
Malam perlahan menyelimuti rumah yang terlihat cukup sederhana, membungkusnya dalam keheningan yang menenangkan. Cahaya lampu redup menerangi ruangan kecil yang dipenuhi perabot seadanya, sementara suara jangkrik diluar mengiringi sunyinya malam.
Di sudut kamar, beberapa gambar hasil coretan tangan kecil menempel miring di dinding. Sementara aneka mobil-mobilan tergeletak di lantai begitu saja tidak jauh dari sang pemilik.
Di atas kasur yang sederhana, di balik selimut tipis, seorang anak laki-laki berusia lima tahun tampak memejamkan mata.
Tepukan lembut di punggung kecil itu perlahan mengantarkannya menuju alam mimpi.
Setiap malam, Maru selalu menidurkan putra kecilnya sebelum akhirnya ia sendiri ikut terlelap. Sebuah kebiasaan sederhana yang tanpa disadari telah menjadi bagian paling berharga dalam hidupnya
“Mar…”
Suara lembut seorang perempuan tua renta terdengar memanggil. Memecah keheningan malam di rumah itu.
Untuk sesaat, Maru menoleh ke arah asal suara.
Perempuan tua itu berdiri sambil melambaikan tangan dari balik pintu kamar yang sedikit terbuka. Melihatnya, ia pun segera beranjak dan duduk di sisi ranjang.
Sebelum sempat berdiri untuk melangkah keluar kamar, Maru menatap sang buah hati. Seolah memastikan kalau makhluk kecil itu sudah terlelap dalam tidurnya.
Di ruang tengah, perempuan tua itu mengusap ruang kosong di sampingnya memberi isyarat pada Maru untuk duduk.
“Kemarilah. Ada sesuatu yang ingin Ibu bicarakan,” ucapnya.
Maru duduk bersila di atas lantai yang beralaskan karpet plastik.
“Tadi Bu Marni kemari. Dia menanyakan perihal uang arisannya…” ujarnya pelan.
Mendengar itu, Maru menghela nafas. Ia tentu tahu apa maksud dari perkataan ibunya itu.
“Bu …” lirih Maru pelan.
“Saat ini Maru hanya punya uang buat bekal jajan Andri saja selama Maru belum mendapat pekerjaan. Untuk membayar uang arisan orang satu kampung yang Mawar bawa pergi, Maru benar-benar belum ada,” jawabnya sambil menundukkan pandangan, seolah tak berani menatap wajah dari sosok renta di sampingnya.
Di dalam hati, Maru benar-benar merasa malu pada ibunya. Ia tahu sejak Mawar membawa kabur uang itu. Satu per satu orang datang ke rumahnya hanya untuk menagih dan mempertanyakan keberadaan Mawar.
Setiap ketukan di pintu seolah menjadi pengingat bahwa ibunya ikut menanggung beban akibat kesalahan yang bukan dilakukannya.
“Dan mengenai Mawar, kau benar-benar tidak tahu dimana dia?” tanya ibunya menatap lekat wajah putranya.
Maru menggeleng pelan tanpa suara.
“Lalu, bagaimana hasilnya kemarin? Kau mendapatkan pekerjaannya?” tanya ibunya pelan.
Ucapan dan nada bicaranya begitu hati-hati, seolah khawatir setiap kata yang diucapkan akan melukai hati putra bungsunya itu.
Maru menggeleng kembali. ”Mungkin belum rejekinya, Bu.”
Perempuan tua renta itu mengangguk pelan, lalu menepuk pundak Maru.
“Ibu mengerti. Bersabarlah,” ucapnya sambil bangkit dari duduknya.
Untuk sejenak, perempuan tua renta itu memandang wajah putranya dengan penuh rasa iba, sebelum akhirnya ia melangkah menuju kamarnya meninggalkan Maru di ruang tengah seorang diri.
Maru menghela nafas panjang, dengan ragu ia mengangkat wajahnya, pandangannya jatuh pada punggung renta yang mulai perlahan menghilang di balik pintu.
“Maafkan Maru, Bu,” lirihnya pelan.
Dengan perlahan, Maru bergeser ke belakang. Kepalanya ia sandarkan di dinding. Tanpa sadar matanya jatuh pada tas ransel yang sejak tadi sore belum disentuhnya.
Ia bergerak meraih tas ransel itu lalu mengambil ponsel di dalamnya. Dan, saat layar diusap, wajah Maru tampak merekah.
Ayra : “Malam, Mar. Bagaimana hari ini?”
Maru mulai mengetik.
Maru : “Malam Juga, Ra. Hari ini aku baik-baik saja. Sekarang ada di rumah.”
Pesan terkirim. Tidak lama, pesan dari Ayra muncul lagi.
Ayra :”Oh ya, Anakmu baik-baik saja di sana?”
Maru mengerutkan dahi, dengan santai ia kembali membalas.
Maru :”Ya , dia baik…dan sekarang lagi tidur”
Maru menaruh ponselnya dilantai, ia meraih kembali ranselnya, hendak mengambil sebungkus rokok dari dalam.
Suara notifikasi kembali terdengar. Maru kembali meraih ponselnya cepat, lalu membuka pesan yang baru masuk.
Ayra : “Dia gak nanyain ibunya?”
Maru mengetik balasan singkat, lalu mengirimkannya.
Maru : “Gak,”
Setelah pesannya terkirim, Maru terdiam. Ia menggigit bibir bawahnya, seolah sedikit ragu untuk kembali mengetik. Entah kenapa, ingatannya melayang pada mimpinya di bus tadi siang. Dan rasa penasaran pun perlahan tumbuh di benaknya.
Untuk sesaat ia hanya menatap layar kecil didepannya seakan sedang menimbang sesuatu.
Setelah mengumpulkan sedikit keberanian, jemarinya mulai bergerak diatas layar. Dan akhirnya satu pesan berhasil ia ketik.
Dengan hati-hati tanda send pun ditekannya.
Maru :” Ra, boleh minta sesuatu gak?”
Begitu pesan itu terkirim, Maru segera meletakkan ponselnya di lantai.
Dadanya berdebar pelan, sementara pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan tentang jawaban apa yang akan Ayra berikan nanti.
Maru menghisap rokoknya yang tadi sudah ia nyalakan, asap putih pun mengepul di atas kepalanya. Ia melirik ponselnya. Lalu segera mengambilnya kembali. Ia menarik nafasnya dalam-dalam sebelum kembali mengusapnya.
Saat layar dibuka, wajahnya seketika meredup.
Tidak ada pesan balasan.
Genggaman tangan pada layar kecil itu pun semakin erat. Pandangannya tak lepas dari layar ponsel, seakan khawatir sesuatu akan terlewatkan.
Tidak lama, Suara notifikasi pun terdengar lagi. Ia segera membukanya.
Ayra : “Apa?Asal jangan duit. Aku lagi kanker (Kantong kering) soalnya 😩”
Maru tersenyum lega. ia segera mengetik kembali.
Maru :”Aku, boleh minta fotomu gak?”
Pesan terkirim, namun
Tidak ada balasan.
Maru melihat ke arah “tanda pesan sudah dibaca’’ di samping pesannya.
Ketegangan mulai menyelimuti pikirannya. Ia kembali menghisap rokoknya cepat. Dan tepat saat itu, pesan balasan muncul di layar.
Ayra :” Buat apa?Buat nakutin kecoa di rumahmu atau buat dijadikan tumbal pesugihan?😏”
Sekali lagi pesan Ayra membuat maru tersenyum, seiring perasaan nya yang mulai kembali ringan.
Maru kembali mengetik cepat.
Maru :” Hanya penasaran, sudah bertahun-tahun kita tidak bertemu”
Belum lama pesan itu terkirim. Maru dengan cepat kembali mengetik. Lalu buru-buru mengirimkannya.
Maru : “Itu pun kalau boleh”
Beberapa menit berlalu, tidak ada pesan balasan. Dengan sabar ia menunggu. Dan notifikasi pun kembali muncul.
Dengan pelan ia mengusap layar ponselnya, bibir Maru merekah saat melihat sebuah foto muncul di layar ponselnya. Diikuti pesan lain yang datang.
Ayra: “Itu fotoku, sengaja pake filter biar kalau kau mau nyantet atau masukin aku ke list tumbal pesugihan, setannya jadi bingung”
Tanpa sadar sudut bibir Maru kembali terangkat lebih lebar saat membaca pesan itu.
Maru : “Ada – ada aja kamu, Ra.”
Maru menggeleng pelan.
Baru saja saat ia hendak mulai mengetik, pesan lain muncul lagi.
Ayra : “By the way, kamu masih gak tahu Mawar dimana?”
Senyum di wajah Maru seketika menghilang, saat ia membaca nama seseorang terselip di sana.
Maru tidak langsung membalas. Jarinya menggantung begitu saja diatas layar seakan mencari jawaban yang tepat untuk ia ketik.
Belum sempat satu huruf pun ia ketik, tiba-tiba ponselnya bergetar. Sebuah panggilan masuk memenuhi layar.
Maru membeku.
Tatapannya terpaku pada nama yang tertera di layar. Dadanya seketika berdegup lebih kencang.
“Mawar….”
Dengan gerakan yang nyaris ragu, jarinya berhenti tepat di atas ikon hijau. Hatinya terus menimbang. Antara mengangkatnya atau menghiraukannya.
Jika ia mengangkat panggilan itu maka luka yang berusaha ia kubur selama ini mungkin akan terbuka kembali. Tapi jika ia menghiraukan panggilan itu maka kesempatan untuk mengetahui keberadaannya akan hilang begitu saja.
Maru memejamkan mata sejenak. Setelah menarik nafas panjang, dengan perlahan jarinya menggeser tanda ikon hijau di layar ponsel.
“Hai Mar, Gimana kabarmu?”
Di layar, wajah seorang wanita muncul.
Maru terdiam. Dadanya terasa sesak kembali, mendengar sapaan yang terkesan ringan, seolah si pemilik suara di seberang sana tak pernah meninggalkan luka, pengkhianatan, maupun tangis yang masih membekas.
“Baik, ada apa?” Tanya Maru dingin.
“Dimana Andri? Aku ingin melihatnya?” Tanya wanita itu.
Untuk sesaat Maru melirik pintu kamar tempat buah hatinya tertidur.
“Dia tidur, kalau mau bicara besok siang saja” Jawabnya ketus.
Wanita itu mengangguk, “Oh iya, aku menelepon hanya ingin bilang kalau aku akan menjemput Andri untuk ikut tinggal bersamaku”
Nafas Maru seketika tercekat. Rahangnya langsung mengeras. Sementara bola matanya membesar sempurna.
Ucapan Mawar barusan seakan menghantam kepalanya tanpa ampun.
“Selama beberapa bulan ini kau kemana saja? Baru ingat punya anak sekarang?” cibir Maru.
Belum sempat Mawar membalas, Maru kembali bicara sambil menekan emosi didada.
“Saat kau pergi dan saat kau melakukan perselingkuhan itu kau bahkan tidak ingat pada anakmu?”
Wajah Mawar di layar tampak mengeras, “Kau bilang apa? Mar, aku ibunya. Aku berhak atas anakku. Lagi pula apa yang aku lakukan itu semua karena kamu juga. Asal kau tahu, aku selingkuh itu semua juga karenamu”
Maru tersenyum sinis, “Jika kau menginginkan anakmu datanglah dengan suamimu yang sekarang. Dan minta maaflah pada anak kita, Mawar”
“Suami?Suami apa maksudmu. Aku bahkan belum menikah lagi….” Bantah nya.
“Jangan kau pikir aku goblok dan bodoh. Mawar, aku tahu malam itu. Malam dimana saat kau meneleponku, kau itu sedang dirias. Meskipun saat itu kau tidak memperlihatkan wajahmu sepenuhnya tapi aku tidak buta, aku tahu malam itu adalah malam pernikahanmu dengan dia. Malam pernikahanmu dengan selingkuhanmu. Kau bahkan menikah setelah satu minggu aku menjatuhkan talak.”
Mawar terkekeh, “Kau menuduhku?, apa kau punya bukti?” Ujarnya dengan nada menantang. “Asal kau tahu, malam itu aku memang tidak memperlihatkan wajahku sepenuhnya, bukan karena sedang dirias seperti yang kau tuduhkan, tapi karena aku sedang menangisi perpisahan kita”
Mendengar itu, emosi maru semakin naik. Jemarinya yang memegang ponsel kini semakin menegang.
“Berhenti berpura-pura,” suaranya rendah tetapi penuh penekanan. “Aku tidak akan menyerahkan Andri padamu. Dan jika kau ingin menemuinya datanglah bersama si brengsek itu. Berdirilah di depan anakmu, lalu minta maaf atas semua yang sudah kalian lakukan”
Tanpa memberi kesempatan Mawar menjawab, Maru langsung mematikan panggilannya.
Hening!
Nafas Maru masih memburu. Dadanya naik turun menahan gejolak yang sejak tadi berusaha ia bendung. Di balik kebenciannya, ia sadar satu hal yang paling menyakitkan.
Mawar tetap ibu Andri. Ibu kandung dari putra kecilnya.
Cepat atau lambat perempuan itu memiliki hak untuk menemui putranya. Pikiran itulah yang membuat dadanya terasa sesak sekaligus takut.
Bukan karena takut pada Mawar tapi ia takut kalau harus kehilangan putra kecilnya.
Ia tidak sanggup membayangkan Andri harus kembali hidup bersama seseorang yang sudah menghancurkan keluarganya.
Drrtt…
Layar ponsel kembali menyala.
Maru melirik ponselnya sesaat. Sebuah notifikasi pesan muncul. Namun kali ini ia sudah tidak memiliki energi untuk membukanya. Maru mengambil ponsel itu lalu menonaktifkannya. Kemudian menaruhnya di atas meja.
Malam ini, ia tidak ingin mendengar suara apapun. Maru menghembuskan nafas panjang, lalu melangkah menuju kamar putranya.
Ia duduk ditepi ranjang. Jarinya mengusap lembut rambut putranya, seolah memastikan anak itu benar-benar masih berada disisinya.
“Bapak janji….” lirihnya nyaris tak terdengar. “Bapak akan menjagamu dan tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu”
Malam itu, Maru memilih tidur disamping putranya.
■■■
Suara kokokkan ayam terdengar nyaring menandakan pagi telah tiba.
Seperti biasa, Maru berdiri didepan kompor. Tangannya dengan cekatan mengaduk nasi goreng. Sementara aroma bawang putih memenuhi dapur sederhana miliknya.
Pagi ini Maru memasak nasi goreng kesukaan putra kecilnya. Tidak lupa ia juga menaruh tempe goreng diatasnya sebagai pelengkap.
Saat sarapan sudah siap, Maru langsung memanggil Andri yang sudah bangun sejak pukul lima tadi. Dan seperti biasa juga ia lah yang akan menyuapinya.
Saat sedang sibuk menyuapi, ibu Maru tiba-tiba datang sambil ngedumel. Melihat itu Maru pun menoleh.
“Ada apa bu?”
Sang ibu menarik nafas panjang.
“Kau tahu semua tetangga bilang apa?” Ucap perempuan tua renta itu. “Mereka bilang kalau kau tidak becus ngurus anak. Mereka juga bilang kalau anakmu sekarang kurus, kulitnya hitam, kusam seperti anak yang gak keurus”
Mendengar itu Maru tersenyum tipis. “Sudahlah bu, Mereka paling bilang seperti itu gara-gara mendengar ucapan dari Mawar” balas Maru. “Lagi pula selama ini siapa yang percaya pada Maru kalau bukan ibu seorang” lanjutnya sambil terus menyuapi Andri.
“Ibu tidak habis pikir kenapa mereka lebih percaya pada wanita itu, yang jelas-jelas sudah merugikan banyak orang” ujar ibunya dengan nafas memburu.
“Maru sudah tidak bisa bicara apapun lagi bu, biarlah mereka mau bilang apa tentang Maru” ujarnya. Maru terdiam sejenak, mengingat ucapan Mawar semalam.
“Oh iya, Semalam Mawar menelepon. Dia bilang mau menjemput Andri” ucap Maru pelan.
Kantong kresek yang berisi sayuran dalam genggaman ibunya pun seketika jatuh di lantai.
“Apa?” Ibu Maru menoleh, menatap lekat wajah putranya. “Dan kau mengijinkannya?”
“Tentu tidak, Maru bilang padanya untuk datang bersama suaminya yang sekarang jika dia ingin menemui Andri”
“Dan jika dia datang kau akan memberikannya?”
Sendok di tangan Maru seketika berhenti. Pandangannya jatuh pada Andri yang masih membuka mulut meminta suapan berikutnya.
Maru terdiam. Dia sendiri juga belum memiliki jawaban untuk pertanyaan itu.
“Entahlah bu….kita lihat nanti”
Ibu Maru hanya bisa menghela nafas berat lalu pergi melangkah ke dapur.
****
Tiga hari kemudian…..
Hari-hari Maru berlalu dengan rutinitas yang sama. Memasak, mengurus rumah, menyuapi Andri. Lalu menemaninya bermain sampai matahari mulai condong ke barat.
Sore itu, seperti biasa, Maru mengawasi Andri bermain bersama anak-anak lain di halaman. Tatapannya sesekali mengikuti langkah kecil putranya hingga deru sebuah motor memecah suasana.
Maru menoleh, dari kejauhan wajah yang paling tidak ingin ia temui berdiri beberapa meter di hadapannya.
Untuk sesaat Maru memandangnya. Wajah itu tak lagi secerah yang ia ingat. Kulitnya tampak kusam, pipinya sedikit tirus, dan sorot matanya kehilangan cahaya. Dulu, Mawar begitu telaten merawat dirinya. Kini entah karena lelah atau alasan lain, wanita itu terlihat jauh berbeda.
Pandangan Maru lalu bergeser pada sosok laki-laki yang berdiri di samping Mawar, dahinya seketika mengernyit.
“Kakaknya?” Batin Maru.
“Untuk apa dia membawanya?”gumamnya.
Bibirnya menyunggingkan senyuman tipis yang hambar.
“Jadi dia masih ingin menutupinya” (batinnya)
Tanpa menunggu mereka mendekat, Maru berbalik dan melangkah masuk kedalam rumah.
“Assalamualaikum, “ sapa Mawar saat berada di depan pintu
“Waalaikumsalam,” jawab Maru datar dari dalam rumah.
Saat Mawar melangkah melewati ambang pintu, wanita itu mengulurkan tangan. Namun Maru hanya melirik sekilas, tanpa membalas, membiarkan tangan itu menggantung di udara.
“Masuk saja,”ucapnya singkat tanpa menoleh.
Ketiganya duduk dilantai. Tidak lama ibu Maru datang ikut duduk bersama.
Tidak lupa, Mawar juga menyapa mantan mertuanya itu. Dan mantan mertuanya itu hanya membalas dengan anggukan ringan.
“Mar, sebenarnya hari ini aku bukan datang untuk membawa Andri tinggal bersamaku. Aku hanya ingin mengajaknya pergi selama tiga hari saja” ucap Mawar mulai mengutarakan tujuannya.
Maru mengangkat pandangannya. Tatapannya bergantian menatap Mawar dan kakaknya.
“Tiga hari?” Ulangnya datar. “Bukankah waktu itu kau bilang ingin membawanya tinggal bersamamu?”
“Awalnya begitu, tapi setelah ku pikir lagi, Andri mungkin belum terbiasa dengan tempat tinggalku yang sekarang. Jadi, anggap saja tiga hari itu sebagai waktu penyesuaian buatnya”
Maru berfikir sejenak. Ia menatap Andri yang masih bermain di halaman. Anak itu sesekali melirik kearah Mawar dengan senyum yang sulit diabaikan.
Dadanya terasa sesak.
Sebesar apapun kebenciannya pada Mawar, ia tak pernah berniat untuk memutus tali hubungan antara anak dan ibu kandungnya.
Mungkin … tiga hari bukan waktu yang lama.
Selama Andri bahagia, ia akan berusaha mengesampingkan rasa takutnya.
“Hanya tiga hari, kau yakin?” tanya Maru pelan.
“Iya, hanya tiga hari. Aku janji akan mengantarkannya kemari” ucap Mawar meyakinkan.
Maru menghela nafas pelan, “Baiklah aku mengijinkannya.” ia menatap Mawar tajam. Lalu , “Tapi, jika dalam tiga hari kamu tidak mengembalikannya aku akan menjemputnya.”
“Tentu, kau bisa melakukannya” balas Mawar sambil menampilkan senyuman ramah.
“Baiklah, Kau bereskan sendiri bajunya yang mau dibawa. Aku mau keluar sebentar.” Maru beranjak dari duduknya, lalu melangkah pergi keluar rumah.
Bukannya ia tidak ingin ikut membantu membereskan pakaian Andri, melainkan karena ia tak sanggup berlama-lama berada didekat Mawar. Setiap melihat wajah perempuan itu amarah yang susah ia redam akan kembali meluap. Jadi daripada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, Maru memilih pergi.
Kini, ia memilih duduk di teras rumah tetangganya yang letaknya tak jauh dari rumahnya. Dari sana, ia terus memandangi Andri yang masih mondar-mandir di halaman.
Tak lama kemudian, Mawar keluar sambil membawa tas besar berisi pakaian Andri. Bocah itu pun menggenggam tangan ibunya dan berjalan hendak menaiki Motor.
Sebelum benar-benar pergi, Maru berjalan menghampiri Andri. Ia menyelipkan beberapa lembar uang ke saku kecil celana putranya.
“Nak, ini uang untuk bekal jajanmu nanti disana. Jangan nakal, nanti bapak jemput ya” ucap Maru sambil mengusap kepala putranya lalu mengecup keningnya sebentar.
Bocah itu mengangguk kecil sambil melambaikan tangan. Kemudian mulai menaiki Motor. Ia tersenyum ceria sambil tetap melambaikan tangan pada Maru.
Maru membalas lambaian itu dengan senyuman tipis. Meski dadanya terasa sesak.
“Hanya tiga hari….hanya tiga hari” gumamnya meyakinkan dirinya sendiri. Matanya terus memandang ke arah sosok kecil yang perlahan mulai menjauh.
Malam harinya, rumah itu terasa sepi, begitu sunyi. Maru hanya bisa memandangi kamar Andri yang kini kosong. Bayangan tawa dan langkah kaki kecil putranya terus berputar di kepalanya hingga tanpa sadar air matanya jatuh tak terbendung.
Kedua tangannya memeluk boneka dinosaurus, teman tidur yang selama ini tak pernah lepas dari pelukan putra kecilnya. Aroma lembut putranya masih samar menempel disana. Malam itu kehangatan kecil dan tawa yang biasanya memenuhi rumahnya, kini menghilang, menyisakan dirinya seorang diri dalam kesunyian.
***
Tiga hari berlalu….
Hari ini adalah hari keempat sejak Andri di bawa Mawar.
Selama Andri tidak ada, Maru terus berusaha mencari lowongan pekerjaan. Waktunya ia habiskan untuk mengirim beberapa CV. Namun sampai saat ini CV nya masih belum juga mendapat jawaban.
Hari ini seharusnya menjadi hari Andri kembali pulang ke rumah.
Sejak pagi Maru terus menunggu di teras rumah. Berharap sosok kecil itu muncul dan berlari menghampirinya dengan senyum ceria seperti biasa.
Namun, hingga menjelang siang, tak ada tanda-tanda kedatangan Mawar.
Perasaan gelisah mulai menyelimutinya. Berkali-kali ia melirik ke arah jalan, berharap sosok andri ada di kejauhan sana. Namun, sayangnya harapan itu tak kunjung datang.
Dengan nafas berat Maru meraih ponselnya. Ia berniat menelepon Mawar untuk menanyakan kapan Andri akan diantar pulang. Kalaupun Mawar berhalangan, ia akan meminta alamat rumahnya, biar ia sendiri yang menjemput Andri.
Maru menekan nama Mawar di layar ponsel. Nada sambung terdengar beberapa kali sebelum akhirnya panggilan itu tersambung.
“Hallo?” Suara Mawar terdengar datar diseberang sana.
“Kapan kamu akan mengantarkan Andri?” Tanya Maru tanpa basa basi.
Sejenak hanya terdengar keheningan. Tidak ada jawaban dari Mawar.
“Andri saat ini belum bisa ku antarkan” jawab Mawar.
Mendengar itu kening Maru berkerut.
“Apa Maksudmu?” Tanya Maru.Mulai merasa was-was.
“Aku belum bisa mengantarkan Andri” balas tegas Mawar.
Maru terdiam sesaat. Ia mencoba mencerna ucapan wanita itu.
“Baik tidak masalah. Berikan padaku alamat rumahmu biar aku sendiri yang akan menj….”
“Dengar Maru…” Mawar memotong perkataan Maru. “Biarlah Andri tetap disini. Toh dia juga aku kasih makan. Kamu fokus urus saja semua utang dan uang arisan yang harus kau bayar ke orang-orang satu kampung”
Maru membeku, jemarinya yang menggenggam ponsel perlahan mulai mengeras.
“Apa maksud ucapanmu?uang arisan itu kau yang bawa pergi dan utang itu semua kau juga yang melakukannya. Kau bahkan tidak pernah memberitahuku mengenai itu semua sebelumnya. Dan sekarang kau memintaku untuk melunasi semuanya. Kau gila”
Mawar terkekeh pelan.
“Gila atau tidak nya aku, yang jelas aku pernah menjadi istrimu. Jangan lupa aku juga adalah ibu dari anakmu. Sebaiknya sekarang, kau mulai melunasi semua utang dan uang arisan itu agar kau bisa kembali melihat anakmu lagi”
“Mawar… “
Tut..
Tut…
Maru menatap layar ponselnya yang kini gelap.
Rahangnya mengeras. Jemarinya mencengkram ponsel begitu kuat, hingga buku-buku jarinya sampai memutih.
“Aku tidak percaya anaknya sendiri dijadikan jaminan, perempuan brengsek” Gerutu Maru.
Amarah masih memenuhi kepalanya. Ia masih berusaha mencerna semua ucapan Mawar, ketika suara seorang wanita datang terdengar dari arah pintu.
“YA MARU! Sebaiknya segera hentikan kebiasaan judi online mu itu. Pantas saja istrimu pergi. Istri mana yang mau bertahan dengan suami yang kerjaannya judi terus.”
Mendengar itu maru benar-benar merasa shock. Ia diam. Dadanya terasa sesak seketika.
Maru menatap tajam wanita yang kini sudah ada diambang pintu. Ia lalu berdiri berjalan perlahan mendekat ke arah wanita itu.
“Kak, Judi online apa maksudmu?” Aku tidak pernah main judi online” bantah Maru.
“Mantan istrimu yang bilang sendiri padaku, kalau selama dia menikah denganmu dia sering melihatmu melakukan judi online,”
Mata Maru membulat sempurna. Emosinya benar-benar tidak bisa ia bendung lagi. Saat ini kepalanya mulai berasap.
Tidak hanya mengambil Andri dari nya, Mawar juga menyebarkan fitnah?
Maru tersenyum getir. Dadanya naik turun menahan amarah yang hampir meledak.
“Kalau kakak lebih memilih percaya sama dia, silahkan! Aku tidak butuh punya saudara yang lebih percaya orang lain dari pada adiknya sendiri.”
Maru mencengkram daun pintu dengan kuat. Tangan kirinya menunjuk kearah luar.
“SANA PERGI!”
Tanpa menunggu wanita itu pergi, Maru langsung membanting pintu rumah dengan sangat keras. Bahkan kaca jendela pun ikut bergetar dibuatnya.
Wanita itu terpaku di tempat. Ia bahkan sampai tidak bisa berkedip sama sekali. Untuk pertama kalinya ia melihat sikap adiknya yang seperti itu.
Maru pergi ke kamar, dia duduk lemah di balik pintu. Ia tidak habis pikir apa mau mawar? Kenapa dia sampai sebenci itu padanya? Kenapa dia bilang ke semua orang kalau dirinya kecanduan judi online?Kesalahan yang mana yang membuatnya membencinya sampai separah ini?
Lama Maru didalam kamar. Isi kepalanya saat ini benar-benar seperti bola kusut. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Satu-satunya alasan ia hidup kini sudah pergi diambil oleh wanita yang sudah menghancurkan hidupnya.
Air mata terus mengalir tanpa henti. Ia merasa benar-benar sudah hancur sepenuhnya. Bahkan untuk bergerak sedikit pun, kini ia sudah tak sanggup.
Maru menatap langit-langit kamar, tanpa fokus. Pikirannya mengembara entah kemana, hingga getaran ponsel di tangannya mengembalikannya pada kenyataan.
Dan saat ia melihat, notifikasi pesan muncul di layar.
Ayra : “Mar, kau baik-baik saja?”
Kreator : Ayra ( Pisces aqua )
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: Bab 4. Anak
Sorry, comment are closed for this post.