JILID 9 – BAB 3: KABUT YANG BERBISIK DAN TEMAN YANG TIDAK INGIN DILAWAN
LAUTAN KABUT
Seminggu dari Hutan Akar Hitam.
Tidak ada laut. Yang ada hanya kabut tebal setinggi gunung. Putih. Dingin. Tapi tidak membekukan.
Di dalamnya ada suara tawa anak kecil.
“Benih Keenam ada di sini,” kata Lyra. “Benih Kesendirian.”
Tim 12 masuk. Veyrin, Thalia, dan Tio jalan di samping.
Talia masih canggung. “Aku… aku belum biasa ramai.”
Veyrin mengangguk. “Pelan-pelan.”
Tio duduk di pundak Veyrin. “Aku juga belum biasa punya keluarga.”
Kabut tiba-tiba membentuk wajah. Wajah anak laki-laki umur 10 tahun.
“Halo,” katanya. “Kalian datang buat ngancurin aku juga?”
SIAPA PENGIRIM SURAT MISTERIUS ITU
Anak itu duduk di atas batu apung. Di tangannya ada tumpukan surat.
“Ini,” dia lempar satu. “Tulisanku.”
Isinya sama persis:
Dua sudah selesai. Empat lagi.
Hati-hati. Yang berikutnya tidak ingin dihancurkan. Dia ingin berteman.
– T
Eira maju. “Namamu siapa?”
Anak itu menunduk. “Aku tidak punya nama. Benih ini manggil aku Teman.”
Lyra membuka buku. Tangannya gemetar. “Benih Keenam. Ditanam oleh Veyrin 18 tahun lalu.”
Veyrin terpaku. “Aku?”
“Ya,” kata Teman. “Pas kau kabur dari istana pertama kali. Kau menangis di sini tiga hari. Lalu kau bilang: Kalau aku tidak punya teman, aku buat satu dari kabut.”
Talia menutup mulut. “Kak…”
Veyrin jatuh berlutut. “Aku tidak ingat. Aku terlalu marah waktu itu.”
Teman menatap Veyrin. “Kau janji akan kembali. Tapi tidak pernah.”
TALIA BELAJAR JADI BAIK
Akar kabut mulai melilit kaki Tim 12.
Teman menggeleng. “Jangan lawan aku. Aku capek sendirian.”
Eira menatap Aira. Aira mengangguk.
Talia yang biasanya maju paling depan, malah mundur. “Aku… aku tidak tahu harus apa.”
Veyrin menatap Talia. “Ingat yang Aira bilang? Hangat itu pilihan.”
Talia menarik napas. Lalu dia duduk di depan Teman. Tidak pakai sihir.
“Aku juga dulu sendirian,” kata Talia pelan. “Di hutan. Tidak ada yang ngajak ngomong.”
Teman menatapnya. “Bohong.”
“Beneran,” kata Talia. “Tapi sekarang aku punya kakak. Punya keluarga baru. Mau… mau jadi keluarga kita juga?”
Teman diam lama. Kabut bergetar.
LATIHAN SIHIR GABUNGAN TIM 12
Kabut menyerang. Bukan untuk melukai. Untuk menguji.
Lyra berteriak. “Semua! Gabung!”
Kali ini bukan cahaya. Tapi pelukan.
Leon peluk Kael. Vanya peluk Mira. Riko gendong anak desa.
Selene peluk Ardin. Eira peluk Aira.
Veyrin peluk Talia. Talia peluk Tio. Tio peluk semua.
Dua belas orang. Satu lingkaran.
Dari tengah lingkaran keluar cahaya putih lembut. Bukan menyerang. Menghangatkan.
Kabut yang tadinya dingin jadi hangat.
Benih Keenam di dada Teman berdenyut, lalu keluar sendiri. Melayang.
Benih itu tidak hancur. Dia berubah jadi lonceng kecil dari kristal.
Teman mengambilnya. “Jadi… aku boleh ikut?”
Eira tersenyum. “Boleh. Namamu siapa?”
Teman mikir. “Panggil aku… Tio. Karena aku suka surat.”
Semua tertawa.
SURAT KEEMPAT
Di batu apung ada surat terakhir dari kabut.
Isinya:
Tiga sudah selesai. Tiga lagi.
Yang berikutnya ada di Kota Cermin.
Dan dia kenal kalian semua.
– ?
Tio menatap surat itu. “Ini bukan tulisanku.”
Veyrin mengepalkan tangan. “Berarti ada dalang lain.”
Eira menatap kompas. “Tujuan berikutnya: Kota Cermin.”
Tio naik ke pundak Veyrin. “Aku mau ikut. Aku mau lihat kota.”
Veyrin menatap langit yang mulai cerah. “Berangkat. Tim 12.”
Di belakang, kabut perlahan menghilang. Meninggalkan danau jernih.
Kreator : Nadya Putri
Comment Closed: Bab 9 dari novel Sihir Tanah Fajar Perjalanan 9 bintang
Sorry, comment are closed for this post.