Tahun baru 1991 dimulai dengan sangat meriah di penjuru Kota Yogyakarta. Biasanya, Suli dan saudaranya pergi ke Monumen Yogya Kembali karena di sana selalu ramai dan banyak kembang api dinyalakan di setiap sudut. Saat tahun baru, mereka memang diberi izin oleh Bapak dan Ibu untuk melihat kembang api.
Monumen Yogya Kembali sejak tahun lalu selalu ramai. Wisata ini termasuk baru, karena Presiden Soeharto baru meresmikannya dua tahun lalu, tepatnya pada 6 Juli 1989. Saat peresmian, tempat itu amat padat setiap malamnya. Itulah sebabnya kami tidak diizinkan berkunjung waktu itu, takut tersesat dan berbahaya bagi kami yang masih kecil.
“Selamat tahun baru!”
“Selamat tahun baru!”
Semua orang saling mengucapkan hal yang sama, termasuk mereka yang kagum melihat banyaknya kembang api menyala di setiap sudut jalan.
Suli dan Warti berjalan bersama sambil menikmati keramaian. Jika pergi ke tempat wisata, Warti selalu membawa banyak uang, dan Suli adalah orang yang paling sering dijajani olehnya. Warti sangat baik kepada Suli—dia satu-satunya anak dari keluarga berada di kampung itu yang mau berteman dengan Suli. Teman-teman sekolah yang lain enggan bermain dengannya karena keluarganya bukan dari kalangan orang mampu.
“Kang Yoto, aku sama Warti mau beli es krim sek, ya,” pamitku pada kakakku.
“Yoo, ati-ati nyebrang, ee,” jawabnya sambil tetap bermain dengan teman-temannya.
“Li, aku boleh tanya dhak?” ucap Warti dengan wajah sedikit penasaran.
“Tanya apa? Tanya aja, tumben pakai izin segala. Aneh kamu,” balas Suli sambil tertawa kecil.
Warti tersenyum malu.
“Apa Kang Yoto wes duwe (punya) orang yang dia senengi, ya, Li?”
“Hemmm?”
Suli kaget mendengar pertanyaan itu. Seakan ada maksud tersembunyi di balik kata-kata sahabatnya. Sejak lama, Suli memang sering memperhatikan Warti jika sedang main ke rumahnya. Ia tampak malu-malu dan sering curi pandang ke arah Kang Yoto. Ternyata, dugaannya benar—Warti memang menyukai kakaknya.
“Lha, emang kenapa kok tumben tanya gitu?” Suli pura-pura tidak tahu, sengaja ingin memastikan langsung dari mulut sahabatnya.
“Mau tahu aja. Sebenere aku suka sama Kang Yoto wes awet (sejak lama), Li. Cuma aku bingung mau bilang ke Ibu. Bilang ke kamu aja aku sudah deg-degan. Tapi aku tahu kamu bisa jaga rahasia. Ojo bilang siapa-siapa, ya!”
Wajah Warti tampak cemas, matanya menunduk.
“Kamu serius, Ti?” tanya Suli ragu. “Kok bisa Kang Yoto, to? Kamu tahu sendiri kan, kakakku itu agak bandel dan jail. Aku aja capek dijailin terus. Kenapa kamu bisa suka sama dia sih? Aneh!”
“Wong suka sama orang kok dibilang aneh. Kamu itu yang aneh, tau! Banyak yang suka sama kamu, tapi kamu sok jual mahal. Kalau aku disuruh nikah sama Ibu, aku pasti jawab iya—dan aku mau, ne, sama Kang Yoto,” ucap Warti tegas.
“Wah, tenanan iki (beneran ini)? Kamu serius suka sama kakakku, Ti? Kok aku jadi takut, ya…”
“Beneran lah, serius. Dhak bercanda. Aku ne juga takut kok, bukan kamu aja yang takut.”
Suli dan Warti sama-sama terdiam. Seolah waktu berhenti sejenak. Mereka berdua menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Pengakuan itu membuat Suli bingung—haruskah ia mendukung atau melarang sahabatnya? Semua orang tahu, Warti berasal dari keluarga berada, sedangkan Suli dan Kang Yoto jelas bukan siapa-siapa. Apa mungkin orang tua Warti setuju? Meski mereka baik pada keluarga Suli, rasanya mustahil menikahkan anak semata wayang mereka dengan orang miskin.
Alhamdulillah, hari ini Suli resmi lulus sekolah dasar. Di usianya yang hampir tiga belas tahun, ia ingin melanjutkan sekolah untuk mewujudkan impiannya menjadi guru. Kata Pak Guru, nilainya cukup baik dan bisa membuatnya diterima di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Kabupaten Bantul. Walau jarak dari desanya cukup jauh—sekitar 50 menit naik sepeda—Suli tetap ingin melanjutkan sekolah di sana. Ia berharap Bapak dan Ibu setuju.
Saat tiba di rumah, Suli terkejut. Bapak dan Ibu Warti datang ke rumah mereka. Ternyata, orang tua Warti sudah tahu kalau anak gadisnya menyukai Kang Yoto. Bapak dan Ibu Suli pun kaget mendengar kabar itu.
Orang tua Warti dengan tegas menolak keinginan anaknya. Itulah sebabnya mereka datang: untuk menjelaskan bahwa mustahil mereka bisa besanan. Mereka tidak mau anak gadis satu-satunya hidup susah dengan anak bandel seperti Kang Yoto. Di mata masyarakat desa, Kang Yoto memang dianggap nakal—suka main dengan teman-temannya dan malas mengaji.
Lebih dari itu, mereka menilai keluarga Suli hanyalah penerima bantuan, bukan pemberi.
Mendengar kata-kata itu, Suli yang berdiri di belakang rumah terkejut dan sedih. Bagaimana bisa keluarga yang selama ini tampak baik ternyata menyimpan kesombongan dan penghinaan? Walau bisa dimengerti orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya, namun kata-kata mereka bukanlah nasihat, melainkan luka.
Keluarga kami memang miskin, tapi kami tidak pernah meminta bantuan siapa pun. Justru mereka yang sering memaksa membantu kami, dengan alasan “berbagi” atau “tolong-menolong”. Jika kami menolak, mereka akan menyebut kami miskin tapi sombong. Itulah sebabnya kami sering menerima bantuan itu, walau akhirnya kami berikan lagi kepada orang lain yang lebih membutuhkan.
Setelah Bapak dan Ibu Warti pulang, Suli melihat Ibunya masuk kamar dan menangis tersedu-sedu. Sedih, hancur, kecewa—semua bercampur jadi satu. Kata-kata mereka terlalu kejam. Siapa sebenarnya yang membantu dan siapa yang dibantu?
Keluarga kami tak pernah perhitungan. Bapak selalu hadir setiap kali mereka butuh tenaga, selalu siap jika mereka memanggil. Tapi mereka tak pernah menganggap itu bantuan. Mereka berpikir, kamilah yang butuh mereka.
Kejadian itu menjadi pelajaran berharga bagi Suli dan keluarganya: setiap orang akan baik kepada orang lain selama orang itu bermanfaat baginya. Mereka jarang memandang orang lain sebagai manusia yang sejajar. Padahal, memanusiakan manusia artinya saling menghormati dan menghargai.
Peristiwa itu mengingatkan Suli pada kata-kata gurunya:
“Sibābul muslimin fusūqun, wa qitāluhu kufrun.”
“Mencaci seorang muslim adalah kefasikan, dan membunuhnya adalah kekufuran.” (HR. Bukhari & Muslim)
“Lā yadkhulul jannata nammām.”
“Tidak masuk surga orang yang suka mencela.” (HR. Muslim)
Tidak ada orang yang benar-benar baik kepada orang lain jika hanya demi manfaat bagi dirinya. Tidak ada orang yang benar-benar menghormati jika ia hanya menilai dari kedudukan atau harta.
Semua ciptaan Allah itu sama derajatnya di sisi-Nya. Yang membedakan hanyalah amal salehnya, bukan harta bendanya—benda dunia yang tak akan pernah dibawa mati.
Air mata Ibu tak bisa dihapus siapa pun. Kesedihannya pun tak bisa sepenuhnya dirasakan orang lain. Yang bisa dilakukan hanya memeluknya dan berkata lembut.
“Sabar, ya, Bu. Allah bersama orang-orang yang sabar dan yakin bahwa semua takdir-Nya itu baik.”
Hinaan itu menjadi ujian untuk orang tua Suli. Mereka tak pernah menyangka, yang menyakiti adalah orang yang dianggap keluarga sendiri. Orang yang tampak baik dan tulus ternyata tidak sungguh-sungguh. Setiap kebaikan mereka selalu ada hitungannya.
Padahal, sejatinya kebaikan yang ikhlas memiliki pahala besar di sisi Allah.
Begitu juga keburukan, ia akan berbuah dosa besar dan siksa di neraka.
Tidakkah kita, sebagai orang Islam, memahami hal itu?
Kreator : Siti Purwaningsih (Nengshuwartii)
Comment Closed: BAB 5 – UJIAN ORANG TUA
Sorry, comment are closed for this post.