BAB 6: DUA BUNGA ES DAN ENAM BENIH YANG TERSISA
Tiga bulan setelah Istana Es Ardentia runtuh.
Akademi Tanah Fajar berubah. Halaman yang dulu beku sekarang penuh taman.
Di tengahnya ada dua pohon bunga es. Tidak pernah layu.
Eira dan Aira duduk di bawahnya. Menenun bersama.
“Kelopak kesembilan untuk siapa?” tanya Aira.
“Untuk kita semua,” jawaban Eira. “Tim 9. Ditambah satu.”
Di bangku sebelah, Ardin menenun selendang baru. Selene menyuapi dia teh hangat.
Leon mengajari murid baru pedang. Kael dan Toran jaga perpustakaan.
Vanya, Riko, Mira sibuk urus anak-anak desa yang sekarang sekolah di akademi.
Lyra menutup Buku Sihir Tanah Fajar. “Akhirnya bisa istirahat.”
Tapi di pojok taman, ada satu orang yang belum bisa istirahat.
Veyrin. Menanam bunga dengan tangan telanjang. Tanpa sihir.
MISi BARU: MENCARI 6 BENIH YANG TERSISA
Malamnya, ruang kepala akademi.
Di meja terbentang peta dunia. Ada enam titik merah menyala.
Lyra menunjuk. “Setelah Benih Ketiga hancur, buku menunjukkan ini. Enam Benih lain.”
“Di mana?” tanya Leon.
“Gurun Pasir Merah. Hutan Akar Hitam. Lautan Kabut. Kota Cermin. Lembah Tulang. Dan Puncak Petir.”
Semua terdiam.
Eira berdiri. “Berarti perjalanan kita belum selesai.”
Aira menggenggam tangan Eira. “Kalau begitu kita jalan lagi. Sebagai keluarga.”
Veyrin yang dari tadi diam di pintu akhirnya bicara.
“Aku ikut.”
Semua menoleh.
VEYRIN BELAJAR JADI MANUSIA BIASA DAN MENEBUS DOSA
Veyrin masuk. Rambutnya sudah tidak putih es. Abu-abu. Wajahnya ada bekas luka.
“Aku tidak punya kekuatan lagi,” katanya pelan. “Benih Ketiga mengambil semuanya saat hancur.”
Dia menatap Selene. “Tapi aku punya dua tangan. Untuk menanam. Untuk membangun. Untuk menebus.”
Selene tidak menjawab. Hanya menggeser kursi di sebelahnya.
Veyrin duduk. Canggung.
Ardin tersenyum ke arah suaranya. “Kursi itu memang untukmu. Dari dulu.”
Veyrin menunduk. “Terima kasih.”
Eira maju. “Kalau gitu kesepakatannya. Kita berangkat besok. Tim 10.”
“Tim 10?” tanya Kael.
Eira dan Aira kompak. “Iya. 9 Penjaga. Ditambah 1 yang Belajar Hangat.”
Veyrin hampir menangis. “Aku… aku belum pantas dipanggil begitu.”
Aira memeluk lengan Veyrin. “Nanti juga pantas, Om. Kita ajarin pelan-pelan.”
LATIHAN TERAKHIR SEBELUM BERANGKAT
Subuh. Halaman akademi.
Eira dan Aira berdiri di tengah. Veyrin di belakang mereka, gugup.
“Ingat,” kata Lyra. “Sihir hangat bukan dari kuat. Dari mau memaafkan.”
Eira menggenggam tangan Aira. Aira menggenggam tangan Veyrin.
Tiga cahaya berbeda menyatu. Keemasan, putih, dan abu-abu hangat.
Dari tanah tumbuh bunga baru. Kelopaknya sepuluh.
Veyrin terisak. “Ini pertama kalinya aku menumbuhkan sesuatu tanpa menyakiti.”
Selene memegang bahu Veyrin. “Selamat datang pulang.”
SURAT TERAKHIR
Di pintu gerbang akademi ada surat. Tanpa nama pengirim.
Isinya:
Benih pertama sampai ketiga sudah mati.
Enam sisanya menunggu.
Hati-hati. Mereka tidak akan semudah ini.
– T
Tim 10 saling pandang.
Leon mengangkat pedang. “Berangkat?”
Eira menatap Aira dan Veyrin. “Berangkat. Sebagai keluarga.”
Mereka melangkah keluar gerbang. Di belakang, bunga sepuluh kelopak mekar.
Kreator : Nadya Putri
Comment Closed: Bab 6 dari novel Sihir Tanah Fajar Perjalanan 9 bintang
Sorry, comment are closed for this post.