BAB 8: ROTI UNTUK TAMU YANG BARU DATANG
Lima tahun.
Veylara sekarang sudah setinggi atap gubuk.
Daunnya lebar, akarnya dalam. Tiap malam bulan purnama, daunnya menetes embun cahaya.
Anak-anak desa bilang itu “air mata pohon yang bahagia”.
Gubuknya tidak berubah. Masih kayu tua. Masih kompor tua.
Tapi mejanya sekarang panjang. Bisa untuk 8 orang.
Di papan kecil depan pintu ada tulisan baru, ukiran tangan Alistair:
*”Gubuk Veylara – Untuk yang Lupa Jalan Pulang”*
Kriiieekkk… Pintu terbuka.
Seraphina yang membukanya. Rambutnya sudah mulai memutih. Tapi, matanya terang.
Dia pakai celemek, bukan mahkota. Di tangannya ada loyang roti hangat.
“Selamat datang,” katanya. Suaranya sama kayak Nenek Ysra dulu.
Yang masuk seorang gadis. 16 tahun. Mata sembab. Bawa tas lusuh.
“Saya… saya dengar di sini bisa…”
“Masak dulu,” potong Seraphina sambil tersenyum. “Lapar ya?”
Di dapur, Alistair sedang mengaduk sup. Tio di sampingnya motong wortel.
Di sebelah Tio ada ibunya, lagi menata bunga di vas.
“Buku mana?” tanya gadis itu pelan.
Tio menunjuk buku kayu di tengah meja. Sampulnya sudah semakin tua.
“Buku itu yang milih,” kata Tio. “Bukan kita.”
Gadis itu duduk. Seraphina menyodorkan sepotong roti dan semangkuk sup.
“Makan dulu. Cerita nanti.”
Roti itu rasanya… rumah.
Sup itu rasanya… dimengerti.
Gadis itu menangis. Tapi sambil makan.
Setelah selesai, buku di meja terbuka sendiri. Halaman kosong.
Tinta muncul pelan-pelan, menulis sendiri.
Resep 8: Roti untuk Tamu yang Baru Datang
Bahan: Tepung dari gandum Veylara, air dari sumur, satu cerita yang belum selesai.
Cara: Uleni sambil didengarkan. Panggang sambil didoakan.
Catatan: Setiap penjaga baru punya resepnya sendiri.
Di bawahnya ada tulisan kecil, tinta abu-abu yang sudah pudar:
Terima kasih sudah datang. Pintunya akan tetap terbuka untuk yang lain.
– Nenek Ysra.
Seraphina mengelus sampul buku. “Dia nitip ke kita.”
Malamnya, empat orang duduk di bawah Veylara.
Seraphina, Alistair, Tio, dan gadis itu.
“Jadi sekarang yang jaga siapa?” tanya gadis itu.
“Kita semua,” jawaban Alistair. “Giliran.”
“Kamu besok,” kata Seraphina sambil nyodorin buku. “Resep pertama kamu apa?”
Gadis itu memegang buku itu. Tangannya gemetar.
“Aku… aku bisa bikin teh. Teh untuk orang yang begadang karena takut.”
“Bagus,” kata Tio. “Itu resep bagus.”
Angin berhembus. Daun Veylara berdesir.
_Sreeett…_
Dan di antara desir itu, ada suara lain. Pelan. Hangat.
Seperti suara nenek yang bilang: “Kamu aman.”
Gadis itu menoleh. “Itu siapa?”
Seraphina tersenyum. Menunjuk 25 pohon. “Penjaga pertama. Dia belum kemana-mana. Dia jadi tanah. Jadi angin. Jadi resep.”
Alistair menuang teh ke 4 cangkir. “Untuk Nenek Ysra.”
Mereka mengangkat cangkir bersamaan.
Di dalam gubuk, kompor tua menyala sendiri.
Di atasnya, panci kosong mengepul. Menunggu tamu berikutnya.
Pintu kayu berderit.
_Kriiieekkk…_
Kali ini suaranya bilang: “Silahkan masuk.”
Kreator : Nadya Putri
Comment Closed: Bab 8 dari novel Rahasia buku sihir nenek Ysra
Sorry, comment are closed for this post.