BAB 6: TEH UNTUK DUA ORANG YANG TERLAMBAT
Sudah dua bulan sejak Tio pergi.
24 pohon di depan gubuk sudah bertunas. Daun mudanya hijau, malu-malu.
Hari ini hujan gerimis. Bukan dingin. Hanya basah yang menenangkan.
Pintu kayu berderit.
_Kriiieekkk…_
Yang masuk dua orang. Jalan beriringan. Tapi jaraknya satu langkah.
Seraphina. Jubah hitamnya sudah tidak ada. Diganti selendang abu-abu.
Alistair. Tangan kanannya bawa keranjang. Isinya 25 biji pohon.
Mereka tidak saling pandang.
Nenek Ysra sedang menyeduh teh. “Duduk.”
Mereka duduk. Di ujung meja yang berbeda. Ada jarak satu kursi kosong di tengah.
“Hening sekali,” kata Alistair akhirnya. Suaranya serak.
“Dua puluh tahun,” jawab Seraphina pelan. “Wajar kalau canggung.”
Nenek Ysra menuang teh ke dua cangkir. Uapnya naik pelan. Baunya melati, kayu manis, dan hujan.
“Teh untuk Dua Orang yang Terlambat,” kata nenek itu. “Aturannya: satu cangkir, diminum berdua. Bergantian. Sampai habis.”
Seraphina mengerutkan dahi. “Kenapa tidak dua cangkir?”
“Karena luka kalian satu,” jawab Nenek Ysra. “Jadi obatnya juga harus satu.”
Alistair mengambil cangkir pertama. Menyerahkannya ke Seraphina.
“Silakan.”
Seraphina menerima. Minum setengah. Lalu mengembalikan ke Alistair.
Tangannya hampir bersentuhan. Hampir.
Tehnya pahit di awal.
“Maaf,” kata Seraphina tiba-tiba. “Aku yang milih takhta waktu itu. Aku yang takut kalah.”
Alistair diam. Lalu minum sisa di cangkir itu.
“Aku juga yang pergi tanpa pamit. Aku yang bilang kamu pilih saja. Aku pengecut.”
Cangkir diisi lagi. Kali ini Seraphina yang menyodorkan ke Alistair.
“Anak-anak di desa masih cerita tentang 24 pohon kita,” bisik Seraphina. “Katanya tiap daun jatuh, ada satu kata maaf yang belum terucap.”
Alistair tertawa kecil. Pahit. “Sekarang ada pohon ke dua puluh lima. Aku tanam sendiri. Namanya Veylara.”
Seraphina menoleh. “Veylara?”
“Pohon Pulang,” jelas Alistair. “Orang dulu bilang, kalau dua hati yang terpisah duduk di bawahnya, akarnya akan saling mencari sampai bertemu.”
Seraphina menggenggam biji itu erat. “Kalau begitu… kita tanam di sini.”
Minum lagi. Bergantian.
Pahitnya mulai hilang. Tinggal rasa manis kayu manis yang tertinggal di lidah.
“Aku kangen masakanmu,” kata Alistair. “Sup jamur yang kamu bikin tiap musim gugur.”
“Aku masih ingat resepnya,” jawab Seraphina. “Tapi dapurnya sudah kosong dua puluh tahun.”
“Isi lagi,” kata Alistair pelan. “Bareng-bareng.”
Seraphina menatapnya. Untuk pertama kali dalam dua puluh tahun, matanya tidak berkaca karena marah. Karena rindu.
Tegukan terakhir. Cangkir kosong.
Nenek Ysra mengambil cangkir itu. Mencucinya.
“Selesai.”
Buku di meja terbuka sendiri. Tintanya berkilau karena embun.
Resep 6: Teh untuk Dua Orang yang Terlambat
Bahan: Air hujan pertama musim gugur, daun melati dari pagar Seraphina, kayu manis dari kebun Alistair, dua puluh tahun diam.
Cara: Seduh satu cangkir. Minum bergantian. Tiap giliran ucapkan satu kebenaran.
Catatan: Tidak akan mengembalikan waktu. Tapi bisa memulai waktu yang baru.
Di bawahnya ada coretan:
Seraphina dan Alistair sudah minum. Jarak satu kursi sudah hilang. Veylara sudah ditanam. Jalan pulang sudah terbuka._
Mereka berdiri bersamaan.
Alistair menyerahkan keranjang. “Ini. Bijinya.”
Seraphina mengambilnya. Jari mereka bersentuhan. Tidak ditarik.
“Nek,” kata Seraphina. “Boleh kami tanam di sini?”
Nenek Ysra mengangguk. “Tanahnya sudah menunggu.”
Mereka keluar bersama. Tidak berpegangan tangan. Tapi langkahnya sudah sejajar.
Pintu kayu berderit.
Kali ini suaranya bilang: “Selamat datang kembali.”
Di dalam, Nenek Ysra duduk. Menuang sisa teh ke tanah.
“Untuk waktu yang terbuang,” bisiknya. “Semoga jadi pupuk.”
Gubuk hening lagi. Tapi bukan hening yang berat.
Hening yang lega.
Di luar, gerimis berhenti. Matahari muncul dari balik awan.
Menyinari dua orang yang menanam Veylara. Berdampingan.
Kreator : Nadya Putri
Comment Closed: Bab 6 dari novel Rahasia buku sihir nenek Ysra
Sorry, comment are closed for this post.