“Yunita, tunggu aku!”
Sebuah suara laki-laki berteriak di lorong yang sangat gelap. Yunita terus berjalan dengan langkah tergesa-gesa, tanpa menghiraukan suara itu.
“Yun, tunggu! Jangan tinggalkan aku!” seru lelaki itu hingga muncul dengan simbahan darah segar.
“Dengarkan aku. Tolong, bantu aku…please.”
Yunita hanya menoleh sebentar dan berlalu dengan cepat, saat akan menuruni tangga. Seketika tangannya ditarik sekuat tenaga.
“Sakitt!!!”
“Kebiasaan ya,” ujar Tiara membangunkan Yunita dari tidurnya. Saat itu masih bulan Maret tahun 2003.
“Bangun, Yun. aku married minggu depan, ya. Kamu datang sama pasanganmu. Kamu sudah janji mau kenalkan,” ujar Tiara.
“Eh, aduh… Kok dicubit terus. Sakit, Tiara, sayang. Iya, aku datang, tapi nggak janji kalau bawa pasangan. Ini ceritanya beda lagi nanti. Menyangkut ibuku kalau ini,” ujar Yunita sambil bergegas menuju kamar mandi.
“Okay… janji bawa siapa? Tuh, pengagum rahasiamu… hahaha,” ujar Tiara.
Saat keluar kamar dari mandi setelah hampir satu jam lamanya, Yunita bergegas mencari Tiara.
“Lah kemana ni anak. Tiara!! Kamu dimana?”
Dari luar kamar, Ibu Agriani pun berseru, “Tiara, titip salam aja, katanya. Ini sekalian kasih kartu undangan pernikahannya sama Mas Gun. Yunita, keluar dulu coba…”
“Iya, Mamih. Yuni keluar. Maaf kelamaan mandinya…” sahut Yunita.
Jam telah menunjukkan pukul 10.00 WIB. Yunita menepuk wajahnya pelan. “Ya Allah, untung hari ini Minggu. Yuni lupa, ada janji konsul hari Senin… Hehe, kaget. Yuni ecapekan kayaknya.”
Yunita pun merapikan rambutnya yang masih sedikit berantakan setelah keramas.
“Iya, jangan jadi kebiasaan, ya. Jelek, libur masih saja tidur. Ayo, sarapan dulu. Sekarang Momi kenalkan kamu sama anak teman Momi, ayahnya seorang pelaut. Katanya masih bujang. Kita sekalian sowan ke rumahnya, ya. Eh, kamu ganti baju juga!” desak Momi Agriani.
“Okay, Mih.”
Yunita menjawab tanpa membantah karena ia sadar dirinya memang kesiangan bangun.
Bersamaan dengan itu, ponsel Yunita berbunyi. Sambil berdandan, Yunita membaca pesan yang masuk.
“Yuni cantik, nanti aku tunggu, ya, di Mall BEC. Terus kita ke Mall TSM, ya. Sekalian makan. Peluk, Tiara.”
Yunita hanya membalasnya dengan emoji senyum dan jempol.
Saat keluar kamar, Yunita baru beberapa langkah berjalan, Bu Agriani memanggilnya.
“Yuni sayang, anak Mamih. Ganti lagi itu bajunya, terlalu kasual. Pakai baju yang Mamih beli kemarin. Coba dilihat, ya. Mamih tunggu.”
Sambil berkata begitu, Bu Agriani mendorong tubuh Yunita perlahan hingga berbalik dan kembali masuk ke kamar.
Setelah hampir satu jam berdandan dan berganti pakaian, Yunita akhirnya keluar dari kamar. Sambutan Bu Agriani langsung terdengar,
“Nah, ini dia anak Mamih.”
Kemudian, Bu Agriani menuntun Yunita menuju mobil taksi online yang sudah menunggu di depan.
Yunita masih teringat pertemuannya dengan Iqbal di Kafe Senja. Saat itu, Iqbal mengajaknya ngopi dan memesan kopi latte. Namun, sebelum lamunannya berlanjut, tiba-tiba Bu Agriani menyahut.
“Yun, kalau Jalan Golf itu sebelah mana, ya? Mama lupa lagi,” ujar Bu Agriani.
“Ya tanya sama sopir, Ma. Emang mau ketemuan di situ?” tanya Yunita, sedikit mendesak.
“Iya, di Layung Cafe, katanya,” ujar Ibu Agriani sambil melengkapi riasan wajahnya.
“Terus ini mau kemana?” kata Yunita sambil melihat jendela mobil taksi online.
“Beli kue dulu di Jalan Bengawan buat Om Putra dan Tante Ina. Anak yang akan Mami jodohkan sama kamu namanya Leo Darmawan. Dia anak seni, sekolah di Trisakti, dan punya usaha Rumah Hijau. Yuk, semoga kamu suka,” seru Bu Agriani sambil mengubah posisi duduknya.
Yunita masih belum bergeming dari kebiasaannya melihat informasi di ponselnya.
“Oke, Mih,” jawabnya singkat, masih asyik membaca pesan WhatsApp dari Tiara.
“Setelah ini, Yuni ada rapat sama Tiara. Mau bahas beberapa kerjaan,” lanjut Yunita.
“Iya, yang penting ketemu dulu,” ujar Bu Agriani merajuk.
Setibanya di Layung Cafe, mereka segera menuju meja nomor 6, tempat pertemuan dengan Tante Nina dan Om Putra. Namun, pertemuan itu berlangsung tanpa kehadiran Leo.
Yunita merasa sangat canggung mendengar pembicaraan kedua orang tua tersebut. Meski begitu, alasan yang disampaikan Tante Nina menurut Yunita cukup masuk akal. Leo sedang menjalankan tugas penghijauan di daerah Banten dan harus berada di sana selama tiga bulan.
Saat pertemuan itu berlangsung pada Maret 2003, Leo diperkirakan baru akan kembali dan bertemu dengan Yunita pada Juni 2003.
Yunita enggan bertanya lebih lanjut soal Leo, dan dengan masih harap-harap cemas akan janji temunya dengan Tiara, Yunita meminta ibunya agar segera makan sore dan penjelasan yang lumayan membuat om Putra geleng kepala, bahwa Yunita banyak kerjaan sehingga meminta izin untuk pergi terlebih dahulu menemui Tiara dan Gunadi.
Setelah memesan taksi online, saat akan naik, Yunita menoleh ke meja nomor 1 ia seperti mengenal sebuah wajah beserta perawakannya.
“Iqbal?”
Namun, buru-buru ia tepis prasangkanya itu dan segera masuk ke dalam taksi. Yunita menoleh kembali dan melihat ke meja nomor 1 yang berada di dekat pintu keluar, tempat dimana Yunita sering bersama Iqbal berdiskusi soal kuliah. Sebelum berlalu, Yunita kembali memastikan bahwa orang yang duduk disana memang Iqbal.
“Eh, benar. Itu dia,”
Sebelum Yunita berteriak menyapa, taksi online sudah lebih dulu tancap gas. Sedangkan, Iqbal masih asyik membaca beberapa buah laporan dan seperti biasa duduk mengamati proposal dan laptop.
“Ngapain ya Iqbal di Bandung?”
Bip. Ponsel Yunita pun berbunyi. Ia melihat Thomas mengirimkan sebuah status yang ternyata milik Iqbal.
“Kalian nggak lagi janjian kan? Tempatnya sama loh,” goda Thomas melalui pesan WhatsApp.
Yunita tampak menepuk jidat melihat statusnya tadi Bersama ibunya di Layung Cafe.
Dalam hati Yunita bergumam, “Ups… sepertinya tadi Iqbal ada di sana bersama temannya juga. Lha, itu kan Thomas! Yey, kalau pakai baju preman memang beda. Disangka abangnya, lah…”
Yunita kemudian membalas pesan WhatsApp dari Thomas.
“Eh, asem lu… Thom, sahabatmu anu bageur tea…”
Tak lama kemudian, pesan dari Thomas kembali masuk.
“Tadi aku lihat kamu sama Mamih, ya. Kenapa pulang duluan? Terus nggak nyapa kita-kita. Aku sengaja balik badan ke arah resepsionis dan sejenak ke sana… wkwkwk.”
Yunita pun membalas melalui pesan voice note. “Iya, aku buru-buru. Mau nemenin Tiara persiapan married minggu depan. Kebayang kan, segalanya serba dadakan. Hadeuh… jadi urusan aku sama Mamih ditunda. Plus, urusan ketemu kamu sama Iqbal juga aku nggak tahu. Salam, ya, buat Iqbal.”
Thomas pun segera membalas melalui chat.
“Iya, nanti juga WA kamu. Geura, coba aja… Hitung, ya, sama aku. Satu, dua, tiga… sok, lihat.”
Dan benar saja, tak lama kemudian Iqbal mengirim pesan WhatsApp.
“Apa kabar, Yunita? Sekarang berkerudung makin cantik aja, nih. Oh ya, tadi aku mau nyapa, tapi nggak enak. Mamih kamu masih asem pasti lihat aku. Mukanya kecut seperti minum Jenifer, merk Kuningan… hehe.”
Tak lama kemudian, muncul pesan WhatsApp berikutnya.
“Minggu depan aku juga married, Yun. Dia guru TK, tetangga dekat kenalan Mama aku. Semoga kamu juga berjodoh sama anaknya Om Putra. Oh, ya, anak Om Putra selain Dean, ada Bang Leo. Om Putra itu teman Bapakku di kelautan. Makanya aku kenal mereka, hehe.
Sukses selalu, ya, Yun. Maaf selama ini selalu banyak permintaan selama menjadi sahabatmu, dari mulai pinjam buku, nyontek tugas, sampai praktik lapangan juga pengen bareng sama kamu. Perjodohan ini karena niat tulusku pada orang tua. Salam persahabatan selalu.”
Yunita membaca pesan Iqbal dengan helaan napas, kemudian hanya mampu membalas dengan emoji jempol.
“Jadi, selama ini sepanjang persahabatan ini, dia hanya menganggapku teman biasa. Oke, tak masalah. Kenapa juga aku berpikir berlebihan? Setelah kepergian Ilham secara mendadak, serunya persahabatan dengan Mas Wahyu… apakah aku terlalu ingin diberi kasih sayang? Aduh, aku perlu waspada ini…” keluh Yunita dalam hati.
Bip!
Suara notifikasi kembali terdengar. Dan benar saja, pesan itu masih dari Iqbal.
“Ini masih aku, Iqbal. Makasih juga untuk persahabatan selama ini darimu yang anggun dan bersahaja. Meski cintaku pun bertepuk sebelah tangan, aku selalu akan menjadi teman terdekatmu. Jika butuh bantuan, aku akan selalu mendukung dan membantumu. Kenangan Cafe Layung akan selalu ada di hati. Kalau ke Bandung lagi, aku akan mampir jika lelah terasa… Salam manis, Iqbal.”
Yunita terdiam beberapa saat setelah membaca pesan itu. Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya, tetapi ia memilih menyimpannya sendiri.
Yunita tersenyum sendiri. Tiba-tiba, suara Pak Sopir membuyarkan lamunannya.
“Neng, sudah sampai, ya.”
Yunita pun turun dari mobil. Namun, saat sedang asyik membuka handphone, tiba-tiba sebuah mobil pikap melaju dan menghantam tubuhnya. Yunita seketika tak sadarkan diri.
Dari kejauhan, Tiara dan Gunadi yang melihat kejadian itu langsung berlari menghampirinya.
“Yuni!” teriak Tiara keras.
Di ujung jalan, seseorang berpakaian lusuh tampak segera berlalu dan menghilang di sudut jalan.
Kreator : Yusi Hariyumanti (Uchi)
Comment Closed: Bab 4. Benang Merah itu ada, episode 4.7 ke Bandung lagi dengan secangkir kopi
Sorry, comment are closed for this post.