BAB 4: SUP UNTUK HATI YANG BEKU
Musim gugur datang ke Tanah Fajar tanpa suara.
Daun-daun dari 24 pohon jatuh semua dalam satu malam. Tanahnya menjadi kuning.
Dinginnya bukan berasal dari angin. Tapi datang dari orang-orang yang lewat gubuk dan tidak pernah menoleh.
Tiga minggu sejak Daren pergi, Tio yang mengambil alih.
Tio yang menguleni, menyeduh serta menyapu lantai.
Hari ini tidak ada tamu.
Sampai sore.
Kriiieekkk… Pintu kayu berderit panjang.
Yang masuk bukan seorang anak. Bukan pula prajurit.
Melainkan seorang perempuan. Jubahnya hitam. Mahkota kecil di kepalanya retak. Wajahnya cantik, tapi kosong. Hampir seperti patung es.
Nenek Ysra tidak menoleh. “Tutup pintunya. Angin masuk.”
Perempuan itu menutup pintu. Tangannya kaku.
“Aku Seraphina,” katanya. “Ratu Tanah Fajar.”
Tio berhenti mengaduk. Ratu? Di gubuk ini?
Nenek Ysra baru sekarang menatap. “Aku tahu. Duduklah.”
Seraphina duduk. Punggungnya tegak. Terlalu tegak.
“Aku tidak butuh makanan. Aku butuh jawaban.”
“Sup dulu,” kata Nenek Ysra. “Baru jawaban.”
Panci besar diletakkan di atas tungku. Isinya air, tulang, wortel, dan sesuatu yang putih bening seperti es.
“Apa itu?” tanya Tio.
“Air mata yang dibekukan,” jawab nenek itu. “Dua puluh tahun disimpan.”
Seraphina menegang. “Itu air mataku.”
“Iya,” kata Nenek Ysra. “Waktu kamu kehilangan Alistair. Waktu kamu pilih takhta daripada memaafkan.”
Keheningan. Hanya suara air mendidih.
Seraphina mengepalkan tangan. “Dia yang pergi duluan.”
“Dan kamu yang mengunci pintu,” sahut nenek itu pelan. “Selama dua puluh tahun.”
Tio menyodorkan mangkuk. Uapnya naik. Tapi tidak hangat. Dingin. Seperti menembus kabut.
“Sup untuk Hati yang Beku,” kata Nenek Ysra. “Minum.”
Seraphina menatap mangkuk itu lama. “Aku tidak bisa menangis lagi. Sudah kering.”
“Justru karena itu harus diminum,” kata nenek itu. “Sup ini tidak menghangatkan. Sup ini mencairkan.”
Tegukan pertama. Seraphina tidak bereaksi.
Tegukan kedua. Alisnya bergetar.
Tegukan ketiga. Air matanya jatuh. Satu. Dua. Panas.
Membakar pipinya yang sedingin es.
Dia menutup wajah. Bahunya tidak terguncang. Dia cuma… meleleh.
Dua puluh tahun jadi ratu. Dua puluh tahun tidak boleh lemah.
Dan sekarang, di gubuk kayu, dia menangis seperti anak kecil.
“Aku rindu,” isaknya. “Aku rindu memarahinya. Aku rindu bertengkar dengannya. Aku rindu ketika pulang dan dia masih menunggu di meja makan.”
Tio duduk di lantai. Tidak bicara. Hanya mendengarkan.
Nenek Ysra mengaduk sup. “Kamu tanam 24 pohon bersamanya. Satu pohon untuk tiap kali kalian gagal memaafkan. Sekarang pohon-pohon itu rontok semua.”
“Aku takut,” kata Seraphina. “Kalau aku minta maaf, dia tidak mau.”
“Kalau kamu tidak minta, kamu tidak akan pernah tahu,” jawab nenek itu.
Buku di meja terbuka sendiri. Halamannya basah.
Resep 4: Sup untuk Hati yang Beku
Bahan: Tulang dari kenangan lama, wortel dari tanah penyesalan, air mata yang dibekukan dua puluh tahun, satu kata maaf yang belum terucap.
Cara: Rebus sampai mendidih. Biarkan dingin. Lalu minum selagi berani.
Catatan: Tidak akan hangat. Tapi akan cair. Dan yang cair bisa mengalir lagi.
Di bawahnya ada coretan:
Seraphina sudah menangis. Langkah selanjutnya: berjalan.
Seraphina menghabiskan supnya. Wajahnya masih basah. Tapi matanya tidak kosong lagi.
Dia berdiri. “Di mana dia?”
“Di pondok seberang sungai,” kata Nenek Ysra. “Menanam pohon ke dua puluh lima.”
Seraphina mengangguk. Dia tidak minta diantar. Dia jalan sendiri. Jubah hitamnya terseret di daun kering.
Sebelum keluar, dia berhenti di pintu.
“Terima kasih,” katanya. Suaranya pecah. “Untuk supnya.”
Pintu tertutup. Kali ini tidak berderit marah. Hanya lelah.
Gubuk jadi sunyi lagi.
Tio menatap Nenek Ysra. “Mereka akan baikan?”
“Tidak tahu,” jawab nenek itu. “Tapi es sudah mulai cair. Itu cukup.”
Malam itu, untuk pertama kali, Tio melihat Nenek Ysra duduk di depan jendela. Menatap 24 pohon yang gundul.
“Besok kita tanam lagi,” kata nenek itu pelan. “Pohon ke dua puluh lima.”
Tio mengangguk. Di luar, bulan naik. Menerangi jalan ke seberang sungai.
Di dalam, sup sudah habis.
Tapi hangatnya masih tinggal. Bukan di panci.
Tapi di dalam dada.
Kreator : Nadya Putri
Comment Closed: Bab 4 dari novel Rahasia buku sihir nenek Ysra
Sorry, comment are closed for this post.