Setelah tiga hari tidak masuk sekolah karena membantu Bapak bekerja, akhirnya hari ini Suli masuk sekolah lagi dengan senyum yang sangat ceria. Suli berada di kelas empat Sekolah Dasar Negeri 1 Wetan Kali.
Suli bersekolah dengan gratis dari pemerintah untuk masyarakat yang kurang mampu, karena di sekolah Suli termasuk dalam golongan orang yang tidak mampu. Meskipun biaya sekolah gratis, tapi untuk beli buku dan acara sekolah tetap ada biaya yang harus dia bayar. Apalagi sekolah saudaranya yang tidak ditanggung pemerintah harus mengeluarkan biaya setiap bulan untuk membayar SPP atau iuran lainnya.
Walaupun terkadang Suli sering mendengar ejekan teman-teman soal keluarganya, dia tidak pernah ambil pusing dan terus semangat bersekolah untuk meraih cita-citanya menjadi seorang guru. Cita-cita anak desa yang gemar belajar dan sering mendapatkan nilai bagus, walau terkadang lebih nyaman untuk melanjutkan hidup ketimbang memiliki cita-cita, akan tetapi tak bisa meraihnya karena kondisi hidup yang harus berjuang untuk mencari makan. Tapi, bagi Suli memiliki pemikiran untuk memiliki cita-cita adalah sebuah kebahagian baginya. Daripada harus memikirkan cara untuk meraih cita-cita itu, Suli memilih untuk berjuang bersama cita-citanya. Entah akan terwujud atau tidak, bukan tanggung jawabnya. Yang harus Suli lakukan hanyalah berikhtiar sebisa mungkin dan sebaik mungkin. Untuk hasilnya adalah milik Allah.
Setiap pagi, sebelum Suli berangkat ke sekolah, dia harus membantu ibunya memasak dulu untuk di jual di pasar. Tidak hanya memasak, dia juga mengambil air di sumur dengan jarak lima meter dari rumah. Dia menggunakan dua buah ember bekas cat dari tempat bangunan yang dulu bapaknya bawa saat menjadi kuli bangunan. Tubuhnya yang kecil memikul dua ember yang tingginya sampai ke pinggang dan besarnya melebihi badannya sendiri. Walaupun terlihat sempoyongan, Suli tak pernah berhenti dan terus berjalan membawa air dengan harapan bisa memenuhi kebutuhan keluarganya.
Kadang, saat hari Minggu, Suli juga menjual air kepada tetangga depan rumahnya yang jika kemarau datang sumur di rumah Bu’e Ti (panggilan Suli untuk tetangga depan rumahnya yang dari kalangan terpandang) juga kering. Maka dari itu, saat hari libur, Suli akan ngangsu (ambil air untuk di jual) di rumah Bu’e ti. Terkadang bisa lima pikul (berisi dua ember cat), kadang pernah sampai delapan pikul jika anak-anak Bu’e ti pulang. Harga sepikulnya ia jual seharga 500 rupiah. Kadang dengan baik hati Bu’e Ti suka kasih lebih atau kasih Suli pulang dengan membawa makanan. Uang hasil ngangsu dia tabung untuk lebaran, agar saat lebaran Suli bisa kasih uang jajan ke adik kesayangannya.
Selesai masak, Suli akan mengemas semua masakannya ke dalam kotak sayur untuk dibawa Bapak menggunakan sepeda menuju pasar. Tak hanya itu saja, Suli juga mencuci semua panci-panci bekas memasak tanpa terkecuali untuk memastikan dapur rumahnya bersih sebelum dia berangkat sekolah agar ibunya tidak kelelahan karena membersihkan panci-panci itu saat pulang jualan nanti. Setelah beberes, Suli harus membantu adik kecilnya yang masih berusia enam tahun untuk mandi, makan, dan bersiap pergi ke rumah bibinya untuk dititipkan di sana karena rumah akan kosong.
Suli membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk sampai di sekolahnya. Dimulai pukul 06.30 sampai ke sekolah 06.50 selalu saja 10/5 menit sampai sekolah sebelum pintu kelas ditutup oleh gurunya. Apalagi jika dia memiliki jadwal piket kelas, biasanya dia akan lari menuju sekolah agar bisa lebih cepat sampai dan membantu temannya membersihkan kelas bersama.
Setiap hari Suli melakukan kegiatan itu tanpa berkeluh kesah dan selalu dengan senyum yang ceria, terkadang teman temannya suka heran sama dia, kenapa harus lari kencang seperti itu, bukankah bisa berangkat sekolah lebih awal.
“Aku tidak bisa berangkat lebih awal karena waktuku sudah banyak aku habiskan di rumah untuk membantu Ibu,” jawab Suli kepada temannya yang juga ikut membersihkan kelas hari itu.
Begitulah rutinitas Suli setiap pagi sebelum berangkat sekolah yang cukup membuat dia mandi keringat walau sudah mandi pagi. Sedangkan semua Kakak Suli sudah berangkat ke sekolah bersama Ibu dan Bapak tadi pagi, sekalian pergi membawa dagangan ke pasar. Mereka semua juga ikut membantu membawakan masakan-masakan ibunya. Semua memiliki tugas masing-masing yang tidak bisa diwakilkan, apalagi tidak dikerjakan. Karena itu bisa membuat yang lainnya jadi ketambahan kerjaan dan akan sangat melelahkan nantinya.
Seperti kata pepatah bahwa “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing,” yang artinya: Segala beban dan tanggung jawab akan terasa lebih ringan dan mudah dihadapi jika dikerjakan secara bersama-sama atau melalui kerja sama.
Suli terkejut dan tersadar saat dia melihat jam dinding di depan Bank BRI.
“Wuahhhh jan telat aku ni! Wes meh jam 7 ki, piye ya?”
Suli berlari kencang, sedangkan Pak Guru sudah masuk ke dalam kelasnya.
“Pagi anak-anak, apa kabare hari ini? Semua masuk, kan? Absen dulu, nggih.”
“ Ya,” semua muridnya menjawab, termasuk Suli yang akhirnya sampai ke sekolah sebelum gurunya masuk kedalam kelas.
“Oh, Suli sudah masuk toh?” tanya Pak Guru.
“Iya Pak, mohon maaf nggih.”
“Ndak papa, yang penting harus tetap sekolah ya. Jangan gak sekolah, nanti kita jadi anak apa, anak-anak?”
“Anak yang bodoh Pak Guru,” jawab mereka serentak dengan semangat pagi yang menggebu-gebu.
“Anak -anak?”
“Nggih, Pak Guru.” Semua kompak menjawab dengan suara yang sangat bersemangat, lagi membuat Pak Guru terus saja tersenyum.
Pelajaran berlangsung dengan penuh riung karena hari ini mata pelajaran yang diajarkan adalah matematika. Siapa saja yang mendengar pelajaran matematika pasti akan berteriak kesal karena harus belajar menggunakan otak mereka, hampir semua anak tidak menyukai pelajaran itu, tapi tidak dengan Suli, dia sangat menyukai matematika dan justru mata pelajaran itu sangat dia kuasai, makanya saat membantu ibunya berdagang, Suli dengan cekatan dan terampil menghitung apa saja yang di beli pelanggannya. Kepintarannya sangat di sukai para pelanggannya yang membuat mereka tidak lama menunggu. Tidak hanya itu Suli juga cukup pintar di kelas bahkan dalam semua mata pelajaran.
Selesai sekolah Suli bergegas langsung ke pasar untuk membantu berjualan, karena bapaknya sudah pergi ke sawah untuk bekerja sebagai kuli cangkul di sawah tetangganya. Biasanya jam 1 siang dagangan ibunya sudah habis, tapi hari ini lumayan sepi karena tak banyak orang yang ke pasar untuk belanja, karena pasar kampung Wetan kali memang hanya akan rame saat ketemu hari Wage dan juga Pahing, hari pasaran jawa yang masih sering digunakan untuk menentukan banyak hal bahkan sampai ke rezeki dan juga jodoh. Sedangkan hari ini masuk di hari Legi dimana biasanya pasar Karangayu lebih rame dibandingkan pasar di sini.
Sampai di pasar jam 11 lebih dan Suli melihat sayuran serta nasi ibunya masih banyak. Suli menemani ibunya berjualan sampai jam 4 sore saat pasar sudah tutup, dan ternyata dagangan ibu tetap saja tidak bisa habis terjual.
Biasanya saat sepi tidak ada yang beli, Suli menggunakan waktu itu untuk belajar pelajaran yang tadi diajarkan oleh pak guru di sekolah. Karena bagi dia belajar bisa dimanapun tempatnya, Suli tidak pernah malu untuk melakukannya, terkadang saat di sawah bersama bapaknya kerja dia juga belajar, juga di kebun saat bibinya menyuruhnya menggembala kambing digunakan waktunya untuk belajar, saat memotong sayuran untuk dagangan ibunya dia juga sambil belajar, biasanya saat tangannya tak bisa membalik buku maka yang dia lakukan adalah menghafal soal dan jawabannya.
Minat Suli dalam belajar sangat membuat bapak dan ibunya bangga sekali, tidak hanya pintar Suli juga pernah beberapa kali ikut lomba sekolah dan menjadi juara, walau jarang mendapatkan juara satu tapi paling tidak dia bisa masuk tiga besar, saingan Suli saat lomba bukan dari kalangan sembarang orang melainkan semua memiliki latar belakang yang terpandang dan bahkan tidak di pungkiri semua ikut les tambahan di luar sekolah, sedangkan Suli hanya mengandalkan ingatan dan kepercayaan dirinya saja.
Suli anak yang luar biasa dalam hal ingin belajar apapun itu, kata temanya walau temannya suka melihat dia dengan wajah yang kasihan karena suka belajar di sembarang tempat, tetapi mereka tidak pernah melihat Suli bersedih, tapi justru itu membuat Suli sangat senang, karena belajar tidak harus di rumah atau di sekolah, semua tempat bisa jadi meja belajar kita, asalkan kita mau melakukannya, kegigihan dan semangatnya dalam menuntut ilmu sungguh sangat luar biasa di bandingkan kakak laki-lakinya.
Setiap Suli merasa sangat lelah dan sangat pening atau pusing mengerjakan pelajaran dan sulit mencerna penjelasan yang di berikan gurunya, dia akan bertanya terus kepada gurunya sampai dia mengerti, dia selalu ingat pesan guru ngajinya bahwa :
”Ta’allamuu wa allimuu wa tawaadhu’u li mu’allimiikum wa layalaw li mu’allimiikum.”
”Belajarlah kamu semua, dan mengajarlah kamu semua, dan hormatilah guru-gurumu, serta berlaku baiklah terhadap orang yang mengajarkanmu.” (HR. Tabrani).
Hadist itu menjadi penyemangat bagi Suli dalam menuntut ilmu, “semangat, semangat, semangat.”
Ucapan yang selalu Suli katakan kepada dirinya sendiri dan tak lupa dia juga suka membaca hadist ini:
“Barangsiapa menempuh jalan menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan jalannya untuk menuju surga.” (HR. At Tirmidzi)
“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim. Laki-laki dan muslim perempuan.” ( HR. Ibnu Majah)
Kreator : Siti Purwaningsih (Nengshuwartii)
Comment Closed: BAB 3 – PERJUANGAN UNTUK SEKOLAH
Sorry, comment are closed for this post.