Sore hari itu, tiba-tiba hujan turun deras sekali, udara sangat dingin dan mendung sangat gelap. Ibu terdiam merenung di ruang tamu sendirian. Suli menghampiri Ibu dengan langkah lembut dan hati-hati agar tidak mengagetkannya.
“Kenapa kok melamun, Bu’e? Ada yang dipikirkan, nggih?” tanyaku pada Ibu yang sedari tadi diam saja melihat ke luar rumah.
“Iya nak, Bu’e kepikiran kakangmu. Hujan begini dia masih di kapal, katanya butuh lima hari atau bisa lebih naik kapal ke Kalimantan. Bu’e sedih, cukup gak ya nanti uang sing dia pegang? Makannya gimana? Semoga dia baik-baik saja di perjalanannya. Bu’e khawatir bener sama kakangmu.”
Kesedihan terpancar jelas di wajah Ibu yang merindukan putra pertamanya. Bapak hanya bisa diam sambil sesekali menyesap kopinya. Hawa yang begitu dingin membuat Suli pun memeluk Ibu dan berkata, “Pasti semua baik-baik saja, Bu’e. Kakang akan sampai ke tujuan selamat dan sehat, insyaallah.”
Setelah seminggu menyiapkan semua surat keperluan untuk mendaftar ke sekolah, esoknya Suli jadi mendaftar ke sekolah dan diantar Bapak. Hatinya senang sekali karena keinginannya untuk melanjutkan sekolah sebentar lagi terwujud. Selain mengurus Suli, Bapak juga sibuk mempersiapkan pendaftaran sekolah untuk si bontot yang tahun ini masuk kelas satu sekolah dasar.
Setiap hari, Ibu dan Bapak selalu bekerja keras agar bisa menyisihkan uang untuk keperluan sekolah, makan, serta kebutuhan lainnya. Juga, sedikit menyisakan untuk ditabung agar hutang mereka bisa segera dibayar, karena mereka semua tahu bahwa Bu Sum berbeda dari orang biasanya dalam urusan membantu orang lain.
Siang hari yang lumayan cerah ini, tiba-tiba Bu Sum datang ke rumah dengan senyum yang ceria, tidak seperti biasanya. Kali ini Bu Sum ke rumah bersama Pak Yudi, suaminya. Seperti ada hal yang ingin mereka sampaikan kepada keluarga Suli. Suli melihat dari jalan sehabis dari rumah Bibi, mengikuti mereka masuk ke rumah dan langsung menuju dapur untuk membantu menyiapkan minuman.
“Pak, saya kesini mau ada yang dibicarakan,” ucap Bu Sum sambil tersenyum.
“Nggih, Bu. Sebelumnya saya mohon maaf ya Bu, belum bisa bayar hutang e. Ini saya lagi kerja keras cari sampingan juga agar bisa segera bayar hutang ke Ibu,” ucap Bapak sedikit sedih, malu dan meminta maaf.
“Eh gak papa, wong saya kesini bukan untuk itu kok. Boleh saya bicara sek ya, tolong didengarkan dulu ben sama-sama enak.”
“Nggih Bu, silahkan.”
“Begini, saya sudah lama suka sama putrine jenengan. Maklumi ya namanya gak punya anak perempuan. Apalagi liat Suli tumbuh jadi gadis sing cantik, sopan, baik, pokok’e saya suka sama Si Suli. Dan, saat Budi tak tanyain soal kepribadian Suli, ternyata dia juga suka sama putrine jenengan,” ucap Bu Sum sumringah.
“Jadi, maksud saya sama suami datang ke sini pengen melamar Suli, mau tak jadiin mantuku, Pak. Boleh, toh?”
Mendengar semua yang diucapkan Bu Sum, baik Bapak, Ibu, dan semua yang ada di dalam rumah cukup kaget mendengarnya.
“Apa ini? Kok jadi gini?” gumam Suli bingung.
Semua orang tahu, bahkan masyarakat pun tahu, jika keluarga Bu Sum terkenal kadang orangnya suka semena-mena. Walaupun baik dan suka membantu, tapi setiap ada bantuan pasti ada pamrih di dalamnya.
Waktu Ibu sakit, Bapak benar-benar tidak punya uang untuk bayar tunggakan sekolah Kang Tarjo agar ijazahnya bisa diambil. Bapak terpaksa meminjam uang kepada Bu Sum. Saat itu, Bibi juga tidak punya uang.
Sedangkan Budi, putra mereka, juga terkenal sangat nakal, suka keluyuran, dimanja orang tuanya, tidak suka ngaji, suka pulang malam kalau sudah main, dan banyak lagi hal yang kurang baik dari dirinya. Bukannya ingin menilai orang dari luarnya sebelum mengenalnya langsung, tapi di kampung yang kecil ini semua berita cepat tersebar.
Bahkan pernah kejadian dua tahun yang lalu Bapak Budi sampai minta tolong polisi buat jemput anaknya yang suka main game dan pulang malam. Meski mereka bilang Budi sudah berubah, tapi yang Suli lihat Budi bersikap baik kalau ada orang tuanya saja.
Keluarga mereka adalah keluarga sibuk. Bu Sum seorang bidan yang masih sekolah dan membuka prakteknya sendiri. Bapaknya seorang mandor proyek yang sibuk dan jarang pulang.
Bapak yang terdiam, akhirnya memberanikan diri untuk buka suara.
“Oh gitu, Bu. Hm, saya tanya anak’e dulu ya, Bu. Namanya pernikahan kan harus tanya yang mau menjalaninya,” jawab Bapak dengan sopan dan tenang.
“Alah, Suli mah pasti nurut toh sama Bapak. Gak mungkin anak baik kayak Suli gak nurut sama Bapak’e. Yang penting jenengan gimana? Mau kan jadi besan saya? Kapan lagi besanan sama orang seperti saya. Tak pastikan Suli setiap hari makan enak dan sehat, Pak. Pokoknya terjamin lah masa depannya.”
Ucapan Bu Sum yang mencela dan menyombongkan dirinya, membanggakan latar belakang keluarganya. Mereka tidak lupa setiap berbicara sambil merendahkan keluarga Suli, walau dengan bahasa yang halus.
Bersyukur sekali, karena Bapak tidak langsung mengiyakan lamaran Bu Sum dan meminta waktu untuk bicara dengan Suli dan keluarga. Bu Sum dan Pak Yudi akhirnya mengalah dan memberikan waktu untuk Bapak berfikir tentang lamaran mereka, sebelum mereka pulang, mereka juga mengatakan akan menunggu kabar baiknya.
Suli langsung menangis memohon kepada Bapak dan Ibu agar tidak menerima lamaran itu. Sebab Suli benar-benar ingin sekolah dan belajar, bukan menikah sekarang. Apalagi, jika menikah degan Budi yang seperti itu. Suli terus menangis terisak membuat Bapak dan Ibu juga ikut sedih dan menangis.
Jika lamaran itu ditolak, pasti Bu Sum akan minta hutangnya segera dilunasi. Sifat Bu Sum memang sudah terkenal seperti itu. Semua kakang Suli juga tidak ada yang setuju. Walaupun keluarga Bu Sum adalah orang berada, tetap saja akhlak lebih penting daripada materi. Bagaimana bisa anak yang selalu dimanja itu menjadi seorang suami yang memikul tanggung jawab dunia akhirat. Bapak hanya bisa terdiam mendengar semua perkataan anak dan istrinya.
Kejadian ini tak akan pernah bisa Suli lupakan, bagaimana seseorang bisa merendahkan orang lain hanya untuk memuji diri mereka sendiri, seakan-akan memberikan pujian kepada mereka yang direndahkan. Akan tetapi, sejatinya mereka hanya ingin menyombongkan diri bahwa mereka lebih kaya dari pada keluarga Suli.
Kemarin, Pak Guru saat memberikan raport kepada Suli berkata, “Jangan salah mengambil langkah untuk masa depanmu. Sekolah dulu sing pinter dan bahagiakan orang tua kamu. Yakinlah, jika orang tuamu bahagia, Allah pasti akan membahagiakan kamu dengan memberikan kamu pasangan yang baik dunia akhirat.”
Nasehat Pak Guru mengingatkan Suli dengan surah An-Nur ayat 26 yang pernah dia baca yang berbunyi :
“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka (yang baik) itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia.”
Kreator : Siti Purwaningsih (Nengshuwartii)
Comment Closed: BAB 7 – PERJODOHAN
Sorry, comment are closed for this post.