Kerja Diam-Diam Menopang Dunia: Menghargai Kontribusi yang Tak Terlihat
Kerja tidak harus selalu pakai seragam, kartu absen, atau foto LinkedIn berlatar gedung kaca. Banyak kerja justru hadir diam-diam, seperti Wi-Fi tetangga yang tiba-tiba nyambung: tak terlihat, jarang disyukuri, tapi begitu hilang, semua langsung panik.
Masalahnya, kita terjebak dalam definisi kerja yang sempit dan terkesan eksklusif. Kerja dianggap sah hanya jika bergaji, berpangkat, dan layak dipamerkan. Selebihnya, gampang dicap “cuma aktivitas”. Dari sini lahir dua kasta imajiner: golden boy yang dielu-elukan, dan scapegoat yang dijadikan kambing hitam sosial.
Yang pertama (golden boy) disorot bak selebritas. Yang ke dua (scapegoat)? Ibu rumah tangga yang dianggap cuma rebahan nonton sinetron seharian, padahal hidup satu keluarga bisa ambruk dalam lima menit setelah dia benar-benar berhenti. Relawan dicurigai “nganggur.” Seniman ditanya, “Itu bisa dimakan?” Pekerja informal dianggap pengangguran terselubung, padahal, tanpa mereka, kota ini seperti komputer terinfeksi virus: hidup tapi kacau.
Hidup kita sesungguhnya adalah audisi besar-besaran. Ada yang lolos karena tampilan kinclong. Ada yang bertahan karena latihan sepi dan kerja keras tanpa sorotan. Sayangnya, tepuk tangan selalu jatuh ke vokalis, bukan ke kru yang memasang kabel, menyetel suara, dan membersihkan panggung sebelum acara. Padahal tanpa kru, vokalis hanyalah individu manusia yang teriak-teriak di ruangan kosong.
Ambil contoh Rian, pengemudi ojol. Malam-malam dia narik penumpang, hujan atau panas tetap jalan. Tak ada jaminan pensiun, tak ada kartu nama mewah, tapi jasanya nyata: orang sampai tujuan dengan selamat dan kota tetap bergerak. Bandingkan dengan gelar atau penghargaan yang kerap dipuja, tapi kontribusinya hari ini nihil—namun tetap berisik.
Seringkali kita salah kaprah. Kita pikir yang kelihatan itu pasti penting, dan yang sunyi itu pasti remeh. Padahal kerja adalah upaya sadar menopang hidup—fisik, mental, sosial—entah dicatat, digaji, atau bahkan diabaikan. Dunia ini berdiri bukan karena pidato megah, tapi karena rutinitas membosankan yang dijalankan oleh mereka yang jarang dipuji.
Bahasa kita malah memperparah keadaan. Kita ringan mengucapkan, “nganggur ya?” seolah nilai manusia diukur dari slip gaji. Kalimat itu mungkin terdengar sepele, tapi efeknya seperti stempel murahan: sekali ditempel, sulit lepas. Bahasa bukan sekadar cermin realitas; ia adalah pabrik prasangka yang bekerja lembur tanpa izin.
Negara-negara lain memberi cermin. Ada yang terlalu memuja kerja hingga lupa hidup. Ada yang mulai sadar bahwa merawat, menjaga, dan menopang itu juga bagian dari kerja. Tidak ada sistem yang sempurna. Tapi satu pelajaran yang pasti dan jelas: masyarakat runtuh bukan karena kurang orang sukses, melainkan karena kurang orang yang mau mengakui pekerjaan diam-diam seperti ini.
Jadi, sebelum nyinyir soal pekerjaan orang lain, coba cek peran kita sendiri. Jangan-jangan kita cuma penonton yang sok rajin, ahli komentar, tapi alergi kontribusi. Menghargai kerja yang tak terlihat bukan soal anti-sukses atau anti-uang. Ini soal kewarasan.
Dari kewarasan itu, kita bisa mulai bicara tentang makna dan kontribusi. Paham alasan mengapa kerja—sekecil apa pun—layak dihormati.
Untuk saat ini, cukup satu hal dulu: sadari bahwa dunia ini berjalan bukan karena orang-orang yang paling sering dipuji, melainkan karena mereka yang tetap bekerja meski jarang disebut. Mereka yang bangun lebih pagi, pulang lebih larut, mengurus, merawat, membersihkan, menemani, dan menjaga—tanpa mendapatkan tepuk tangan, tanpa diberi panggung.
Jika bagian ini membuat kita tertawa lalu merasa agak tidak nyaman, itu tanda bagus. Artinya, kita mulai peka pada sesuatu yang selama ini kita anggap remeh, padahal menopang kehidupan kita sehari-hari.
Di titik inilah kita berhenti menertawakan orang lain, dan mulai menertawakan cara lama kita memandang ‘pekerjaan’. Dari sini, pelan-pelan, kita bisa melangkah ke pertanyaan yang lebih halus: kontribusi apa yang sebenarnya sudah kita berikan—dan kepada siapa sajakah kita sudah berkontribusi?
Bab berikutnya dalam kehidupan nyata tidak lagi mengajak kita menertawakan dunia, melainkan menatap diri sendiri. Tanpa panggung, tanpa penonton. Hanya kejujuran, dan kemungkinan untuk memilih ulang cara kita hidup dan bekerja.
Tutup buku ini tanpa perlu teriak. Cukup berbisik jujur: hidup kita hari ini ditopang oleh begitu banyak pekerjaan yang tak terlihat—oleh tangan yang membersihkan tanpa dipuji, pikiran yang merawat tanpa diakui, langkah yang terus bergerak meski tak disorot. Jika setelah menutup halaman terakhir ini kita sedikit lebih elegan menilai orang lain, sedikit lebih hemat meremehkan, dan sedikit lebih berani menghargai upaya—terutama yang dikerjakan diam-diam—maka tulisan ini sudah bekerja. Sisanya terserah kita: memilih kembali silau pada gemerlap, atau mulai setia pada kontribusi nyata, sekecil apa pun, yang membuat dunia tetap berjalan tanpa cela.
Kreator : Adhipateyya Khanti Wardoyo (ADWANTHI)
Comment Closed: Bab 7_ Kerja Diam-Diam Menopang Dunia: Menghargai Kontribusi yang Tak Terlihat
Sorry, comment are closed for this post.