Bab 7: PASIR YANG MENANGIS DAN MASA LALU YANG TERKUBUR
GURUN PASIR MERAH
Tiga minggu perjalanan dari Akademi.
Gurun Pasir Merah tidak merah karena pasir. Merah karena darah yang mengering di bawahnya. Angin panas membawa bisikan.
“Kembali… kembali…”
Tim 10 berjalan beriringan. Leon berada di depan memimpin barisan. Lyra memegang kompas. Eira dan Aira berada di tengah. Sedangkan, Veyrin berada paling belakang, membawa air dan tenda.
“Berhenti,” kata Veyrin pelan. “Pasirnya bergerak.”
Benar. Di kejauhan ada pusaran pasir. Di tengahnya, ada cahaya merah berdenyut.
Benih Keempat.
Tapi sebelum mereka mendekat, pasir meledak. Keluar monster kalajengking raksasa. Ekornya beracun.
“Formasi!” teriak Leon.
Pertarungan dimulai. Vanya buat perisai es. Kael dan Toran panah. Riko dan Mira lindungi anak-anak desa yang ikut.
Eira dan Aira saling pandang.
“Gabung?” bisik Eira.
Aira mengangguk. Mereka menggenggam tangan. Cahaya keemasan keluar.
Veyrin di belakang ragu. Lalu dia ikut meletakkan tangan di atas tangan mereka.
Tiga cahaya menyatu. Hangat, putih, abu-abu.
Pasir dibawah monster mencair jadi kaca. Monster itu jatuh.
Benih Keempat bergetar. Retak sedikit.
SEKOLAH DULU, BARU JALAN
Malamnya mereka berkemah di oasis kecil.
Aira duduk sambil menulis di buku. “Hari pertama misi.”
Eira tertawa. “Kita ini tim atau kelas?”
Lyra membuka Buku Sihir Tanah Fajar. “Sebelum lawan Benih, kita latihan dulu. Aturannya: setiap malam 1 jam pelajaran.”
“Pelajarannya apa?” tanya Kael.
“Memahami Benih,” jawab Lyra. “Benih ini tumbuh dari apa.”
Veyrin yang duduk paling jauh tiba-tiba bicara.
“Dari kesepian.”
Semua menoleh.
Veyrin menatap api. “Benih Ketiga tumbuh dari kesepianku. Aku rasa yang ini juga.”
FLASHBACK MASA KECIL VEYRIN
Api unggun memantulkan wajah Veyrin. Matanya kosong.
“Aku umur 7 tahun,” bisiknya. “Dibuang ke gurun ini. Karena ibuku bilang aku lemah.”
“Aku jalan tiga hari. Tidak ada air. Tidak ada orang.”
“Aku gali pasir dengan tangan sampai berdarah. Aku teriak. Tidak ada yang jawab.”
Dia mengepalkan tangan. Bekas lukanya masih ada.
“Pasir ini menelanku. Tapi aku menolak mati. Aku bilang ke pasir: Kalau kau tidak mau aku hidup, aku akan buat kau tunduk.”
Dari situlah dia belajar sihir es. Dari dendam. Dari dingin.
Selene menggenggam tangan Veyrin. “Kamu tidak sendiri lagi.”
Veyrin menatap Selene. Lalu menatap Eira dan Aira.
“Aku… aku takut kalau Benih ini ingat aku.”
Eira maju. Dia duduk di sebelah Veyrin. “Kalau gitu kita lawan bareng. Kamu tidak gali pasir sendirian lagi.”
Veyrin mengangguk. Air matanya jatuh ke pasir. Dan anehnya, pasir di situ jadi basah. Tumbuh bunga kecil.
KEMBALI KE BENIH
Subuh. Mereka sampai di pusaran pasir.
Benih Keempat melayang. Bentuknya seperti hati yang terbuat dari kristal merah.
“Benih Kesepian,” kata Lyra.
Benih itu bicara tanpa suara. Kalian akan meninggalkanku juga. Seperti semua orang._
Eira maju. “Tidak.”
Aira maju. “Kami janji.”
Veyrin maju paling akhir. Tangannya gemetar. “Dan aku… aku minta maaf karena dulu aku menyalahkan pasir.”
Tiga cahaya lagi. Tapi kali ini Veyrin yang memimpin.
Cahaya abu-abu hangatnya paling terang.
Benih Keempat berteriak. Retak. Lalu hancur jadi debu merah.
Debu itu jatuh ke tanah dan menumbuhkan bunga poppy merah.
Gurun berhenti berbisik.
SURAT KEDUA
Di bawah bunga poppy ada surat kecil.
Isinya:
Satu sudah selesai. Lima lagi.
Jangan percaya semua yang tersenyum.
– T
Tim 10 saling pandang.
Leon menatap kompas. “Tujuan berikutnya: Hutan Akar Hitam.”
Eira menatap Veyrin. “Siap, Om?”
Veyrin mengangguk. Untuk pertama kalinya, dia yang jalan paling depan.
Kreator : Nadya Putri
Comment Closed: Bab 7 dari novel Sihir Tanah Fajar Perjalanan 9 bintang
Sorry, comment are closed for this post.