BAB 7: SUP TERAKHIR UNTUK NENEK YSRA
Musim gugur datang lagi.
Daun dari 24 pohon tua rontok. Tapi kali ini tidak ada yang menangis.
Dan di tengahnya, Veylara sudah setinggi lutut. Daunnya berkilau tiap malam.
Sudah setahun sejak Seraphina dan Alistair menanamnya.
Mereka datang tiap minggu. Bawa sayur. Bawa cerita.
Tio juga datang. Bawa ibunya. Mereka makan di meja panjang.
Gubuk tidak pernah sepi lagi.
Tapi hari ini… hanya ada Nenek Ysra.
Tubuhnya semakin kurus. Tangannya gemetar kalau mengaduk.
Buku kayu di meja sudah penuh. 6 resep. 6 cerita. 6 luka yang sembuh.
“Kriiieekkk…”
Pintu terbuka. Yang masuk bukan tamu.
Angin.
Nenek Ysra tersenyum. “Waktunya.”
Dia menyalakan api. Pelan. Kompor tua itu masih mau menyala untuknya.
Di atas meja: wortel, jamur, seikat daun kering, dan air dari sumur gubuk.
Bahan yang sama seperti Sup Pengingat. Tapi kali ini beda.
Ini untuk dirinya sendiri.
Nenek Ysra mengiris. Tangannya lambat.
“Tiap potong, ingat satu orang,” bisiknya.
Iris. Tio. Anak yang akhirnya berani pulang.
Iris. Seraphina. Ratu yang belajar melepas mahkota.
Iris. Alistair. Raja yang belajar menunggu.
Iris. 24 orang yang pernah duduk di kursi ini.
Sup mendidih. Wanginya tidak sekuat dulu. Lebih lembut. Kayak perpisahan.
Nenek Ysra menuang sup ke mangkuk. Satu-satunya mangkok di meja.
Dia duduk. Sendiri. Tapi tidak kesepian.
Buku di depannya terbuka di halaman kosong. Halaman ketujuh.
Tangannya menulis dengan tinta yang memudar.
Resep 7: Sup Terakhir untuk Nenek Ysra
Bahan: Sisa sayur dari kebun, air dari sumur yang sudah memberi selama 100 tahun, kenangan dari semua orang yang pernah makan di sini.
Cara: Masak sendiri. Makan sendiri. Lalu tutup pintunya.
Catatan: Penjaga tidak butuh disembuhkan. Penjaga hanya butuh pulang.
Di bawahnya dia menambahkan satu kalimat:
Terima kasih sudah datang. Pintunya akan tetap terbuka untuk yang lain.
Nenek Ysra meneguk sup itu. Hangat.
Rasanya seperti semua sup yang pernah dia buat. Pahit, manis, asin. Jadi satu.
Di luar, Veylara berdesir. Daunnya menetes embun cahaya.
Setelah mangkok kosong, Nenek Ysra berdiri.
Dia mengelus meja kayu. Mengelus kompor. Mengelus buku.
“Lakukan tugasmu,” bisiknya ke buku itu. “Jaga mereka.”
Gub. Buku itu menutup sendiri.
Nenek Ysra berjalan ke pintu. Membukanya.
Kriiieekkk…
Kali ini suaranya bukan “kamu aman”.
Bukan “selamat datang”.
Suaranya bilang: “Sampai jumpa.”
Dia melangkah keluar. Ke arah 25 pohon.
Angin mengantarnya. Daun-daun berjatuhan mengelilinginya seperti selimut.
Di dalam gubuk, api di kompor padam sendiri.
Tapi uap dari mangkok terakhir masih mengepul. Lama.
Tiga hari kemudian Seraphina dan Alistair datang.
Meja bersih. Kompor dingin. Buku kayu tertutup rapat.
Di atasnya ada satu mangkok kosong. Dan di pegangannya terikat sehelai pita abu-abu.
Alistair membuka buku itu. Halaman pertama kosong.
Halaman kedua kosong.
Semua resepnya… hilang.
Tinggal satu tulisan di halaman terakhir, dengan tinta baru:
Gubuk ini sekarang milik kalian. Masaklah.
Untuk orang yang tersesat.
Untuk orang yang lupa jalan pulang.
Resepnya ada di hati.
Seraphina memeluk buku itu. Menangis.
Tapi bukan tangis sedih.
“Dia pulang,” kata Alistair pelan. “Ke 25 pohonnya.”
Mereka menatap keluar. Veylara bergoyang.
Dan di bawahnya, tanahnya hangat.
Pintu kayu berderit lagi.
_Kriiieekkk…_
Kali ini bukan Nenek Ysra yang buka.
Tapi gubuknya sendiri. Menunggu tamu berikutnya.
—
Nenek Ysra sudah “pulang”. Tapi warisannya tetap.
Sekarang gubuk itu milik Seraphina, Alistair, dan Tio.
Kreator : Nadya Putri
Comment Closed: Bab 7 dari novel Rahasia buku sihir nenek Ysra
Sorry, comment are closed for this post.