KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Self-Improvement
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » Bab 4. Benang Merah itu ada, episode 4.7 ke Bandung lagi dengan secangkir kopi

    Bab 4. Benang Merah itu ada, episode 4.7 ke Bandung lagi dengan secangkir kopi

    BY 24 Sep 2026 Dilihat: 26 kali
    Bab 4. Benang Merah itu ada, episode 4.7 ke Bandung lagi dengan secangkir kopi_alineaku

    “Yunita, tunggu aku!” 

    Sebuah suara laki-laki berteriak di lorong yang sangat gelap. Yunita terus berjalan dengan langkah tergesa-gesa, tanpa menghiraukan suara itu.

    “Yun, tunggu! Jangan tinggalkan aku!” seru lelaki itu hingga muncul dengan simbahan darah segar.

    “Dengarkan aku. Tolong, bantu aku…please.”

    Yunita hanya menoleh sebentar dan berlalu dengan cepat, saat akan menuruni tangga. Seketika tangannya ditarik sekuat tenaga.

    “Sakitt!!!”

    “Kebiasaan ya,” ujar Tiara membangunkan Yunita dari tidurnya. Saat itu masih bulan Maret tahun 2003.

    “Bangun, Yun. aku married minggu depan, ya. Kamu datang sama pasanganmu. Kamu sudah janji mau kenalkan,” ujar Tiara.

    “Eh, aduh… Kok dicubit terus. Sakit, Tiara, sayang. Iya, aku datang, tapi nggak janji kalau bawa pasangan. Ini ceritanya beda lagi nanti. Menyangkut ibuku kalau ini,” ujar Yunita sambil bergegas menuju kamar mandi.

    “Okay… janji bawa siapa? Tuh, pengagum rahasiamu… hahaha,” ujar Tiara.

     

    Saat keluar kamar dari mandi setelah hampir satu jam lamanya, Yunita bergegas mencari Tiara. 

    “Lah kemana ni anak. Tiara!! Kamu dimana?” 

    Dari luar kamar, Ibu Agriani pun berseru, “Tiara, titip salam aja, katanya. Ini sekalian kasih kartu undangan pernikahannya sama Mas Gun. Yunita, keluar dulu coba…” 

    “Iya, Mamih. Yuni keluar. Maaf kelamaan mandinya…” sahut Yunita.

    Jam telah menunjukkan pukul 10.00 WIB. Yunita menepuk wajahnya pelan. “Ya Allah, untung hari ini Minggu. Yuni lupa, ada janji konsul hari Senin… Hehe, kaget. Yuni ecapekan kayaknya.”

    Yunita pun merapikan rambutnya yang masih sedikit berantakan setelah keramas.

    “Iya, jangan jadi kebiasaan, ya. Jelek, libur masih saja tidur. Ayo, sarapan dulu. Sekarang Momi kenalkan kamu sama anak teman Momi, ayahnya seorang pelaut. Katanya masih bujang. Kita sekalian sowan ke rumahnya, ya. Eh, kamu ganti baju juga!” desak Momi Agriani.

    “Okay, Mih.” 

    Yunita menjawab tanpa membantah karena ia sadar dirinya memang kesiangan bangun.

    Bersamaan dengan itu, ponsel Yunita berbunyi. Sambil berdandan, Yunita membaca pesan yang masuk.

    “Yuni cantik, nanti aku tunggu, ya, di Mall BEC. Terus kita ke Mall TSM, ya. Sekalian makan. Peluk, Tiara.”

    Yunita hanya membalasnya dengan emoji senyum dan jempol.

     

    Saat keluar kamar, Yunita baru beberapa langkah berjalan, Bu Agriani memanggilnya.

    “Yuni sayang, anak Mamih. Ganti lagi itu bajunya, terlalu kasual. Pakai baju yang Mamih beli kemarin. Coba dilihat, ya. Mamih tunggu.”

    Sambil berkata begitu, Bu Agriani mendorong tubuh Yunita perlahan hingga berbalik dan kembali masuk ke kamar.

    Setelah hampir satu jam berdandan dan berganti pakaian, Yunita akhirnya keluar dari kamar. Sambutan Bu Agriani langsung terdengar,

    “Nah, ini dia anak Mamih.”

    Kemudian, Bu Agriani menuntun Yunita menuju mobil taksi online yang sudah menunggu di depan.

     

    Yunita masih teringat pertemuannya dengan Iqbal di Kafe Senja. Saat itu, Iqbal mengajaknya ngopi dan memesan kopi latte. Namun, sebelum lamunannya berlanjut, tiba-tiba Bu Agriani menyahut.

    “Yun, kalau Jalan Golf itu sebelah mana, ya? Mama lupa lagi,” ujar Bu Agriani.

    “Ya tanya sama sopir, Ma. Emang mau ketemuan di situ?” tanya Yunita, sedikit mendesak.

    “Iya, di Layung Cafe, katanya,” ujar Ibu Agriani sambil melengkapi riasan wajahnya.

    “Terus ini mau kemana?” kata Yunita sambil melihat jendela mobil taksi online.

    “Beli kue dulu di Jalan Bengawan buat Om Putra dan Tante Ina. Anak yang akan Mami jodohkan sama kamu namanya Leo Darmawan. Dia anak seni, sekolah di Trisakti, dan punya usaha Rumah Hijau. Yuk, semoga kamu suka,” seru Bu Agriani sambil mengubah posisi duduknya.

    Yunita masih belum bergeming dari kebiasaannya melihat informasi di ponselnya.

    “Oke, Mih,” jawabnya singkat, masih asyik membaca pesan WhatsApp dari Tiara.

    “Setelah ini, Yuni ada rapat sama Tiara. Mau bahas beberapa kerjaan,” lanjut Yunita.

    “Iya, yang penting ketemu dulu,” ujar Bu Agriani merajuk.

    Setibanya di Layung Cafe, mereka segera menuju meja nomor 6, tempat pertemuan dengan Tante Nina dan Om Putra. Namun, pertemuan itu berlangsung tanpa kehadiran Leo.

    Yunita merasa sangat canggung mendengar pembicaraan kedua orang tua tersebut. Meski begitu, alasan yang disampaikan Tante Nina menurut Yunita cukup masuk akal. Leo sedang menjalankan tugas penghijauan di daerah Banten dan harus berada di sana selama tiga bulan.

    Saat pertemuan itu berlangsung pada Maret 2003, Leo diperkirakan baru akan kembali dan bertemu dengan Yunita pada Juni 2003.

    Yunita enggan bertanya lebih lanjut soal Leo, dan dengan masih harap-harap cemas akan janji temunya dengan Tiara, Yunita meminta ibunya agar segera makan sore dan penjelasan yang lumayan membuat om Putra geleng kepala, bahwa Yunita banyak kerjaan sehingga meminta izin untuk pergi terlebih dahulu menemui Tiara dan Gunadi.

    Setelah memesan taksi online, saat akan naik, Yunita menoleh ke meja nomor 1 ia seperti mengenal sebuah wajah beserta perawakannya. 

    “Iqbal?” 

    Namun, buru-buru ia tepis prasangkanya itu dan segera masuk ke dalam taksi. Yunita menoleh kembali dan melihat ke meja nomor 1 yang berada di dekat pintu keluar, tempat dimana Yunita sering bersama Iqbal berdiskusi soal kuliah. Sebelum berlalu, Yunita kembali memastikan bahwa orang yang duduk disana memang Iqbal. 

    “Eh, benar. Itu dia,” 

    Sebelum Yunita berteriak menyapa, taksi online sudah lebih dulu tancap gas. Sedangkan, Iqbal masih asyik membaca beberapa buah laporan dan seperti biasa duduk mengamati proposal dan laptop.

    “Ngapain ya Iqbal di Bandung?” 

    Bip. Ponsel Yunita pun berbunyi. Ia melihat Thomas mengirimkan sebuah status yang ternyata milik Iqbal.

    “Kalian nggak lagi janjian kan? Tempatnya sama loh,” goda Thomas melalui pesan WhatsApp. 

    Yunita tampak menepuk jidat melihat statusnya tadi Bersama ibunya di Layung Cafe.

    Dalam hati Yunita bergumam, “Ups… sepertinya tadi Iqbal ada di sana bersama temannya juga. Lha, itu kan Thomas! Yey, kalau pakai baju preman memang beda. Disangka abangnya, lah…”

    Yunita kemudian membalas pesan WhatsApp dari Thomas.

    “Eh, asem lu… Thom, sahabatmu anu bageur tea…”

    Tak lama kemudian, pesan dari Thomas kembali masuk.

    “Tadi aku lihat kamu sama Mamih, ya. Kenapa pulang duluan? Terus nggak nyapa kita-kita. Aku sengaja balik badan ke arah resepsionis dan sejenak ke sana… wkwkwk.”

    Yunita pun membalas melalui pesan voice note. “Iya, aku buru-buru. Mau nemenin Tiara persiapan married minggu depan. Kebayang kan, segalanya serba dadakan. Hadeuh… jadi urusan aku sama Mamih ditunda. Plus, urusan ketemu kamu sama Iqbal juga aku nggak tahu. Salam, ya, buat Iqbal.”

    Thomas pun segera membalas melalui chat.

    “Iya, nanti juga WA kamu. Geura, coba aja… Hitung, ya, sama aku. Satu, dua, tiga… sok, lihat.”

    Dan benar saja, tak lama kemudian Iqbal mengirim pesan WhatsApp.

    “Apa kabar, Yunita? Sekarang berkerudung makin cantik aja, nih. Oh ya, tadi aku mau nyapa, tapi nggak enak. Mamih kamu masih asem pasti lihat aku. Mukanya kecut seperti minum Jenifer, merk Kuningan… hehe.”

    Tak lama kemudian, muncul pesan WhatsApp berikutnya.

    “Minggu depan aku juga married, Yun. Dia guru TK, tetangga dekat kenalan Mama aku. Semoga kamu juga berjodoh sama anaknya Om Putra. Oh, ya, anak Om Putra selain Dean, ada Bang Leo. Om Putra itu teman Bapakku di kelautan. Makanya aku kenal mereka, hehe.

    Sukses selalu, ya, Yun. Maaf selama ini selalu banyak permintaan selama menjadi sahabatmu, dari mulai pinjam buku, nyontek tugas, sampai praktik lapangan juga pengen bareng sama kamu. Perjodohan ini karena niat tulusku pada orang tua. Salam persahabatan selalu.”

    Yunita membaca pesan Iqbal dengan helaan napas, kemudian hanya mampu membalas dengan emoji jempol.

    “Jadi, selama ini sepanjang persahabatan ini, dia hanya menganggapku teman biasa. Oke, tak masalah. Kenapa juga aku berpikir berlebihan? Setelah kepergian Ilham secara mendadak, serunya persahabatan dengan Mas Wahyu… apakah aku terlalu ingin diberi kasih sayang? Aduh, aku perlu waspada ini…” keluh Yunita dalam hati.

    Bip!

    Suara notifikasi kembali terdengar. Dan benar saja, pesan itu masih dari Iqbal.

    “Ini masih aku, Iqbal. Makasih juga untuk persahabatan selama ini darimu yang anggun dan bersahaja. Meski cintaku pun bertepuk sebelah tangan, aku selalu akan menjadi teman terdekatmu. Jika butuh bantuan, aku akan selalu mendukung dan membantumu. Kenangan Cafe Layung akan selalu ada di hati. Kalau ke Bandung lagi, aku akan mampir jika lelah terasa… Salam manis, Iqbal.”

    Yunita terdiam beberapa saat setelah membaca pesan itu. Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya, tetapi ia memilih menyimpannya sendiri.

    Yunita tersenyum sendiri. Tiba-tiba, suara Pak Sopir membuyarkan lamunannya.

    “Neng, sudah sampai, ya.”

    Yunita pun turun dari mobil. Namun, saat sedang asyik membuka handphone, tiba-tiba sebuah mobil pikap melaju dan menghantam tubuhnya. Yunita seketika tak sadarkan diri.

    Dari kejauhan, Tiara dan Gunadi yang melihat kejadian itu langsung berlari menghampirinya.

    “Yuni!” teriak Tiara keras.

    Di ujung jalan, seseorang berpakaian lusuh tampak segera berlalu dan menghilang di sudut jalan.

     

     

    Kreator : Yusi Hariyumanti (Uchi)

    Bagikan ke

    Comment Closed: Bab 4. Benang Merah itu ada, episode 4.7 ke Bandung lagi dengan secangkir kopi

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021