Aku adalah Rose.
Seorang perempuan yang tumbuh dalam keluarga kecil: Mama, Papa, dan adikku. Kami tinggal di sebuah daerah pegunungan yang tidak begitu jauh dari keramaian kota. Papa adalah seorang abdi negara, Mama seorang ibu rumah tangga seperti halnya orang lain, dan adikku masih berusia dua tahun.
Udara malam yang begitu dingin dan siang yang menyejukkan membuatku rindu akan masa-masa itu. Masa ketika aku bisa memiliki apa yang kubutuhkan, bermain dengan leluasa di tengah siang, dan tidur siang di pangkuan Mama. Mama seperti guru pertamaku sebelum aku mengenal lingkungan sekolah. Dibimbingnya aku menjadi pribadi yang rajin dan teratur; belajar bukan hanya tentang mengerjakan PR, melainkan juga membantunya di dapur walau wajahku masih sejajar dengan kompor. Sementara Papa, ia baik dengan caranya sendiri. Berbeda dengan Mama, Papa terlalu menekanku untuk menjadi pemberani dan disiplin. Yah, mungkin karena beliau seorang polisi.
Pohon-pohon di sekitar rumah menghembuskan angin dari siang hingga malam. Aku dan adikku tidak akan melewati waktu tidur siang, sekalipun kami suka menghabiskan waktu bermain setelah aku pulang sekolah. Rambut pendek sejajar telinga, mata kecil sedikit bengkak, kulit putih, dan bertubuh kecil—itulah adikku, Asty. Kami hanya berdua. Malam memisahkan kami ketika tidur karena kata Mama, aku sudah punya adik dan tidak seharusnya tidur dengan orang tua lagi. Aku yang masih polos waktu itu hanya bingung kenapa harus ada alasan seperti itu. Toh, Papa dan Mama juga sudah besar, kenapa harus tidur sama-sama? kataku dalam hati.
Siang itu, aku berlari kencang menuju rumah setelah mendengar kabar bahwa rumah kami sedang dikerumuni orang. Kaki-kakiku yang baru berumur tujuh tahun mulai merasa letih setelah sampai di depan rumah. Beberapa perempuan tua sedang menangis, menghadap ke arah Mama yang memangku Asty di pangkuannya. Aku belum meletakkan tas maupun membuka seragam; hanya menatap satu per satu orang di dalam rumah itu. Mataku mulai berkaca-kaca, ludahku tertelan lambat. Kasihan Asty, matanya terbuka sedikit, tetapi napasnya lambat. Mama menceritakan kepadaku setelah makan malam bahwa sebenarnya Asty mengalami sesak napas. Seharusnya aku kaget saat mendengarnya karena usia Asty masih terlalu muda, tetapi kenyataannya aku hanya diam dan bingung dalam pikiran.
Tahun-tahun kebahagiaan yang kami alami tidak berlangsung lama. Kerusuhan antaragama terjadi di daerah tempat kami tinggal. Kami pun berpisah: aku bersekolah di luar daerah, sedangkan Mama, Papa, dan adikku tinggal bersama di daerah baru—tempat Papa pindah tugas sekaligus lokasi mereka mengungsi.
Setahun setelah berpisah, aku ikut tinggal bersama mereka; bersekolah dan bermain bersama adikku di sana. Suatu tempat yang tenang, menebarkan kebaikan orang-orang di sekitar, dan kebahagiaan mulai kami kecap satu per satu. Apalagi Mama memberi kami seorang adik perempuan lagi bernama Andin. Rasanya karier Papa ditambah kebijaksanaan Mama dalam mengatur rumah tangga membuat kami yakin tidak akan kekurangan. Kami memiliki rumah baru yang layak, menggantikan rumah yang pernah hancur karena kerusuhan waktu itu.
Namun, sepertinya Tuhan memang tidak memiliki jalan pikiran yang sama denganku. Aku, Asty, dan Andin menjadi yatim piatu setelah kepergian orang tua kami. Mereka berdua sakit, hingga satu per satu pergi dengan penyakit yang berbeda. Sayap-sayap yang kupunggungi ke mana saja mulai patah perlahan. Tiada hari tanpa rasa takut. Aku jadi benci melihat tulisan-tulisan di media sosial yang mengumbar warna hari-hari seseorang tanpa orang tua, tetapi kadang aku membagikannya ulang (repost). Cinta dan rasa hormat hilang dari orang-orang di sekitar kami bertiga. Bahkan keluarga terdekat pun sepertinya menjauh; tidak mau ikut merasakan kesusahan dan takut melibatkan diri dalam kehidupan kami.
Malam datang, lalu aku mulai bertanya, “Tuhan, aku rindu masa-masa kecilku karena di situ ada Papa dan Mama.”
Siangnya, aku bertemu seorang lelaki tua yang sedang menarik gerobak jualan kelapa. Dalam hati aku membatin, Aku mau punya Papa, meskipun Papa adalah seorang penjual kelapa di pasar.
Di sinilah perjalanan pahit itu dimulai.
Kreator : Estyn Penaonde (Zie_est)
Comment Closed: Bab I: Ketika Hidup Tidak Berjalan Seperti yang Kubayangkan
Sorry, comment are closed for this post.