
“Bapak….”
Maru tersentak. Matanya seketika terbuka.
Ia menatap kosong langit-langit dihadapannya. Untuk sesaat, suara samar Andri kembali terdengar.
Maru terdiam, mencoba mengembalikan kesadarannya.
“Mar …”
Maru mengerjap.
Dari luar kamar, suara ibunya terdengar memanggil.
“Ya, Bu,” sahut Maru.
“Makan dulu, ini sudah siang,” balas ibunya.
Maru bergerak dengan begitu lambat. Pandangannya bahkan sempat terhenti pada gorden kamarnya yang masih tertutup rapat.
Ingatannya kembali melayang pada ucapan Mawar di telpon.
Ia menghela nafas, sambil memaksa tubuhnya untuk bergerak. Dengan langkah berat, ia menyeret kakinya menuju kamar mandi.
Di kamar mandi, tatapannya terpaku pada sosok yang terpantul di cermin. Sudut bibirnya terangkat tipis.
“Aku tidak percaya dia mampu melakukan itu pada anaknya sendiri…” gumamnya pelan sambil menggelengkan kepalanya.
Dengan gerakan tergesa, ia membasuh wajahnya. Seolah sedang mencoba meredam ledakan emosi yang dibendungnya.
Setelah keluar dari kamar mandi, Maru kembali ke kamarnya, hendak berganti pakaian. Namun, tangan yang semula hendak mengambil pakaian terhenti sejenak.
Ia menoleh ke arah ponselnya yang tergeletak diatas kasur.
Sebuah notifikasi pesan muncul di layar.
Maru dengan cepat mengambil kaos yang hendak dikenakannya, lalu menutup kembali pintu lemari.
Ia berjalan menghampiri ponselnya sambil mengenakan kaosnya yang tadi diambilnya.
Saat layar diusap, disana sudah ada pesan dari Ayra.
Ayra : “Selamat pagi, 😁”
Maru dengan cepat mengetik pesan balasan.
Maru : “Pagi juga, Ra”
Pesan lain muncul,
Ayra: “Gimana kabarmu hari ini?”
Maru kembali mengetik
Maru: “Baik.”
Namun, setelah pesan itu terkirim jarinya kembali bergerak cepat diatas layar, seakan jawaban tadi terasa kurang cukup.
Maru :”Maaf ya Ra, aku belum sempat membalas chat mu kemarin”
Tidak lama, pesan balasan dari Ayra muncul.
Ayra: “Tidak apa-apa, santai saja. Aku bukan tipe orang yang chat nya harus dibalas detik itu juga.”
Maru menghela nafas lega. Ia melangkah ke tepi ranjang lalu duduk. Pandangannya tak lepas dari layar ponsel.
Maru: “Terima kasih ya, Ra”
Maru menaruh ponselnya di atas meja lalu mengambil celana panjang yang tergantung di balik pintu. Dengan cepat ia langsung mengenakannya
Tidak lama, suara notifikasi pesan lain pun datang lagi.
Maru kembali meraih ponselnya.
Ayra : “Oh iya kamu lagi apa sekarang?”
Maru Mengerutkan dahi. Ia tidak langsung membalasnya.
Tanpa terburu-buru, ia melangkah keluar kamar menuju dapur.
Didapur, ia mengambil piring lalu mengisinya dengan sedikit nasi dan dua potong tempe sebagai lauk. Setelah itu, ia keluar menuju ruang depan dan duduk bersila di lantai dengan beralaskan karpet plastik.
Untuk sesaat ia terdiam sambil memandangi sekitar. Ia duduk ditempat yang sama seperti biasanya ia makan. Namun kali ini suara rengekkan Andri meminta lauk kesukaannya sudah tak terdengar lagi. Ia menghela nafas panjang lalu dengan cepat meraih ponselnya saat rasa sesak di dada mulai dirasakannya kembali.
Maru : “Lagi makan, kamu sendiri sedang apa?”
Pesan terkirim.
Maru mulai menyendok nasi di hadapannya dengan setengah enggan. Lalu pesan balasan dari seberang pun kembali muncul.
Ayra: “Lagi diluar. Anakmu gimana?Sehat?Lagi apa dia sekarang?”
Maru terdiam sejenak. Suapan yang ada di ujung bibir pun ia taruh kembali.
Ia kembali mengetik.
Maru : “Anakku dibawa pergi sama ibunya”
Maru menghela nafas. Ia kembali memaksakan dirinya untuk makan.
Ayra : “Apa?Jadi ibunya datang?”
Maru kembali mengetik.
Maru : “Iya, empat hari yang lalu.”
Maru: “Awalnya dia bilang mau dibawa selama tiga hari, tapi setelah aku telepon hari ini, untuk aku jemput, dia malah menyuruhku untuk bertanggung jawab atas utang dia dan uang arisan yang dibawanya pergi.”
Maru : “Setelah semua itu beres, baru aku bisa ketemu anakku lagi”
Maru kembali menyendok nasi di depannya. Dan tidak lama pesan balasan dari Ayra muncul.
Ayra : “ Gila tu ewek, dia punya dendam apa sih sama kamu sampai kaya gitu?”
Ayra : “Yang punya utang dia, yang bawa kabur uang orang juga dia. Eh malah kamu yang disuruh tanggung jawab. Enak bener tu cewek”
Maru terdiam membaca pesan itu,
Tidak lama pesan lain ikut menyusul.
Ayra: “Terus sekarang langkahmu selanjutnya apa?”
Maru mulai mengetik pesan balasan.
Maru : “Dari kemarin aku sudah kirim CV ke beberapa lowongan, namun sampai hari ini belum ada jawaban”
Pesan terkirim.
Ayra : “Sabar ya Mar, semuanya pasti ada jalan keluarnya”
Maru membaca pesan itu cukup lama.
Jemarinya sempat bergerak hendak mengetik balasan, tapi terhenti ditengah jalan. Entah mengapa kata-kata Ayra seperti mengetuk sesuatu yang lama ia kubur rapat didalam hatinya.
Ia menundukkan kepala. Pandangannya jatuh pada nasi di piring yang entah sejak kapan sudah mulai dingin.
Dengan perlahan jarinya mulai kembali mengetik.
Maru : “Kau tahu Ra,….”
Maru kembali terdiam.
Jarinya menggantung di atas keyboard begitu saja. Seolah ada keraguan untuk melanjutkannya. Entah kenapa ia merasa tidak yakin apakah harus menceritakannya pada Ayra?
Namun setelah menarik nafas panjang satu pesan berhasil ia kirim
Maru : “Terkadang saat aku mencari pekerjaan seperti sekarang ini, aku mulai merasa marah pada diriku sendiri, ……….dan juga pada orang tuaku.”
Tidak lama pesan balasan pun muncul di layar.
Ayra : “Kenapa?”
Maru terdiam. Tatapannya jatuh pada layar ponsel cukup lama. Entah kenapa Pertanyaan sederhana itu justru paling sulit untuk dijawab.
Setelah terdiam cukup lama, jarinya pun mulai bergerak kembali sambil menahan rasa sesak yang dirasa.
Maru : “Setiap hari aku buka lowongan kerja, hampir semua meminta ijazah minimal SMA atau SMP”
Maru: “Terkadang ada beberapa harus bisa komputer, harus punya pengalaman, bahkan ada yang minta bisa bahasa asing”
Maru : “Saat melihat semua lowongan itu, aku hanya bisa menutupnya kembali”
Maru berhenti sejenak. Seolah mencari celah untuk dirinya bisa sedikit bernafas.
Maru : “Aku….bahkan SMP saja tidak tamat.”
Balasan dari ayra belum datang. Seolah perempuan itu sengaja membiarkan maru mengeluarkan semua isi hatinya.
Maru kembali melanjutkan.
Maru : “Dari kecil aku selalu mengalah”
Maru : “Disaat aku merasa ibuku kewalahan mengurus anak-anak dari kakak-kakakku, aku rela mengalah melepas sekolahku dan memilih bekerja untuk membantu keuangan rumah”
Maru : “Dulu, setelah keluar SMP, aku sempat berfikir untuk ikut kursus bahasa inggris atau kursus komputer, tapi entah kenapa dengan berbagai alasan ibuku enggan untuk mengijinkanku. ”
Ia menghela nafas beratnya. Lalu sedikit menggeser piring di depannya ke samping. Ia benar-benar tidak memiliki selera untuk melanjutkannya.
Maru menatap langit-langit rumah dengan tatapan kosong. Dan tidak lama tetesan bening keluar dari kedua sudut matanya.
Maru memejamkan mata. Tetesan itu keluar semakin deras tanpa henti.
Bayangan dimana saat ia masih memiliki toko kembali muncul.
Dulu, saat ia masih memiliki rezeki lebih, setiap kakak-kakaknya meminjam uang, setiap keponakannya meminjam uang ia akan selalu memberikannya walaupun uang itu tak pernah kembali.
Tidak ada satupun dari mereka yang ia kesampingkan. Setiap, dan setiap kali mereka meminta tolong pasti selalu ia bantu. Pasti ia urus sampai benar-benar beres. Ia selalu ada untuk mereka.
Tapi sekarang,
Di saat ia yg memiliki masalah, di saat ia yang jatuh, hancur. Tidak ada satupun dari mereka, yang pernah ia bantu mau mengulurkan tangannya untuk membantunya.
Ia juga tidak berharap diberi setumpuk kan uang, ia hanya ingin dirangkul dan diberi waktu untuk bisa memulihkan dirinya sendiri. Tapi sayangnya semua itu tidak mereka lakukan.
Tuntutan demi tuntutan, cacian demi cacian mereka lontarkan seenaknya secara terus menerus tanpa henti ,tanpa jeda. Tatapan jijik bak melihat kotoran terlihat jelas setiap kali mereka bertemu. Cibiran dan sindiran selalu terdengar jelas di telinganya.
“Sehina inikah diriku sekarang dimata mereka?
“Kenapa hidupku jadi begini?”
Maru mengusap kedua matanya secara kasar. Mencoba menghapus jejak air mata di wajahnya.
Ponsel yang tadi ada digenggamanannya pun jatuh begitu saja tanpa ia sadari. Dan saat ia melirik layar yang sudah menggelap, sebuah notifikasi muncul.
Ia segera meraih ponselnya, dan saat dibuka pupil matanya sedikit melebar.
“Siang pak Maru, saya sudah melihat cv anda. Besok pukul 8 pagi, anda diharapkan datang ke lokasi. Serta bawa ktp dan kk anda. Kami tunggu kedatangan bapak, terima kasih”
Maru membaca pesan itu beberapa kali dengan hati-hati.
Akhirnya, kesempatan yang ditunggu datang.
Dengan wajah yang sedikit merekah ia membalas pesan itu.
Maru : “Baik, besok saya akan datang. Terima kasih”
Pesan terkirim.
Setelah pesan terkirim ia segera mengirim pesan pada Ayra.
Maru : “Ra, salah satu cv ku dibalas, katanya besok aku disuruh datang kesana. Doain aku ya biar bisa keterima”
Tidak lama pesan dari ayra pun muncul.
Ayra : “Oh ya. Selamat ya Mar, pasti aku doakan. Semoga kamu keterima dan langsung bisa kerja”
Maru tersenyum, lalu mengetik.
Maru : “Terima Kasih Ya Ra”
Maru : “Kalau begitu aku mau siap-siap dulu, lalu setelah itu langsung pergi naik bus. Biar besoknya aku bisa ada disana tepat pukul delapan pagi”
Pesan balasan ayra kembali datang.
Ayra : “Baiklah, tetap semangat ya Mar, jangan lupa kalau ada apa-apa hubungi aku”
Maru terdiam. Pupil matanya sedikit melebar saat membaca pesan itu. Sudut bibirnya sedikit terangkat. Lalu satu pesan singkat pun berhasil ia kirim.
Maru : “Pasti”
Untuk sesaat Maru menatap lama layar ponselnya yang kini mulai meredup. Ia mengusap layar itu dengan hati-hati.
Ia menarik nafas. Seolah mencoba menumbuhkan semangat baru.
Maru mengambil piring di sampingnya lalu dengan cepat menghabiskan nasi yang masih tersisa. Tidak lupa ia juga sempat mencuci piring bekas makannya lalu berjalan menuju kamarnya hendak membereskan pakaian yang hendak ia bawa.
Saat memasukkan pakaian nya ke dalam tas tanpa sengaja ibunya melintas. Ia sempat melirik ke dalam kamar.
“Kau mau kemana, Mar?” Tanya ibunya.
“Maru dapat panggilan kerja, katanya besok pagi pukul delapan sudah harus ada disana. Jadi maru akan pergi nanti sore, biar sampai sana malam hari dan besok paginya maru bisa sudah ada disana tepat waktu.”
“Oh, ya sudah. Hati-hati ya,” ucap ibu Maru.
Maru hanya membalas dengan anggukkan kepala.
Setelah mengatakan itu ibu maru pun pergi meninggalkan maru seorang diri di kamar.
“MARU!!”
Suara teriakan perempuan terdengar dari luar
Ibu Maru yang sedang ada di dapur pun bergegas keluar.
“Ada apa kau ini teriak-teriak?” tanya suara renta itu.
“Dimana Maru?!” bentak Suratni, kakak perempuan kedua Maru.
Maru yang merasa dirinya dicari langsung keluar kamar.
Saat melihat wajah Maru, Suratni langsung menunjuk-nunjuk wajah Maru.
“Anak tidak tau diuntung ya, kamu! Kerjaanmu judol terus! Harusnya kau kerja, bayar semua hutangmu. Dan nafkahi anakmu. Kata Mawar kau lah yang harus bertanggung jawab atas semua utang itu. Karena uang itu dipakai untuk melunasi sebagian utang mu” tegas Suratni.
“Hutang apa maksudmu kak?” Maru mengerutkan dahi. ”Selama ini Hutangku semua aku bayar pakai uang tabunganku sendiri. Aku tidak pernah meminta atau meminjam uang dari siapapun. Semua uang yang kupakai murni uangku sendiri. Dan mengenai uang arisan yang dibawa kabur Mawar, aku bahkan tidak tahu jumlah uang itu. Berapa hutang yang dia punya pun aku juga tidak tahu. Kenapa aku yang harus bertanggung jawab. Bahkan uang modal toko buat beli barang lagi pun dia bawa pergi. Dia bahkan tidak meninggalkan uang sepeserpun untukku dan anaknya waktu itu? ” balas maru tidak mau kalah.
“Kau tahu kan barang-barang ditoko hasil belanja Mawar sebelumnya masih ada? Dan sekarang dia menanyakan uang dari barang itu? Apa kau pake buat judol lagi?” Tanya Suratni
Maru tersenyum kecut. “Semua barang di toko tidak pernah kusentuh lagi setelah aku berpisah darinya. Tepatnya setelah dia pergi dari rumah. Semua barang itu dijual oleh Marni ( anak Ridwan kakak pertama Maru). Seharusnya dia menagih uang itu pada Marni bukan padaku. Semua hasil penjualan selama Marni menjual barang-barang di toko tidak pernah tuh diberikan padaku” bals Maru.
Maru melangkah maju satu langkah.
“Dan kau,”Tunjuk Maru tepat diwajah Suratni. “Mana emas ibu yang kau pinjam dulu?Kau bahkan belum mengembalikannya” tanya Maru.
Mendengar itu Suratni terdiam, ia melirik ibunya.
“Aku dengar dari ibu, sisa uang penjualan emas disimpan olehmu. Sekarang aku mau meminjamnya. Mana?” Maru menengadahkan telapak tangannya.
“Untuk apa kau meminjamnya. Nanti habis lagi” cibir Suartni.
Dada maru kembang kempis mendengar itu. Emosi di dadanya benar-benar sudah sampai batasnya.
“Seharusnya kau tidak keluar waktu smp dulu, lihat kau sekarang jadi manusia tidak berguna” cibir suratni lagi sambil membalikkan badan.
Mendengar itu raut wajah Maru seketika merah padam karena amarahnya. Kedua tangannya mengepal.
“Jika aku tidak keluar saat itu, memangnya kau mampu membiayai sekolah ku?” Geram Maru.
Suratni seketika berbalik. Menatap wajah Maru yang tidak biasa.
Maru melangkah maju lebih dekat. “Sementara ketujuh anakmu saja kau serahkan pada ibu untuk diurus. Yang diurus ibu bukan hanya anak-anakmu tapi anak-anak Bang Ridwan anak-anak kak Mila ( Kakak perempuan ketiga Maru) juga ibu yg urus. Kau hitung sendiri, anak dari Bang ridwan 2 ,anakmu 7 ditambah anak kak Mila 4. Menurutmu uang lima ratus ribu yang dihasilkan ibu dari berualan kopi itu cukup untuk membiayai semua cucu-cucunya dan aku?” Lanjutnya tanpa henti.
“Sesekali pakai otakmu, jika aku tidak keluar saat itu siapa yang akan membantu ekonomi ibu, hah. Sementara kerjaanmu main gak jelas,” tambah Maru.
“Selama ini aku juga tidak pernah meminta uang padamu atau pada yang lain. Berani sekali kau berbicara seperti itu padaku” tegas maru. “Selama aku menganggur, apa aku pernah minta uang padamu untuk anakku jajan, untuk diriku makan?” Lanjutnya.
Wajah suratni Merah. “Dasar anak tidak diri…” Suratni mengangkat tangan.
“Cukup!Cukup Maru…” Seru ibu Maru.
Mendengar itu, kepala Maru berdengung keras. Seolah sesuatu menghantamnya keras.
Maru menatap ibunya dengan tatapan kecewa. “Ibu masih membelanya?” Ia melangkah mundur, suaranya bergetar seolah menahan sakit yang tak berdarah.
Maru tersenyum sinis. “Kalau ibu membelanya, pergilah ikut dia” nadanya mulai merendah tapi penuh penekanan. Maru menunduk lemas seakan energinya benar-benar sudah habis.
“Sepertinya ibu lupa siapa yang mengurus ibu saat ibu sakit selama ini. Siapa yang membersihkan kencing dan kotoran ibu, saat ibu tidak bisa bergerak. Siapa yang mengantarkan ibu ke rumah sakit, siapa yang bolak balik antar ibu untuk kontrol, siapa yang selalu menebus obat untuk ibu. Siapa bu?Siapa…. Itu aku.” tangannya mengelus dadanya sendiri.
Ibu Maru terdiam.
Maru mengusap wajahnya kasar, mencoba menyembunyikan kekecewaan di dalam hatinya.
“Dulu, aku pernah merengek pada ibu untuk ikut les bahasa inggris. Saat itu aku hanya minta pada ibu untuk membayar uang pendaftaran saja. Murah kok bu, sisanya biar aku bayar sendiri dari hasil kerjaku menjadi buruh angkut di salah satu toko mebel. Tapi apa yang ibu lakukan dulu, ibu lebih mengutamakan uang untuk sekolah cucu-cucumu. Sekarang aku tanya,…” Maru terdiam sejenak.
“Dari semua cucu-cucumu yang kau urus selama itu. Sebut nama salah satu dari mereka saja. Siapa diantara mereka yang ingat padamu? Siapa yang membersihkan air kencingmu dan kotoranmu bu?siapa?”
Ibu Maru terdiam menatap putra bungsunya.
Maru menggeleng lemah, lalu membalikkan tubuhnya. Tubuhnya bergetar, sambil berusaha menyeret kakinya untuk kembali masuk kamar.
“Sekarang kalian semua menuntutku. Memaksaku memanen sesuatu yang tak pernah kalian tanam” lirihnya.
“Pergi…”lirih ibu Maru saat melihat punggung putranya sudah tak terlihat.
“Bu….” panggil Suratni.
Ibu Maru menatap suratni. “ Aku bilang pergi…”ucapnya. Lalu melangkah pergi menuju kamarnya.
Sementara suratni langsung pergi meninggalkan rumah itu dengan perasaan kesal.
Di kamar, Maru diam seperti patung. Ia tahu kata-katanya barusa pasti membuat ibunya terluka.
Ia memukul-mukul wajahnya sendiri merasa menyesal dengan apa yang sudah diucapkannya.
Tapi,
Disisi lain ia ingin ibunya juga tahu betapa sakitnya dirinya saat ini. Tidak ada dukungan dari siapapun semua mendukung mantan istrinya.
Ia menatap tas ransel miliknya yang terbuka.
Maru menarik nafasnya, lalu debgan cepat memasukkan beberapa helai pakaian ke dalam tasnya. Dirasa apa yang akan dibawanya sudah cukup ia pun langsung keluar kamar.
Saat ia hendak pergi, ia menaruh beberapa lembar uang diatas meja. Lalu menatap sebentar pada tirai di pintu kamar ibunya.
Ia tahu, saat ini seharsusnya ia langsung minta maaf atas apa yang sudah diucapkannya tadi. Tapi entah kenapa saat itu bibirnya seperti enggan untuk mengatakannya.
Tanpa mengatakan apapun ia pun langsung pergi.
Di jalan, kata-kata yang dikeluarkannya tadi terus terngiang di telinganya. Rasa bersalah pun mulai kembali menguasai pikirannya.
Ia duduk disebuah warung kecil sambil menunggu bus yang akan ditumpanginya datang. Ia membuka ponselnya. Dan entah kenapa tangannya menekan nomor kontak Ayra.
Ia melihat nama itu cukup lama. Lalu kembali menutupnya.
Untuk sesaat ia mengobrol dengan pemilik warung seolah mencoba mengalihkan pikirannya yang kacau. Lalu tidak lama bus yang akan tumpanginya pun datang.
Di Dalam bus maru mencoba untuk tidur. Ia tidak ingin memikirkan apapun dan mencoba fokus pada apa yang akan dijalaninya di depan nanti.
Kreator : Ayra ( Pisces aqua )
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: Bab 5. Usaha
Sorry, comment are closed for this post.