KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Beranda » Artikel » Bab 5_Ketika Keringat Tak Dihargai

    Bab 5_Ketika Keringat Tak Dihargai

    BY 18 Jan 2026 Dilihat: 10 kali
    Ketika Keringat Tak Dihargai_alineaku

    Ketika Keringat Tak Dihargai

     

    Kita udah sepakat kan, Guys, kalo invisible labor itu nyata dan penting? Kalo nggak sepakat, berarti kamu selama ini hidup di metaverse kayak Mark Zuckerberg! 

    Tapi serius nih, yuk, kita bedah lebih dalam lagi. Kenapa sih kerja-kerja yang nggak keliatan ini sering banget diremehin? 

    Apa karena nggak ada glowing effect-nya kayak skincare Korea? Atau karena nggak bisa dipamerin di TikTok

    Apa aja sih dampaknya buat orang-orang yang ngelakuin? Jangan-jangan, mereka jadi sering burnout, FOMO, dan lupa password semua akun media sosial? 

    Gimana caranya kita bisa mengubah pandangan masyarakat yang udah kadung salah kaprah ini? Apa perlu kita adain workshop mindfulness yang pesertanya cuma disuruh main game online? Atau bikin podcast yang isinya curhatan emak-emak rempong?

    Nah, pertanyaan-pertanyaan ini tuh kayak benang kusut yang pengen banget kita urai-in. Soalnya, kalo dibiarin gitu aja, lama-lama jadi bom waktu yang bisa bikin hubungan kita sama orang-orang di sekitar jadi nggak harmonis. Makanya, di paragraf selanjutnya, kita bakal coba cari akar masalahnya, biar kita nggak cuma bisa nyalahin keadaan, tapi juga bisa ngasih solusi yang konkret.

    Kenapa sih kita ini doyan banget meremehkan pekerjaan yang nggak keliatan? 

    Apa karena kita pikir keringet mereka nggak seberharga keringet kita yang kerja di kantor ber-AC? Atau karena kita udah terlalu dibutakan oleh sistem patriarki yang udah mendarah daging? 

    Coba deh perhatiin, berapa banyak iklan deterjen yang menampilkan laki-laki lagi nyuci baju? Jarang banget kan? Padahal, kalo dipikir-pikir, cucian kotor itu nggak pandang bulu. Mau laki, mau perempuan, kalo udah kotor ya tetep harus dicuci. Tapi ya gitu deh, namanya juga patriarki.

    Perempuan selalu dianggap sebagai tukang cuci abadi, sementara laki-laki sibuk mikirin gimana caranya jadi presiden. Padahal, kalo ibu rumah tangga mogok nyuci seminggu aja, bisa-bisa rumah udah kayak kapal Titanic pecah. Belum lagi kalo mereka depresi gara-gara nggak dihargai. Bisa-bisa kita dipaksa makan Indomie tiap hari!

    Selain ibu rumah tangga, ada juga nih para pekerja informal yang nasibnya nggak kalah pilu. Tukang ojek, pedagang kaki lima, pekerja serabutan… mereka kerja keras banting tulang setiap hari, tapi penghasilannya nggak cukup buat sekadar makan enak. 

    Jangankan buat liburan ke Bali, buat bayar kontrakan aja udah sangat bersyukur. Tapi ya gitu deh, namanya juga lingkaran setan kemiskinan. Mereka udah kerja keras, tapi tetep aja nggak bisa keluar dari lubang yang sama. 

    Eh, tapi jangan salah, mereka juga punya hak buat bahagia, makanya, jangan heran kalo kita ngeliat tukang ojek lagi heboh banget balapan karung di acara 17-an. 

    Apa hubungannya? Nggak tahu, aku juga bingung… Eh, ini, mungkin karena sistem yang bikin mereka stress, jadi butuh pelampiasan yang walau receh tapi bikin happy

    Kayak kita yang abis kerja langsung scroll TikTok, kan? Itu bukan karena mereka nggak punya kerjaan, tapi karena mereka juga butuh hiburan. Biar nggak stres mikirin cicilan motor! 

    Nah, yang lebih parah lagi nih, ada juga orang-orang kaya yang hobinya meremehkan pekerjaan orang lain. Mereka pikir, kalo nggak pake seragam formal, berarti bukan kerjaan yang bener. 

    Mereka pikir, kalo nggak punya jabatan tinggi dan gaji gede, berarti bukan orang sukses. Padahal, kalo dipikir-pikir, mereka juga nggak bakal bisa hidup tanpa bantuan orang-orang yang diremehkan. Siapa yang nyuci baju mereka? Siapa yang nganterin makanan mereka? Siapa yang bersihin rumah mereka? Ya, para pekerja yang mereka remehkan itu juga. Tapi ya gitu deh, namanya juga kesenjangan kelas, udah kayak sinetron yang nggak ada habisnya.

    Orang kaya selalu merasa lebih tinggi dari orang miskin. Padahal, kalo mereka dipaksa aja pasang tabung melon dan nyalain kompor sendiri, mungkin udah basah kuyup keringet dingin kebakaran jenggot, ketakutan meledak! 

    Eh, tapi jangan salah, mereka juga punya hak buat makan enak. Makanya, kadang kita ngeliat mereka makan di restoran mewah yang harganya bisa buat bayar kontrakan sebulan. 

    Apa hubungannya? Nggak tahu, aku juga bingung… Eh, ini, mungkin mereka lagi nyari validasi diri. Soalnya, kalo cuma makan di warteg, nanti dikira nggak gaul, nanti dikucilin sama temen-temen arisannya.

    Terus, gimana dengan sistem pendidikan kita? Apa udah bener? Sayangnya, jawabannya adalah belum. Banyak PR yang harus dikerjain, mulai dari kurikulum yang bikin ngantuk sampe guru yang lebih galak dari rentenir. Tapi apa hubungannya ujug-ujug bicara soal pendidikan? Nah, ini dia yang bikin gregetan…

    Hubungannya adalah, sistem pendidikan kita itu seringkali cuma nyetak robot-robot pinter yang bisanya cuma ngapalin rumus, tanpa peduli sama kehidupan nyata. 

    Akibatnya, banyak lulusan yang bingung mau ngapain setelah lulus, atau malah jadi pengangguran elit yang bisanya cuma nyalahin pemerintah. Padahal, kalo sistem pendidikan kita bener, kita bisa produksi generasi yang nggak cuma pinter, tapi juga kreatif, inovatif, dan punya sense of humor yang tinggi. 

    Siapa tahu, nanti ada yang jadi stand-up comedian yang bisa ngritik pemerintah tanpa harus dipenjara, atau jadi influencer yang ngasih edukasi tanpa endorse judi online!

    Sukses itu nggak harus jadi CEO atau punya rumah mewah. Sukses itu bisa jadi tukang parkir yang jujur, ibu rumah tangga yang bahagia, atau content creator yang inspiratif. Tapi ya gimana, mindset kayak gini udah kadung nempel di otak kita, kayak permen karet di rambut, susah banget ngilanginnya.

    Nah, mindset ini tuh nggak dateng tiba-tiba, Guys. Ada andil dari sistem pendidikan kita yang udah salah kaprah dari dulu. Itu jawabannya!

    Pendidikan yang beneran itu mampu mengubah mindset kita tentang kesuksesan, dan sudah barang tentu bisa ngasih kita bekal hidup yang mumpuni buat ngadepin kerasnya hidup, biar kita nggak cuma jadi penonton sinetron kesenjangan kelas, tapi juga bisa ambil peran sebagai agen perubahan yang bikin cerita baru.

    Sistem pendidikan kita terlalu fokus sama nilai ekonomi. Kita diajarin buat jadi robot yang siap kerja di pabrik atau di kantor. 

    Kita nggak diajarin buat jadi manusia yang punya empati, solidaritas, dan loyal terhadap semua jenis pekerjaan. Akibatnya, banyak anak muda yang tumbuh jadi egois dan materialistis. 

    Mereka pikir, kalo nggak jadi dokter atau lulus S2, berarti hidup mereka nggak berguna. Padahal, jadi tukang sampah juga mulia kok. Asal jangan korupsi juga!

    Media juga nggak kalah bersalah nih. Mereka terlalu doyan memberitakan hal-hal yang sensasional dan kontroversial. 

    Berita tentang artis cerai, politisi korupsi, atau bencana alam lebih laku daripada berita tentang orang-orang yang berjuang melawan kemiskinan atau orang-orang yang melakukan kebaikan tanpa pamrih. Akibatnya, masyarakat jadi apatis dan sinis. 

    Mereka pikir, dunia ini udah rusak dan nggak ada harapan lagi. Padahal, masih banyak kok orang baik di dunia ini. Cuma aja medianya yang nggak mau memberitakan. Mungkin karena tahu akan kurang laku!

    Kenapa media lebih milih berita yang bikin heboh daripada berita yang bikin mikir? Ya, namanya juga media, Bro! Mereka itu kayak lalat, sukanya nempel di tempat yang bau…bau duit, maksudnya! (Jangan tersinggung ya, cuma bercanda koq 😂). 

    Rating itu segalanya, dan berita sensasional itu kayak micin—bikin nagih, umami! Mereka nggak peduli tuh sama isu-isu sosial yang berat kayak skripsi, yang penting berita mereka viral dan bikin orang komen, ‘Ya ampun, kok bisa gitu sih?!’ Padahal, kalo dipikir-pikir, berita artis cerai itu lebih nggak penting daripada harga bawang yang naik. Tapi ya sudahlah, namanya juga dunia hiburan…yang penting heboh, yang penting rame!

    Selain itu, media itu kayak gerombolan manusia yang lagi dikejar setan—harus update berita 24 jam nonstop! Apalagi kalau harus nyari berita yang dalem dan bermutu? Berat pekerjaan mereka. Mendingan bikin berita yang gampang dan cepet, kayak masak mie instan. 

    Bikin judul yang bombastis, pasang foto yang hot, tambahin bumbu gosip, jadi deh berita yang laku di pasaran. Effort-nya low, profit-nya high!

    Tapi, jangan salahin medianya doang, Guys! Masyarakat kita juga kadang aneh. Udah tau ada berita hoax, tetep aja disebarin. Udah tau berita itu nggak penting, tetep aja dikomenin. Kayak lagi kena hipnotis—nurut aja apa kata media. Padahal, kalo kita lebih kritis dan pinter milih berita, media juga bakal berubah kok. 

    Mereka itu kayak bunglon, ngikutin warna lingkungannya. Kalo kita sukanya berita yang bermutu, mereka juga bakal nyajiin berita yang bermutu. Tapi ya gitu deh, namanya juga manusia…lebih gampang dihasut daripada diajak mikir! 

    Nggak heran sih, otak kan emang diciptain buat mikir yang ringan-ringan aja, kayak skincare atau outfit

    Jadi, kita ini sebenernya penonton apa korban sih? Ah, sudahlah… guilty as charged!

    Btw, media itu kadang bokek juga lho, Guys! Ada yang nggak punya duit buat nyewa wartawan jago, nggak punya duit buat bikin investigasi yang mendalam. Mendingan mereka fokus sama berita yang murah meriah, kayak ngeliput acara gosip atau nyalin berita dari media lain. 

    Kalau kata orang bijak, ‘Modal cekak, hasil maksimal!’ Tapi ya sudahlah, daripada nyalahin keadaan, mendingan kita dukung media-media independen yang masih idealis dan berani ngelawan arus negatif.

    Mereka itu kayak lilin di tengah kegelapan—kecil, tapi menerangi! Atau kayak startup yang baru mulai—modalnya minim, tapi semangatnya selangit! 

    Mereka berjuang buat nyajiin berita yang bener, bukan berita yang bikin baper. Mereka berusaha buat ngasih informasi yang akurat, bukan informasi yang bikin gaduh. Mereka pengen kita jadi masyarakat yang cerdas, bukan masyarakat yang gampang dibodohin.

    Jadi, gimana caranya kita bisa dukung mereka? Gampang banget! Mulai dari hal-hal yang receh juga bisa, kok. Kayak follow akun sosmed, like dan share konten mereka, atau bahkan donasi seikhlasnya. Anggap aja kayak kita lagi ngasih tip ke pengamen yang suaranya merdu—ikhlas, bikin hati senang. Atau kayak kita lagi beli kopi di warung kopi langganan—kasih tip ya walau misal nggak seberapa, tapi bikin mereka bisa terus jualan. 

    Kita juga bisa dukung mereka dengan cara yang lebih aktif misalnya, ikut diskusi atau komentar di artikel mereka, ngasih masukan atau kritik yang membangun, atau bahkan jadi kontributor sukarela. Anggap aja kayak kita lagi ikut kerja bakti di kampung—capek sih, tapi hasilnya bikin lingkungan jadi lebih bersih dan nyaman, yang paling penting, kita harus jadi konsumen media yang cerdas. Jangan cuma nelen mentah-mentah semua informasi yang kita dapet, tapi juga kritis dan selektif. 

    Cek kebenaran berita, bandingkan dengan sumber lain, dan jangan gampang kesedot hoax atau propaganda. Anggap aja kayak kita lagi milih makanan di restoran—harus teliti, jangan sampe dapet yang basi atau mengandung bahan berbahaya.

    Dengan begitu, kita nggak cuma dukung media independen, tapi juga dukung diri kita sendiri. Soalnya, media independen itu ada buat kita, bukan buat penguasa atau pemilik modal. 

    Mereka, media, adalah suara kita, mata kita, dan telinga kita. Kalo kita nggak dukung mereka, siapa lagi yang bakal ngasih tau kita kebenaran? 

    Kita bisa kehilangan sumber informasi yang tepercaya, kita bakal kehilangan suara-suara yang kritis, dan harapan untuk masa depan yang lebih baik. 

    Jadi, yuk kita jaga lilin-lilin kecil ini, biar terus menyala dan menerangi jalan kita menuju kebenaran! Jangan sampe lilinnya ditiup angin kayak babi ngepet—eh, jangan salah paham, bukan berarti kita pelihara babi buat nyolong duit tetangga ya 😂

    Maksudnya, jangan sampe kita lengah dan biarin informasi yang nggak bener, alias hoax, matiin akal sehat kita. Soalnya, kalo udah gelap gulita informasi, kita jadi nggak bisa bedain mana berita beneran, mana berita bo’ongan. 

    Nah, tapi ini baru permulaan, Guys! Masih ada daftar panjang hal-hal penting yang perlu kita perhatikan. Saking panjangnya, sampai kayak daftar dosa mantan yang nggak pernah ada habisnya di mata kita!

    Pertama, yuk kita dukung UMKM lokal! Jangan cuma keranjingan beli barang branded dari luar negeri yang harganya bikin dompet menjerit terlebih kualitasnya belum tentu lebih bagus dari buatan lokal. 

    Ingat, Guys, setiap kali kita beli produk UMKM, itu sama aja kayak kita nyuntik modal langsung ke perekonomian Indonesia! 

    Ibaratnya, UMKM itu kayak anak ayam yang baru menetas, butuh dibantu dikasih makan biar bisa tumbuh jadi ayam petarung yang kuat. Kalo nggak kita suapi, nanti malah diembat sama ayam tetangga yang lebih tajir!

    Tapi ya gitu deh, kadang kita suka lupa. Giliran ada diskon barang branded langsung deh kalap, kayak kesetanan! Padahal, kalo dipikir-pikir, mendingan beli batik buatan lokal yang motifnya unik dan nggak pasaran. Dijamin, pas dipake kondangan, langsung jadi pusat perhatian! Nggak kayak pake barang branded yang samaan semua, udah kayak seragam pabrik!

    Nah, biar lebih afdol, yuk kita simak pendapat dari seorang ekonom kondang (tapi fiktif), Dr. Zonkariawan, M.E. (Magister Ekonomi, padahal belinya di marketplace). Menurut beliau, ‘UMKM itu adalah tulang punggung perekonomian Indonesia, lho! 

    Kalo UMKM kuat, negara juga ikut kuat! Tapi sayangnya, banyak UMKM yang masih kesulitan akses permodalan, pemasaran, dan teknologi. 

    Mereka itu kayak anak kosan lagi mengalami sindrom tanggal tua, pengen makan enak tapi duitnya cekak.

    Ya, begitulah, kembali ke soal media, intinya kita semua pernah merasa kesal dan bingung di tengah lautan informasi yang kadang lebih mirip sinetron tanpa naskah—bikin penasaran, tapi ujung-ujungnya cuma buat hiburan semata, sementara yang penting malah disembunyikan. 

    Jadinya, kita malah asyik terbuai, lupa buat mikir kritis, hingga gampang termakan omongan yang sebenernya cuma buat bikin kita lalai. Padahal, di balik layar, ada kerja keras tak terlihat—kerja invisible labor—yang sebenarnya menopang roda kehidupan, tapi seringnya nggak dilirik, apalagi dihargai. 

    Emak-emak yang tiap hari bangun sebelum subuh dan tidur menjelang tengah malam demi ngurus rumah tanpa tepuk tangan, guru yang lembur nyiapin bahan ajar tanpa sorotan kamera, atau petugas kebersihan yang rela menyingkirkan sampah biar kita bisa jalan santai tanpa merasa jijik. 

    Ya itulah, sistem pendidikan kita sekarang ini kayak lagi kejar produksi massal robot tanpa jiwa, yang tugasnya cuma pintar ngitung, hafal rumus, dan siap duduk manis nunggu perintah dari bos di pabrik atau kantor. 

    Kalau generasi muda cuma diasah buat jadi robot, kapan mereka bisa belajar menghargai keringat dan kerja keras yang nggak terlihat tapi amat penting? 

    Jadi, sudah saatnya kita buka mata, bukan cuma semangat pas nyimak berita bohong, tapi juga buat menghargai invisible labor yang selama ini terabaikan.

    Nilai ekonomi jadi raja, sementara empati, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis malah dikurung di sudut gelap kelas. 

    Parahnya, kita malah bangga sama anak-anak yang bisa hafal tabel perkalian sampai titik koma, sampai nggak kepikiran gimana caranya mereka menghadapi masalah hidup yang nyata di kemudian hari di lingkungannya—kayak gimana ngatur duit pas tanggal tua, atau gimana ngobrol sama tetangga yang suka nyinyir, padahal, penduduk Indonesia itu bukan cuma kumpulan calon pegawai kantoran atau robot pabrik, jadi sejatinya perlu diasah jadi manusia yang mandiri, adaptif, dan punya otak encer bikin inovasi. 

    Kita butuh generasi yang nggak cuma pinter ngerjain soal matematika, tapi juga jago nyari solusi kreatif, punya empati buat sesama, dan ngerti pentingnya solidaritas. 

    Jangan sampai nanti kita punya lulusan sarjana bahkan S2 yang cuma bisa ngomongin teori doang, tapi pas dihadapkan sama masalah hidup nyata, malah kalang kabut kayak ayam kehilangan induk, kayak anak kecil kehilangan mommy-nya. Amit-amit.

    Kalau sistem pendidikan kita ngak diubah, bukan cuma anak muda yang egois dan materialistis yang akan kita dapat di masa depan, tapi juga tipe manusia yang ngak ada tangguh-tangguhnya apalagi siap jadi “ayam petarung” di arena kehidupan. 

    Bukan ayam sabung! Tapi manusia yang kita harapkan ready to fight buat membangun bangsa dengan kepala dingin dan hati hangat, bukan cuma sekedar termotivasi buat dapetin gaji bulanannya aja! 

    Ayo dong, jangan cuma bikin sekolah jadi pabrik robot murah meriah, tapi jadikan tempat lahirnya para pejuang masa depan yang penuh semangat, kreatif, dan berani untuk berbeda karena benar—yang siap menantang arus, melawan ketidakbenaran, ketidakadilan, dan sesekali nyengir sambil kasih sindiran pedas supaya dunia nggak terlalu buta dan tuli jadi kita bisa tetap waras menjalani hidup! 

    Penduduk Indonesia perlu dibentuk bukan cuma untuk jadi pintar secara intelektual, tapi juga mumpuni akan nilai-nilai kebaikan universal seperti kejujuran, kasih sayang, dan rasa hormat, yang berpadu harmonis dengan sifat religius yang menjadi ciri khas kepribadian nasional kita. 

    Dengan begitu, kita bisa menciptakan generasi yang bukan hanya unggul secara kemampuan, tapi juga kuat jati dirinya—yang mampu menjaga persatuan, berkontribusi positif bagi masyarakat, dan menjadi teladan dalam menjalankan nilai-nilai luhur bangsa.

    Inilah fondasi untuk masa depan Indonesia yang sejati: manusia-manusia berkarakter, berjiwa sosial, dan bermoral tinggi, yang siap membawa bangsa ini melangkah maju dengan penuh kebanggaan dan tanggung jawab. 

    Kalau nggak, bisa bahaya, kita cuma bakal punya generasi yang jago selfie di kamera hp tapi lupa cara bercermin ke dalam diri; yang sibuk ngejar likes sampai lupa ngejar ilmu; yang update status tiap menit tapi lupa update sikap dan karakter. 

    Jadi, ayo bangun pendidikan yang bikin anak muda nggak cuma trending di medsos, tapi juga trending jadi pribadi yang bermanfaat—bukan cuma viral gara-gara drama, tapi viral karena prestasi dan kebaikan! 

    Smart Skill Challenge,” di mana anak muda berlomba-lomba menunjukkan kemampuan berpikir kritis, coding, inovasi teknologi, atau kewirausahaan. 

    Nah, itulah contoh nyata bagaimana pendidikan bisa mengarahkan tren supaya generasi muda nggak cuma jadi bintang medsos sesaat, tapi juga pahlawan masa depan yang sesungguhnya, real!

    Jadi, bukan cuma tertarik sama gaya hidup atau hiburan yang lagi naik daun aja, tapi juga perhatian sama tren prestasi dan kebaikan yang benar-benar berdampak positif bagi diri sendiri dan masyarakat luas. Nah, kalau udah begini sih, kita semua kayak paket komplit: santai, cerdas, dan siap bikin dunia sedikit lebih asyik tanpa harus pamer! Iya ngak?

    Nah, setelah kita mampir sebentar tadi ngobrolin betapa pentingnya dukung UMKM lokal biar anak ayam kecilnya nggak keembat ayam tetangga yang lebih tajir, sekarang saatnya kita turun dari panggung itu dan mulai fokus ke hal lain yang nggak kalah penting. 

    Jadi, siap-siap ya, karena kita bakal bahas “tip yang layak” buat para pahlawan jalanan dan pelayanan yang sering kita anggap sepele tapi sebenarnya berjasa banget buat kelancaran hidup kita sehari-hari. 

    Yuk, jangan sampai lupa sama yang pertama tadi, tapi juga jangan sampai kelewat ke yang ke dua ini!

    Ke dua, berikan tip yang layak. Jangan pelit sama driver ojol, pelayan restoran, atau tukang parkir. Anggap aja itu sedekah kecil yang bikin mereka bisa makan enak sesekali, bukan cuma nangkringin mie instan yang rasanya udah kayak menu andalan selama bertahun-tahun. 

    Lagian, coba deh bayangin kalau kita sendiri yang tiap hari cuma makan mie instan—bisa-bisa mood jadi kayak sinyal HP di area dead zone, lemah dan gampang putus nyambung! 

    Nah, dengan kasih tip yang pas, kita bukan cuma bikin hari mereka lebih cerah, tapi juga ikut bantu bikin ekonomi mereka berputar. Plus, siapa tahu dengan sedikit bonus dari kita, mereka bisa upgrade menu makanan dari “mi instan rebus” ke “mi instan goreng spesial” yang ada telurnya—lumayan kan? 

    Jadi, jangan pelit, karena kebaikan itu kayak kuota internet, makin dibagi makin lancar koneksinya!

    Ke tiga, hargai pekerjaan rumah tangga. Jangan cuma jago bikin berantakan, tapi pas disuruh beresin malah ngilang kayak ninja! 

    Bantuin pasanganmu, orang tuamu, atau siapa pun yang bertanggung jawab atas urusan rumah. 

    Ingat, rumah yang bersih dan rapi itu bukan datang dengan sendirinya; ada yang nyapu, ngepel, nyuci piring, dan menguras tenaga ekstra supaya kita bisa santai tanpa was-was kaki lengket sama remah-remah makanan atau sisa kotoran hewan peliharaan yang keinjek.

    Nah, mari kita coba hitung sedikit, biar makin jelas betapa besarnya jasa yang sering tak terlihat ini. 

    Misalnya, seorang emak di rumah memulai aktivitasnya sejak jam 3 pagi dengan membuat roti atau makanan untuk dijual, lalu memasak menu bekal sekolah, kantor atau sarapan untuk keluarga. Setelah itu, dia melanjutkan pekerjaan rumah seperti beres-beres, nyapu selama 30 menit, ngepel selama 45 menit, mencuci pakaian dan mencuci piring selama 30 menit. 

    Siangnya, emak ini juga harus membuat camilan atau menyiapkan bahan masakan untuk makan malam. Sampai sore, masih ada urusan, jemput anak sekolah, pulangnya belanja kemudian pulang langsung menyetrika dan memasak makan malam. Jika dijumlahkan, total waktu kerja keras manualnya bisa mencapai 12 jam sehari.

    Kalau dihitung dalam sebulan, dengan asumsi dia bekerja setiap hari tanpa libur, itu berarti 360 jam kerja keras yang tak terlihat dan tak dibayar. 

    Jika kita kalkulasikan dengan upah minimum sekitar Rp 20.000 per jam, jasa emak ini setara dengan nominal Rp 7.200.000 per bulan. 

    Bayangkan, kalau si emak ini orangnya itungan dan minta bayaran,  pasti kamu dan bapakmu ngak sanggup bayar!

    Ini baru hitungan kasar tanpa memasukkan nilai-nilai lain seperti manajemen keuangan keluarga, pendidikan anak, dan kasih sayang yang tak ternilai harganya. 

    Jadi, jelas bahwa emak-emak adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang jasanya luar biasa besar dan harus kita hargai dengan sepenuh hati!

    Untungnya, teknologi sekarang ini sudah kayak superhero yang siap jadi partner setia para ibu rumah tangga. Bayangkan ada robot penyedot debu yang gesitnya kayak ninja, mesin cuci otomatis yang kerjanya secepat kilat sampai kayak lagi kencan sama oppa Korea, atau aplikasi pengatur keuangan yang lebih jago ngitung daripada Menteri Keuangan sekalipun! 

    Semua itu bikin pekerjaan rumah jadi jauh lebih ringan dan cepat beres. Dengan bantuan teknologi, para ibu bisa punya waktu lebih buat me time yang sesungguhnya—misalnya maskeran sambil nonton drama Korea favorit, atau santai nge-gosip cantik di grup WhatsApp tanpa terganggu sama cucian yang numpuk atau setrikaan yang kayak gunung Everest siap longsor. 

    Nggak menutup kemungkinan para suami jadi iri dan pengen ikutan nyobain robot pel lantai biar nggak kalah glowing sama istrinya! 

    Nah, kalau sudah begini, rumah bukan cuma jadi tempat tinggal, tapi markas keren yang bikin semua anggota keluarga happy!

    Jadi, yuk, jangan cuma nikmatin hasilnya, tapi juga hargai proses dan perjuangan di baliknya, karena kerja keras manual itu bukan cuma soal bersih-bersih, tapi soal kasih sayang yang nyata! Dan itu jelas tak ternilai!

    Ke empat, dukung organisasi yang memperjuangkan hak-hak pekerja. Bisa dengan cara donasi, jadi relawan, atau sekadar follow dan share akun media sosial mereka. Dengan begitu, suara mereka akan makin terdengar, dan hak-hak pekerja bisa lebih diperjuangkan secara nyata.

    Ke lima, sebarkan kesadaran tentang pentingnya menghargai invisible labor. Ajak teman-teman, keluarga, atau siapa pun yang kamu kenal untuk lebih peka terhadap kerja keras yang sering tak terlihat ini. 

    Bagikan artikel, video, atau meme yang mengangkat isu ini di media sosial supaya makin banyak orang melek buka mata dan makin sedikit yang meremehkan kontribusi sejati di balik layar.

    Ke enam, kritisi media yang kurang sensitif dalam memberitakan isu invisible labor. Jangan ragu mengirim surat pembaca, kolom komentar di media sosial, atau bahkan boikot produk mereka jika perlu. 

    Tujuannya supaya mereka kapok dan mulai berpikir lebih matang sebelum membuat berita yang bisa menyakiti hati dan mengabaikan perjuangan para pekerja yang sebenarnya. 

    Dengan cara ini, kita bisa menuntut media lebih bertanggung jawab dan peduli terhadap isu-isu sosial yang penting.

    Intinya, Guys, kita semua punya peran buat bikin dunia ini lebih adil dan manusiawi. Gak bisa cuma diem aja, nonton orang lain menderita kayak nonton drama sinetron yang endingnya nggak jelas. 

    Kita harus berani bertindak, sekecil apapun itu. Ingat, setiap apresiasi yang kita kasih, dukungan yang kita ulurkan, dan kebaikan yang kita lakukan, bisa bikin hidup orang lain jadi lebih oke. 

    Jadi, ayo mulai sekarang, kita bikin dunia ini jadi tempat di mana setiap keringat dihargai, setiap kerja keras diakui, hingga setiap orang merasa utuh keren akibat dianggap berarti.

    Nah, satu lagi nih, hati-hati sama ucapan kamu! Jangan sembarangan keceplosan ngomong, “Kamu kan pengangguran,” atau “Kamu kan gak kerja,” atau kata-kata sejenis yang bisa bikin orang yang mendengar ucapan itu jadi sakit hati. 

    Jaga mulut kamu dong! Kan kamu sudah belajar jadi manusia yang punya empati dan rasa hormat sama hasil jerih payah orang lain, bukan cuma jago ngomong doang tanpa mikir? 

    Ingat, kata-kata itu bisa nendang ke hati dan otak orang, jangan sampai tanpa sadar, kamu jadi pelaku bullying sekalipun melalui tutur kata kamu!

    Dengan begitu, pada akhirnya, kita bisa betulan jadi manusia—bukan cuma manusia yang jago ngaku-ngaku doang! Sebagai manusia beneran, kita punya tugas buat saling bantu, saling hormat, dan saling cinta (jangan ngeres!). 

    Jangan cuma ngaku manusia tapi doyan banget meremehin orang lain, itu mah namanya manusia versi beta

    Tahu beta maksudnya apa? Beta itu versi percobaan yang belum sempurna, penuh bug, sering nge-lag, dan gampang crash kalau dihadapkan pada masalah-masalah nyata. 

    Jadi, jangan sampai kamu cuma jadi “manusia beta” yang suka nge-judge orang lain tanpa empati, tapi justru harus upgrade diri jadi “manusia versi final” yang paham arti hormat, peduli, dan peka sama perjuangan hidup orang lain!

    Jadi, jangan cuma ngaku manusia tapi doyan banget meremehin orang lain lagi ya, tapi cari tahu gimana caranya agar tetap waras sambil saling hargai dan nggak saling menyakiti.

    Semoga tulisan ini bermanfaat dan bikin kamu senyum-senyum sendiri, ya bolehlah sambil mikir, “Kapan ya aku upgrade ke versi final?” 

    Last but not the least,jangan lupa bahagia! Eh, dan kalau ada yang nawarin kerjaan, jangan langsung tolak, siapa tahu itu panggilan jiwa kamu yang terpendam—tapi tetep waspada, jangan sampe ketipu MLM yang janjiin kaya mendadak cuma gara-gara jualan minyak gosok!

    PS: Kalau ada yang bilang tulisan ini lebay, berarti dia belum pernah ngerasain susahnya jadi orang yang diremehin. Suruh dia coba jadi tukang sampah sehari, biar tau rasanya! Jangan cuma ngomong doang, ya!

     

     

    Kreator : Adhipateyya Khanti Wardoyo (ADWANTHI)

    Bagikan ke

    Comment Closed: Bab 5_Ketika Keringat Tak Dihargai

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021