah saya membubuhkan tanda tangan pada surat persetujuan ini? Tidak perlu sampai sejauh ini kan?” ucapku. 

    Kak Hoseok terdiam sejenak. Kemudian ia berucap, “Kamu orangnya labil. Lebih baik dari awal dipersiapkan seperti ini supaya kamu tidak mudah berhenti di tengah jalan.”

    Aku menghela nafas pelan. Namun, aku tak bisa membantah permintaan kakakku karena aku sudah berjanji dengan kak Sisi akan bertanggung jawab demi keberhasilan acara Going Seventeen. Aku menorehkan tanda tanganku di atas surat kesepakatan bersama setelah membaca habis isi lembarannya. Kemudian kuserahkan kertas tersebut pada kak Hoseok.

    “Sudah kan? Bolehkah sekarang saya mengerjakan aktivitas lain? Saya masih ada permintaan jasa jahit dari pelanggan toko yang harus diselesaikan,” kataku.

    Kak Hoseok berusaha keras melarangku. Namun aku bersikeras ingin mengerjakan pesanan itu hingga rahangku mengeras dan jari-jariku yang menekuk kuat akibat amukan emosi dalam dada. Kak Sisi menengahi kami berdua dan meminta kak Hoseok pulang bersama temannya. Ia akan menemaniku seharian dan akan menginap di rumahku jika diperlukan. Tanganku refleks memeluk kak Sisi dan senyuman lebar menghiasi wajahku. Kak Sisi hanya tertawa kecil usai melihat tingkah kekanak-kanakanku.

    Kak Hoseok dan temannya pun berniat pulang. Kemudian ia memberi peringatan bahwa harus melapor kepadanya jika peristiwa buruk terjadi.

    “Baiklah.. Baiklah.. Saya tahu kok. Cepatlah pergi dari sini,” ucap kak Sisi yang membuatku tertawa geli.

    Kak Hoseok menatap tajam ke arahku dan berlalu pergi bersama langkah kaki teman psikiater-nya. Kak Sisi menutup pintu rumah lalu memapah tubuhku menuju mesin jahit. Sebelum kugerakkan mesin itu, kak Sisi melemparkan pertanyaan apakah aku benar-benar sanggup atau perlu istirahat segera. Namun, aku meyakinkan kak Sisi bahwa aku baik-baik saja dan ingin cepat menuntaskan pesanan pelanggan toko. Butuh waktu sekitar 1 jam 40 menit hingga jahitan itu selesai diperbaiki.

    Kak Sisi bertepuk tangan atas pekerjaanku yang sudah selesai. Kemudian dia bertanya apa yang ingin kulakukan setelahnya. Aku bilang hendak beristirahat di kamar supaya kondisi ragaku berangsur membaik. Kak Sisi menyetujui keinginanku itu lalu menuntun ke arah tempat tidur milikku. Aku merebahkan diri, sedangkan kak Sisi duduk bersandar di atas kasur sebelah kanan dari tempatku berada.

    Tiba-tiba kak Sisi mengajakku bicara. “Ara, saya sungguh minta maaf atas kejadian sebelumnya. Saya tidak tahu kamu setakut itu berhadapan dengan gantungan dream catcher,” ujarnya dengan kepalanya yang tertunduk dan suara lirih.

    Aku hanya tersenyum tipis lalu berkata, “Saya juga tidak tahu itu akan kambuh setelah sekian lama pupus.” Kupejamkan mata dan menghela nafas dalam. Kak Sisi memintaku untuk beristirahat saja supaya batin dan fisikku berangsur pulih. Namun aku mengatakan harus menceritakan awal mula traumaku itu sehingga kelak kak Sisi bisa membantuku menghindari kejadian buruk seperti yang terjadi sebelumnya di apartemen Hongdae.

    Aku menceritakan singkat bahwa aku menemukan jasad ibu di rumah sakit setelah aku mengikuti audisi casting iklan minuman Oran-C. Aku diberitahukan perawat rumah sakit bahwa ibu sempat menggenggam sebuah gantungan dream catcher saat dia terkapar di jalan raya. Saraf mataku seketika menegang dan pandangan pada langit-langit kamar mulai dipenuhi genangan air mata. Kutarik nafas pelan lalu menghembuskannya guna berusaha melanjutkan rangkaian cerita pada kak Sisi. Kukatakan bagaimana aku merasa bersalah tak menuruti keinginan ibu yang memintaku membawa gantungan dream catcher buatannya. Aku kira ibu tidak akan keras kepala hingga menyusulku hanya untuk memberikan semangat berjuang melalui kerajinan tangannya.

    Akan tetapi, sikap masa bodoh tersebut justru membuatku kehilangan momen kebersamaan dengan ibu kembali di dunia fana ini. Suara isak tangis mulai menyeruak dalam kamar dan kak Sisi meraih tanganku dengan kaitan jemarinya yang lembut. Aku berusaha bangkit dari posisi tidur lalu mendekap tubuhnya dengan sangat kencang, melepas deru tangis yang menghimpit area dada. Dalam balutan hangat pelukan, kak Sisi mengatakan akan menemaniku hingga esok hari datang. Agar dia tak merasa was-was dengan keadaanku bila ia tega menelantarkanku seorang diri dalam rumah pribadi.

     

     

    Kreator : Rofa Sholihatunnisa (Fatuni_Shigeru)

    Bagikan ke

    Comment Closed: BAB 3 – Dukungan dan Harapan

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021