Lulus sekolah tahun ini adalah sebuah kebahagian bagi Suli dan juga kakangnya, Tarjo. Mereka sama-sama sudah lulus sekolah, Kang Tarjo yang lulus sekolah akhir tahun ini sudah bersiap untuk mencari pekerjaan agar bisa membantu keuangan Ibu dan Bapak. Kami benar-benar bersyukur karena Kang Tarjo tidak langsung memikirkan untuk menikah atau melanjutkan sekolah lagi, tapi malah semangat untuk mencari pekerjaan, walaupun banyak teman-temannya yang sudah menikah dan lanjut sekolah lagi di universitas.
Kang Tarjo memberi kabar kepada Ibu dan Bapak jika dia mendapatkan tawaran kerja di Kalimantan, di sebuah perkebunan kelapa sawit. Tawaran itu datang dari sekolahnya yang memang akan merekomendasikan anak-anak pintar untuk bisa bekerja di daerah yang upah minimumnya lumayan lebih tinggi.
Selain dia mengambil jurusan perkebunan, Kang Tarjo juga cukup pintar di sekolahnya. Ia sering mendapatkan rangking dua di kelas dan sangat disayang oleh gurunya. Ia dikenal sangat sopan kepada orang lain dan orang yang lebih tua darinya.
Kang Tarjo memang sangat baik, pintar, sopan, ramah, dan nurut sama orang tua, suka juga membantu Bapak mencangkul di sawah. Dia sama sekali tidak pernah malu akan kondisi keluarga. Sifat apa adanya ini membuat Kang Tarjo dikenal baik di desa kami. Walau kadang sering dibecandain oleh tetangga kami kalau nanti sudah besar Kang Tarjo cocok untuk jadi lurah atau kepala desa.
“Bu’e, maaf mau tanya. Gimana soal tawaran dari sekolah untuk saya kerja di Kalimantan, Bu. Bu’e setuju atau tidak, nggih? Soalnya Pak Daru minta kepastian agar beliau bisa menghubungi pihak perusahaan di sana.”
“Le, emang kamu bener pengen ke sana? Jauh gitu, apa gak ada pekerjaan yang deket-deket wae, ben sebulan atau berapa bulan sekali bisa pulang? Kejauhan oo le itu.”
Ucapan Bu’e yang sedih karena anak pertamanya ingin pergi jauh, membuat Suli yang mendengarnya juga ikut sedih. Tapi, memang upah di sana jauh lebih tinggi dibandingkan di Jawa. Kang Tarjo mencoba menenangkan dan menjelaskan kepada Ibu agar diizinkan, dengan beberapa alasan yang masuk akal dan sulit untuk ditolak. Dia ingin membantu menyekolahkan adik-adiknya, apalagi si bontot yang mulai masuk sekolah tahun ini. Kang Tarjo tahu betul kalau keluarga kami sangat kekurangan, apalagi sekarang ada hutang yang belum bisa dibayar.
Minggu lalu kondisi Ibu drop dan jatuh sakit. Saat kami membawanya ke rumah sakit, ternyata Ibu memiliki riwayat lemah jantung dan paru-paru basah. Gara-gara ucapan orang tua Warti waktu itu, Bu’e jadi sedih, kepikiran, lalu akhirnya drop dan jatuh sakit. Dokter bilang kepada kami bahwa Bu’e tidak boleh dikagetkan atau mendengar kata-kata yang menyakitkan hati. Hal itu bisa membuatnya cepat drop, dan lemah jantungnya bisa kambuh. Jika itu terjadi, pernapasannya akan menjadi tidak stabil dan sangat berbahaya bagi Bu’e, bahkan bisa mengancam nyawanya.
Dengan berat hati akhirnya Bu’e dan Bapak merelakan Kang Tarjo berangkat ke Kalimantan hari ini. Doa, sedih, dan air mata mengiringi kepergian Kang Tarjo untuk mencari rezeki di luar pulau. Walau jauh, kami yakin Kang Tarjo mampu menjaga dirinya dengan baik di sana.
Ternyata, lulus sekolah tidak semenyenangkan yang Suli bayangkan. Ia terus memikirkan apakah benar-benar bisa melanjutkan sekolah, sementara keluarganya sangat kekurangan. Air matanya menetes setiap kali melihat Bu’e yang tak sesehat dulu, Bapak yang tak sekuat dulu, saudara-saudaranya yang masih butuh biaya sekolah, apalagi si bontot yang akan mulai masuk sekolah tahun ini. Pikiran Suli terus berputar, berkecamuk, dan membuatnya gelisah.
Sungguh, mampukah dia melanjutkan sekolah, sementara Ibu dan Bapak terasa tak sanggup membiayainya? Walaupun mereka tak pernah mengeluh dan terus bekerja dalam diam sambil berdoa, Suli tahu bahwa Bu’e sering menangis setiap malam dalam sujudnya. Kegelisahan dan kekhawatirannya tentang biaya sekolah anak-anak cukup membuat Bu’e menangis, bahkan kadang sampai ketiduran saat sholat.
“Bu’e, bangun, Bu. Sudah masuk Isya. Bu’e makan dulu, ya, habis itu minum obatnya. Nanti lanjut sholatnya lagi,”
ujar Suli, membangunkan ibunya yang terlelap dalam sholat.
“Ibu jangan sedih dan khawatir. Pasti semua akan baik-baik saja. Kita bisa mencari jalan keluarnya bersama, ya Bu. Yang penting Ibu minum obatnya teratur supaya cepat sembuh dan bisa berikhtiar lagi mencari rezeki.”
Suli, putri kecil yang sudah tampak dewasa sebelum waktunya, mencoba menghibur ibunya yang sedang sakit dan sedih. Kami selalu berdoa agar Allah memberikan hati yang qana‘ah (merasa cukup) dan istiqamah dalam ibadah dan kebaikan. Kami memang miskin, tapi tempat kami meminta hanya kepada Allah. Kami tak pernah merendahkan diri dengan meminta kepada makhluk, karena kami yakin: Allah Maha Kaya, Maha Menepati Janji, dan Maha Melindungi.
Seperti kata Bapak yang selalu menyuruhku membaca Al-Qur’an surah Al-An‘am ayat 134:
“Inna ma tu‘aduna la’ātiw wa ma antum bi mu‘jizīn.”
Artinya: Sesungguhnya apa pun yang dijanjikan kepadamu pasti datang, dan kamu tidak mampu menolaknya.
Suli yakin akan ada jalan keluar untuk sekolahnya. Ia berniat meminta bantuan gurunya agar bisa melanjutkan ke SL (Sekolah Lanjutan), berharap mendapat bantuan dari pemerintah seperti sebelumnya.
Namun, ada hal lain yang mengganjal hatinya sejak beberapa bulan sebelum kelulusan. Ia mendengar desas-desus bahwa keluarga Budi ingin melamarnya. Jika itu benar, pupus sudah harapannya untuk melanjutkan sekolah. Ia terus berdoa agar hal itu tidak terjadi. Suli sungguh ingin sekolah lagi, ingin bekerja seperti Kang Tarjo agar bisa membantu Ibu dan Bapaknya mencari uang.
Tugas kita hanyalah berikhtiar semaksimal mungkin, dan hasilnya adalah milik Allah.
Tidak benar jika ada yang mengatakan bahwa “kerja keras tidak mengkhianati hasil.”
Kalimat itu bertolak belakang dengan konsep tawakal, karena semua hasil sepenuhnya milik Allah. Kita hanya bisa berusaha sebaik mungkin dan meyakini bahwa setiap takdir yang datang dari-Nya adalah baik.
Selama kita yakin bahwa yang terbaik pasti Allah berikan, jangan berharap semua sesuai dengan keinginan kita. Sebab Allah tidak selalu memberi apa yang kita inginkan, melainkan mencukupi apa yang kita butuhkan. Allah lebih tahu apa yang terbaik bagi kita dibanding diri kita sendiri. Maka dari itu, yakinlah.
Kreator : Siti Purwaningsih (Nengshuwartii)
Comment Closed: BAB 6 – LULUS SEKOLAH
Sorry, comment are closed for this post.