KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Beranda » Artikel » Bab 4_Invisible Labor

    Bab 4_Invisible Labor

    BY 18 Jan 2026 Dilihat: 26 kali
    Invisible Labor_alineaku

    Invisible Labor

     

    Setelah membahas tentang luka tak kasat mata dan bahaya celetukan yang meremehkan, kita sampai pada pertanyaan yang lebih mendasar: Kenapa sih kita bisa terjebak dalam persepsi keliru tentang kerja? 

    Kenapa sih kita lebih menghargai orang yang punya jabatan tinggi daripada orang yang berjuang untuk menghidupi keluarganya? 

    Kenapa sih kita lebih percaya influencer daripada tukang parkir?

    Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita bongkar mitos-mitos yang selama ini kita percayai tentang kerja. Siap? 

    Siapin kopi, cemilan, dan otak yang jernih karena kita bakal menyelam lebih dalam daripada menyelam di laut lepas!

    Kalau kerja harus selalu dibayar, dunia ini mestinya sudah lama berhenti berputar. Bayangin aja, kalo Bumi minta gaji tiap kali muter berrotasi, kita mau bayar pake apa? Pake daun? Pake utang? 

    Bumi berputar tanpa slip gaji, matahari terbit tanpa kontrak kerja, udara yang kita hirup tak pernah nagih invoice

    Aneh, kan? Alam semesta ini dianggap “tidak bekerja” menurut definisi sempit manusia, tapi justru membuat hidup kita menjadi mungkin untuk segalanya. 

    Alam aja gratisan, masa kita perhitungan?

    Lucu juga. Kalau kerja hanya yang kelihatan dan dibayar, bayi yang menangis tengah malam jelas “nggak kerja” karena hanya bikin orang lain repot. 

    Bayi itu kayak alarm—bunyinya bikin emosi. Sebaliknya, orang yang rajin hadir di rapat tiga jam—isinya ngopi, bercanda, dan memamerkan kertas kosong—dipuji sebagai “pekerja keras.” 

    Rapat, seminar, diskusi or whatever, itu kayak kondangan—dateng, salaman, makan, pulang. Dunia kita pandai sekali: memuja kemalasan yang dibungkus rapi, sambil menertawakan keringat yang menopang hidupnya sendiri. 

    Dunia ini kayak filter Instagram—bikin yang jelek jadi cakep.

    Di sinilah ironi bermula. Alam memberi tanpa pamrih, manusia justru membuat aturan yang sempit: kerja hanya sah kalau bisa dilihat, dihitung, atau dipamerkan. 

    Manusia itu kayak netizen—hobinya nge-judge orang dari luarnya aja. Standarnya kejam: kalau tak terlihat, berarti dianggap tak ada. 

    Relawan yang menenangkan trauma? Nol. Ibu rumah tangga yang begadang demi anaknya? Nol. 

    Kayak Wi-Fi—ada, tapi nggak akan kerasa kalo nggak dipake. Petani kecil yang menanam beras demi nasi di piring kita? Nol. Kayak oksigen—penting, tapi nggak pernah dipuji.

    Padahal kerja seperti ini hadir di mana-mana: orang yang mengendalikan amarah dan segala emosi demi rumah tangganya tetap utuh, anak muda yang menjaga dan merawat kakek-neneknya, sahabat yang menemani teman yang depresi, tetangga yang berjaga malam ketika kita mendadak harus keluar kota, mahasiswa yang merawat binatang terlantar dengan sisa uang kosannya. 

    Mereka itu superhero—ngelakuin kebaikan tanpa diminta. Semua menuntut energi, waktu, dan risiko—tetapi karena tak membawa slip gaji, kita men-stempel-mereka “tidak bekerja”. Kayak cinta—butuh pengorbanan, tapi nggak pernah ada jaminannya.

    Bandingkan dengan panggung resmi! Orang yang lihai menulis laporan kosong penuh jargon “efisiensi” dan “inovasi” diundang naik panggung, diberi bonus, bahkan standing ovation

    Kayak politisi—pinter ngomong, tapi nggak ada buktinya. Rapat empat jam tanpa keputusan disebut “kerja keras”. 

    Anggaran miliaran untuk spanduk dan seremoni dicatat sebagai “pembangunan”, persis kayak proyek pemerintah—gede di awal, nggak jelas di akhir. 

    Dalam korporasi, yang pandai jaga image melesat kariernya, sementara mereka yang menanggung beban kerja nyaris ngak pernah disebut. Kayak influencer—pinter bikin konten, tapi nggak ada isinya.

    Lebih pedih lagi, budaya kita menanamkan kepada kita sejak kecil bahwa hanya kerja berbayarlah yang bermakna. Kayak iklan kan? —bilangnya kalo nggak punya ini, hidup kita nggak kan bahagia. Konyol!

    Anak-anak dibesarkan dengan mantra “cita-cita harus bikin kaya,” bukan “cita-cita harus bikin hidup lebih baik.” Kayak lagi ngejar followers—yang penting banyak, kualitas ngak usah diurus, nggak penting. 

    Sekolah menekankan nilai ujian, bukan proses belajar. Media sosial memperparah: hanya yang bisa difoto dan diunggahlah yang dianggap bernilai. Kayak lagi lomba pamer—yang penting keren di foto, aslinya nggak usah dipikir, ngak penting. 

    Bahasa pun ikut menekan: kata nganggur dan produktif dipakai sembarangan, seolah orang yang tidak duduk di kantor otomatis dibilang buang-buang waktu. Kayak lagi nge-judge orang dari penampilannya—kalo nggak pake jas, berarti nggak sukses alias karirnya gagal.

    Coba renungkan! Jika kita betul-betul berpegang pada definisi sempit itu, peradaban ini akan macet total. Kayak jalan tol—kalo nggak ada yang bayar, ya nggak bisa dipake. 

    Siapa yang mau mengasuh anak, membersihkan rumah, mendengar keluhan, atau menumbuhkan harapan ketika semua orang hampir menyerah dan putus asa? 

    Tanpa kerja-kerja sunyi ini, panggung megah peradaban hanya topeng busuk yang indah terlihat dari kejauhan. Peradaban tanpa kerja-kerja sunyi itu bakal mirip konser tanpa penonton—sepi banget.

    Pengemudi ojek online perempuan juga hidup di tengah realitas ini, berjuang di dunia maskulin yang penuh stigma. 

    Mereka itu pejuang—berani ngelawan arus. Mereka sering dicap remeh, menghadapi pelecehan verbal, diskriminasi dari keluarga, tetangga, hingga pelanggan. Kayak lagi main game—banyak banget rintangannya. 

    Keberanian mereka menembus ketimpangan sosial adalah bukti kerja keras yang tak terlihat tapi nyata dan berisiko tinggi, mengingatkan kita pada cinta—butuh keberanian dan pengorbanan.

    Pada akhirnya, ayo jujur: yang benar-benar tidak bekerja mungkin bukan relawan, bukan petani, bukan ibu rumah tangga, bukan sahabat yang berjaga malam. 

    Justru mereka yang kita agungkan—orang yang duduk nyaman dengan jabatan atau gelar, rajin tampil di depan kamera, pandai menuntut hormat tapi minim kontribusi. Yang beneran nggak kerja itu mungkin para politisi—dateng pas pemilu doang.

    Kita merendahkan mereka, orang-orang yang benar-benar menopang hidup, seraya mengagungkan mereka yang sekadar mengaku “bekerja.” 

    Kita itu kayak orang yang lagi ketuker otak—yang beneran kerja malah diremehin, yang cuma pura-pura kerja malah dipuji.

    Jadi kalau definisi kerja harus dirombak, coba mulailah dari keberanian sederhana ini: belajar melihat kerja yang tak kasat mata. Kayak lagi belajar telepati—harus peka sama apa yang nggak keliatan.

    Hargai ibu yang diam-diam berjaga malam. Efeknya mirip kamu ngasih tip ke driver ojol—nggak seberapa, tapi bikin seneng. 

    Mari kita hargai petani kecil yang menanam beras, jagung, dan sayuran untuk kita, karena memberi ‘like’ pada postingan mereka lebih berarti daripada memuja orang kaya yang menebang hutan untuk digali dijadikan tambang.

    Hormati petani yang menanam makanan di ladang, bukan orang kaya yang menanam beton di bekas hutan, yang panennya sudah lebih dari menguntungkan daripada ‘keuntungan’ hidup buat para pekerja tambangnya sendiri. 

    Berikan dukungan pada petani kecil yang memberi kita umbi dan buah-buahan, sebab apresiasi sederhana dari kita jauh lebih berharga daripada sanjungan pada orang kaya yang menggusur penduduk lokal demi lahan untuk pertambangan.

    Jangan lupakan petani yang menanam gandum dan padi untuk kebutuhan kita sehari-hari, mengingat ucapan ‘terima kasih’ dari kita jauh lebih tulus daripada ‘karpet merah’ untuk para pemilik modal yang merusak lingkungan.

    Ayo kita rayakan kerja keras petani kecil yang menyajikan makanan di meja kita, karena ‘jempol’ kita bagi mereka lebih berarti daripada ‘applause’ untuk orang kaya yang menebang hutan tanpa permisi.

    Akui relawan yang memilih letih tanpa tanda jasa. Gunakan imajinasimu: Situasi kacau balau, alam sedang “ngamuk” habis-habisan. Banjir bandang datang tanpa permisi, menyeret apa saja yang ada di hadapannya, termasuk etalase warung yang baru saja diisi ulang. 

    Ada lansia yang terjebak di dalam lagi stroke, mungkin karena terlalu banyak makan gorengan sampai obesitas dan susah bergerak cepat. 

    Tanpa kehadiran para relawan, bantuan macam apa yang bisa kamu berikan?

    Kebakaran hutan melahap segalanya, bisa jadi ada oknum manusia yang iseng bakar sampah rumput kering sembarangan untuk buka lahan. Longsor mengubur rumah-rumah, gegara upaya pembangunan yang tidak memperhatikan kondisi alam. Pohon tumbang menimpa mobil mewah misalnya akibat karma karena pemiliknya sering parkir sembarangan.

    Di tengah kekacauan kayak gitu, muncullah para relawan. Mereka bukan superhero dengan kostum ketat dan berkekuatan super. Mereka adalah orang-orang biasa yang memilih untuk “letih tanpa tanda jasa”. 

    Mereka tidak peduli dengan sorotan kamera atau pujian dari netizen. Mereka hanya peduli bagaimana caranya membantu sesama yang sedang kesusahan.

    Sementara itu, ada juga yang disebut “influencer bencana”. Mereka datang ke lokasi bencana bukan untuk membantu, tapi untuk membuat konten. 

    Mereka sibuk mencari angle yang bagus untuk foto dan video, demi mendapatkan like dan komentar. Mereka mewawancarai korban bencana sambil memasang wajah sedih yang dibuat-buat. Mereka adalah parasit yang memanfaatkan penderitaan orang lain untuk keuntungan pribadi.

    Jadi, mari kita akui dan hargai para relawan yang benar-benar bekerja tanpa pamrih. Mereka adalah pahlawan sejati yang layak mendapatkan apresiasi lebih dari sekadar ucapan terima kasih. Mereka adalah contoh nyata bahwa kemanusiaan masih ada di dunia ini, di tengah bencana dan keserakahan.

    Jadi, intinya lagi-lagi mari kita akui dan hargai para relawan yang benar-benar bekerja tanpa pamrih. Mereka adalah pahlawan sejati yang layak mendapatkan apresiasi lebih dari sekadar ucapan terima kasih—apalagi janji-janji kampanye! 

    Mereka adalah contoh nyata bahwa kemanusiaan masih ada di dunia ini, di tengah bencana dan keserakahan, mereka masih saja punya tenaga untuk bantu sampai rela jauh dari keluarga mereka sendiri untuk waktu yang ‘lumayan’ ngak jelas, tergantung situasi dan kondisi di lapangan.  Jangan-jangan mereka alien yang nyamar jadi manusia, tenaganya ngak ada habisnya.

    Nah, karena kita sudah sepakat relawan itu keren, sudah saatnya kita berhenti drama air mata dan mulai berpikir mencari cara menyampaikan apresiasi yang nggak bikin dompet nangis. Kayak ngasih apresiasi ke seniman jalanan—nggak mahal, tapi bermakna, soalnya, seniman jalanan itu ngak jauh beda dengan relawan juga, sama-sama berjuang dalam kerasnya kehidupan, bedanya yang satu bagi-bagi makanan, yang satu bagi-bagi suara. 

    Sudahlah, hentikan panggung bagi kepura-puraan yang hanya pandai berpose. Kayak sinetron, berhenti nonton!—nggak ada faedahnya. Mendingan nonton kucing berantem, lebih realistis dan menghibur!

    Dunia takkan runtuh oleh mereka yang tak punya jabatan, tetapi oleh mereka yang punya jabatan tanpa kerja nyata. 

    Peradaban bisa hidup tanpa rapat kosong, tapi tidak tanpa tangan-tangan diam yang menopangnya. Dunia ini butuh lebih banyak orang yang kerja beneran, bukan cuma orang yang ngaku-ngaku kerja.

    Mulailah menghitung kembali kerja yang benar-benar layak disebut kerja. Buat seperti lagi ngitung amal—yang penting ikhlas, bukan jumlahnya.

    So, Guys, setelah kita bongkar mitos-mitos ini, apa yang harus kita lakukan?

    Gimana kalau kita mulai dari revolusi mental? Ala kadarnya dulu juga ngak apa-apa. Pertama, stop drama nge-judge orang dari pekerjaannya. 

    Ingat, semua orang punya perannya masing-masing, bahkan tukang parkir yang suka bikin macet juga ada gunanya (minimal buat ngasih alasan buat telat ke kosan pacar).

    Ketangkep ngak jalan pikirannya?

    Bayangkan kamu udah janji jemput pacar jam 7, tapi jam 7 kurang 5 kamu masih di jalan, kejebak macet gara-gara ketemu tukang parkir lagi debat kusir sama emak-emak yang parkirnya makan jalan, atau lebih parah lagi, dia nggak punya uang kembalian yang pas dan si emak ngak terima itu! 

    Akhirnya, dengan wajah memelas, kamu bisa bilang ke pacar: ‘Sayang, maaf telat, tadi macet parah gara-gara tukang parkir nggak punya receh!’

    Mungkin pacarmu nggak percaya, mungkin juga dia malah ngakak tapi setidaknya, kamu punya alasan yang (agak) logis untuk bisa menyalahkan orang lain daripada ngaku telat karena ketiduran atau keasyikan main game.

    Intinya, tukang parkir itu adalah pahlawan tanpa tanda jasa… jasa buat kita bisa bikin alasan maksudnya!

    Ke dua, mari kita hargai “kerja-kerja ninja” yang nggak kelihatan. Kasih apresiasi, jangan cuma nyinyir. 

    Dukung, jangan cuma komen. Perhatian, jangan cuma kepo. Jangan jadi patung manekin di etalase toko!

    Ke tiga, mari kita ubah definisi sukses ala sinetron. Sukses itu bukan cuma soal saldo ATM yang bikin mata ijo, tapi juga soal hati yang adem, hidup yang bermanfaat, dan bisa bikin orang lain tersenyum (bukan senyum sinis karena iri).

    Ke empat, mari kita didik adik-adik kita atau bahkan anak-anak kita kelak dengan nilai-nilai yang bener, bukan cuma nilai ujian. Ajarkan mereka buat ngehargain semua orang, bahkan haters sekalipun (siapa tahu bisa jadi lovers). 

    Ajarkan buat berbuat baik, bukan cuma berbuat bener (soalnya yang bener doang mah robot juga bisa). Ajarkan buat berkontribusi positif, bukan cuma nyampah di media sosial.

    Kalau aku jadi kakak atau ayah, ada banyak nilai yang ingin aku tanamkan dalam diri adik atau anakku. 

    Pertama dan terutama adalah kejujuran dan integritas, karena ini adalah fondasi dari segala hal yang bernilai baik. 

    Aku pengen mereka belajar bahwa kejujuran, meskipun kadang terasa pahit, jauh lebih baik daripada kebohongan yang manis namun merusak, karena selalu bikin sial di ujung.

    Aku juga pengen mereka memiliki empati dan kasih sayang. Dunia ini sudah cukup keras, jadi penting bagi kita untuk saling menyayangi, peduli terhadap sesama dan lingkungan sekitar, serta saling menghargai perbedaan. 

    Selain itu, aku mau mereka memahami pentingnya kerja keras dan ketekunan. Tidak ada kesuksesan yang instan, dan belajar dari kegagalan sudah pasti jauh lebih berharga daripada sekadar meraih nilai di sekolah yang bagus apalagi hanya sesekali. 

    Kreativitas dan rasa ingin tahu juga jadi nilai yang ingin aku pupuk, agar mereka selalu penasaran dengan dunia, berani mencoba hal baru, dan berpikir di luar kotak. 

    Tanggung jawab dan kemandirian juga tak kalah penting, agar mereka belajar bertanggung jawab atas diri sendiri, tidak menyalahkan orang lain, dan berani mengambil keputusan. 

    Aku juga ingin mereka memiliki rasa syukur dan kebahagiaan, belajar mensyukuri hal-hal kecil, menemukan kebahagiaan dalam kesederhanaan, dan tidak mudah iri hati. 

    Terakhir, aku ingin mereka menjadi pribadi yang kritis dan berani bicara, tidak mudah percaya pada segala sesuatu begitu saja tanpa pertimbangan, berani bertanya, bersedia berbeda pendapat, dan siap membela kebenaran. 

    Intinya, aku ingin mereka tumbuh menjadi manusia yang baik, cerdas, kreatif, dan bahagia. Nilai ujian memang penting, namun karakter dan kepribadian jauh lebih utama.

    Kalo kita semua berhasil melakukan semua hal tadi, aku yakin dunia ini bakal jadi tempat yang jauh lebih baik, yang lebih adil, lebih makmur, dan lebih bahagia. 

    Nggak ada lagi tuh berita korupsi, bullying, atau orang kelaparan. Semua orang pasti hidup rukun, damai, dan sejahtera.

    Tumben ya aku bicaranya pinter gini, kayak motivator ulung! Padahal, kenyataannya, ngajarin diri sendiri buat nggak bangun telat aja susahnya minta ampun. Tapi nggak apa-apa, kan ya? 

    Namanya juga usaha. Siapa tahu, dengan terus ngomong kayak gini, lama-lama aku beneran jadi orang baik dan bisa ngajak orang lain buat jadi lebih baik juga. Atau minimal, bisa jadi pemenang lomba pidato tingkat RT buat tujuhbelasan nanti. Hehehe…

    Jadi udah paham ya. Jangan pernah lupa, semua orang punya peran masing-masing, dan semua peran itu sama-sama penting. 

    Jangan kayak netizen julid yang bisanya cuma nyinyir—mendingan bantu nyariin kerjaan buat mereka.

    Coba bayangin, seorang ibu rumah tangga yang setiap hari berjibaku dengan cucian, setrikaan, dan drama anak-anak. Sadar ngak kalau dia itu kayak master of chaos management—ngatur semuanya biar nggak amburadul? 

    Tapi apa yang dia dapet? Seringnya malah dianggap remeh, padahal tanpa dia, mungkin rumah udah kayak kandang ayam abis kena tornado. 

    Masih ingat relawan yang rela begadang demi bantuin para korban bencana? Udah kayak ninja tapi apa yang dia dapet? Seringnya malah dicurigai, padahal tanpa dia, mungkin harapan udah punah ditelan bumi. 

    Jadi sudahlah, hargai saja kerja-kerja yang nggak keliatan! Kasih apresiasi, kasih dukungan, kasih perhatian. Jangan cuma jadi penonton bayaran—mendingan ikut nyumbang tenaga.

    Coba deh, sekali-kali kasih bintang lima ke driver ojol yang udah sabar ngadepin macet dan pelanggan rewel. Ini bukan cuma soal rating, tapi juga soal respect

    Atau coba juga deh, sekali-kali bantuin petugas kebersihan yang lagi nyapu jalanan. Itu bukan cuma soal kebersihan, tapi juga soal kepedulian. Ngak sanggup? Malu? Jangan buang sampah sembarangan makanya! Buang ke tempatnya! Jangan asal lempar!

    Terus, pernah ngak sekali waktu, dengerin curhatan temen yang lagi galau? Itu bukan cuma soal waktu, tapi juga soal persahabatan.

    Pokoknya, ubahlah pola pikir kita tentang kesuksesan! Sukses itu bukan cuma soal punya Lamborghini, tapi juga soal punya hati yang lapang. Jangan kayak influencer—pamer kekayaan, padahal cicilan semua dan belum lunas lagi.

    Tanya sama orang yang udah punya segalanya, tapi hidupnya hampa. Pasti dia bakal bilang, “Dulu gue cuma ngejar dunia.” 

    Atau coba deh, tanya sama orang yang hidupnya sederhana, tapi hatinya penuh cinta. Pasti dia bakal bilang, “Aku sudah menemukan arti hidup ini.”

    Nah begitu maksudnya mendidik adik-adik atau anak-anak kita dengan nilai-nilai yang benar! 

    Tujuannya untuk membentuk mereka jadi manusia yang baik, bukan cuma jadi mesin penghasil uang. Jangan kayak politisi—janji manis, tapi langka bukti.

    Ajarkan junior kita untuk nggak rasis, nggak diskriminasi, dan nggak korupsi. Ajarkan mereka untuk selalu jujur, adil, dan bertanggung jawab, mengingat kelak di masa depan, mereka itu adalah harapan kita, dan harapan kita ada di tangan mereka.

    Yakin deh dunia ini bakal waras lagi. Tapi inget, Guys, perubahan itu nggak dateng kayak sulap. Kita harus mulai dari diri sendiri, dari sekarang, dan dari hal-hal yang semula kita anggap receh.

    Sekecil apapun itu, pasti bakal jadi virus positif yang nyebar ke mana-mana dan dari sebutir kebaikan yang kita lakuin, buahnya pasti bakal balik lagi ke kita dan pasti banyak buahnya, entah dalam bentuk rezeki, kesehatan, atau jodoh (siapa tahu!).

    Jadi, tunggu apa lagi? Beres baca halaman ini, tantang dirimu untuk jadi agen perubahan dadakan, pahlawan tanpa jubah, atau minimal jadi tetangga yang nggak nyetel dangdut kenceng-kenceng tengah malem pake sound horeg.

    Bantu seseorang, siapapun yang kau temui dan sedang mengalami kesulitan, sekecil apapun bantuannya! Jangan bayangin harus nolongin orang yang lagi dikejar-kejar debt collector dulu. 

    Mulai dari hal-hal sepele aja, misalnya, pas lagi makan di warteg, lihat ada anak kecil yang pengen beli tapi nggak punya uang, ya udah, bayarin aja nasinya, bungkusin sekalian, bikin lebih, siapa tahu di rumahnya ortunya lagi kelaparan juga. 

    Nggak bikin dompet bolong juga, kan? Atau, pas lagi naik angkot, lihat ada ibu-ibu hamil baru masuk, tawarin tempat duduk, kamu geser atau sekalian mepet mojok. Nggak bakal bikin kamu mendadak berubah jadi kakek-kakek juga, kan? 

    Di kantor, jangan cuma jadi jagoan ngopi atau ngerumpi doang. Lihat teman sekantor yang lagi stres karena kerjaan numpuk, tawarin bantuan. Siapa tahu, dengan bantuin dia, malah bisa cinlok. 

    Di kampus, jangan cuma nongkrong di kafe sambil ngomongin mantan. Lihat teman sekelas lagi bingung sama tugas kuliah, coba jelasin. Siapa tahu, dengan ngejelasin ke orang lain, malah jadi makin pinter sendiri. 

    Di jalan, jangan cuma fokus sama HP atau gebetan. Lihat ada nenek-nenek mau nyebrang, bantu seberangin. Nggak bakal bikin kamu dadakan langsung jadi cucunya juga, kan?

    Tapi, ya, jangan juga kayak orang gila yang nyari pahala. Nggak perlu bikin konser amal setiap kali nolongin orang, apalagi sampai bikin sayembara “Siapa yang Paling Layak Ditolong?” 

    Ide bikin sayembara ‘Siapa yang Paling Layak Ditolong?’ itu kocak sekaligus nyindir banget. Soalnya, menolong itu seharusnya tulus, bukan malah jadi ajang pamer atau rebutan. Sama aja kayak bikin audisi buat orang miskin, kan nggak banget!

    Ingat, niat baik itu kayak kentut, makin ditahan makin nggak enak, tapi, kalau dikeluarin sembarangan juga nggak sopan. Jadi, bantulah dengan diam-diam, kayak ninja sedekah yang beraksi tanpa ketahuan. 

    Mulai dari ngebukain pintu buat orang yang bawa koper segede dosa masa lalu (asal jangan koper berisi bom), nawarin tempat duduk di KRL buat emak-emak yang bawa anak segede gaban (siapa tahu dapat tatapan penuh rasa terima kasih, bukan tatapan sinis akibat dikira modus), sampai mungutin recehan yang jatuh dari dompet orang lain (siapa tahu dapet nomor telepon calon pasangan hidup masa depan). 

    Kalau kamu emang pengen viral dan dapet endorse-an, ya beda lagi urusannya. Tapi inget, jangan sampe lupa diri dan malah jadi musuh masyarakat.

    Nah, daripada ribet mikirin kostum atau kekuatan super, mendingan kita fokus sama hal yang lebih realistis. Jadi, kita ngobrol tentang jadi pahlawan super sehari-hari, tanpa perlu kostum ketat atau kekuatan super aneh nih?

    Caranya? Oh, tetap sederhana aja, kayak tadi, bukakan pintu untuk orang yang membawa barang seberat hutang kartu kredit mereka, atau tawarkan tempat duduk di bus—asalkan Anda yakin mereka benar-benar lebih membutuhkan daripada Anda yang sedang pura-pura tidur.

    Jangan lupa bantu menyeberangkan lansia, karena siapa tahu, mungkin mereka punya warisan yang belum dibagikan ke ahli waris yang menelantarkannya. Siapa tahu dia sayang dan pengen ngasih ke kamu.

    Beres dengan itu, jangan berhenti di bantuan fisik. Jadilah ahli terapi dadakan dengan mendengarkan keluhan orang lain, meskipun Anda sendiri sedang ingin curhat tentang cicilan yang tak kunjung lunas. 

    Berikan senyuman—gratis dan lebih efektif daripada botox. Pujilah tetangga yang berhasil menurunkan berat badan—sekalipun Anda curiga dia diet ekstrem yang tidak sehat.

    Jika Anda merasa terlalu baik untuk sekadar tersenyum, cobalah membantu orang tersesat. Berikan arah jalan yang jelas, atau lebih baik lagi, sesatkan mereka sekalian yang lebih jauh—siapa tahu mereka menemukan petualangan baru yang lebih menguras adrenalin sesuai ekspektasi mereka. 

    Bantu juga orang tua menggunakan ponsel pintar, lalu saksikan mereka tanpa sengaja mengirim pesan cinta ke grup keluarga.

    Tentu saja, kita tidak boleh melupakan bantuan finansial. Berikan uang receh kepada pengamen—siapa tahu mereka bisa membeli gitar baru dan menciptakan lagu yang lebih baik daripada lagu cinta galau yang itu-itu aja. 

    Beli makanan dari pedagang kaki lima—karena mendukung usaha kecil lebih keren daripada mendukung korporasi raksasa yang hanya peduli pada keuntungan pribadi dan kelompoknya.

    Terakhir yang kepikiran, kalau kamu punya keterampilan, jangan simpan untuk diri sendiri. Ajarkan cara memasak kepada teman yang selalu makan mie instan, atau berikan konsultasi gratis kepada orang yang membutuhkan saran—meskipun Anda sendiri tidak yakin dengan apa yang Anda lakukan, setidaknya sudah menunjukkan niat baik.

    Ingat, semua ini harus dilakukan dengan tulus, tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Jangan sampai Anda membantu orang lain hanya untuk mendapatkan validasi di media sosial. 

    Poin yang terpenting, perhatikan keamanan diri sendiri. Jangan sampai Anda menjadi korban kebaikan Anda sendiri karena di dunia yang serba aneh ini, ngak jarang orang baik justru menjadi bulan-bulanan orang jahat.

    Intinya, buka mata dan hati. Lihat sekelilingmu. Pasti ada aja orang yang butuh bantuan, sekecil apapun. Jangan nunggu disuruh, jangan nunggu ada imbalan, jangan nunggu viral di TikTok. Lakuin aja. 

    Kata orang bijak (atau sales MLM), “Sedekah itu nggak bikin miskin.” Tapi, kalaupun belum kaya, ya nggak apa-apa juga sih. Yang penting, hati tetap kaya dan kita terus berusaha untuk memperbaiki diri dan keadaan.

    Keren ya aku? Kedengeran kayak orang bijak… inspiratif gitu.

    Nah, Guys, udah dengerin semua kan ocehan dari aku? Semoga nggak bikin kalian auto-ngantuk ya! 

    Intinya sih, yuk mulai sekarang kita sama-sama jadi agen perubahan! Nggak perlu nunggu jadi superhero dulu, kok. Siapa tahu, kan, kebaikan kecil kita bisa bikin dunia ini jadi lebih berwarna. 

    😉 Oh iya, jangan lupa juga buat selalu bahagia! Karena hidup itu kayak es krim—kalo nggak dinikmatin, ya meleleh. 

    🍦 Jadi, nikmati setiap momen, jangan lupa ketawa! 😂

    Nah, setelah semangat jadi agen perubahan dan menikmati hidup kayak es krim, muncul pertanyaan nih: kenapa sih ‘invisible labor’ ini sering banget diremehin? Apa ada faktor lain yang bikin kita jadi buta? Temukan jawabannya di bab selanjutnya, ya! 

    😉 Siapin kopi lagi biar nggak ngantuk! 😂

    Eits, tapi sebelum kita lanjut ngopi dan mikir yang berat-berat, siapin mental dulu ya. Soalnya, bab selanjutnya ini bakal ngebahas sesuatu yang lebih serius dari sekadar harga skincare atau drama Korea.

     

     

    Kreator : Adhipateyya Khanti Wardoyo (ADWANTHI)

    Bagikan ke

    Comment Closed: Bab 4_Invisible Labor

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021