BAB 8: AKAR YANG MENJERAT DAN SENYUM YANG BERACUN
HUTAN AKAR HITAM
Tiga hari setelah Gurun Pasir Merah.
Hutan ini tidak punya langit. Yang ada hanya akar raksasa yang menjuntai dari atas, hitam dan berdenyut seperti pembuluh darah.
“Benih Kelima ada di sini,” kata Lyra sambil buka peta. “Benih Pengkhianatan.”
Veyrin jalan paling depan. Sudah tidak ragu lagi.
“Ikut aku. Aku hafal bau pengkhianatan.”
Tim 10 berjalan hati-hati. Setiap langkah, akar bergerak.
Tiba-tiba dari atas turun sosok. Perempuan. Senyumnya lebar.
“Selamat datang, Keluarga Tanah Fajar.”
Dia cantik. Rambut perak. Gaun dari daun.
“Tapi sayang… aku tidak diundang.”
RAHASIA SIAPA “T”
Perempuan itu menatap Veyrin lama.
“Halo, Kakak.”
Semua terdiam.
Veyrin menyipit. “Talia?”
“Tepat,” katanya sambil tepuk tangan. “T. Suratnya dari aku.”
Dia muterin liontin di leher. Bentuknya sama seperti milik Eira, tapi hitam.
“Aku adikmu yang kau buang ke hutan ini 15 tahun lalu. Karena Ayah bilang aku tidak sekuat kamu.”
Veyrin terpaku. “Aku… aku tidak ingat.”
“Tentu tidak,” Talia tertawa. “Kau terlalu sibuk jadi raja es.”
Lyra berbisik ke Eira. “Di buku tidak ada catatan tentang dia.”
Talia mendekat ke Eira dan Aira. “Dua Bunga Es. Cantik. Sayang kalau layu.”
Eira melindungi Aira. “Jangan sentuh adikku.”
LATIHAN SIHIR GABUNGAN TIM 10
Akar-akar mulai bergerak. Menjerat kaki Tim 10.
“Benih Kelima marah,” kata Talia. “Karena kalian hancurkan Benih Keempat. Dia teman saya.”
Talia menunjuk ke tengah hutan. Di sana ada pohon besar. Di batangnya tertanam kristal ungu berdenyut.
Benih Kelima.
“Rencananya simple,” bisik Talia ke Veyrin. “Kau kembali jadi raja. Aku jadi ratu. Kita berdua. Seperti dulu.”
Veyrin menatapnya. “Dulu aku anak kecil yang ketakutan. Sekarang tidak.”
Dia maju ke depan Tim 10. “Formasi!”
Leon di kiri. Vanya buat perisai. Kael dan Toran panah akar.
Riko dan Mira lindungi anak desa. Selene dan Ardin di tengah.
Lyra berteriak. “Eira, Aira, Veyrin! Gabung!”
Tiga cahaya lagi. Tapi kali ini Tim 10 ikut.
Leon salurkan keberanian. Vanya salurkan perlindungan. Kael dan Toran salurkan ketepatan.
Riko dan Mira salurkan harapan. Selene salurkan cinta. Ardin salurkan ingatan.
Sepuluh cahaya menyatu jadi satu. Keemasan.
Akar-akar terbakar, bukan karena panas. Karena hangat.
Talia mundur. “Tidak mungkin! Kalian… kalian semua?”
Eira, Aira, dan Veyrin berjalan ke pohon.
Veyrin meletakkan tangan di Benih Kelima. “Aku tahu rasanya dibuang. Aku minta maaf.”
Benih itu bergetar. Menangis.
Lalu retak. Hancur jadi kunang-kunang ungu yang terbang ke langit.
Hutan yang tadinya gelap, sekarang ada cahaya matahari masuk dari atas.
Talia jatuh berlutut. “Kenapa… kenapa kalian memaafkanku?”
Aira menghampiri. Mengulurkan tangan. “Karena Om bilang, hangat itu pilihan.”
Talia menangis. Liontin hitamnya berubah jadi putih.
SURAT KETIGA
Di akar pohon ada surat baru.
Dua sudah selesai. Empat lagi.
Hati-hati. Yang berikutnya tidak ingin dihancurkan. Dia ingin berteman.
– T
Talia mengambil surat itu. “Ini bukan tulisanku.”
Veyrin menatap surat itu lama. “Berarti ada orang lain.”
Eira menatap kompas. “Tujuan berikutnya: Lautan Kabut.”
Veyrin menoleh ke Talia. “Kau ikut?”
Talia ragu. Lalu mengangguk. “Aku mau belajar… jadi manusia.”
Tim 11 melangkah keluar hutan. Di belakang, akar hitam berubah jadi akar hijau.
Kreator : Nadya Putri
Comment Closed: Bab 8 dari novel Sihir Tanah Fajar Perjalanan 9 bintang
Sorry, comment are closed for this post.