Hai…
Apa kabarmu di sana?
Hal-hal membaik di sini
Aku mungkin tak lagi sama dengan yang pernah kau kenal
Kini sedikit lebih percaya diri
Sebenarnya tidak semuanya membaik di sini
Tapi aku mencoba menjalani apa adanya
Seperti yang selalu kau harapkan dariku: menikmati prosesnya (kan?)
Aku melanjutkan hidupku di sini tanpa tahu kabarmu
Tapi yang kurasakan, kau menemaniku di setiap ceritaku
Terima kasih untuk itu
Aku selalu membawa buku biruku kemana-mana. Bahkan, kalau tidak membawa tas sekalipun, aku akan menyisipkan selembar kertas dan pena di saku celanaku. Kalau aku merasakan sesuatu, aku bisa menuliskannya saat itu juga. Terasa di seluruh tubuhku, dari ujung kakiku sampai helai rambutku, rasa pilu yang hangat. Campuran bahagia dan sendu saat aku mengizinkan hipokampus memproyeksikan memori-memori bersamamu dahulu. Aku masih bisa menuliskan dengan jelas, seperti apa rasanya melihat pancaran teduh dari matamu.
Tapi, aku tidak ingin seorang pun membaca tulisanku. Aku ingin menyimpan ini semua sendirian. Sebab tiap katanya terlalu berharga untuk direndahkan orang lain dengan kalimat, “Kamu berlebihan merindukan seseorang yang tidak merindukanmu.”
Aku berhenti menjelaskan diriku pada mereka yang tidak mau mengerti. Lagi pula apa yang bisa mereka lakukan terhadap sesuatu yang hanya ada di dalam sini? Mereka tidak akan mampu menyentuhnya. Biarkan aku sendirian dengan perasaan ini. Mereka tidak bisa mengambil ingatan itu dariku.
Ini sesuatu yang menyebalkan. Bagaimana bisa jantungku terasa seperti disentil tangan tak kasat mata, sakit sekali, saat satu poster film ditampilkan di lorong-lorong bioskop.
Aku waspada segera dari lamunku saat melihatnya. Judulnya tidak asing. Kurasa ini bukan perasaanku saja. Aku merasa benar-benar pernah membaca judulnya. Tak butuh waktu lama sampai aku menyadari di mana aku pernah membacanya.
“Cerita ini mau dijadikan film, loh. Makanya aku mau baca bukunya dulu.”
“Wah pasti bagus banget filmnya nanti, dari bukunya aja udah sebagus itu. Penasaran banget.”
“Nontonnya nunggu aku selesai baca buku dulu ya, pengen bisa ngerasain sensasi kecewa yang umum dirasain orang-orang karena ekspektasi sama realita filmnya gak ketemu itu.”
“Hahaha oke, baca dulu bukunya pelan-pelan aja.”
Sesampainya di rumah, kucari buku itu di antara tumpukan bukuku. Ketemu! Benar saja, ada buku yang judulnya sama persis dengan judul film baru tadi.
Padahal, bioskop sebelumnya jadi tempat netral dan cenderung menyenangkan bagiku yang suka pergi-pergi sendirian sekaligus penikmat film. Tapi sejak janji nonton bareng yang tidak akan terealisasi itu, entah apakah masih akan sama hubunganku dengan film-film lagi.
***
Banyak orang bilang, supaya semangat melakukan sesuatu perlu ada reward yang dinanti. Mungkin dia salah satu orang yang setuju dengan hal itu.
“Pengen dikasih apa kalau lulus nanti?”
“Mmm, mau bunga deh, bunga hidup ya.”
“Kamu yakin? Tapi cepat layu loh. Nanti gak bertahan lama, cepat lupanya.”
Yah, dia gak tahu aja gimana aku kalau mengingat sesuatu. Apalagi untuk hal yang seindah itu. Dari orang sespesial dia pula.
“Ada sekarang itu inovasi namanya resin, bunga yang udah kering pun bisa diabadikan. Atau, bisa juga dijadiin dry flowers, ditempel di buku.”
Padahal, tanpa bukti fisik pun, aku juga bakal ingat terus.
Kreator : Amajida Nuha (N. Noyada)
Comment Closed: BAB I – Prolog Buku Biru
Sorry, comment are closed for this post.