KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Beranda » Artikel » Bab 7_ Kerja Diam-Diam Menopang Dunia: Menghargai Kontribusi yang Tak Terlihat

    Bab 7_ Kerja Diam-Diam Menopang Dunia: Menghargai Kontribusi yang Tak Terlihat

    BY 11 Feb 2026 Dilihat: 5 kali
    Bab 7_ Kerja Diam-Diam Menopang_alineaku

    Kerja Diam-Diam Menopang Dunia: Menghargai Kontribusi yang Tak Terlihat

     

    Kerja tidak harus selalu pakai seragam, kartu absen, atau foto LinkedIn berlatar gedung kaca. Banyak kerja justru hadir diam-diam, seperti Wi-Fi tetangga yang tiba-tiba nyambung: tak terlihat, jarang disyukuri, tapi begitu hilang, semua langsung panik.

    Masalahnya, kita terjebak dalam definisi kerja yang sempit dan terkesan eksklusif. Kerja dianggap sah hanya jika bergaji, berpangkat, dan layak dipamerkan. Selebihnya, gampang dicap “cuma aktivitas”. Dari sini lahir dua kasta imajiner: golden boy yang dielu-elukan, dan scapegoat yang dijadikan kambing hitam sosial.

    Yang pertama (golden boy) disorot bak selebritas. Yang ke dua (scapegoat)? Ibu rumah tangga yang dianggap  cuma rebahan nonton sinetron seharian, padahal hidup satu keluarga bisa ambruk dalam lima menit setelah dia benar-benar berhenti. Relawan dicurigai “nganggur.” Seniman ditanya, “Itu bisa dimakan?” Pekerja informal dianggap pengangguran terselubung, padahal, tanpa mereka, kota ini seperti komputer terinfeksi virus: hidup tapi kacau.

    Hidup kita sesungguhnya adalah audisi besar-besaran. Ada yang lolos karena tampilan kinclong. Ada yang bertahan karena latihan sepi dan kerja keras tanpa sorotan. Sayangnya, tepuk tangan selalu jatuh ke vokalis, bukan ke kru yang memasang kabel, menyetel suara, dan membersihkan panggung sebelum acara. Padahal tanpa kru, vokalis hanyalah individu manusia yang teriak-teriak di ruangan kosong.

    Ambil contoh Rian, pengemudi ojol. Malam-malam dia narik penumpang, hujan atau panas tetap jalan. Tak ada jaminan pensiun, tak ada kartu nama mewah, tapi jasanya nyata: orang sampai tujuan dengan selamat dan kota tetap bergerak. Bandingkan dengan gelar atau penghargaan yang kerap dipuja, tapi kontribusinya hari ini nihil—namun tetap berisik.

    Seringkali kita salah kaprah. Kita pikir yang kelihatan itu pasti penting, dan yang sunyi itu pasti remeh. Padahal kerja adalah upaya sadar menopang hidup—fisik, mental, sosial—entah dicatat, digaji, atau bahkan diabaikan. Dunia ini berdiri bukan karena pidato megah, tapi karena rutinitas membosankan yang dijalankan oleh mereka yang jarang dipuji.

    Bahasa kita malah memperparah keadaan. Kita ringan mengucapkan, “nganggur ya?” seolah nilai manusia diukur dari slip gaji. Kalimat itu mungkin terdengar sepele, tapi efeknya seperti stempel murahan: sekali ditempel, sulit lepas. Bahasa bukan sekadar cermin realitas; ia adalah pabrik prasangka yang bekerja lembur tanpa izin.

    Negara-negara lain memberi cermin. Ada yang terlalu memuja kerja hingga lupa hidup. Ada yang mulai sadar bahwa merawat, menjaga, dan menopang itu juga bagian dari kerja. Tidak ada sistem yang sempurna. Tapi satu pelajaran yang pasti dan jelas: masyarakat runtuh bukan karena kurang orang sukses, melainkan karena kurang orang yang mau mengakui pekerjaan diam-diam seperti ini.

    Jadi, sebelum nyinyir soal pekerjaan orang lain, coba cek peran kita sendiri. Jangan-jangan kita cuma penonton yang sok rajin, ahli komentar, tapi alergi kontribusi. Menghargai kerja yang tak terlihat bukan soal anti-sukses atau anti-uang. Ini soal kewarasan.

    Dari kewarasan itu, kita bisa mulai bicara tentang makna dan kontribusi. Paham alasan mengapa kerja—sekecil apa pun—layak dihormati.

    Untuk saat ini, cukup satu hal dulu: sadari bahwa dunia ini berjalan bukan karena orang-orang yang paling sering dipuji, melainkan karena mereka yang tetap bekerja meski jarang disebut. Mereka yang bangun lebih pagi, pulang lebih larut, mengurus, merawat, membersihkan, menemani, dan menjaga—tanpa mendapatkan tepuk tangan, tanpa diberi panggung.

    Jika bagian ini membuat kita tertawa lalu merasa agak tidak nyaman, itu tanda bagus. Artinya, kita mulai peka pada sesuatu yang selama ini kita anggap remeh, padahal menopang kehidupan kita sehari-hari.

    Di titik inilah kita berhenti menertawakan orang lain, dan mulai menertawakan cara lama kita memandang ‘pekerjaan’. Dari sini, pelan-pelan, kita bisa melangkah ke pertanyaan yang lebih halus: kontribusi apa yang sebenarnya sudah kita berikan—dan kepada siapa sajakah kita sudah berkontribusi?

    Bab berikutnya dalam kehidupan nyata tidak lagi mengajak kita menertawakan dunia, melainkan menatap diri sendiri. Tanpa panggung, tanpa penonton. Hanya kejujuran, dan kemungkinan untuk memilih ulang cara kita hidup dan bekerja.

    Tutup buku ini tanpa perlu teriak. Cukup berbisik jujur: hidup kita hari ini ditopang oleh begitu banyak pekerjaan yang tak terlihat—oleh tangan yang membersihkan tanpa dipuji, pikiran yang merawat tanpa diakui, langkah yang terus bergerak meski tak disorot. Jika setelah menutup halaman terakhir ini kita sedikit lebih elegan menilai orang lain, sedikit lebih hemat meremehkan, dan sedikit lebih berani menghargai upaya—terutama yang dikerjakan diam-diam—maka tulisan ini sudah bekerja. Sisanya terserah kita: memilih kembali silau pada gemerlap, atau mulai setia pada kontribusi nyata, sekecil apa pun, yang membuat dunia tetap berjalan tanpa cela.

     

     

    Kreator : Adhipateyya Khanti Wardoyo (ADWANTHI)

    Bagikan ke

    Comment Closed: Bab 7_ Kerja Diam-Diam Menopang Dunia: Menghargai Kontribusi yang Tak Terlihat

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021