Mobil akhirnya berhenti di ujung jalan. Di hadapan mereka berdiri gerbang besi dengan ukiran klasik. Di sebelah dalam terdapat plang nama “Wisma Kartika”, yang ukurannya cukup besar hingga mudah terlihat dari kejauhan. Galih turun dan meminta Riri menunggu sesaat. Dia membuka gerbang tersebut dengan cekatan, lalu kembali mengendarai mobil dan menyusuri jalan tanah yang membelah lembah dan bukit pinus di kanan kirinya. Sekitar 500 meter dari gerbang, Riri melihat sebuah Landhuis berdiri anggun, tak asing namun tak terasa akrab. Penampakannya cukup berbeda dari yang dia ingat. Sebagaimana halnya rumah-rumah perkebunan jaman Belanda, fitur kolonial yang dimiliki masih dominan. Namun kini kesannya tak lagi sesuram saat ia menginap di rumah itu sekitar 15 tahun lalu. Mama telah merenovasi rumah itu besar-besaran. Kini ia tampak seperti rumah fixer upper yang sering ditonton mama di HGTV.
Galih menghentikan mobil di samping rumah. Ragu-ragu, Riri turun dan berdiri terpaku. Matanya menembus jendela rumah yang transparan. Mama. Beliau berdiri membelakangi jendela, sibuk merangkai bunga. Walaupun yang jelas terlihat adalah punggungnya, tetap saja auranya terasa cantik dan menawan. Riri bisa memastikan beliau pasti juga wangi. Gaun floral putih yang belikau kenakan terlihat serasi dengan kesibukannya menata bunga sedap malam dan Lily putih ke dalam vas. Entah kapan terakhir kali ia bertemu mama sehingga melihat beliau di hadapannya membuat mata Riri menghangat tiba-tiba.
Mama meletakkan vas ke tengah meja makan, dan memasukkan sisa-sisa batang bunga yang tak terpakai ke dalam kantong plastik. Wajah dan gerakannya sangat anggun, seolah-olah merangkai bunga merupakan pekerjaan yang hanya ditakdirkan untuk orang-orang tertentu. Riri menghela napas dengan pelan. Mas Galih sudah terlebih dahulu masuk melalui pintu belakang membawa koper Riri. ‘This is it,’ pikir Riri seraya mengayunkan langkahnya ke arah pintu depan. Dalam waktu yang bersamaan, mama juga menghampiri pintu dan membukanya.
“Welcome home,” suara alto mama menyambut Riri. Sebuah senyum tipis yang jarang terlihat hadir diwajahnya. Mama memeluk Riri perlahan. Lembut, tapi dingin.
“Thanks, mum!” Riri membalas lirih. Beberapa detik kemudian mama melepas pelukannya, lalu beliau menggandeng tangan Riri dan mengajaknya ke ruang makan. Dari luar tadi Riri hanya bisa melihat rangkaian bunga Lily dan sedap malam. Ternyata meja itu sudah dipenuhi berbagai jenis kue dan jajanan yang menurut Riri berlebihan untuk dirinya seorang. Riri memandang hidangan lalu menengok mama. Beliau seakan tahu apa yang dipikirkan oleh Riri.
“Tenang aja Ri…, kamu ga harus habiskan ini semua. Makan yang kamu mau, simpan yang kamu masih pengen makan, selebihnya biar dibawa pulang Galih,” mama menjelaskan.
Riri memandang hamparan makanan di hadapannya. Ada rangkaian jajan pasar ditata di nampan bambu kecil, lengkap dengan juruh gula merah dan taburan kelapa. Ada juga perut ayam, weci, menjes dan lumpia di kelompok gorengan, sedangkan ketan bubuk, kue lumpur, dan kue mendut duduk di kelompok non gorengan. Perut Riri bersorak riang. Biasanya dia sarapan pukul 7 pagi, tapi hari ini dia hampir 2 jam terlambat dari jadwal sarapannya.
Tanpa menunggu aba-aba dari mama, Riri langsung duduk di meja makan.
“Cuci tangan dulu, Ri!” mama mengingatkan.
“I’ll just use cutlery. Perut Riri udah protes, ma.” Riri meraih pisau makan dan garpu yang sudah disediakan, mengambil beberapa jenis snack, dan langsung lahap menikmati kue-kue tersebut. Mama menghela napas dengan pelan, tapi beliau mempertahankan senyumnya.
“Mama ga makan?” tanya Riri setelah menelan paduan tiwul dan gatot yang rasanya sangat nostalgic. Mama menggeleng, “udah tadi, barengan sama tamu Wisma.”
“Oya? Lagi ada yang nginep?” Tanya Riri antusias.
“Alhamdulillah. Ngalir terus yang nginep. In fact, ada 1 tamu yang ngekos disini saking kerasannya dia dengan wisma kita,” mama tersenyum bangga. Jemarinya meraih Royal Albert di hadapan Riri, lalu memenuhinya dengan teh Melati. Tanpa sadar Riri berhenti mengunyah. Ia memperhatikan gerakan tangan dan jemari mama yang luwes bin elegan. Cincin dan gelang emas yang dipakai mama tergolong sederhana, desainnya tidak berlebihan, hanya dihiasi sedikit batu permata berukuran kecil. Tapi mama adalah mama. Segala yang dikenakan tampak berkelas dan anggun. Setiap gerakannya disertai air muka yang tenang, postur tegak, dan guratan senyum tipis yang hampir tak terdeteksi. Riri melirik tangannya sendiri. Polos, tak berhias apapun, kecuali sayatan dan luka kecil di sana sini akibat packing dan pindahan beberapa hari lalu. Kukunya juga kusam tak terawat, kalah dari kuku jari tangan wanita berusia lebih dari 60 tahun di hadapannya.
“Nanti malam mama kenalkan kamu sama tamu-tamu Wisma. Kita dinner bareng, ya?” mama meletakkan cangkir berisi teh melati yang baru dituangnya di hadapan Riri, lalu sepotong kue Lumpur di piringnya yang hampir kosong. “Thanks,” jawab Riri, tak yakin dia harus mengatakan apa.
Mama tersenyum lembut dan berkata, “sekarang mama mau ke pasar besar, diantar Galih. Mama perlu belanja untuk dinner nanti malam. Riri mau request masakan tertentu?”
Riri tampak berpikir, kemudian dia menggeleng cepat. “Belum kepikiran, nih. Mungkin ntar kalo udah beberapa hari disini bakal pengen sesuatu.”
Mama tergelak. “Oke deh, enjoy your breakfast! Mama pergi dulu kalau gitu ya. Oya, kalau mau mandi dan istirahat masuk aja ke kamar di belakang kamu tuh. Kopermu udah di dalam. Lemarinya relatively kosong, but I’ve put some blankets and towels for you. Do whatever you like. That’s your room.” Mama meraih tas tangan di sampingnya lalu beranjak keluar rumah menuju mobil yang tadi dikendarai Riri. Dari tempat dia duduk, Riri dapat melihat semua Gerakan mama. Galih yang sudah stand by disisi mobil dengan sigap membuka pintu belakang, mengangguk hormat pada mama tanpa berkata-kata, lalu menutup pintu mobil perlahan setelah memastikan mama duduk dengan nyaman. Tak lama kemudian, mobil menghilang ditelan pepohonan.
Riri memperhatikan hidangan sarapan yang belum dia selesaikan. Sepotong kue lumpur dan teh melati yang masih berasap tampak begitu anggun diwadahi Royal Albert Old Country Roses set. Riri mendengus kesal, “this is just too much!”
Riri segera berdiri, meraih kue lumpur dengan tangan yang belum dicuci dan memasukkan potongan besar tersebut utuh ke dalam mulutnya. Teh melati yang dituang mama ditinggalkan begitu saja. Ia beranjak ke kamar. Hari ini dia ingin tidur sepuasnya. Mungkin dia akan keluar saat makan siang nanti. Kalau bangun!
Kreator : Hilda Candra P. K. Putri (HC Putri)
Comment Closed: Bab 3 – Mama
Sorry, comment are closed for this post.