Tunas harapan yang kutanam telah tumbuh semakin tinggi. Aku semakin berani untuk bermimpi lebih jauh lagi. Aku semakin tertantang melalui setiap jalan terjal yang membentang. Seragam putih-merah itu akhirnya menemani perjalanan panjangku hingga akhir masa Sekolah Dasar. Di kelas enam, seluruh usaha, latihan, dan ketekunan belajar selama bertahun-tahun membuahkan hasil yang manis. Aku berhasil lulus SD dengan nilai ujian akhir yang memuaskan dengan rata-rata nilai 8 di setiap mapel yang di UN kan.
Hari pembagian ijazah menjadi momen yang penuh rasa haru. Dengan berbekal nilai yang cukup memuaskan dan karakter yang telah menempa jati diriku, langkahku terasa mantap saat mendaftar dan diterima di sebuah SMP negeri di kecamatan. Sekolah ini telah lama kubidik karena dekat dari rumah. Di sekolah itulah aku kembali menyabet juara dalam lomba menggambar tingkat kabupaten, mewakili pramuka sekolahku. Teman-temanku semakin banyak. Kami biasanya berangkat ke sekolah bersama dengan sepeda jengki lawas warisan kakekku.
Saat jam istirahat, dibawah pohon jati yang meranggas, aku dan Novita duduk santai sambil menikmati makanan dari kantin sekolah. Ia adalah teman sebangkuku. Kami bercerita tentang harapan masa depan yang belum jelas gambarnya. Tak lama kemudian datanglah dua anak seangkatan dari kelas lain. Meskipun beda kelas, kami bergaul sangat akrab karena berasal dari kampung yang sama.
“Kuliah itu seperti apa ya? Kudengar dari tetangga, kuliah itu sangat sulit, biayanya juga mahal.” Kataku sambil menyeruput minuman dingin terbungkus plastik.
“Pastinya lebih sulit, lha wong ujian sekolah saja sulitnya minta ampun,” jawab Novita ringan. Tangannya masih sibuk mencuil makanannya. Aku teringat kata-kata bapakku, dulu ia tidak berani kuliah karena takut pelajarannya lebih sulit daripada pelajaran SMA. Ah, aku menjadi bimbang. Tugas menulis cita-cita pada buku catatan ternyata tidak gampang untuk kukerjakan. Aku tak mungkin bertanya pada ibuku tentang perkuliahan, karena pasti tidak mengerti, lha wong hanya lulus SD. Ijazahnya juga telah habis dimakan rayap. Sepertinya harapanku untuk bisa kuliah mulai luntur. Ada kalanya aku ingin bekerja saja setelah lulus SMA nanti.
“Kalau aku, inging ke Hong Kong saja habis SMP,” sahut seorang teman yang ikut nimbrung.
“Memangnya mau ngapain?” tanyaku penasaran.
“Ya kerja, cari duit. Aku kan gak lanjut sekolah. Bapakku gak bisa membiayai ke SMA. Buat apa buang-buang uang. Mending aku kerja, dapat duit kan.” Jawabnya sambil tertawa.
“ Hah, ke Hong Kong? Kerja apaan woy?” tanyaku semakin penasaran.
“ TKW. Ya, TKW neng, Tenaga Kerja Wanita. Pulang-pulang jadi juragan.” Jawabnya dengan semangat.
“ Wow keren! Kami semua bertepuk tangan menyambut hangat cita-cita seorang teman.
Keseruan kami terhenti ketika bel berbunyi nyaring, tanda jam istirahat telah berakhir. Para siswa berhamburan keluar kantin dan kembali ke kelas. Aku masih tak habis pikir membayangkan Hong Kong yang hanya bisa kulihat melalui majalah bisnis atau siaran televisi. Kabarnya, negara tersebut memiliki biaya hidup termahal di dunia. Beberapa teman sekelas, ibunya juga bekerja di Hong Kong. Kulihat mereka tampak memakai barang-barang bagus ke sekolah, bahkan merk luar negeri yang tak ada di pasaran. Dalam pikiranku penasaran, kenapa bapak dulu tidak merantau ke Hong Kong saja?
Aku tak bisa tidur memikirkan kelanjutan sekolahku. Yang jelas, harapan orang tua yang telah kupikul selama ini tidak boleh sia-sia.
“Kuliah kok dipikir sekarang? Itu kan masih jauh, nanti setelah kamu lulus SMA Nduk,” kata ibuku sambil menyalakan kompor minyak di dapur.
“Betul, yang penting sekarang persiapkan ujian nasionalmu, supaya lulus dengan nilai yang baik. SMA dulu, baru mikir kuliah,” tambah bapak.
“Pak, apa betul kuliah itu sulit? Tanyaku serius.
“Tidak sulit, hanya butuh perjuangan. Makanya rajin belajar, biar bisa melanjutkan ke SMA favorit, terus kuliah”. Jawab bapakku sambil sibuk menghitung sesuatu dengan kalkulator.
“Pak, tapi SMA favorit itu berada di kota. Terlalu jauh kalau harus ngonthel”, kataku penuh ragu.
“Apa salahnya ngonthel? Aku dulu sekolah ke kota juga ngonthel,” jawab bapak.
“Pokoknya nanti kalau SMA saya pakai motor ya Pak, “ kataku merajuk.
“Pokoknya kamu harus diterima di SMA favorit di kota, barulah bapakmu siap kasih motor. Kalau tidak, ya harus mau ngonthel”. Jawab bapak tampak serius.
Bayangan tentang cita-cita nampaknya mulai tersusun rapi. Terbayang di benakku betapa mudahnya ke sekolah tanpa harus berdesakan di dalam angkot. Kuatur jadwal belajarku secara mandiri di rumah. Pagi kami masuk sekolah jam enam untuk pendalaman materi yang dibimbing oleh guru mapel. Selesai sekolah aku dan beberapa siswa tidak langsung pulang, tapi mengikuti kursus yang dibuka oleh sekolah. Biayanya pun murah, tidak seperti bimbel-bimbel di luar. Keinginanku untuk kuliah semakin menggebu-nggebu, meskipun perjalanan yang harus kulalui masih sangat panjang.
Masa-masa SMA kulalui dengan penuh rasa syukur. Aku berhasil melanjutkan sekolah ke SMA favorit di kota, sesuai harapan keluarga. Teman-teman sebayaku banyak yang lebih memilih sekolah kejuruan atau bekerja ke luar negeri. Bapak menepati janjinya. Motor baru sudah siap mengantarku ke sekolah, tepat seminggu setelah pengumuman penerimaanku di SMA. Setiap hari aku pergi ke sekolah membonceng adikku yang masih SMP. Fasilitas ini ada bukan karena bapak kaya, melainkan karena kampung kami jauh dari jalur transportasi umum, sehingga terpaksa harus menyediakan motor sendiri. Keluargaku memang sederhana dan seadanya, namun pendidikan adalah prioritas yang utama. Oleh karena itu, bagaimanapun kondisi kami, tidak pernah nunggak uang sekolah. Bahkan semua kebutuhan sekolah tercukupi dengan sangat baik.
Tiga tahun terasa sangat cepat. Ujian Nasional telah kulalui. Sepertinya perjuanganku selama ini ditentukan oleh ujian selama tiga hari. Perasaan cemas sempat menyelimuti keseharianku. Sementara teman-temanku yang tidak melanjutkan kuliah telah magang di toko atau bengkel. Bahkan ada yang sudah sukses menjadi TKW sejak lulus SMP. Meskipun belum diyatakan lulus, aku telah mengikuti ujian masuk perguruan tinggi.
Pagi itu warung tetanggaku sudah heboh, beberapa orang tampak berkerumun sambil membolak-balik sebuah koran. Nampaknya ada hal yang sangat penting. Kerumuman itu bubar ketika ibuku datang untuk belanja sayur.
“ Lik, ini anakmu diterima kuliah,” teriak salah seorang tetangga sambil menunjuk sebuah nama yang tercantum pada koran itu.
“ Masak Yu?” Ibu merasa penasaran dan segera memeriksa lembaran koran itu. Setelah memastikan nama dan tanggal lahir, serta jurusan dan nama universitas, barulah ibu merasa yakin.
“Selamat ya Lik, semoga lancar semuanya”. Para tetangga di warung itu memberi selamat kepada ibu. Dalam waktu semalam mendadak aku menjadi topik yang hangat dibicarakan di lingkungan RT. Sebenarnya saat itu sudah ada tiga orang yang melanjutkan kuliah lebih dulu dan belum lulus. Namun jalur masuknya berbeda. Aku daftar melalui jalur reguler, yang konon katanya saringannya lebih sulit, namun biaya kuliahnya murah jika dibanding jalur non-reguler.
Rasa haru bercampur syukur, namun aku masih merasa was-was. Pasalnya, aku belum menerima pengumuman kelulusan. Bapak merasa sangat senang, namun juga khawatir. Ia belum memiliki uang yang cukup untuk membayar biaya daftar ulang, sementara waktu pembayaran tinggal tiga hari. Tanpa disangka-sangka, di tengah kebingungan itu saudaraku datang dan menitipkan sejumlah uang. Uang itu untuk membayar material bangunan yang telah dikirim oleh bapak. Alhamdulillah, memang Allah Maha Pemberi Pertolongan. Akhirnya uang kuliah bisa terbayarkan tepat waktu.
Thiiiiiiiiiiinnnnnnnnn thiiiiiiinnnnnnnnnnnnn… suara klakson motor terdengar dari halaman pagi itu. Aku berlari keluar. Petugas pos denga rompi khas berwarna oranye mengulurkan sebuh surat yang terbungkus amplop cokelat. Tanganku meraihnya dengan gemetar. Hari itu adalah pengumuman kelulusan. Siswa diminta menunggu di rumah. Perlahan-lahan kubuka amplop misterius itu. Tanpa membaca yang lain, mataku tertuju pada sebuah tulisan yang dicetak tebal di dalam kotak. DINYATAKAN LULUS. Begitulah tulisan dalam kotak itu. Kami sekeluarga sangat bersyukur. Perjuanganku selama ini telah membuahkan hasil. Mungkin, uang bisa dicari. Tapi kesempatan belum tentu datang dua kali.
Seragam putih-abu yang menemaniku selama tiga tahun telah menjelma menjadi jas almamater sebuah perguruan tinggi. Seragam itu mungkin sudah berlalu dan sudah sempit, tetapi pelajaran tentang kemandirian, kerja keras orang tua, rasa hormat, dan keberanian untuk bermimpi tinggi yang kudapatkan selama mengenakannya akan selalu melekat erat dalam jiwaku, menjadi bekal utama untuk melangkah ke jenjang kehidupan berikutnya.
Kreator : Maria Ulfa, S.S.
Comment Closed: BAB 4 Menembus Batas
Sorry, comment are closed for this post.