KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Self-Improvement
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » Bab 3 – Mama

    Bab 3 – Mama

    BY 24 Sep 2026 Dilihat: 3 kali
    Bab 3 - Mama_alineaku

    Mobil akhirnya berhenti di ujung jalan. Di hadapan mereka berdiri gerbang besi dengan ukiran klasik. Di sebelah dalam terdapat plang nama “Wisma Kartika”, yang ukurannya cukup besar hingga mudah terlihat dari kejauhan. Galih turun dan meminta Riri menunggu sesaat. Dia membuka gerbang tersebut dengan cekatan, lalu kembali mengendarai mobil dan menyusuri jalan tanah yang membelah lembah dan bukit pinus di kanan kirinya. Sekitar 500 meter dari gerbang, Riri melihat sebuah Landhuis berdiri anggun, tak asing namun tak terasa akrab. Penampakannya cukup berbeda dari yang dia ingat. Sebagaimana halnya rumah-rumah perkebunan jaman Belanda, fitur kolonial yang dimiliki masih dominan. Namun kini kesannya tak lagi sesuram saat ia menginap di rumah itu sekitar 15 tahun lalu. Mama telah merenovasi rumah itu besar-besaran. Kini ia tampak seperti rumah fixer upper yang sering ditonton mama di HGTV. 

     

    Galih menghentikan mobil di samping rumah. Ragu-ragu, Riri turun dan berdiri terpaku. Matanya menembus jendela rumah yang transparan. Mama. Beliau berdiri membelakangi jendela, sibuk merangkai bunga. Walaupun yang jelas terlihat adalah punggungnya, tetap saja auranya terasa cantik dan menawan. Riri bisa memastikan beliau pasti juga wangi. Gaun floral putih yang belikau kenakan terlihat serasi dengan kesibukannya menata bunga sedap malam dan Lily putih ke dalam vas. Entah kapan terakhir kali ia bertemu mama sehingga melihat beliau di hadapannya membuat mata Riri menghangat tiba-tiba. 

     

    Mama meletakkan vas ke tengah meja makan, dan memasukkan sisa-sisa batang bunga yang tak terpakai ke dalam kantong plastik. Wajah dan gerakannya sangat anggun, seolah-olah merangkai bunga merupakan pekerjaan yang hanya ditakdirkan untuk orang-orang tertentu. Riri menghela napas dengan pelan. Mas Galih sudah terlebih dahulu masuk melalui pintu belakang membawa koper Riri. ‘This is it,’ pikir Riri seraya mengayunkan langkahnya ke arah pintu depan. Dalam waktu yang bersamaan, mama juga menghampiri pintu dan membukanya. 

     

    Welcome home,” suara alto mama menyambut Riri. Sebuah senyum tipis yang jarang terlihat hadir diwajahnya. Mama memeluk Riri perlahan. Lembut, tapi dingin.

    Thanks, mum!” Riri membalas lirih. Beberapa detik kemudian mama melepas pelukannya, lalu beliau menggandeng tangan Riri dan mengajaknya ke ruang makan. Dari luar tadi Riri hanya bisa melihat rangkaian bunga Lily dan sedap malam. Ternyata meja itu sudah dipenuhi berbagai jenis kue dan jajanan yang menurut Riri berlebihan untuk dirinya seorang. Riri memandang hidangan lalu menengok mama. Beliau seakan tahu apa yang dipikirkan oleh Riri.

     

    “Tenang aja Ri…, kamu ga harus habiskan ini semua. Makan yang kamu mau, simpan yang kamu masih pengen makan, selebihnya biar dibawa pulang Galih,” mama menjelaskan.

    Riri memandang hamparan makanan di hadapannya. Ada rangkaian jajan pasar ditata di nampan bambu kecil, lengkap dengan juruh gula merah dan taburan kelapa. Ada juga perut ayam, weci, menjes dan lumpia di kelompok gorengan, sedangkan ketan bubuk, kue lumpur, dan kue mendut duduk di kelompok non gorengan. Perut Riri bersorak riang. Biasanya dia sarapan pukul 7 pagi, tapi hari ini dia hampir 2 jam terlambat dari jadwal sarapannya. 

     

    Tanpa menunggu aba-aba dari mama, Riri langsung duduk di meja makan. 

    “Cuci tangan dulu, Ri!” mama mengingatkan.

    “I’ll just use cutlery. Perut Riri udah protes, ma.” Riri meraih pisau makan dan garpu yang sudah disediakan, mengambil beberapa jenis snack, dan langsung lahap menikmati kue-kue tersebut. Mama menghela napas dengan pelan, tapi beliau mempertahankan senyumnya.

     

    “Mama ga makan?” tanya Riri setelah menelan paduan tiwul dan gatot yang rasanya sangat nostalgic. Mama menggeleng, “udah tadi, barengan sama tamu Wisma.”

    “Oya? Lagi ada yang nginep?” Tanya Riri antusias.

    “Alhamdulillah. Ngalir terus yang nginep. In fact, ada 1 tamu yang ngekos disini saking kerasannya dia dengan wisma kita,” mama tersenyum bangga. Jemarinya meraih Royal Albert di hadapan Riri, lalu memenuhinya dengan teh Melati. Tanpa sadar Riri berhenti mengunyah. Ia memperhatikan gerakan tangan dan jemari mama yang luwes bin elegan. Cincin dan gelang emas yang dipakai mama tergolong sederhana, desainnya tidak berlebihan, hanya dihiasi sedikit batu permata berukuran kecil. Tapi mama adalah mama. Segala yang dikenakan tampak berkelas dan anggun. Setiap gerakannya disertai air muka yang tenang, postur tegak, dan guratan senyum tipis yang hampir tak terdeteksi. Riri melirik tangannya sendiri. Polos, tak berhias apapun, kecuali sayatan dan luka kecil di sana sini akibat packing dan pindahan beberapa hari lalu. Kukunya juga kusam tak terawat, kalah dari kuku jari tangan wanita berusia lebih dari 60 tahun di hadapannya.

     

    “Nanti malam mama kenalkan kamu sama tamu-tamu Wisma. Kita dinner bareng, ya?” mama meletakkan cangkir berisi teh melati yang baru dituangnya di hadapan Riri, lalu sepotong kue Lumpur di piringnya yang hampir kosong. “Thanks,” jawab Riri, tak yakin dia harus mengatakan apa. 

     

    Mama tersenyum lembut dan berkata, “sekarang mama mau ke pasar besar, diantar Galih. Mama perlu belanja untuk dinner nanti malam. Riri mau request masakan tertentu?” 

    Riri tampak berpikir, kemudian dia menggeleng cepat. “Belum kepikiran, nih. Mungkin ntar kalo udah beberapa hari disini bakal pengen sesuatu.”

    Mama tergelak. “Oke deh, enjoy your breakfast! Mama pergi dulu kalau gitu ya. Oya, kalau mau mandi dan istirahat masuk aja ke kamar di belakang kamu tuh. Kopermu udah di dalam. Lemarinya relatively kosong, but I’ve put some blankets and towels for you. Do whatever you like. That’s your room.” Mama meraih tas tangan di sampingnya lalu beranjak keluar rumah menuju mobil yang tadi dikendarai Riri. Dari tempat dia duduk, Riri dapat melihat semua Gerakan mama. Galih yang sudah stand by disisi mobil dengan sigap membuka pintu belakang, mengangguk hormat pada mama tanpa berkata-kata, lalu menutup pintu mobil perlahan setelah memastikan mama duduk dengan nyaman. Tak lama kemudian, mobil menghilang ditelan pepohonan.

     

    Riri memperhatikan hidangan sarapan yang belum dia selesaikan. Sepotong kue lumpur dan teh melati yang masih berasap tampak begitu anggun diwadahi Royal Albert Old Country Roses set. Riri mendengus kesal, “this is just too much!” 

    Riri segera berdiri, meraih kue lumpur dengan tangan yang belum dicuci dan memasukkan potongan besar tersebut utuh ke dalam mulutnya. Teh melati yang dituang mama ditinggalkan begitu saja. Ia beranjak ke kamar. Hari ini dia ingin tidur sepuasnya. Mungkin dia akan keluar saat makan siang nanti. Kalau bangun!

     

     

    Kreator : Hilda Candra P. K. Putri (HC Putri)

    Bagikan ke

    Comment Closed: Bab 3 – Mama

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021