BAB 4: SALJU HITAM DAN INGATAN YANG RETAK
PERJALANAN KE GUNUNG ES ARDENTIA
Tiga hari mereka berjalan ke utara.
Salju semakin hitam. Bukan karena kotor. Tapi karena ada sesuatu di bawahnya yang menolak cahaya.
Eira berjalan di tengah, diapit Leon dan Selene. Rantai liontinnya sekarang diikatkan di pergelangan tangan Ardin.
“Supaya Ayah ingat jalan pulang,” kata Eira.
Ardin tersenyum. “Ayah hafal. Dari bau bunga salju.”
Di malam hari Lyra terus melatih Eira. Tanpa liontin, tanpa tongkat. Hanya dengan ingatan hangat.
Setiap kali Eira berhasil menumbuhkan bunga es, Tim 9 akan bersorak pelan supaya tidak ketahuan patroli.
Tapi Eira selalu gelisah.
“Jejak itu,” bisiknya ke Leon di tenda. “Jejak kaki kecil dan rambut putih. Siapa?”
Leon menggeleng. “Kita cari tahu pas sampai.”
RAHASIA RAMBUT PUTIH
Hari keempat. Mereka sampai di kaki Gunung Es Ardentia.
Di depan gerbang istana, tidak ada penjaga. Yang ada hanya satu sosok kecil duduk di atas batu.
Anak perempuan. Umur sekitar delapan tahun. Rambut putih panjang sampai tanah. Baju compang-camping.
Di tangannya, dia menenun selendang. Polanya sama seperti yang dibuat Ardin.
Semua berhenti.
Anak itu menoleh. Matanya biru. Sama persis dengan Eira.
Eira maju selangkah. “Kamu siapa?”
Anak itu tidak menjawab. Dia hanya menatap Selene lama sekali.
Lalu berbisik. “Ibu.”
Selene tercekik. “Apa?”
Anak itu berdiri. Dari jejak kakinya tumbuh bunga es, sama seperti Eira.
“Aku dengar kalian. Di mimpi. Wanita es itu bilang… kalau aku anak yang gagal.”
Lyra langsung membuka Buku Sihir Tanah Fajar. Tangannya gemetar.
Bab Sembilan. Benih Gagal.
Jika benih ditanam sebelum waktunya, ia akan menciptakan bayangan. Anak dari kesedihan dan kebencian.
“Veyrin,” kata Selene pelan.
“Dia mencoba membuat anak dari ingatanku. Sebelum aku pergi.”
Ardin jatuh berlutut. “Jadi dia… adikmu, Eira.”
Eira menatap anak itu. Tidak takut. Dia mengulurkan tangan.
“Namamu siapa?”
Anak itu ragu. Lalu berbisik. “Aku tidak punya nama. Dia hanya memanggilku Bayangan.”
Eira menggenggam tangan Bayangan. Hangat.
“Mulai sekarang namamu Aira. Punya nama, punya rumah.”
Aira menangis. Pertama kalinya.
FLASHBACK VEYRIN DAN SELENE
ISTANA ES ARDENTIA, 11 TAHUN LALU
Selene muda berdiri di depan Veyrin. Dia hamil.
“Aku tidak mau anak kita lahir di tempat ini,” katanya. “Tempat penuh dendam.”
Veyrin mencengkram bahu Selene. “Dendam ini yang membuat kita kuat. Anak kita akan jadi raja baru.”
Selene menggeleng. “Kalau begitu aku pergi.”
Malam itu Selene kabur. Veyrin mengejar. Di tengah badai, dia menusukkan rune ke tanah tempat Selene jatuh.
“Kalau aku tidak bisa memilikimu… maka aku akan menciptakan kamu lagi.”
Dari tanah itu tumbuh benih pertama. Benih Patah Hati.
Veyrin berbisik ke benih itu. “Tumbuh. Jadi dia. Jadi Selene yang tidak akan pernah meninggalkanku.”
Tapi benih itu gagal. Yang keluar hanya anak kecil berambut putih. Tidak bisa bicara, tidak bisa merasakan hangat.
Veyrin membuangnya ke desa. “Gagal.”
KEMBALI KE SEKARANG
Aira bersandar di pelukan Eira.
“Kak… apakah Ayah benci aku?”
Ardin yang dari tadi diam, meraba ke depan. Tangannya menemukan kepala Aira.
“Tidak,” kata Ardin. “Ayah tidak pernah benci. Ayah hanya tidak tahu kamu ada.”
Veyrin muncul di atas gerbang istana.
Dia melihat Selene, Eira, dan Aira berpelukan.
Wajahnya retak. Bukan karena marah. Karena sakit.
“Jadi kalian memilih bayangan gagal itu,” katanya dingin. “Bagus. Masuklah. Benih Ketiga sudah menunggu.”
Pintu istana terbuka sendiri. Di dalamnya gelap. Dan di tengahnya, ada cahaya merah berdenyut.
Kreator : Nadya Putri
Comment Closed: Bab 4 dari novel Sihir Tanah Fajar Perjalanan 9 bintang
Sorry, comment are closed for this post.