KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Self-Improvement
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » Bab I: Ketika Hidup Tidak Berjalan Seperti yang Kubayangkan

    Bab I: Ketika Hidup Tidak Berjalan Seperti yang Kubayangkan

    BY 24 Sep 2026 Dilihat: 5 kali
    Ketika Hidup Tidak Berjalan Seperti yang Kubayangkan_alineaku

    Aku adalah Rose.

    Seorang perempuan yang tumbuh dalam keluarga kecil: Mama, Papa, dan adikku. Kami tinggal di sebuah daerah pegunungan yang tidak begitu jauh dari keramaian kota. Papa adalah seorang abdi negara, Mama seorang ibu rumah tangga seperti halnya orang lain, dan adikku masih berusia dua tahun.

    Udara malam yang begitu dingin dan siang yang menyejukkan membuatku rindu akan masa-masa itu. Masa ketika aku bisa memiliki apa yang kubutuhkan, bermain dengan leluasa di tengah siang, dan tidur siang di pangkuan Mama. Mama seperti guru pertamaku sebelum aku mengenal lingkungan sekolah. Dibimbingnya aku menjadi pribadi yang rajin dan teratur; belajar bukan hanya tentang mengerjakan PR, melainkan juga membantunya di dapur walau wajahku masih sejajar dengan kompor. Sementara Papa, ia baik dengan caranya sendiri. Berbeda dengan Mama, Papa terlalu menekanku untuk menjadi pemberani dan disiplin. Yah, mungkin karena beliau seorang polisi.

    Pohon-pohon di sekitar rumah menghembuskan angin dari siang hingga malam. Aku dan adikku tidak akan melewati waktu tidur siang, sekalipun kami suka menghabiskan waktu bermain setelah aku pulang sekolah. Rambut pendek sejajar telinga, mata kecil sedikit bengkak, kulit putih, dan bertubuh kecil—itulah adikku, Asty. Kami hanya berdua. Malam memisahkan kami ketika tidur karena kata Mama, aku sudah punya adik dan tidak seharusnya tidur dengan orang tua lagi. Aku yang masih polos waktu itu hanya bingung kenapa harus ada alasan seperti itu. Toh, Papa dan Mama juga sudah besar, kenapa harus tidur sama-sama? kataku dalam hati.

    Siang itu, aku berlari kencang menuju rumah setelah mendengar kabar bahwa rumah kami sedang dikerumuni orang. Kaki-kakiku yang baru berumur tujuh tahun mulai merasa letih setelah sampai di depan rumah. Beberapa perempuan tua sedang menangis, menghadap ke arah Mama yang memangku Asty di pangkuannya. Aku belum meletakkan tas maupun membuka seragam; hanya menatap satu per satu orang di dalam rumah itu. Mataku mulai berkaca-kaca, ludahku tertelan lambat. Kasihan Asty, matanya terbuka sedikit, tetapi napasnya lambat. Mama menceritakan kepadaku setelah makan malam bahwa sebenarnya Asty mengalami sesak napas. Seharusnya aku kaget saat mendengarnya karena usia Asty masih terlalu muda, tetapi kenyataannya aku hanya diam dan bingung dalam pikiran.

    Tahun-tahun kebahagiaan yang kami alami tidak berlangsung lama. Kerusuhan antaragama terjadi di daerah tempat kami tinggal. Kami pun berpisah: aku bersekolah di luar daerah, sedangkan Mama, Papa, dan adikku tinggal bersama di daerah baru—tempat Papa pindah tugas sekaligus lokasi mereka mengungsi.

    Setahun setelah berpisah, aku ikut tinggal bersama mereka; bersekolah dan bermain bersama adikku di sana. Suatu tempat yang tenang, menebarkan kebaikan orang-orang di sekitar, dan kebahagiaan mulai kami kecap satu per satu. Apalagi Mama memberi kami seorang adik perempuan lagi bernama Andin. Rasanya karier Papa ditambah kebijaksanaan Mama dalam mengatur rumah tangga membuat kami yakin tidak akan kekurangan. Kami memiliki rumah baru yang layak, menggantikan rumah yang pernah hancur karena kerusuhan waktu itu.

    Namun, sepertinya Tuhan memang tidak memiliki jalan pikiran yang sama denganku. Aku, Asty, dan Andin menjadi yatim piatu setelah kepergian orang tua kami. Mereka berdua sakit, hingga satu per satu pergi dengan penyakit yang berbeda. Sayap-sayap yang kupunggungi ke mana saja mulai patah perlahan. Tiada hari tanpa rasa takut. Aku jadi benci melihat tulisan-tulisan di media sosial yang mengumbar warna hari-hari seseorang tanpa orang tua, tetapi kadang aku membagikannya ulang (repost). Cinta dan rasa hormat hilang dari orang-orang di sekitar kami bertiga. Bahkan keluarga terdekat pun sepertinya menjauh; tidak mau ikut merasakan kesusahan dan takut melibatkan diri dalam kehidupan kami.

    Malam datang, lalu aku mulai bertanya, “Tuhan, aku rindu masa-masa kecilku karena di situ ada Papa dan Mama.”

    Siangnya, aku bertemu seorang lelaki tua yang sedang menarik gerobak jualan kelapa. Dalam hati aku membatin, Aku mau punya Papa, meskipun Papa adalah seorang penjual kelapa di pasar.

    Di sinilah perjalanan pahit itu dimulai.

     

    Kreator : Estyn Penaonde (Zie_est)

    Bagikan ke

    Comment Closed: Bab I: Ketika Hidup Tidak Berjalan Seperti yang Kubayangkan

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021