BAB 5: ROTI PENYEMBUH LUKA LAMA
Pagi setelah Seraphina pergi, gubuk terasa kosong.
Bukan karena sunyi. Tapi karena tidak ada lagi suara orang menangis.
Tio bangun lebih awal. Dia yang nyalain api. Dia yang menyapu daun kering di depan pintu.
Nenek Ysra duduk di meja. Buku kayu itu ada di depannya. Tapi belum terbuka.
“Hari ini untukmu,” kata nenek itu.
Tio berhenti nyapu. “Untuk saya?”
Nenek Ysra menepuk kursi di depannya. “Duduk. Uleni.”
Di atas meja sudah ada tepung, air, dan semangkok kecil berisi sesuatu yang hitam. Kayak arang yang ditumbuk halus.
“Ini apa?” tanya Tio.
“Abu,” jawab Nenek Ysra. “Abu dari surat yang tidak pernah kamu kirim.”
Tangan Tio gemetar. Surat di tasnya. Yang sudah tiga tahun dia bawa kemana-mana.
“Kamu kira aku tidak tahu?” kata nenek itu pelan. “Surat untuk ibumu. Yang isinya cuma satu kalimat: Maaf aku pulang terlambat.”
Tio menunduk. Tenggorokannya tercekat.
“Roti hari ini beda,” lanjut Nenek Ysra. “Roti ini tidak untuk dibagi. Roti ini untuk menyembuhkan yang bikin.”
Dia menuang abu ke adonan. Warnanya langsung jadi abu-abu. Kusam.
“Tinju. Lipat. Putar. Seratus kali,” perintah nenek itu. “Tiap ulenan, sebut satu hal yang kamu sesali.”
Tio mulai. Tangannya berat.
“Saya kabur dari panti,” bisiknya. Tinju.
“Saya percaya orang jahat,” bisiknya. Lipat.
“Saya tidak cari Ibu,” bisiknya. Putar.
“Saya takut pulang,” bisiknya lagi. Tinju.
Satu. Dua. Sepuluh. Lima puluh.
Air matanya jatuh ke adonan. Membuatnya makin lengket.
“Saya pikir kalau saya pulang, Ibu sudah tidak ada,” akhirnya dia pecah. “Jadi saya pilih tidak pulang sama sekali.”
Adonan selesai. Seratus kali.
Nenek Ysra membentuknya jadi satu roti bulat. Tidak besar. Tidak cantik. Permukaannya retak-retak.
“Dipanggang dengan api kecil,” kata nenek itu. “Karena luka lama tidak bisa dibakar. Harus dihangatkan pelan-pelan.”
Wangi yang keluar bukan wangi madu. Bukan wangi gandum.
Wanginya rumah. Wangi hujan di genteng seng. Wangi pelukan yang sudah lama hilang.
“Ambil,” kata Nenek Ysra.
Tio mengambil roti itu dengan dua tangan. Masih panas.
“Makan,” kata nenek itu. “Sendiri. Habiskan.”
Tegukan pertama, rasanya pahit. Kayak abu.
Tegukan kedua, rasanya asin. Kayak air mata.
Tegukan ketiga… rasanya lega.
Tio menangis sambil makan. Tidak tersedu. Hanya air mata yang terus jatuh.
Dia makan sampai habis. Sampai remah terakhir.
Setelah selesai, dadanya ringan. Berat yang dia gendong tiga tahun… hilang.
Buku di meja terbuka sendiri.
Resep 5: Roti Penyembuh Luka Lama
Bahan: Tepung dari gandum yang ditanam sendiri, air dari sumur gubuk, abu dari surat yang tidak terkirim, satu pengakuan jujur.
Cara: Uleni seratus kali. Tiap ulenan sebut satu penyesalan.
Catatan: Rasanya tidak enak. Tapi setelah habis, kamu bisa jalan lagi.
Di bawahnya ada tulisan baru:
Tio sudah pulang. Bukan ke rumah. Tapi ke dirinya sendiri.
Nenek Ysra menyentuh kepala Tio. “Sekarang kamu pilih. Mau tetap di sini bantu aku. Atau pulang. Cari ibumu.”
Tio mengusap wajahnya. “Saya… saya mau pulang, Nek.”
“Bagus,” kata Nenek Ysra. Senyumnya tipis. “Tapi ingat. Pulang bukan cuma soal kaki. Pulang soal berani mengetuk pintu.”
Siang itu Tio mengemasi tasnya. Suratnya sudah tidak ada. Tinggal abu di mangkok.
Sebelum pergi, dia memeluk Nenek Ysra. Kencang.
“Terima kasih untuk supnya. Untuk rotinya. Untuk semuanya.”
“Jaga pintunya tetap terbuka,” kata nenek itu.
Tio melangkah keluar. Pintu kayu berderit.
_Kriiieekkk…_
Kali ini suaranya bukan “kamu aman”.
Suaranya bilang “selamat jalan”.
Di luar, matahari akhirnya keluar. Menghangatkan 24 pohon yang mulai bertunas lagi.
Di dalam, Nenek Ysra menutup bukunya.
“Ada tamu lagi besok,” bisiknya. “Tapi hari ini… istirahat dulu.”
Kreator : Nadya Putri
Comment Closed: Bab 5 dari novel Rahasia buku sihir nenek Ysra
Sorry, comment are closed for this post.